Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_7. Simbiosis Mutualisme


__ADS_3

Seharian berada di kantor hampir membuat Nara mati kebosanan. Jarum jam yang menempel di dinding di ruangannya baru menunjukkan pukul tiga sore. Artinya masih dua jam lagi hingga jam kantor berakhir. Namun gadis itu sudah menempelkan pipi kirinya di meja kerjanya.


Helaan napas beberapa kali terdengar lirih dari arahnya. Syila yang mejanya paling dekat dengannya menggelengkan kepalanya. Dia dan kedua teman lainnya tahu betul sifat Nara yang tidak bisa diam di suatu tempat dalam waktu yang lama. Gadis ini pasti ingin segera pulang.


“Kamu sudah selesai Ra?” Nara menatap Syila dengan malas.


“Sudah. Makanya aku males. Mau ngapain lagi coba?”


“Sini bantuin aku.”


“Ogah. Aku juga udah terlanjur males mikir.”


“Dasar.” Syila mendengus.


“Ra! Ada kak Bisma.” teriak Vera yang baru saja masuk ke dalam ruangan menggebrak keras meja Nara dengan tangannya. Membuat telinga Nara sakit karena suaranya. Mengabaikan tatapan tajam dari beberapa orang yang ada di ruangan itu.


“Ish! Sakit tau Ve.” Nara menggosok telinganya yang berdengung sambil menatap Vera dengan sebal.


“Aku baru lihat kak Bisma masuk ruangan tuan Alex.” Kata Vera heboh.


“Terus kenapa? Mereka berdua memang sahabatan. Dan juga Amerta dan Mahardika sedang ada proyek bareng. Jadi wajar kan kalau kak Bisma ke sini.” Jawab Nara santai.


“Bukan karena dia ngawasi kamu kan?” selidik Syila. Vera mengangguk setuju. Biasanya Bisma akan melakukan itu.


“Bukan. Kalian pasti nggak akan percaya jika aku ceritakan kejadian pagi tadi.” Wajah Nara berubah ceria saat melihat kejadian pagi tadi.


“Apa?” Syila dan Vera penasaran.


“Tadi pagi kak Bisma bilang mulai sekarang di akan memberi aku kebebasan. Tapi aku harus menjaga diri baik-baik.”


“Wah bagus dong.” Vera tersenyum senang. Nara mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Kok aku merasa firasat yang nggak baik ya.” Syila mengerutkan keningnya.


“Jangan bikin takut deh La. Semuanya akan berjalan dengan baik.” Nara menangkup kedua tangannya.


“Hei kalian! Kalian jangan ngobrol terus. Kalian memang tidak bekerja di sini. Tapi hargai kami dong.” Ketus Siska. Seniornya Gita. Kali ini Gita tidak beruntung mendapat kan senior yang ketat dan judes. Dari tadi gadis itu ingin segera bergabung dengan teman-temannya. Namun tidak bisa.


“Maaf kak.” Ucap Nara, Vera dan Syila bersama. Kemudian mereka kembali dengan aktivitas mereka. Sedangkan Nara mengeluarkan handphone nya untuk membuka akun Instagram nya.


“Kamu sudah selesai Ra?” tanya Dio dari mejanya. Laki-laki itu menggeliatkan tubuhnya yang terasa kaku..


“Sudah kak. Ada lagi kah?” Nara meletakkan handphone miliknya. Fokus pada cowok tampan yang duduk di meja sebelah nya.


“Tidak. Kamu cepat juga ya belajarnya.”

__ADS_1


“Hehehe. Biasa saja kak. Ini jurus rahasia milikku.”


“Kayak power Puff Girl beneran punya jurus.”


“Iya dong. Kakak mau tahu nggak jurus rahasia apa?”


“Apa?”


“Juruuus ter-pak-sa. Ehehehe.”


“Kamu ini ada-ada saja.” Dio bangun dari duduknya dan menghampiri Nara di mejanya, kemudian mengulurkan tangannya untuk mengacak rambut Nara. Membuat si pemilik rambut cemberut.


“Kaaak. Berantakan kan rambut aku.” Nara ngedumel sambil berusaha merapikan rambutnya kembali.


“Salah sendiri kamu lucu gitu.” Dio melihat Nara seperti melihat boneka yang lucu.


“Ehem ehem.” Siska melirik dengan marah. Bukan rahasia lagi jika Siska menaruh hati pada Dio. Dan sejak Dio dipindahkan ke kantor pusat, Siska sudah berusaha untuk mendekati Dio. Tapi Dio sama sekali tidak tertarik padanya.


“Bukan maksudnya untuk ikut campur ya. Tapi ingat tempat dan waktu kalau mau mesra-mesraan.” Sindirnya. “Kantor ini tempatnya kerja. Bukan tempat pacaran.”


“Kamu kenapa sih Sis? Urus kerjaanmu. Baru ngurusin orang lain.”


“Apa sih bagusnya dia dibandingkan dengan ku Yo? Aku sudah melakukan apapun untuk membuatmu melirikku. Dan kamu masih saja cuek seolah aku ini tidak ada. Dan sekarang malah kayak gini dengan anak baru.” Rengek Siska. Gadis itu mendekat dan meraih lengan Dio.


“Apa yang aku lakukan bukan urusanmu Sis. Jangan ganggu aku.” Dio melepaskan tangan Siska yang menggamit lenganya.


“Ini kantor. Kalau mau berantem silahkan keluar.” Bu Imelda yang merupakan kepala divisi keuangan segera melerai.


“Kalian ini diterima baik di kantor ini. Harap jaga sikap.” Bu Imelda menatap Nara dan ketiga temannya bergantian. “Tuan Alex akan sangat marah jika mendengar hal ini. Jadi pastikan hal ini tidak akan terulang lagi.”


“ Baik Bu. Terima kasih.”


“Dan kamu Siska. Jangan mencampurkan masalah pekerjaan dengan masalah pribadimu. Mereka masih baru berada di sini. Jadi maklum kalau belum tahu. Kalau kamu? Hal semacam ini seharusnya tidak pernah terjadi.”


“Maaf Bu Imelda. Saya berjanji hal ini tidak akan terulang lagi.”


...🐬🐬🐬...


Di ruangan lain di kantor yang sama. Dua orang laki-laki yang dibilang Nara satu spesies duduk berhadapan sambil menyilangkan kaki. Semenjak Bisma datang, Alex masih sibuk dengan pekerjaannya.


Hampir sepuluh menit, keheningan ruangan itu masih terjaga. Hanya suara kertas dibalik dan suara pena yang digoreskan yang mengisi keheningan.


Yah! Dua orang yang sama-sama dingin dan kaku. Apa yang bisa mereka lakukan jika bersama kecuali sama-sama diam. Tidak ada yang berinisiatif membuka percakapan.


“Bagaimana Nara hari ini?” akhirnya Bisma mengeluarkan suaranya ketika melihat Alex baru saja meletakkan map yang baru saja diperiksa dan ditandatangani nya.

__ADS_1


“Aku bukan baby sitter nya yang harus mengawasi nya setiap saat.” Alex melipat tangannya di depan dada. Bisma pikir dia tidak ada kerjaan sampai harus tahu bagaimana Nara hari ini di kantornya. Bahkan ujung hidung adik temannya itu saja belum ia lihat seharian ini.


“Ck. Aku kan sudah bilang kalau aku serahin adikku padamu. Tentu saja kamu harus memperhatikan nya.”


“Aku kira kamu melepaskan adikmu begitu saja tanpa aku harus mengawasinya.”


“Adikku sangat istimewa.”


“Bungkus dia. Kalau perlu taruh di etalase.”


“Lex aku sungguh-sungguh.”


“Oke-oke. Besok aku akan awasi dia setiap saat setiap waktu. Puas?”


“Bagus.”


“Apa keuntungan yang akan aku dapat!”


“Aku sudah mempermudah Amerta untuk bekerjasama dengan Mahardika. Kurang apa lagi?”


“Kantor cabangku di daerah E sedang mengalami krisis. Banyak data yang bocor. Jadi aku minta bantuanmu untuk menggerakkan Bima Tech untuk memperkuat sistemnya.”


Bima Tech adalah perusahaan milik Bima yang bergerak di bidang sistem pengembangan software.


“Oke. Itu soal mudah. Setelah ini aku akan langsung menghubungi kak Bima. Kamu kirim saja alamat dan detailnya di emailku.” Alex mengangguk.


Hem. Dua orang kaku dan dingin. Sama-sama penggila kerja dan kerja. Kesepakatan keduanya yang melibatkan Nara di dalamnya seperti halnya tidak ada kehidupan seseorang sama sekali. Semua diperhitungkan untung ruginya khas dalam bisnis.


Pada tahap ini, Bisma menginginkan adiknya selalu dalam pengawasan. Memasrahkan adiknya pada seseorang yang dia percaya tanpa melihat apa yang dibutuhkan adiknya. Entah dimana salahnya bentuk perhatian yang semacam ini.


Di lain sisi, Alex memanfaatkan Nara sebagai jembatan untuk meminta bantuan Bisma mendapatkan pelayanan jasa dari Bima Tech yang sulit didapat. Bima Tech selalu bersikap profesional dalam setiap pekerjaannya. Hanya orang yang sudah ahli dan terpercaya yang akan diberi tanggung jawab untuk menjalankan pekerjaan dari kliennya.


Ini namanya simbiosis mutualisme antar dua spesies.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 🥰


Alohaaa...🎉🎉🎉


Akoh tepatin janji EA....🤗

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komentarnya 😎


__ADS_2