Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_60. Kehangatan Keluarga


__ADS_3

Alex sedang berbicara dengan Nathan dan Bisma di ruang kerja mertuanya mengenai perkembangan bisnis mereka. Hari ini, Nara mengajaknya untuk mengunjungi orangtuanya sepulang bekerja.


“Jadi Lunar Ind sekarang sudah menjadi milik Amerta Corp?” Tanya Nathan memastikan setelah Alex baru mengkonfirmasi hal ini.


“Benar pa. Dengan begitu aku akan dengan mudah mengembalikan keadaan perusahaan milik tuan David itu.”


“Tapi aku heran, bagaimana bisa David dengan mudah menjual perusahaan yang sudah payah ia bangun dari awal?” Tanya Nathan heran. Pasalnya ia tahu sendiri perjuangan David membangun perusahaan itu dari nol bersama dengan Luna.


“Sebenarnya tuan David tidak ingin menjualnya. Tapi saat aku memberikan penawaran untuk menggantinya dengan salah satu cabang Amerta yang ada di Singapura beliau akhirnya setuju.”


Mendengar penjelasan Alex, Nathan dan Bisma terperanjat. Pertukaran ini tidak seimbang sama sekali. Jelas Alex sangat dirugikan dalam hal ini. Meskipun hanyalah perusahaan cabang, itu dapat dipastikan lebih besar dari Lunar Ind yang hampir bangkrut. Apalagi ini berlokasi di Singapura. Perusahaan ini sedang berkembang.


“Hehehe. Ternyata begitu. Pantas saja dia mau. Kamu terlalu baik.” Nathan berdiri dan menepuk bahu Alex yang duduk di seberangnya bersama Bisma.


“Kamu pasti sudah hilang akal Lex.” Bisma menggelengkan kepalanya.


“Tidak. Aku tentu saja tidak menukarnya begitu saja. Aku memiliki beberapa syarat yang harus mereka lakukan. Aku tentu saja tidak mau merugi.” Alex menyeringai.


Sebenarnya, Alex memberi syarat agar David menjamin bahwa Rafael tidak akan kembali mengganggu kehidupan keluarganya. Alex juga akan mengawasi pergerakan Rafael. Ia juga memastikan jika David melaksanakan janjinya untuk menghilangkan ingatan Rafael melalui terapi psikologis.


“Baiklah jika kamu sudah memikirkan nya dengan matang. Papa hanya bisa mendukung mu.” Nathan tersenyum tulus. Ia puas pada menantunya itu. Jarang ada laki-laki yang bersedia melakukan banyak hal apalagi yang bersifat merugikan hanya untuk seorang perempuan.


“Terima kasih pa.”


Di saat para laki-laki sedang membicarakan masalah perusahaan di ruang kerja, Nara sedang berada di dapur bersama Nadia. Salah jika ada yang mengira Nara akan membantu Nadia memasak. Maka jawabannya adalah salah.


Nara hanya menemani Nadia. Melihat mama dan dua pembantu mereka sibuk dengan berbagai peralatan dapur dan juga bahan masakan. Gadis yang baru saja menjadi istri ini nol besar dalam Hal dapur. Yang ia bisa lakukan di dapur hanya membuat teh, kopi, sirup dan juga susu. Selain itu ia tidak bisa. Bahkan membuat mi instan saja ia tidak bisa.


“Sayang, daripada hanya duduk di situ, lebih baik kamu bantu mama sini. Kupas bawang Kamu pasti bisa.” Nadia melirik Nara yang sibuk memasukkan potongan buah ke dalam mulutnya.


“Nara tidak berjodoh dengan pisau ma. Nanti kalau jari Nara terluka gimana?” Nara tidak menanggapi dengan serius. Lagipula ia tidak berminat sama sekali dengan hal yang berurusan dengan dapur selain makan.


“Alasan. Kamu itu sudah jadi istri. Kalau bukan kamu, siapa yang akan memasakkan nak Alex?” tanya Nadia asal.


Nara menjawab tanpa berpikir. “Mak Jum dan Mak Marni. Masakan mereka enak lho ma. Hampir sama enaknya dengan masakan mama.”


Nadia mendengus. “Kamu ini. Meskipun ada pembantu, kamu seharusnya juga belajar memasak sedikit demi sedikit.” Nadia mengetuk kepala Nara dengan spatula yang dipegangnya. Membuat putrinya itu mengaduh pelan.

__ADS_1


“Ma, jika sudah ada pembantu kenapa harus aku yang ribet? Jika aku yang masak, bisa-bisa Alex akan pingsan sebelum kenyang.” Jawab Nara setelah menemukan alasan yang tepat agar mamanya tidak mengejarnya terus masalah belajar memasak.


“Terserah kamu lah. Untung saja kamu tidak punya ibu mertua. Kalau punya kamu pasti sudah ditendang jadi menantu.” Nadia melirik kesal pada anaknya. Tidak hanya sekali dua kali ia meminta Nara untuk belajar memasak. Tapi putrinya itu mempunyai seribu satu macam alasan untuk menghindar.


“Nyonya bahan sambalnya sudah saya siapkan.” Mbok Ida menunjukkan mangkuk berisi bawang dan cabai yang sudah dibersihkan.


“Baiklah mbok. Mbok Ida tolong lanjutkan menggoreng ikannya. Aku akan melanjutkan sambalnya.” Nadia menyerahkan spatula pada mbok Ida dan bergeser.


Bukan ia tidak percaya mbok Ida bisa memasak enak. Tapi untuk urusan sambal menyambal, Nathan hanya cocok dengan sambal buatan Nadia.


“Coba kamu lihat saja papa. Meskipun di rumah ini ada pembantu, papa akan lebih senang jika makan masakan buatan mama. Apa kamu tidak mendengar jika kamu ingin memenangkan hati suami, kamu harus bisa memenangkan lidahnya. Dari lidah turun ke hati.” Nadia mulai menata masakan ke atas meja makan setelah semua siap. Mbok Ida membantunya sedangkan Nara melenggang santai dan duduk di kursi meja makan.


“Itu pepatah lama ma. Jadul. Sudah tidak cocok dengan ku dan Alex. Mama pandai masak dan aku tidak. Tanpa aku bisa masak pun aku bisa membuat Alex jatuh cinta padaku.” Ucap Nara bangga.


“Benar mama. Nara tidak perlu memasakkan makanan untukku. Aku menerima Nara apa adanya.” Nara dan Nadia menoleh pada tiga orang pria yang menghampiri mereka. Nara tersenyum mendengar Alex yang membelanya.


“Tuh ma. Mama dengar sendiri kan menantu mama.”


“Hah. Kalau suaminya bilang begitu ya sudah.” Nadia menghela napas. Nathan segera menghampiri nya dan mencium pipinya.


“Jangan marah-marah ma. Kisah mereka berbeda. Biarkan mereka menjalani hidup mereka seperti yang akoh rencanakan.”


“Sudah-sudah. Ayo kita mulai makannya. Papa sudah lapar.” Nathan mengusap perutnya.


Mau tidak mau Nadia juga menghentikan ocehannya. Ia segera menyajikan makanan di piring Nathan. Dia memberi kode pada Nara yang hendak mengambil makanan untuk dirinya sendiri agar terlebih dulu melayani Alex.


“Hehehe. Maaf ma. Belum terbiasa.” Nara terkekeh dan meletakkan nasi dalam centongnya ke piring Alex.


“Harap maklum ya nak Alex. Nara ini meskipun sudah dewasa masih suka kekanak-kanakan.”


“Tidak apa ma. Alex tidak keberatan.” Alex tersenyum. Mendapat perhatian dari keluarga Nara membuatnya merasa hangat. Selama ini kehangatan keluarga hanya ia dapatkan dari para pembantu yang tentunya masih ada rasa canggung dari mereka. Dan rasa nyaman itu tentu saja berbeda dengan apa yang ia dapatkan dari keluarga barunya ini.


Setelah makan malam Nara dan Alex pamit pulang. Sebenarnya Nadia meminta keduanya untuk menginap barang sehari atau dua hari. Tapi Alex besok harus pergi ke luar kota pagi-pagi sekali. Jadi terpaksa mereka menolak keinginan Nadia.


...🍃🍃🍃


...

__ADS_1


Nara langsung masuk ke dalam kamarnya setelah ia tiba di rumah. Namun betapa terkejutnya ia saat melihat dua lemari yang berada di ruang ganti mereka.


“Kamu suka?” Alex melingkarkan tangannya di pinggang Nara. Mengelus perut istrinya dari belakang.


“Suka apa?”


“Dua lemari itu. Apa sudah sesuai dengan keinginan mu? Ayo kita lihat.” Alex menarik tangan Nara untuk mendekat dan membuka lemari.


Baju santai, kemeja, gaun pesta, baju tidur, lingerie, dalaman. Semua lengkap berada di dalam dua lemari itu. Sekarang Nara baru paham pertanyaan Alex tentang keinginannya. Rupanya suaminya menganggap gurauannya serius.


“Untuk tas dan sepatu besok akan dikirim.” Perkataan Alex selanjutnya membuat Nara hampir menjatuhkan rahangnya.


“Lex, bukankah aku bilang itu tidak perlu. Aku sudah punya banyak. Sepertiga yang ada di rumah mama yang aku bawa kesini hampir semuanya belum pernah aku pakai. Jadi buat apa membeli lagi sebanyak ini? Apalagi baju abal-abal ini. Kenapa ada banyak sekali?” Nara menunjuk lingerie yang memenuhi hampir setengah bagian lemari.


“Itu karena baju itu memang baju abal-abal seperti katamu. Hanya bisa dipakai sekali. Jadi kamu harus mempunyai banyak.”


Nara memutar bola matanya.


“Untuk tas dan sepatu tidak usah dikirim. Kamu cancel saja ya.” Nara mencoba bersabar.


“Tidak bisa. Semua sudah dibayar dan tinggal dikirim.” Jawab Alex santai.


“Tapi aku sudah punya banyak.”


“Iya. Kamu memang punya banyak. Tapi aku kan juga ingin membelikan mu semua barang ini. Jika kamu merasa terlalu banyak, kamu bisa berikan pada siapa yang kamu kehendaki. Gampang kan?”


“Hah baiklah. Karena sudah terlanjur, mau bagaimana lagi. Tapi lain kali kalau ingin membelikanku sesuatu, kamu tanya dulu padaku.” Nara meraih tangan Alex yang membingkai wajahnya. Menggenggamnya erat. Ia tahu Alex melakukan semua itu untuk menyenangkan hatinya. Tapi bagi Nara semua itu tidak begitu diperlukan.


“Baiklah. Maaf jika aku keterlaluan. Aku hanya ingin membuatmu bahagia.” Nara tersenyum.


“Aku tahu. Tapi sebenarnya yang paling membuatku bahagia saat ini adalah bisa bersamamu seperti ini. Kau tahu?”


“Ya. Aku tahu kamu sangat istimewa.” Alex memeluk Nara dengan erat. Betapa beruntungnya ia memiliki Nara sebagai istrinya. Perempuan yang terlihat manja di luar ini ternyata begitu sederhana.


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih 😘


__ADS_2