Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
39. Seperti Sarang Ular


__ADS_3

Menjadi Nadia mungkin sebanding dengan manusia super. Bisa dibilang dialah wonder woman di desanya. Selain kewajibannya terhadap suaminya yang walaupun di dalam tanda kutip hanya “mensejahterakan bagian bawah juragan Bondan”, pada kenyataanya dia juga lelah. Lelah di badan dan juga di hati.


Setelah keguguran, Nadia kembali mengkonsumsi pil penunda kehamilan. Ia tak enak hati meminta bantuan Nathasya untuk memintanya dalam hal ini. Awalnya juragan Bonda melarangnya. Namun karena alasan Nadia tidak mau lagi merasakan kehilangan anak, mau tidak mau juragan Bondan mengabulkan keinginan Nadia. Bagaimanapun dia lebih senang. Itu artinya tidak akan ada lagi libur karena nifas....'


Peran Nadia di luar rumah bahkan lebih menguras tenaga. Dengan keadaan hati yang bagaimanapun, senyum Nadia tidak boleh luntur. Perkerjaannya sebagai guru mengharuskannya selalu mentransfer energi positif pada semua muridnya.


Dalam satu bulan terakhir, Nadia lebih banyak memusatkan perhatian dan waktunya untuk sanggar. Sedikit demi sedikit, sanggar keterampilan mulai mengepakkan usahanya dan menjadi salah satu jenis pekerjaan di desa. Dan Nadia lah yang berperan paling besar disana.


Tugas Nadia bukan hanya sekedar mengawasi, melainkan juga memastikan setiap pesanan selesai tepat waktu dan sesuai dengan keinginan pelanggan. Nadia juga memasarkan Produk mereka melalui media online. Untuk tugas itu, Nadia mengajari pemuda dan pemudi desa dalam memanfaatkan media sosial yang ada. Mengelola keuangan juga merupakan tanggung jawab Nadia.


“Hah leganya. Hari yang melelahkan ya Jon.” Nadia duduk di kursi mobil sambil meregangkan ototnya yang kaku.


Nadia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah pukul lima sore. Pantas saja terasa sangat lelah. Sepulang dari sekolah tadi Nadia langsung pergi ke sanggar agar tidak bolak-balik dan menghabiskan waktu itu artinya sudah tiga jam ia disana.


“Tadi kan aku sudah bilang untuk pulang saja. Kamu malah memilih menambah pekerjaan.” Cibir Joni. Bukannya ia tidak suka jika desanya maju. Tapi ia kasihan melihat Nadia yang selalu lelah setelah pulang dari sana.


“Kalau tidak bisa membantu diam saja. Daripada mengolokku seperti itu.” Nadia mendengus. Bisa-bisanya Joni mengatakan hal seperti itu. Memang benar dia ke sanggar karena kemauannya sendiri. Dan akhirnya mendapatkan rasa lelah ini. Namun tidak bisa seenaknya menyalahkannya dengan alasan datang ke sanggar. Ini tanggung jawabnya. Semakin maju sanggar itu, misinya akan segera terwujud.


“Nad.”


“Hem.”


“Kenapa denganmu?”


“Memang kenapa?”


“Kamu tidak sedang hamil lagi kan?”


“Mana mungkin. Aku rutin menelan pil itu. Jangan berasumsi jika wanita yang mudah lelah itu selalu hamil ya.”


“Jika keadaan memungkinkan, dan kamu bisa meninggalkan desa ini dengan tenang suatu saat nanti, aku harap kamu bisa membangun keluarga kecilmu Nadia.”


“Orang seperti aku tidak pantas mempunyai pikiran seperti itu. Meskipun aku sudah terbebas dari bapak, aku jelas berstatus janda. Dan seorang janda tidak pantas untuk siapapun.”


“Jangan terlalu menganggap dirimu rendah Nad.”


“Itu kenyataanya. Seperti apapun laki-laki, tetapi dia masih akan berharap memiliki istri yang masih perawan. Tersegel.”

__ADS_1


“Ah tidak semua orang seperti itu.”


“Coba sebutkan jika kamu tahu siapa orang itu!”


“Bagaimana dengan Dokter Nathan?”


Uhuk uhuk


Mendengar nama dokter itu disebut, Nadia sontak terbatuk-batuk. Kemudian dia bangun dari posisinya bersandar. Mencondongkan tubuhnya ke depan kemudian mengetuk dengan keras kening Joni.


“Adow! Nad. Sadis amat sih!” joni mengelus keningnya yang terasa ngilu.


“Apa-apaan kamu. Bisa-bisanya berfikir seperti itu? Dokter Nathan itu orang yang bisa dibilang sempurna. Memiliki segalanya. Meskipun statusku masih lajang dan bukanlah seorang istri muda, orang seperti dokter Nathan bahkan tidak akan melirikku.”


“Tapi dia melakukannya sekarang bahkan dengan statusmu saat ini.”


“Jangan mengada-ngada kamu Jon.”


“Aku sering me...”


Brak...!!!


Joni menginjak rem dengan mendadak. Kening Nadia terbentur sandaran kursi milik Joni. Mengabaikan keningnya yang ngilu. Nadia segera manyadari apa yang terjadi.


“Kita nabrak orang Jon!” pekik Nadia panik. Dia segera turun. Menghampiri seorang wanita paruh baya yang terduduk di depan mobilnya.


“Bu Minah tidak apa-apa?” Nadia dengan sigap membantu wanita bernama Minah itu berdiri. Joni juga ikut membantu setelah mematikan mesin mobil dan turun.


“Saya tidak apa-apa nyonya muda. Hanya kaget.” katanya sambil celingukan tidak tenang. Mengabaikan ekspresi kedua orang yang cemas.


“Aku yakin tadi nggak nabrak kok.” Kata Joni meskipun tadi kejadiannya begitu cepat, Joni masih ingat betul bahwa ia dengan tepat waktu menghentikan laju mobilnya yang memang berjalan pelan.


“Memang tidak menabrak Nyonya Muda. Saya yang salah karena terburu-buru.” jawabnya asal dengan ekor mata yang berlariam kesana kemari.


“Ada apa sampai mengabaikan keselamatan bu Minah? Untung saja saya tadi siaga. Kalau tidak entah apa yang akan terjadi.” omel Joni sambil memberi Minah air mineral untuk menstabilkan detak jantungnya.


“Saya tadi sedang mengejar Dian.” jawab Minah gugup sambil menundukkan kepalanya dengan takut.

__ADS_1


“Dian? Memang ada apa dengan Dian?” tanya Nadia penasaran. Dian adalah seorang gadis manis yang baru lulus SMA tahun lalu. Kenapa sampai dikejar seperti itu?


“Maaf nyonya muda. Saya harus bergegas. Terima kasih.” Tanpa menunggu persetujuan dari siapapun, Minah segera berlalu. Melanjutkan langkahnya dengan terburu-buru. Mulutnya bergumam entah menggumamkan apa.


Dua orang yang ditinggalkannya begitu saja saling menoleh. Keduanya sepakat adanya hal yang salah dari bu Minah. Jika difikirkan sekilas saja akan dengan mudah menemukan keganjilannya. Seorang gadis yang ceria dan cerdas seperti Dian untuk apa sampai dicari dengan begitu cemas?


“Aku harap tidak ada hal buruk yang terjadi pada Dian.” Lirih Nadia. Firasatnya mengatakan ada hal buruk yang terjadi pada Dian.


“Apa kamu ingin aku menyelidikinya?” Joni dengan jelas melihat kekhawatiran yang ada di wajah Nadia.


“Lakukan Jon.”


“Baiklah. Sekarang aku antar kamu pulang dulu. Jika tidak, akan ada yang curiga.” Joni membukakan pintu belakang mobil, mempersilahkan Nadia masuk. Setelah menutup dengan hati-hati pintu yang baru saja dinaiki Nadia, Joni segera berlari kecil mengitari mobil untuk sampai di tempatnya. Di belakang kemudi.


Akibat kejadian tidak terduga sore itu, Nadia baru sampai di rumah tepat di saat adzan maghrib berkumandang. Juragan Bondan sedang duduk di teras, membaca koran sambil menikmati secangkir kopi dan sepiring pisang goreng.


Nadia menghampiri juragan Bondan dan segera meraih tangan suaminya. Mengecupnya dengan khidmad. Dia adalah wanita yang tahu tata krama itulah salah satu yang membuat Juragan Bondan menyayanginya.


“Maaf bapak, tadi banyak kerjaan di sanggar.” Kata Nadia dengan setengah berkata jujur dan setengahnya lagi berbohong. Di sanggar memang sedang banyak kerjaan. Tapi bukan itu yang membuatnya terlambat pulang. Setelah itu, dia duduk di kursi yang bersebelahan dengan juragan Bondan.


“Hahahaha tidak apa-apa sayang. Lakukan apa saja yang membuatmu bahagia. Asal kamu tetap menjalankan kewajibanmu sebagai istri yang baik. Itu sudah cukup.” Juragan Bondan mengelus kepala Nadia. “Hari sudah mulai gelap. Cepat masuk dan bersihkan diri. Setelah itu kita bertemu di meja makan.” Lanjutnya.


Nadia berdiri dan masuk ke dalam rumah. Menghela nafas. Inilah rumahnya sekarang. Rumah termegah di desa ini. Rumah yang menjadi impian semua orang untuk tinggal di dalamnya. Tapi bagi Nadia, rumah inilah penjaranya selama dua tahun lebih.


Bagaimana bisa disebut rumah dengan para penghuninya yang saling menggigit. Dia merindukan rumahnya yang dulu. Meskipun kecil dan sederhana, kehangatan kasih sayang selalu ia rasakan.


Tidak seperti disini. Ini tak ubahnya seperti sarang ular. Berani tinggal disini, harus pintar mempertahankan diri agar tidak terkena serangan berbahaya dari berbagai ular yang ada. Mulai dari serangan bisa ular yang beracun, maupun lilitan ular yang menyesakkan.


Ngomong-ngomong tentang ular, Nadia baru saja melewati dua ular betina yang mendesis ketika Nadia hanya melewati keduanya meskipun mereka sudah meludahkan bisanya yang beracun.


*


*


*


...~***Aku Istri Muda ***~

__ADS_1


...


Terima kasih sudah mampir 😉


__ADS_2