
Alex menjitak dahi Nara. Membuat istrinya mengaduh. “Jangan berpikir macam-macam. Aku tidak akan membiarkan orang lain melahirkan anak kita. Anakku tentu saja harus lahir dari rahimmu.” Alex tidak menduga jika istrinya itu punya pemikiran seperti itu.
“Lalu apa maksudmu tadi?” Alex mengeluarkan ponselnya. Membuka salah satu foto dan menunjukkannya pada Nara.
Nara membekap mulutnya saat melihat apa yang ada di layar ponsel Alex.
Sebuah tugu dari marmer berwarna putih susu dengan ukiran bertuliskan ‘Cinta’ di atasnya. Tulisan itu sendiri terbuat dari emas yang dilelehkan dan mengisi celah ukiran. Tulisan itu terlihat bersinar tertimpa cahaya matahari.
Nara tahu betul tempat dimana tugu itu berada. Itu adalah di samping kolam teratai kesukaannya di mansion Juantama. Tempat pertama yang akan ia lihat saat ia membuka korden setiap paginya.
“Ini...”
“Aku telah mengatur seseorang untuk membawa bayi kita pulang ke rumah. Aku ingin Cinta dikuburkan di sana. Di rumah kita. Meskipun Cinta tidak bisa berada di sisi kita, tapi Cinta tetap dekat di hati kita. Dengan Cinta berada disana, kita dapat mengunjunginya setiap saat.”
“Cinta?”
“Iya. Nama anak kita adalah cinta. Meskipun masih belum jelas dia laki-laki apa perempuan, tapi sebagai daddy-nya aku yakin dia adalah perempuan yang cantik.”
“Aku suka nama yang kamu berikan. Terima kasih.”
“Cinta ada karena cinta kita sayang. Kamu jangan khawatir. Aku telah menyiapkan dokter terbaik untuk merawat mu. Aku akan selalu menemanimu untuk melawan penyakit yang memaksa anak kita menjauh dari kita. Hm?” Alex memeluk Nara.
“Terima kasih telah sabar menghadapi ku Lex.”
**
Setelah pemulihan lima hari lamanya, Nara sudah kembali stabil dan bisa melakukan perjalanan panjang. Setiap prosedur pemindahan juga sudah selesai.
Saat tiba di Jakarta, Nara dan Alex akan fokus pada pengobatan Nara. Serena dan Nadia juga berjanji akan menemani Nara setiap kali berobat. Apalagi Alex juga pasti akan sibuk. Jadi di saat Alex benar-benar tidak bisa meninggalkan pekerjaan nya, ada Serena dan Nadia yang akan mendampingi Nara.
Begitu sampai di Jakarta, Nara langsung dibawa ke rumah sakit. Ia akan mulai pengobatan saat itu juga.
Setelah melalui berbagai pemeriksaan, dokter menyatakan jika sel kanker yang ada di tubuh Nara memang masih sangat kecil. Dan ini bisa disembuhkan dengan cara operasi dan dilanjutkan dengan kemoterapi untuk membersihkan sisa-sisa sel kanker yang tertinggal setelah operasi.
Namun untuk melakukan operasi ini harus menunggu kondisi Nara benar-benar siap. Apalagi Nara baru saja melakukan aborsi. Tentu saja kekebalan tubuhnya sedikit bermasalah.
__ADS_1
Setelah menjalani pemeriksaan, Nara dan Alex pulang. Sebenarnya Nara diminta untuk menginap. Tapi wanita itu enggan menginap di rumah sakit dalam waktu yang lama.
Nara juga merasa kondisinya akan cepat stabil jika ia ada di rumah. Jadi Alex pun mengizinkan jika Nara tinggal di rumah dan hanya melakukan pemeriksaan rutin saja.
Hari ini Alex secara pribadi menemani Nara periksa. Kondisi Nara sudah hampir stabil dan Minggu depan dijadwalkan akan dilakukan operasi pengangkatan kanker.
Nadia dan Serena tidak menemani karena sudah ada Alex. Kedua orang ibu itu juga harus memberi waktu untuk kedua anak mereka.
“Bagaimana kondisi istri saya dokter?” tanya Alex setelah dokter Selesai memeriksa Nara.
“Kondisi pasien semakin membaik. Saya bisa memastikan Minggu depan sesuai jadwal yang sudah ditentukan akan bisa melakukan operasi ini. Melihat keadaan pasien, saya menjamin keberhasilan operasi ini sampai sembilan puluh persen. Apalagi sel kanker ini masih sangat kecil. Kita beruntung karena ini terdeteksi sejak dini sehingga tidak menyebar ke organ yang lainnya.”
“Itu bagus. Terima kasih dokter. Saya akan membawa istri saya ke rumah sakit ini dua hari sebelum jadwal.”
“Baiklah tuan. Ini adalah obat yang harus dikonsumsi oleh nona Nara. Tolong pastikan meminumnya tepat waktu.” Pesan dokter itu. Alex mengangguk.
Nara yang baru selesai melalui pemeriksaan lanjutan segera menghampiri Alex. Setelah mengucapkan terima kasih, keduanya keluar dari ruangan dokter.
Di tengah perjalanan, Alex menghentikan mobilnya di depan sebuah apotek.
“Kenapa berhenti di sini sayang?” tanya Nara penasaran.
Lima belas menit kemudian Alex kembali dengan tas plastik di tangannya. Nara melihat barang yang dibeli Alex dengan tatapan ingin tahu.
“Kamu membeli apa?” tanya Nara akhirnya.
“Sesuatu yang penting.” Jawab Alex.
“Apa sih?” Nara merebut tas plastik dari tangan Alex. Alex membiarkan saja Nara membukanya.
Nara mengeluarkan satu kotak berwarna merah dari dalam tas plastik itu. Ia membolak-balikkan kotak itu dengan penasaran. Kotak itu masih tersegel dengan rapi. Ada gambar dua buah strawberry di atasnya.
“Ini permen?” tanya Nara akhirnya setelah ia tidak bisa mengetahui apa isi kotak itu.
“Bisa dibilang seperti itu.”
__ADS_1
“Wow ini rasa stroberinya. Pasti enak. Boleh aku minta satu?” tanya Nara berbinar.
Mendengar pertanyaan Nara, kepala Alex berdenyut. “Itu memang untuk kamu rasakan.” Jawab Alex akhirnya. Nara berbinar mendengarnya.
“Ini apa sih sebenarnya?” tangan Nara bergerak membuka kotak dengan gesit.
Nara mengambil satu dari dalam kotak. Mengangkatnya di udara dengan kedua jarinya.
“Ini sarung King Oyster? Hahaha. Ada yang rasa stroberi juga?” Nara terbahak-bahak. “Aku berharap kali ini ukurannya sesuai. Aku kasihan pada king oyster mu jika sarungnya kekecilan seperti waktu itu.” Lanjut Nara.
“Kali ini aku yakin sudah tidak salah lagi.”
“Kenapa sih harus pakai sarung segala?” Nara masih berusaha menahan tawanya. Ia masih ingat tampilan king oyster Alex yang terlihat lucu saat ia bersarung. Apalagi saat itu sarung King Oyster yang dibeli Alex kekecilan. Jadi jamur besar itu terlihat tersiksa di dalam sarung karetnya yang ketat.
“Memangnya kenapa? Apa kurang nikmat?” pertanyaan Alex membuat Nara merona.
“Ish. Bicara apa sih? Tidak sopan.” Nara memalingkan wajahnya yang Semerah tomat.
“Kenapa memangnya? Di sini hanya ada kita berdua. Jika kamu bilang aksi king oyster bersarungku kurang memuaskan, aku akan berusaha lebih keras lagi.” Alex mengabaikan peringatan Nara. Apalagi ia sangat menyukai tampilan Nara yang terlihat malu-malu itu. Terlihat sangat menggemaskan.
“Hentikan bicaramu Lex.”
“Kamu malu?” Alex mendekati Nara. Menarik wajah istrinya yang lebih memilih memandang ke luar jendela.
“Kita adalah pasangan suami istri sayang, membicarakan hal seperti ini tidak perlu malu Hem?” namun perkataan Alex bukannya membuat Nara tenang, yang ada kondisi wanita itu semakin merasa canggung. Apalagi saat ini wajah Alex tepat di depannya.
“Kamu masih belum boleh hamil dulu sayang. Baru setelah rahimmu siap untuk bayi kita, kita bisa langsung memulai program kehamilan. Apa kamu setuju?” Alex mengelus kepala Nara dengan lembut. Nara mengangguk setuju.
“Baiklah ayo kita segera pulang dan mencoba sarung King Oyster ini.” Alex mendekat. Kini Hembusan napas Alex menerpa kulit leher Nara yang terbuka.
“Kamu bisa rasakan sendiri bagaimana nikmatnya king oyster rasa strawbery.” Alex sengaja menggigit cuping telinga Nara. Setelah itu ia terkekeh melihat Nara membeku di tempatnya.
*
*
__ADS_1
*
Ayo reader kasih semangat AlexNara nya melawan penyakitnya!