
Tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Hari ini tepat satu tahun ulang tahun Bisma. Dua bulan yang lalu Nadia juga telah melahirkan putri kecilnya.
Seorang bayi cantik yang lucu menambah kebahagiaan keluarga kecil Nadia. Bayi itu diberi nama Kinara Pramudita Maheswari. Wajahnya mirip dengan Nadia. Memiliki hidung yang mancung dan bibir yang tipis. Kulitnya yang putih membuat pipinya sering merona merah secara alami. Hanya rambut yang keritingnyalah yang bayi itu warisi dari sang bapak.
Bayi kecil yang biasa dipanggil Nara selalu menjadi pusat perhatian. Sifatnya yang lucu, mudah tersenyum, menggemaskan menjadikannya populer di antara semua orang. Dimanapun ada Nara, akan banyak yang akan mengantri untuk menggendongnya atau sekedar mencium pipinya.
Hari ini Nara sudah dirias cantik dengan gaun pesta khusus untuk bayi berwarna peach. Aroma tubuhnya yang khas bayi menyegarkan. Bisma yang selalu mengikuti kemana pun adiknya itu berada juga menjadi pusat perhatian. Dengan langkah yang masih tertatih Bisma sudah menunjukkan sisi protektifnya terhadap sang adik. Wajahnya dibuat segalak yang ia bisa.
“Sini ma, Nara biar aku gendong.” Kata satria mengulurkan tangan ya. Ia tahu Nadia akan repot di saat sekarang ini. Nadia segera memindahkan Nara ke lengan kekar milik anak tirinya itu.
Meskipun ada banyak orang yang membantu menyiapkan pesta ulang tahun Bisma, sebagai seorang ibu, ia tidak akan membiarkan satu kekurangan pun yang akan terjadi.
Bisma menyukai tokoh Captain America, jadi untuk pesta yang akan berlangsung di pagi yang cerah itu, dekorasi berwarna biru, merah dan putih mendominasi dengan berbagai poster dan aksesori khas tokoh itu.
Nadia menggendong Bisma melihat-lihat persiapan. Bisma sangat menyukai semua yang ada di pestanya. Semua tampak sempurna. Mulutnya terus mengoceh mengungkapkan kekagumannya pada setiap gambar tokoh favoritnya. Meskipun terbilang jarang menemani Bisma, Nadia sedikit banyak mengerti ucapan Bisma yang masih menggunakan bahasa planet asing.
“Kak Bisma mau balon?” tanya Nadia saat ia sudah mulai pusing dengan ucapan Bisma yang tidak begitu ia pahami. Bisma dengan semangat mengiyakan. Nadia menurunkan Bisma dari gendongannya dan melepaskan tali salah satu balon. Kemudian mengikatkan tali itu di pergelangan tangan kiri Bisma. Bocah itu tambah bersemangat karenanya.
“Ah Bisma, tamunya sudah mulai datang. Ayo kita sambut tamunya.” Nadia menggandeng tangan kanan Bisma. Menuntunnya ke pintu masuk. Tamu sudah mulai berdatangan.
Setengah jam telah berlalu. Semua tamu undangan yang merupakan ibu-ibu anggota geng Penyu sudah lengkap hadir. Namun Nadia masih enggan memulai pestanya. Ia berdalih masih ada tamu yang belum datang.
“Mau menunggu siapa lagi? Semuanya sepertinya sudah hadir.” Kata Satria sambil menggendong Nara yang tertidur di lengannya.
“Iya nak Nadia. Tamunya siapa lagi?”
“Tamu istimewa yang paling penting yang aku undang secara khusus seharusnya sudah hadir. Tapi kenapa sampai sekarang masih belum datang?” Nadia berulang kali menengok pintu masuk. ‘Apakah mereka masih marah padaku?’
Selesai berucap di dalam hatinya, mata Nadia bersinar cerah. Tamu terpentingnya sudah datang.
Flash Back On...
Pintu mobil terbuka. Nadia keluar dari sana dan berjalan sambil mengendap-ngendap. Wajahnya tertutup cadar hitam yang dilengkapi kaca mata besar yang juga berwarna hitam. Dengan tergesa ia mengetuk pintu. Hari sudah beranjak malam. Temaram lampu menerangi teras rumah yang di datangi Nadia.
Tak lama setelah itu, pintu terbuka. Seseorang yang baru saja membuka pintu tertegun beberapa saat sebelum menutup pintu dengan suara yang keras.
BRAK!!!
Nadia terjingkat. Ia tak menyangka mendapatkan respon seperti itu. Baru kali ini senyumnya tidak mempan untuk meluluhkan hati seseorang.
__ADS_1
“Nita, maafkan aku. Tolong buka pintunya. Nita, aku tahu aku salah. Tolong maafin aku.” Kata Nadia. Masih belum ada jawaban. Nadia masih belum menyerah mengungkapkan kata penyesalan.
“Nadia, kali ini kamu keterlaluan.” Ucap Nita dari balik pintu setelah sekian lama terdiam. Nadia tersenyum samar.
“Aku tahu. Maka dari itu aku kesini hari ini untuk meminta maaf secara langsung pada kalian.”
Pintu terbuka. Wajah Nita menyembul dari balik pintu dengan berderai air mata. Ia langsung menubruk tubuh sahabatnya sebelum ditariknya masuk ke dalam rumahnya.
“Apa yang kamu pikirkan sebenarnya Nadia? Kenapa mamu membohongi kami?”
Sebelum menjawab, pintu yang baru saja tertutup dibuka dari luar. Seorang laki-laki masuk dengan terburu-buru. Ia adalah Joni yang baru saja pulang dari penggilingan.
Joni yang melihat sebuah mobil terparkir di halaman rumahnya, ia segera berjalan dengan tergesa-gesa. Apalagi setelah melihat bahwa pintu rumahnya tertutup ia semakin khawatir. Ia takut orang yang jahat telah memasuki rumahnya ketika ia tidak ada. Dengan posisi tingginya di penggilingan, banyak bahaya yang menghadang.
Namun tubuhnya kaku setelah melihat kebenaran tentang tamunya. Perasaan rindu dan marah berbaur menjadi satu. Tapi sepertinya perasaan rindunyalah yang lebih mendominasi. Hingga ia mengabaikan semua kemarahan dan kekecewaan yang menggunung selama ini. Joni segera berlari menubruk mantan majikan yang ia anggap sebagai adiknya sendiri.
Air mata kembali mengalir di pipi mantan bodiguard itu. Hatinya tersentuh. Berbulan-bulan ia mencari kabar keberadaan wanita itu. Namun pil kekecewaan yang selalu ia dapatkan. Sekarang, setelah hampir satu tahun berlalu, dia datang sendiri di hadapannya. Dengan senyum manis namun menyimpan penyesalan.
“Sudah lelah bersembunyi nyang mulia?” tanya Joni di balik punggung Nadia. Yang diberi pertanyaan hanya mampu mengangguk karena bibirnya sedang ia gigit untuk mencegah tangis yang akan segera pecah.
Joni melepaskan pelukannya. Ia memindai tubuh Nadia. Kabar terakhir yang ia miliki adalah Nadia tengah berbadan dua. Kini wanita itu datang dengan perut yang sudah datar. Lebih jauh dari itu, Joni memindai tubuh Nadia jikalau ada luka di tubuh yang terlihat lebih kurus dari pertemuan terakhirnya.
“Mereka di rumah Jon. Dua bulan yang lalu aku melahirkan seorang keponakan yang cantik untukmu.”
“Kamu baru kembali setelah beberapa lama. Apa kamu tidak memikirkan sedikit saja perasaan kami disini hah?”
“Maafkan aku Joni. Aku tahu aku salah. Kalian adalah keluarga terpenting yang aku miliki.”
“Lalu dokter Nathan?”
“Jon, aku mohon jangan membahasnya. Biarkan ia bahagia dengan hidupnya. Aku benar-benar tidak bisa bersamanya.”
“Satu minggu yang lalu, dokter Nathan kemari mencarimu. Dia dalam keadaan buruk. Kamu pikir dia akan baik-baik saja setelah semua ini hah?”
“Maafkan aku. Tapi aku benar-benar terpaksa. Aku tahu dokter Nathan sudah kesini, Itulah mengapa aku kembali.”
“Huh! Aku tidak percaya ini?! Selama ini kamu memata-matai kami?”
“Maafkan aku Jon. Hanya saja, dokter Nathan itu terlalu sempurna untukku. Dan kamu sangat mendukungnya.”
__ADS_1
“Aku mendukungnya karena dia yang terbaik untukmu Nadia.”
“Aku tahu dokter Nathan adalah orang yang terbaik. Tapi tidakkah kamu merasa bahwa akulah yang tidak baik untuknya? Aku membawa dua anak bersamaku. Apa yang akan dikatakan orang lain tentang dokter Nathan? Itu akan mempengaruhi nama baiknya.”
“Jangan berpikiran terlalu sempit Nadia. Dokter Nathan sangat mencintaimu. Aku tahu itu. Selama ini ia berusaha yang terbaik agar bisa segera menjemputmu.”
“Jon, sungguh aku tidak bisa menerima kebaikan lagi melebihi ini. Tapi mengertilah perasaanku, aku malu Jon. Aku memiliki banyak kekurangan, sedangkan dokter Nathan memiliki banyak keunggulan. Aku.... tidak layak.”
“Nadia...”
“Joni, selama ini kamulah yang mendukungku, bisakah kamu mendukungku lagi kali ini?” inilah titik kelemahan Joni. Melihat raut wajah ketidak mampuan Nadia.
“Nadia...”
“Aku bahagia dengan hidupku saat ini. Percayalah Jon. Aku memiliki dua anak yang menyambutku dengan senyum ketika aku pulang, aku pun memiliki kembali sosok ibu yang akan mendengarkan keluh kesahku. Belum lagi tetangga yang begitu baik padaku.”
“Kamu belum memiliki pendamping Nadia.”
“Untuk orang sepertiku, hidup yang aku miliki sudah cukup Jon, biarkan dokter Nathan hidup dengan baik juga.”
“Baiklah kalau itu maumu. Lalu dimana kalian tinggal sekarang?”
“Di kota X.”
“Tapi aku sudah mencarimu disana dan tidak menemukanmu.”
“Aku tinggal di pinggiran kota Jon. Lagipula kota itu luas. Sudahlah, ini alamatku. Minggu depan, Bisma ulang tahun. Datanglah bersama Nita dan Shela. Tapi tolong rahasiakan keberadaanku.”
“Oke.”
Flash Back Off...
*
*
*
Terima kasih sudah mampir....
__ADS_1
Like, vote, komentar sangat ditunggu...😊