Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_45. Tidak Ada Yang Bisa Memaksaku


__ADS_3

Nara dengan serius memilih desain untuk pesta pernikahannya. Di sampingnya, Rafael juga ikut sibuk membuka buku katalog berisi desain yang diberikan oleh pihak WO yang ia sewa.


“Ini bagus. Bagaimana menurutmu?” Rafael memperlihatkan satu contoh desain. Nara meliriknya sekilas.


“Bagus. Tapi tidak cukup bagus. Desain ini terlalu norak.” Nara mengibaskan tangannya tanda tak setuju.


“Baiklah. Karena kamu berkata ini buruk, artinya memang buruk. Kita cari yang lain lagi.” Rafael segera menarik kembali buku itu.


“Yah. Itu buruk.” Kata Nara kembali membuka buku. “Ah! Aku mau yang seperti ini.” Nara menunjukkan desain pada dua wanita yang duduk di depannya. Dua wanita yang merupakan pemilik dan sekretaris dari WO itu tersenyum.


“Ternyata nona memiliki pandangan yang bagus. Desain ini memang desain terbaru kami. Ini masih digunakan satu kali pada pernikahan putra pemilik Golden Ds. Perusahaan nomor satu di Kalimantan. Dan juga merupakan orang terkaya kedua di Indonesia.” Jawab Wina. Sang pemilik WO.


“Pilihan Nara memang yang terbaik.” Rafael tersenyum senang. Jika Nara seantusias ini pada pernikahan mereka, itu artinya gadis itu telah berada di bawah kekuasaannya.


Dengan semua yang dimiliki Rafael saat ini, memang tidak akan ada wanita yang akan mampu menolaknya. Wajahnya tampan. Denagn body atletis hasil dari nge-gym setiap akhir pekan. Belum lagi kekuasaan yang dipegang di tangannya. Membuat Rafael menjadi sosok laki-laki sempurna.


Nara mengabaikan pujian Rafael padanya. “Aku mau nanti ditambahi......” Nara menyebutkan semua yang ia inginkan ada di pesta pernikahan nya. Semua serba mewah mulai dari katering hingga souvenir.


Semua biaya untuk pesta ditanggung oleh Rafael. Itulah mengapa Nara memilih semua yang mewah dan mahal. Ia bahkan meminta chef yang memasak untuk katering nanti didatangkan langsung dari Itali. Bukan mendatangkan dari milik Nadia.


“Apa kamu tidak keberatan dengan permintaanku?” Nara tersenyum manis pada Rafael saat bertanya.


“Tidak. Tentu saja tidak. Semua akan seperti apa yang kamu minta.”


“Itu bagus. Kamu memang bisa diandalkan.” Puji Nara.


“Tentu saja. Aku adalah calon suami yang terbaik.” Rafael mengangguk dengan bangga. “Persiapkan semuanya sesuai dengan keinginan calon istri saya.” Rafael berkata dengan sombong pada Weni.


“Tentu saja tuan. Kami tidak akan mengecewakan kalian.”


“Oh ya aku sampai lupa. Karena calon suamiku ini adalah orang yang kaya raya, aku ingin nantinya di setiap souvenir disertakan gelang rantai emas sepuluh gram yang akan melambangkan bahwa cinta kami seperti rantai yang kuat. Benarkan Rafa?” Nara seperti berbicara pada Rafael yang duduk di sampingnya. Namun kenyataannya, di dalam pikirannya saat ini dipenuhi dengan Alex, Alex dan Alex.


“Ya ya ya. Tentu saja Nara. Aku sangat mencintaimu. Jadi apapun yang kamu inginkan aku tidak akan ragu untuk memberikannya untukmu.”


“Hem. Memang tidak mengecewakan.”


“Apakah ada kriteria khusus untuk gelangnya nanti?” tanya Weni. Dia sudah berpengalaman menghandle pernikahan orang-orang besar. Jadi permintaan Nara pasti bisa ia kerjakan.


“Em...” Nara mengetuk dagunya sambil berpikir.


“Apa kita sertakan tulisan huruf R dan N sebagai inisial nama kalian?” tanya Weni saat melihat Nara belum kunjung memberikan jawabannya.


“Itu tidak perlu.”


“Kenapa? Bukankah memang sudah biasanya souvenir selalu menyertakan inisial nama mempelai?” Rafael mengernyitkan alisnya.

__ADS_1


“Iya. Tapi buat apa diperlukan hal semacam itu? Dengan pesta pernikahan yang semewah itu dan juga souvenir yang fantastis, tidak akan ada yang bisa melupakan pernikahan ini.” Ujar Nara meyakinkan Rafael.


“Tidak masalah. Karena calon istri saya berkata seperti itu, persiapkan saja seperti yang dia inginkan. Lagi pula memang benar apa yang dikatakannya. Dengan pesta yang semewah ini, pasti tidak akan pernah dilupakan oleh orang-orang.”


“Itulah maksudku.” Nara menjawab dengan puas.


“Baiklah. Kami akan segera mempersiapkan semuanya. Setiap ada perkembangan, kami akan mengabari kalian.”


“Terima kasih banyak.” Ucap Nara dan Rafael bersama.


“Oh ya. Lusa kita bisa pergi ke butik untuk memesan gaun pernikahan nya. Apakah kalian ada kesibukan di hari itu?”


“Aku akan mengosongkan jadwalku. Bagaimana deganmu Nara?” Rafael menoleh pada Nara.


“Tidak masalah.”


Pembicaraan masalah pernikahan telah selesai. Rafael mengajak Nara untuk pamit. Mereka keluar dari kafe tempat pertemuan terlebih dahulu. Meninggalkan Weni dan sekretaris nya yang masih perlu mendiskusikan rencana selanjutnya.


“Bagaimana kalau kita nonton dulu.” Usul Rafael saat mereka baru masuk ke dalam mobil.


“Tidak. Antarkan aku pulang. Aku lelah.” Tolak Nara. Ia sebenarnya sangat malas menghabiskan waktunya dengan Rafael, tapi semua itu harus ia lakukan.


“Apa kita mampir toko kue saja?” tawar Rafael lagi.


“Hem. Baiklah. Tapi aku bisa kan membawa oleh-oleh pada keluargamu?” Rafael masih belum menyerah. Ia ingin menghabiskan waktu dengan Nara lebih lama lagi.


“Silahkan saja.” Nara mengambil ponselnya yang ada di tas. Membuka aplikasi WhatsApp untuk berkirim kabar dengan ketiga temannya yang sudah empat hari tidak bertemu.


Rafael langsung pulang setelah mengantarkan Nara. Gadis itu bahkan tidak repot berbasa-basi untuk menawarkan Rafael untuk mampir saat Rafael berkata ia harus segera ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya.


Kedatangan Nara langsung disambut oleh Nadia. Wanita itu sengaja menunggu kedatangan putrinya.


“Ma. Mama kenapa di sini? Tidak sengaja menungguku kan?” tanya Nara yang melihat Nadia langsung menghampiri nya saat dia baru masuk.


“Mama memang menunggumu. Ada yang ingin mama bicarakan denganmu sayang.” Ucap Nadia serius.


“Baiklah ma. Tapi bolehkah aku mandi dan ganti baju dulu?” tanya Nara sambil mengendus aroma tubuhnya. Ia tidak suka ada bau Rafael di tubuhnya.


Nadia paham betul alasannya meskipun tidak Nara ungkapkan. “Tentu saja. Setelah kamu selesai temui mama di kolam.” Nadia tersenyum mempersilahkan.


“Iya ma.” Nara mengangguk sebelum berlalu meninggalkan Nadia.


Nadia menghela napasnya panjang sebelum ia juga berlalu dan pergi ke kolam renang. Tapi sebelumnya, ia pergi ke dapur untuk meminta mbok Ida menyiapkan minuman dan camilan untuknya dan Nara nanti.


Setelah selesai dengan urusan nya, Nara menghampiri Nadia di pinggir kolam. Wanita paruh baya itu duduk dengan santai sambil menyesap teh yang terlihat mengepulkan asap. Namun wajahnya sudah cukup memperlihatkan kekhawatiran yang ada di hatinya.

__ADS_1


“Sini. Duduk sini.” Perintah Nadia saat melihat Nara yang baru datang. Nara segera duduk di kursi di sebelah Nadia.


“Ada apa ma?” tanya Nara penasaran.


“Mama hanya ingin bicara saja denganmu.” Nadia menatap Nara dengan sendu. Tidak dipungkiri ia takut Nara tidak akan bahagia dengan pernikahannya.


“Sebentar lagi kamu akan menikah. Mama tidak menyangka ternyata waktu cepat sekali berlalu.” Nadia menghela napas. Nara masih mendengarkan dengan seksama.


“Mama tidak menyangka jika sejarah akan kembali terulang.”


“Ma...”


“Mama tahu kamu tidak mencintai Rafael kan? Tapi Alex?” Nadia menatap dalam netra Nara.


“Mama memang manusia super. Tahu segalanya.” Nara terkekeh.


“Mama sedang tidak bercanda Nara.”


“Nara juga tidak ma.” Nara menatap mata Nadia. “Nara punya kak Bisma, kak Bima, papa, dan juga Alex. Mereka sedang berjuang ma. Lalu apa yang mama takutkan?” Nara bangun dan bersimpuh di depan Nadia yang sudah mulai menitikkan air mata. Menggenggam tangan lembut Nadia.


“Mama takut kamu mengalami apa yang mama rasakan dulu. Mama tidak mau kamu menderita sayang.” ucap Nadia di sela isak tangisnya. Nara mengelus punggung tangan Nadia. Kemudian mencium tangan itu dengan dalam.


“Percaya padaku ma. Meskipun aku pada akhirnya harus menikah dengan Rafael, aku tidak akan pernah membiarkan aku menderita. Mama mengenalku sejak dulu, tidak ada yang bisa memaksaku. Aku sudah banyak belajar dari mama. Aku pasti akan dapat melaluinya dengan baik.” Ucap Nara yakin.


Mendengar ucapan Nara, Nadia merasa sedikit tenang. Wanita itu lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Sebuah kalung dengan liontin sebuah cincin menggantung di tangan Nadia.


“Ini adalah kalung dan cincin yang menjadi mas kawin pernikahan mama dan bapak. Mama rasa, mulai saat ini kamu berhak memakainya.” Nadia meraih tangan Nara dan meletakkan kalung itu di telapak tangan itu.


“Ini terlalu berharga mama.” Meskipun Nara tahu jika mamanya tidak pernah mencintai bapaknya, namun Nara mengetahui jika mamanya menghormati juragan Bondan, bapaknya. Semua barang-barang pemberian juragan Bondan masih Nadia simpan dengan baik.


“Tidak apa nak. Kamu juga berharga. Sini mama bantu pakaikan.” Nara membalik badannya agar Nadia mudah memasang kalung yang dulu selalu ia pakai saat masih menjadi istri juragan Bondan.


“Kamu adalah mutiara indah milik mama dan bapak.” Nadia mengecup kening Nara. “Mama yakin bapak juga mendoakan kebahagiaan mu dari atas sana.” Lanjutnya.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 🤩


Siap²! beberapa episode kedepan akan menguras esmosi, mengurai air mata dan menyesakkan jiwa 😘


So, siapkan jiwa raga kalian ya🐈

__ADS_1


__ADS_2