
"Bapak pulang kapan Jon?" tanya Nadia ketika dia baru masuk ke dalam mobilnya. Setelah dia keluar dari sanggar keterampilan.
"Kenapa? Sudah kangen dengan guling hidupmu?" Joni terkekeh. Menggoda Nadia sangat menyenangkan.
"Ck. Guling hidup. Tak tahukah kau Jon setiap tidur dengannya aku membayangkan beruang besar yang menyeramkan." Joni semakin terkekeh. Mana ada seorang istri yang mengibaratkan suaminya sendiri sebagai beruang.
"Kau aneh Nad. Apa selama ini tidak ada perasaan yang tumbuh di hatimu?"
"Perasaan apa yang kau harapkan tumbuh?"
"Cinta mungkin."
"Hahaha. Tidak Jon. Hatiku pasti sudah mati sekarang."
"Kamu hanya belum menemukannya saja Nad."
Kata cinta sama sekali tak terlintas di benak Nadia sekarang. Kata itu bahkan terdengar asing. Sudah dua tahun pernikahan itu berlangsung dan tidak ada perasaan yang tumbuh di hati Nadia. Yang ada hanyalah kebencian yang semakin lama semakin menumpuk.
Mungkin julukan pelac*r memang sesuai untuk Nadia. Melayani seorang laki-laki tanpa ada rasa hampir setiap malam adalah hal yang sudah biasa dilakukan Nadia. Melakukan itu hanya demi uang yang selama ini dikeluarkan juragan Bondan untuk kuliahnya dan juga memenuhi kebutuhan hidup bapaknya. Bukankah itu hampir sama dengan seorang pelac*r yang menjual tubuhnya?
"Jon besok antar aku ke rumah bapak ya. Sudah satu minggu tidak mengunjungunya."
"Siap nyonya."
Nadia berdecak. Setiap mendekati rumah, Joni akan berubah menjadi anak buah yang taat kembali. Bersikap acuh dan kaku. Seperti tak saling mengenal. Itu semua memang sudah disengaja oleh Joni. Dia tidak mau jika kedekatannya dengan Nadia membuatnya dipindah tugaskan dan Nadia akan mendapatkan Bodyguard baru.
__ADS_1
"Sudah sampai nyonya."
"Aku tahu." Ucap Nadia cuek. Nadia segera turun setelah mobil yang dia tumpangi dibukakan oleh Bodyguard yang berjaga di depan rumah. Setelah Nadia keluar, Bodyguard itu membungkuk hormat pada Nadia.
"Juragan sudah menunggu di dalam nyonya muda." ucapnya. Nadia hanya mengangguk. Dia paham ucapan itu. Sekarang waktunya tubuhnya bekerja. Itulah arti sesungguhnya.
Sekarang Nadia tahu mengapa Joni tidak menjawab pertanyaannya. Joni tahu jika lelaki tua itu sudah pulang. Dasar Joni! Nadia mengumpat dalam hati. Merutuki temannya itu. Berani-beraninya dia melakukan itu padanya.
Nadia segera melangkahkan kakinya ke dalam. Tubuhnya lelah setelah seharian berada di luar rumah. Dari pagi hingga siang dia berada di sekolah. Dan sepulang dari sekolah dia pergi ke sanggar untuk memberitahukan bahwa ada pesanan yang diterima oleh sanggar bimbingannya.
Dan sekarang, di rumah sudah ada suami mesum yang menunggunya untuk menikmati tubuhnya. Huh! Hidup yang melelahkan.
Nadia masuk ke dalam kamar. Setidaknya perlu waktu hingga setengah jam setelah obat kuat yang diminum juragan Bondan akan bereaksi. Waktu yang cukup untuk membersihkan tubuh yang lengket, pikir Nadia.
"Aku sangat merindukanmu sayang."
"Kenapa kamu masih berdiri disana? Kemarilah!" juragan Bondan tidak sabaran dan berjalan mendekati Nadia. Memeluk gadis itu dengan erat.
"Pintunya belum ditutup." ucap Nadia membuat pria itu terkekeh. Dia merasa bahwa Nadia sama dengannya yang sudah tidak sabar menyalurkan hasratnya. Padahal Nadia yakin jika di luar sana suaminya itu tidak kekurangan wanita untuk ditiduri.
Joni pernah bercerita jika setiap hari juragan tua itu tidak pernah melewatkan satu haripun tanpa sx. Dia benar-benar maniak.
"Baiklah sayang. Bersiap-siaplah. Aku akan menutup pintunya. Aku tahu kamu juga pasti sudah tidak sabaran." ucapnya. Nadia masam. Dia bukannya tidak sabaran. Dia bahkan akan menolak jika itu memungkinkan. Jika bukan nyawa ayahnya yang menjadi taruhannya, dia akan menolak setiap kali laki-laki itu menggerayanginya.
Dia hanya malu. Di luar kamar banyak Bodyguard yang berjaga. Belum lagi pelayan yang seliweran. Yuli dan Devi pasti berada dalam kamar sekarang. Mereka pasti dapat mendengar dengan jelas suara yang kedua orang dewasa itu keluarkan selama aktivitas ranjang mereka. Suara itu sangat sulit diredam. Keluar dengan sendirinya.
__ADS_1
Sebuah tangan besar melingkar dan mengelus perut Nadia ketika dia baru saja meletakkan tasnya di atas meja. Tak alam berselang, Sebuah bibir sudah memberikan stempelnya di tengkuk Nadia. Tangan yang berada di perut sudah bergerilya di seluruh permukaan tubuh lainnya. Menelusup ke dalam kemeja.
Nadia hanya diam. Membiarkan laki-laki itu melakukan apapun pada bagian depan tubuhnya. Nadia mendesah beberapa kali. Walaupun hatinya menolak dengan keras. Tubuhnya bereaksi sebaliknya. Dia wanita normal. Hormon wanitanya menginginkan lebih.
Juragan Bondan membalik tubuh Nadia. Mencium bibir gadis itu. Mel***t benda kenyal itu. Walaupun Nadia tidak pernah membalasnya, dengan merasakannya juragan Bondan sangat puas. Menurutnya, tak ada rasa bibir senikmat milik Nadia.
Tangannya dengam cekatan membuka kancing kemeja satu persatu. Menjatuhkan kain yang menutupi tubuh mulus istrinya. Ciuman semakin turun. Leher jenjang itu kini tak mulus lagi. Beberapa tanda merah tercetak disana. Nadia merintih merasakan nyeri. Membuat Juragan Bondan semakin bersemangat. Di dorongnya Nadia Hingga terjerembab di atas kasur.
Dan sekali lagi, malm ini akan menjadi malam panjang yang penuh perjuangan untuk Nadia. Hanya ia yang tahu bagaimana selama ini ia merasa tertekan dengan semua yang terjadi. Bagaimna ia berusaha merelakan tubuhnya untuk dinikmati oleh suaminya sendiri. Penyatuan yang seharusnya penuh kenikmatan harus dinikmati Nadia dengan penuh pergolakan di dalam hati. Mau menolak pun ia tidak bisa. Bagaimanapun, juragan Bondan adalah suaminya yang memang berhak atas semua yang ada di dalam tubuhnya.
Walaupun di luar sana dia tidak pernah kekurangan wanita, hanya Nadia yang bisa menuntaskan hasratnya. Tubuh Nadia benar-benar membuatnya kecanduan. Sehari saja tidak merasakan milik Nadia, Juragan Bondan merasa masih kurang sehingga bisa menikmati dua hingga tiga gadis sekaligus.
Namun sekarang. Dengan Nadia dia begitu bersemangat. Menggerakkan panggulnya dengan semangat tanpa merasa lelah. Membuatnya merasa lebih sehat. Olah raga lainnya tidak dibutuhkan sekarang. Yang dia butuhkan adalah tubuh Nadia. Tubuh istri mudanya.
Setelah selesai dengan urusannya, juragan Bondan ambruk di samping Nadia. Mengistirahatkan tubuhnya yang lelah setelah semua perjuangannya.
Sedangkan Nadia, dia mencoba melepaskan diri dari pelukn suaminya setelah suaminya sudah terlelap. Ia tak bisa membiarkan tubuhnya tidur dalam keadaan yang seperti itu. Baginya, ini menjijikkan.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😘
__ADS_1
^^^~***Aku Istri Muda***~^^^