Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_81. Sindrom Couvade


__ADS_3

Tanpa terasa tiga hari telah berlalu. Malam ini adalah malam terakhir Nara sekeluarga berlibur di Lombok. Besok pagi mereka akan kembali pulang.


Karena malam ini adalah malam terakhir mereka, Alex sudah menyiapkan makan malam mewah di salah satu ruang VIP di restoran hotel tempat mereka menginap yang berada di lantai paling atas.


Malam itu adalah makan malam keluarga yang sangat hangat. Mereka menikmati hidangan dengan penuh suka cita. Tawa canda dan berbincang ria mengisi moment makan malam yang hangat itu.


Malam semakin larut. Mereka memutuskan untuk kembali ke kamar mereka masing-masing agar besok tidak sampai kesiangan.


Namun saat baru keluar dari ruangan, Nara mendadak ingin pipis. Ia meminta Alex menunggunya sementara ia pergi ke kamar mandi.


“Aku harus cepat kembali. Kasihan Alex menunggu terlalu lama.” Nara tergesa-gesa keluar dari kamar mandi.


Baru beberapa langkah, matanya menangkap sosok yang dia kenali yang baru masuk ke dalam lift. Nara segera berlari untuk mengejar. Namun dari jauh terlihat pintu lift perlahan tertutup. Nara semakin mempercepat langkahnya.


“Vera! Vera! Berhenti. Tunggu aku.” Teriak Nara. Alex yang melihat Nara berlari dengan tergesa-gesa segera menghampiri istrinya.


Meskipun Nara sudah berlari dengan cepat, ia tetap tidak bisa mengejar Vera yang sudah hilang di balik pintu lift. Nara berhenti dan terduduk di lantai dengan nafas yang tersengal-sengal.


“Ada apa sayang?” Alex membantu Nara berdiri.


“Vera. Aku melihat Vera. Dia masuk ke lift.” Nara menunjuk lift yang tidak jauh dari mereka.


“Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Jika sudah takdirnya Vera ketemu pasti akan bertemu. Kamu jangan sampai mengabaikan keselamatan mu. Berlari dengan hak tinggi itu sangat berbahaya kamu tahu?”


“Maaf. Aku hanya tidak ingin kehilangan kesempatan.”


“Kalau pun kita kejar sekarang, dia juga tidak akan ketemu. Dia pasti sudah pergi. Sekarang lebih baik kita kembali ke kamar. Percayalah, jika memang sudah waktunya, Vera pasti akan ketemu. Apalagi dia berada sangat jauh di sini. Dia pasti sengaja menghindar dari kita.”


“Kamu benar.”


**


Pagi ini Alex lagi-lagi merasakan mual di perutnya. Namun kali ini mual itu lebih parah dari pada sebelumnya. Tubuh Alex hingga lemas dibuatnya. Itulah mengapa Nara memutuskan untuk membawa Alex ke rumah sakit.

__ADS_1


Saat Alex dan Nara berangkat, belum ada satu orang pun yang bangun kecuali para pengurus vila. Jadi mereka hanya berangkat bersama Sindy dan Tora yang memang siap sedia di vila.


Sampai di rumah sakit, Alex langsung diperiksa oleh dokter. Namun dokter mengatakan bahwa kondisi Alex baik-baik saja. Hanya lemas karena perutnya kosong. Dia juga sedikit kekurangan cairan.


“Apa dokter yakin? Sebab sudah dua hari ini suami saya mual setiap pagi harinya dokter.”


Dokter itu terdiam sementara. Melihat kondisi Alex yang terlihat lemas memang sepertinya ada masalah. Tapi setelah ia mengeceknya, memang tidak ada yang salah dengan kondisi laki-laki muda itu.


“Ah begini saja, lebih baik sekarang anda saja yang diperiksa.” Kata dokter pada Nara. Nara tentu saja terkejut. Dia baik-baik saja. “Tapi periksanya bukan di sini.” Lanjut dokter itu saat melihat wajah kebingungan Nara.


“Saya baik-baik saja dokter. Kenapa saya harus diperiksa?”


“Begini, memang ini jarang terjadi. Tapi ini juga beberapa terjadi kasus serupa. Di saat kondisi sang istri mengalami perubahan, suami lah yang akan merasakan dampaknya.”


“Maksud dokter apa? Saya benar-benar tidak mengerti.”


“Saya menduga ini adalah gejala sindrom couvade atau kehamilan simpatik. Kondisi dimana suami ikut merasakan gejala kehamilan yang biasanya dirasakan oleh istri. Seperti mual dan lemas.” Jelas dokter tersebut.


“Jadi maksud dokter istri saya sedang mengandung?” Alex yang dari tadi menyimak bertanya dengan antusias. Meskipun tidak pernah menyinggung masalah anak, sebagai seorang laki-laki yang sudah menikah tentu saja menginginkan kehadiran anak. Sedangkan Nara memandang Alex dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Ia takut membuat Alex kecewa saat melihat betapa bahagianya Alex saat ini meskipun yang ia dengar hanya perkiraan.


“Baiklah kalau begitu. Terima kasih dokter.” Alex menggenggam tangan Nara yang mendadak menjadi dingin. Ia tidak menyangka akan mendapatkan kabar yang tidak terduga ini.


Alex meminta bantuan Sindy untuk mendaftarkan Nara untuk periksa kehamilan. Dia sendiri menemani Nara yang masih diam sejak keluar dari ruang periksa dokter tadi.


“Sayang kenapa kamu diam saja? Apa kamu tidak bahagia?” Alex bertanya dengan cemas.


“Aku takut Lex. Aku takut membuatmu kecewa jika hasilnya tidak sesuai dengan keinginan kita.” Jawab Nara sendu. Alex menarik kepala Nara dan ia sandarkan di bahunya.


“Jangan terlalu dipikirkan. Anak adalah titipan. Jika kamu memang belum hamil, aku tidak mengapa. Malahan kita akan lebih punya banyak waktu berdua.”


“Terima kasih sayang.” Ucap Nara. Dia merasa tenang sekarang. Ia bersyukur memiliki suami seperti Alex.


Setelah menunggu selama lima belas menit, kini giliran Nara untuk diperiksa. Dokter memeriksa kondisi Nara dengan teliti.

__ADS_1


“Bagaimana dengan hasilnya dokter?” tanya Nara cemas.


“Ibu Nara memang sedang hamil. Usia kandungannya baru berjalan tiga Minggu. Namun ada sesuatu yang perlu diperiksa lebih lanjut.”


“Apa ada masalah?” tanya Alex khawatir.


“Setelah saya periksa, saya mendeteksi ada sedikit masalah pada kandungannya. Dan ini memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.” Jelas dokter kandungan bernama Rini itu.


“Baiklah dokter. Lakukan pemeriksaan lebih lanjut.”


Akhirnya Nara menjalani serangkaian pemeriksaan. Alex juga memberi kabar pada keluarga mereka yang buru-buru datang setelah mendapat kabar.


Nadia, Serena dan Nathan bergegas ke rumah sakit. Sedangkan Bisma harus pulang karena tidak mungkin meninggalkan perusahaan dalam waktu yang lama. Dini dan Gerry juga ikut pulang karena mereka harus sekolah keesokan harinya.


Semua orang memberi semangat pada Nara. Meminta Nara dan Alex bersabar. Mereka juga mendoakan agar kondisi Nara dan bayinya baik-baik saja.


Sore hari, prosedur yang harus dilalui Nara akhirnya selesai. Seorang suster meminta Alex ke ruangan dokter untuk membicarakan masalah kondisi Nara. Nathan juga ingin mengetahui kondisi Nara dan ikut Alex ke ruangan dokter. Sedangkan yang lainnya menunggu di ruangan Nara dengan cemas.


“Jangan khawatir sayang. Semua akan baik-baik saja.” Nadia memeluk Nara. Ia tahu anaknya ini sedang dalam kondisi yang tidak baik.


Kehamilan Nara ini adalah yang pertama untuknya. Dan sekarang malah ada masalah. Tentu saja ini membuat beban mental untuk Nara.


“Nara takut mama.” Nara menangis di pelukan Nadia.


“Jangan cemas. Ada papa dan juga Alex. Kamu tenang saja. Ini pasti hanya masalah kecil.” Nadia berusaha menenangkan.


“Mamamu benar sayang. Masalah di kehamilan pertama itu sesuatu yang wajar. Jadi jangan cemas. Saat ini ilmu medis sudah maju. Alat kesehatan juga sudah canggih. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Serena ikut menepuk punggung Nara.


Meskipun Nara mengangguk, namun di hatinya tetap saja merasa khawatir.


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih. 😘


__ADS_2