
Maaf ketidaknyamanannya sekali lagi....😘
Padahal draft Akoh udah urut sesuai nomor. Entah kenapa yang episode 47 bisa nyempil di situ. Ah... sebagai permintaan maaf, akoh keluarin 2 episode. Maap ea Reader akoh tercinta. Tetep setia sama cerita akoh...😍
Rumah kontrakan yang mereka tempati berukuran kecil, dengan ruang tamu, dua kamar tidur, ruang keluarga yang bersambung dengan ruang makan, dan dapur kecil yang bersebelahan dengan kamar mandi. Namun nyaman ditinggali karena penataan perabotan yang tersusun secara rapi.
Pada saat ini, di meja makan sudah tersaji beberapa menu masakan yang dimasak langsung oleh Nadia. Semangkuk sup ayam, perkedel kentang yang dicampur dengan wortel yang diiris dadu kecil, juga sambal kacang sebagai pelengkap. Ada juga ayam balado yang tersaji di atas piring. Terlihat sangat menggoda. Di sampingnya ada sepiring tumis kangkung yang diberi irisan tempe dan juga cabai. Setoples kerupuk juga tampak tersedia di atas meja.
Di sekeliling meja terdapat enam orang yang sudah bersiap untuk makan siang bersama. Dian, Nadia, Bu Minah, Joni, dokter Nathan dan Dokter Wisnu yang kebetulan masih belum pulang. Jadi bisa sekalian mengobrol di sana.
“Tunggu apa lagi, ayo silakan makan. Maaf saya bukan seorang yang jago dalam memanjakan lidah.” Kata Nadia ketika melihat semua orang hanya diam. Mereka hanya canggung. Bu Minah yang menjadi tuan rumah merasa tidak enak. Mengingat rumah itu adalah rumah yang disediakan oleh Nadia dan Nathan untuknya dan Dian.
“Mari makan. Dian kamu mau lauk apa sayang?” tanya Bu Minah dengan penuh kasih sayang.
Sedangkan Nathan sudah menjadi orang pertama yang memindahkan nasi ke dalam piringnya. Tentu saja ia penasaran dengan rasa masakan Nadia, sejak ia menemani Nadia tadi sudah tercium aroma masakan yang menggugah selera hingga tanpa diduga rakyat dalam perutnya sudah berdemo.
“Aku akan mengambil sendiri bu. Tidak perlu merepotkan ibu.” justru Dian mengambil nasi sesuai porsi ibuknya. Mengisinya dengan lauk yang disukai ibunya. Kemudian menyerahkannya pada ibunya yang duduk di sebelahnya.
“Makanlah bu. Mengurusku pasti sangat menguras tenaga ibu.” Dian memandang ibunya sendu. Semua orang yang melihat pemandangan itu tak ada yang tak terharu. Menyaksikan kehangatan kasih sayang antara ibu dan anak adalah kebahagiaan yang indah.
“Ayo Dian, kamu juga ambilah makanan.” Nadia tersenyum lembut. Di piringnya sendiri sudah terisi nasi dan lauk ayam balado dan tumis kangkung yang jadi pilihannya.
Mereka makan dengan diiringi pembicaraan ringan. Nadia, Nathan dan Joni bergiliran bahkan bersautan saat menceritakan kabar terbaru di desa selama Dian dan Bu Minah meninggalkan desa itu. Dokter Wisnu yang mempunyai sigat friendly dapat dengan mudah berbaur. Sesekali ia juga menimpali pembicaraan antara mereka.
“Anda bohong jika anda berkata anda tidak pandai memanjakan lidah bu Nadia. Faktanya masakan anda sangat nikmat.” Puji Dokter Wisnu setelah piringnya kembali kosong.
“Terima kasih pujiannya dokter. Ini adalah masakan orang desa. Pasti di kota banyak masakan yang lebih nikmat dari ini.” Nadia merendah. Masakan yang ia buat hanyalah masakan sederhana yang biasa dimasak di desanya.
“Tapi dokter Wisnu benar Bu Nadia. Ini memang enak. Kalau perut saya masih muat, pasti piring ini akan saya isi ulang.” Dokter Nathan membalik sendoknya di atas piring. Menandakan ia sudah selesai.
__ADS_1
“Nadia ini memang jagonya masak. Dulu waktu main masak-masakan dia yang jadi kokinya.” Joni mengingat masa kecilnya. “Kamu ingat nggak Nad waktu kita mencari ikan di sungai. Eh waktunya masak kamu disuruh pulang sama paman Rahmat.” Lanjutnya sambil memandang Nadia. Nadia terdiam dan berfikir.
“Ah ya aku ingat Jon. Akhirnya kamu kan yang masak?” senyum mengejek Nadia terbit.
“Mau gimana lagi. Nggak ada yang mau. Daripada ikannya busuk nggak kemasak.”
“Tapi sepertinya lebih baik jadi busuk deh daripada kamu masak terus pada sakit perut.”
“Iya ya. Parah banget waktu itu Nad. Aku sampek bolak balik ke kamar mandi.”
“Besoknya kamu di demo kan? Hahahaha. Masih kecil sudah tahu rasanya didemo.” Ejek Nadia.
“Iya. Itu gara-gara Satria mu ikutan sakit. Jadinya suami tercintamu itu membawa warga desa ke rumahku.”
Begitu mendengar nama Satria disebut, Nadia terdiam. Perasaan cinta antara mereka harus berakhir dengan cara yang tragis.
“Maafkan aku Nad.” Joni mengerti kalimatnya membuat Nadia tidak nyaman. Ia ikut bersedih atas kisah cinta kedua orang yang saat ini menjadi pasangan ibu tiri dan anak tiri. Sungguh ironis.
“Itu salahmu sendiri yang keras kepala.” Joni terkekeh. Dulu Nadia sempat ingin menjadi koki yang terkenal. Ia suka berlagak seperti koki saat main masak-masakan. Bahkan ia akan membawa selembar kerudung yang akan ia gunakan sebagai celemek. Sungguh masa kanak-kanak yang banyak tingkah.
“Kalian sepertinya memiliki masa kecil yang bahagia ya?” dokter Wisnu melihat kedekatan kedua orang di depannya.
“Jadi anak desa kalau tidak main di luar rumah tidak afdhol dokter. Setiap hari kami pergi bermain. Entah Cuma sekedar di lingkungan sekitar atau pergi ke sungai mencari ikan atau sekedar mandi di sungai.” Jawab Joni.
“Yang paling menyenangkan saat ada yang sedang panen bengkuang. Kita pasti langsung rebutan turun ke ladang.” Tambah Nadia.
“Jadi bu Nadia suka ke ladang?” tanya dokter Nathan.
“Iya dokter. Itu menyenangkan. Sampai sekarang aku juga masih sering ke ladang. Meskipun Cuma jalan-jalan sih. Hehehe.”
__ADS_1
“Tapi kok bisa ya kulit Bu Nadia kelihatan terawat.” Dokter Nathan melihat kulit Nadia yang semakin hari semakin terlihat terawat.
“Hehehe. Ini perawatan dokter.” Nadia terkekeh. Memang beberapa bulan ini ia rutin melakukan perawatan.
“Ah itu tidak benar Nad. Kulitmu memang sudah seperti ini sejak dulu. Aku juga heran. Padahal dulu kamu lah yang paling suka panas-panasan. Tapi kulitmu masih tetap paling putih diantara anak-anak.”
“Tidak heran nyonya muda memiliki kulit yang bersih. Ibunya dulu juga seperti itu. Dia bunga desa.” Kata Bu Minah.
“Sekarang anaknya juga bunga desa. Tapi sayangnya bunganya sudah dipetik sama raksasa. Ini seperti beauty and the beast.”
“Suka banget ya menggodaku.”
“Ampun nyonya muda. Hamba meminta pengampunan.” Joni mengatupkan kedua tangannya.
Sepertinya drama sudah akan dimulai. Nadia segera berdiri sambil berkacak pinggang. Dagunya diangkat tinggi-tinggi sebelum bicara dengan nada yang sombong.
“Karena kesalahanmu, selir ini menghukummu untuk membereskan meja makan dan mencuci piring. Cepat pergi!” ucap Nadia.
“Hamba terima yang mulia selir kesayangan.” Joni berdiri dan membungkukkan badan. Nadia terkekeh. Keduanya sudah lama tidak memainkan drama yang entah sejak kapan menjadi hobi mereka di waktu senggang.
Nadia mempersilahkan Dian dan Bu Minah untuk beristirahat bisa lebih dulu. Sedangkan semua yang dikatakan Nadia pada Joni merupakan perintah tidak langsung. Dan joni tentulah dengan senang hati melakukannya.
Nadia, dokter Nathan dan Dokter Wisnu pergi ke ruang tamu. Membicarakan tentang perkembangan keadaan Nadia yang semakin baik. Bahkan terapinya juga sudah tidak diperlukan. Dian hanya perlu mengkonsumsi obat secara rutin. Dan ini merupakan kabar yang sangat baik.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih semuanya, dukungan kalian the best deh pokoknya.😍
Jangan lupakan like nya ya....