
Siang ini menjadi sejarah yang akan membalikkan kehidupan di desa. Orang nomor satu di desa ditemukan tidak bernyawa dengan bersimbah darah. Terdapat banyak luka lebar yang mengeluarkan banyak darah di perutnya. Selain itu, di lehernya juga ada luka gores yang cukup dalam. Beberapa luka gores juga terlihat di kedua lengannya. Lebih mengenaskan lagi, kemalu*n sang juragan terpotong dan tergeletak disamping Tubuh penuh darah dan luka itu.
Tak jauh darinya, seorang wanita dengan perutnya yang buncit terduduk dengan baju yang penuh percikan darah. Tangannya menggenggam erat sebuah pisau dapur. Pipinya terlihat memar berwarna biru. Sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah. Dan wanita itu adalah Dian.
Anak buah juragan Bondan yang mendengar teriakan majikannya segera mendobrak pintu yang dikunci dari dalam. Mereka sangat terkejut melihat majikan mereka meninggal dengan cara yang mengenaskan.
Lebih terkejut lagi setelah melihat seseorang selain majikannya yang menjadi tersangka utama yang menghilangkan nyawa sang juragan. Mereka mengenali wanita itu sebagai wanita yang menjadi salah satu korban majikan mereka dan telah menghilang beberapa bulan. Tanpa berfikir panjang, Mereka langsung menyergap Dian. Mengikat tangannya ke belakang.
“Apa yang kamu lakukan hah?!” hardik salah satu antek juragan Bondan.
“Aku melakukan hal yang seharusnya aku lakukan sejak dulu. Laki-laki brengs*k seperti majikan kalian memang berhak mendapatkannya. Ini bahkan masih kurang untuk membalaskan semua penderitaan para wanita yang secara paksa harus melayani nafsu binatangnya.” Jawab Dian dengan tegas. Tanpa ada sedikitpun rasa penyesalan yang terdengar. Matanya pun terlihat nyalang dengan dendam dan kebencian yang terlihat jelas disana.
“Cepat beritahu Nyonya besar dan Nyonya muda.” Perintah salah satu dari mereka pada temannya.
Nadia segera datang secepat mungkin setelah mendapatkan kabar. Ia tak menyangka jika suaminya akan meninggal secepat dan setragis itu.
Tubuh Nadia terkulai saat melihat Dian berada di ujung ruangan dengan kondisi tangan yang terikat. Untung saja Joni dengan sigap menangkapnya hingga ia tak sampai terjatuh.
Bu Devi yang juga datang setelah Nadia langsung berlari menghampiri mayat suaminya yang masih bersimbah darah. Berteriak memanggil suaminya sambil menangis.
“Apa yang kamu lakukan pada suamiku gadis jal*ng!!” teriak Bu Devi sambil berusaha memukul Dian. Untung saja anak buah juragan Bondan dengan sigap menangkap tangan Bu Devi.
“Apa? Aku hanya memberinya pembalasan yang setimpal. Suamimu itu tidak pantas disebut suami. Suami macam apa yang sudah memiliki dua istri tapi masih saja menghancurkan gadis lain. Ini hanya hukuman kecil sebelum dia ketemu malaikat yang akan menyiksanya lebih parah.” Jawab Dian tanpa ragu. Dan jawabannya membuat emosi Bu Devi semakin memuncak.
“Apa katamu hah?! Berani sekali kamu mengatakan semua itu setelah kamu menghilangkan nyawa suamiku. Akan aku pastikan kamu membusuk di penjara.” Telunjuk bu Devi menuding Dian dengan tajam. Air matanya tak berhenti mengalir. Apalagi mendengar jawaban Dian. Membuat hatinya terbakar karena marah.
“Kalian sudah memanggil polisi?” tanya Bu Devi pada anak buah suaminya.
“Sudah nyonya besar. Kami juga telah menghubungi ambulan.”
__ADS_1
“Bagus. Tunggu pembalasanku jal*ng kecil. Kamu akan membusuk di penjara.” Bu Devi kembali duduk di sebelah suaminya yang terbujur kaku yang telah di angkat ke atas sofa. Kain yang digunakan untuk menutupinya terlihat memerah karena darah.
Nadia dengan tertatih dibantu Joni mendekati Dian. Air matanya juga menetes. Tapi air mata itu mengalir bukan untuk suaminya. Namun untuk wanita yang telah membunuh suaminya.
Wanita cantik itu tak menyangka jika gadis manis itu akan melakukan hal yang sangat mengejutkan. Ia berharap gadis itu akan menjalani hidupnya dengan baik di tempatnya yang baru. Siapa yang menyangka jika wanita muda yang sedang hamil itu akan nekat melakukan pembunuhan.
“Apa yang kamu lakukan Dian?” tanya Nadia lirih saat ia berada tak jauh di depan Dian.
“Aku berusaha membebaskan anda nyonya muda. Anda bebas sekarang. Tidak akan ada lagi orang yang akan menindas nyonya muda.”
Nadia bergeming. Jadi Dian melakukan semua ini untuknya? Ini tak masuk akal. Sejak kapan membantu orang dengan cara melenyapkan nyawa orang lain itu dibenarkan?
“Kamu sadar apa yang kamu lakukan Dian? Kamu bisa dipenjara.”
“Aku tidak peduli lagi nyonya muda. Hidupku memang sudah lama telah rusak. Tidak akan ada masalah jika aku dipenjara.”
“Aku sangat berterima kasih atas niat baikmu Dian. Tapi apapun alasannya, membunuh itu adalah suatu perbuatan yang jahat. Ini dilarang Dian.”
Melihat amarah yang ada di mata Dian, Nadia segera memeluk Dian.
“Hilangkan kebencianmu Dian. Balas dendam tidak akan menyelesaikan masalah. Sekarang lihat apa yang telah kamu lakukan karena amarahmu. Kamu bisa dipenjara. Apakah kamu mau anak kamu lahir di penjara?”
Diam terdiam. Dia tak memikirkan sampai sejauh itu. Yang ia pikirkan adalah bagaimana membebaskan Nadia dari juragan Bondan.
Hiks hiks hiks
Bahu Dian bergetar. Isak tangis mulai terdengar. Nadia semakin mengeratkan pelukannya. Mengusap punggung Dian dengan lembut.
“Semua akan baik-baik saja Dian. Aku akan membantumu sebisaku.”
__ADS_1
“Bisa-bisanya kamu membela wanita yang telah membunuh suamimu sendiri Nadia!” teriak Bu Devi ketika mendengar Nadia begitu perhatian pada Dian. “Atau jangan-jangan kamu yang memerintahkan pada jal*ng kecil ini hah?!” lanjutnya dengan tatapan sinis.
Saat Nadia hendak membalas perkataan Bu Devi, terdengar suara sirine ambulan dan mobil polisi. Bu Devi segera berdiri dan berlari menghampiri polisi yang baru saja turun dari mobil.
“Tenang Dian. Aku akan menemanimu nanti.” Nadia memandang sendu Dian yang duduk di depannya. “Joni, kamu hubungi dokter Nathan. Bilang padanya untuk membawa dokter Wisnu ke kantor polisi. Aku akan menemani Dian.” Joni mengangguk sekilas sebelum berlalu keluar dari ruangan.
“Ini pak polisi. Wanita ini yang telah membunuh suami saya.” Tunjuk Bu Devi pada Dian. “Dan saya yakin jika dia yang menyuruhnya.” Lanjutnya sambil menunjuk Nadia.
“Tenang bu. Biarkan kami melakukan pemeriksaan.” Kata polisi itu. Sedangkan seorang polwan segera membawa bu Devi ke ruangan lain untuk ditenangkn dan agar tidak mengganggu pemeriksaan.
“Mohon maaf, ibu bisa keluar terlebih dulu.” Kata seorang polisi pada Nadia.
“Mohon maaf sebelumnya pak polisi. Kondisi mental Dian sedang tidak stabil. Baru satu bulan ini dia dinyatakan sembuh. Jadi bisakah saya menemaninya?” Jelas Nadia. Polisi itu mengernyit. Melihat Dian dengan perut yang buncit dalam kondisi mental yang terganggu. Dari sini, polisi itu sedikit mendapat gambaran motif Dian melakukan pembunuhan.
“Baiklah Bu. Anda bisa menemani tersangka.”
“Terima kasih pak.”
Polisi segera menjalankan tugasnya. Sedangkan petugas dari rumah sakit segera membawa jenazah juragan Bondan untuk dilakukan autopsi untuk melengkapi berkas perkara.
Setelah semua petugas melakukan tugas mereka, mereka segera kembali ke tempat mereka.
Suara bisik-bisik warga desa terdengar ketika Nadia menuntun Dian untuk masuk ke dalam mobil polisi. Nadia menutup kepala Dian menggunakan jaketnya agar tidak ada yang mengenalinya. Mereka akan tambah bergosip jika mengetahui Dian tengah hamil besar.
*
*
*
__ADS_1
Siapa yang puas kalau juragan Bondan akhirnya the end?🤔
Kasih like 👍 donk ke akoh kalo gitu 😎