Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
41. Derita Dian 1


__ADS_3

Di atas sebuah ranjang yang berada di satu sisi kamar, Dian terbaring disana. Dengan tangan dan kaki yang diikat.


Siang tadi, Dian ditemukan dengan luka terbuka di pergelangan tangan kirinya, dengan darah yang mengalir dari luka yang menganga itu. Sebuah cutter bersimbah darah tergelatak di depan tangan kanan Dian. Sangat jelas bahwa dia mencoba untuk bunuh diri.


Saat ini, luka di lengannya sudah berbalut perban. Menurut cerita Minah, itu dilakukan oleh Dokter Nathan yang dimintanya datang dengan tergesa-gesa untuk menyelamatkan nyawa Dian. Beruntung Dokter Nathan datang tepat waktu dan berhasil menutup kembali luka dan menghentikan pendarahan. Untung luka yang dibuat Dian tidak terlalu dalam sehingga masih bisa diatasi Donter Nathan dengan peralatan sederhana yang dibawanya.


“Bu Mina melihatnya sendiri sekarang, inilah akibat ambisi Bu Minah yang egois.” Bu Minah semakin terisak. Ia tahu betul ini memang salahnya dari awal. Jika ia tidak datang untuk menawarkan Dian pada juragan Bondan, semua musibah ini tidak akan pernah terjadi. Namun semua penyesalan datangnya terlambat. Semua sudah terjadi dan tidak dapat diperbaiki lagi.


“Lalu saya harus bagaimana nyonya muda? Tak bisakah meminta juragan untuk menikahi Dian? Dian hamil sekarang. Huhuhuhu.”


Jleb!!!


Apa ini? Bisakah keadaan ini menjadi semakin buruk dari pada ini?


“Apa bu Minah tuli selama ini? Apa bu Minah terlalu bodoh untuk mengetahui bahwa tidak akan ada bayi yang merupakan anak bapak yang akan lahir dari rahim wanita lain selain Bu Devi? Bahkan diriku sekalipun.” Kata Nadia lirih di ahir kalimatnya. Bahkan bayi yang sempat dikandungnya hampir selama empat bulan saja tidak diizinkan lahir.


“Lalu saya harus bagaimana Nyonya muda?”


“Pergi dari desa ini. Sembuhkan dulu Dian. Saya akan membantu semampu saya. Nyawa Dian dalam bahaya jika ada yang tahu kalau dia hamil anak bapak.”


“Tapi...”


“Saya tidak memaksa Bu Minah. Semua keputusan ada pada anda. Saya hanya bisa memberi saran. Perlu bu Minah ketahui, saya juga baru saja kehilangan calon anak saya. Jadi saya sedikit banyak tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang anak.”


Nadia merasa jika dia perlu menjelaskan situasinya. Bagaimana pun orang lain bisa saja menganggap bahwa dirinyalah yang menyebabkan banyak kasus keguguran di desa ini. Dengan dirinya yang sudah lama tidak memiliki anak menjadikannya punya alibi untuk melakukan hal ini. Mungkin mereka mengira jika Nadia merasa iri.


Minah akhirnya setuju. Kini Nadia memiliki satu hal lagi yang harus ia lakukan dengan cepat. Menemukan tempat tinggal yang baru di luar desa untuk Minah dan Dian. Serta mencari dokter jiwa yang akan merawatnya.


“Baiklah Bu. Untuk masalah ini hanya menjadi rahasia di antara kita. Termasuk pertemuan kita ini.” Pesan Nadia.


“Jaga Dian baik-baik. Jangan sampai dia kabur. Pada saat saya telah menemukan tempat yang cocok dan semua pengaturan yang siap, Joni akan memberi kabar pada anda untuk segera bersiap.”


“Terima kasih nyonya muda.”

__ADS_1


“Ini sudah menjadi kewajiban saya Bu Minah. Baiklah saya permisi.” Nadia keliar kamar dan diantar Bu Minah sampai dia keluar dari rumah itu.


Bukan tanpa risiko Nadia melakukan hal sejauh itu. Jika sampai Bu Devi mengetahuinya, ia yakin jika istri pertama suaminya itu tidak akan melepaskannya dengan mudah.


Sepeninggal Nadia dan Joni, Bu Minah kembali memasuki kamar anak satu-satunya, Dian. Menghampiri anaknya yang menatap kosong langit-langit kamarnya. Memeluk gadis itu dan menangis mengungkapkan penyesalannya.


“Apa ibu puas sekarang?” lirih Dian.


“Maafkan Ibu Nak. Ibu salah.”


“Inikan yang ibu inginkan?”


“Tidak nak. Ibu tidak ingin kamu menderita.”


“Aku ingin mati bu.”


“Jangan bicara omong kosong Dian.”


“Untuk apa lagi aku hidup bu? Aku hancur sekarang. Bahkan dalam perutku ini ada anak dari laki-laki brengs*k itu” tangan Dian yang diikat berusaha meraih perut rata itu untuk dia pukul. Bu Minah meraih tangan Dian. Mengusapnya pelan.


“Kenapa? Apa hanya ibu yang boleh menyiksaku?”


“Maafkan ibu nak. Maaf.” Dian berpaling. Melihat ibunya, ia seperti melihat juragan Bondan di sekitarnya. Bagaimana ibunya tersenyum manis saat membawa masuk rentenir tua itu ke dalam rumah.


Malam itu Dian tidak memiliki firasat apapun saat ibunya memintanya untuk berdandan dengan cantik. Ia pun dengan senang hati melakukannya.


Perasaan tidak nyaman ketika melihat juragan Bondan masuk ke dalam rumah dengan disambut ramah oleh ibunya. Ketika ia mengulurkan tangannya sebagai bentuk penghormatan, dia ingat betul jika Juragan Bondan melakukan hal yang menurutnya menjijikkan. Dapat ia rasakan bagaimana tangan itu dicium oleh laki-laki dengan uban yang hampir merata.


“Tanganmu sangat halus Dian.” Kata Juragan Bondan saat Dia menarik paksa tangannya. Melihat reaksi awalnya, juragan Bondan yakin jika gadis muda itu mungkin akan sedikit liar nantinya.


“Nak, masuklah kamarmu. Ibu dan Juragan ada sedikit hal yang perlu dibicarakan.” Ucap Minah dengan lembut. Tanpa meninggalkan kecurigaan anaknya.


Dengan senang hati Dian segera berlalu dari ruang tamu itu. Di segera masuk ke dalam kamarnya. Merebahkan dirinya di atas ranjang setelah mengganti bajunya dengan piama. Lagi pula ini sudah waktunya untuk tidur.

__ADS_1


Di ruang tamu, juragan Bondan memberi kode pada anak buahnya untuk memberikan apa yang diminta Minah. Mata wanita itu bersinar setelah melihat lima gepok uang bergambar pahlawan Proklamator. Ia segera memeluk uang itu di dadanya.


“Terima kasih juragan. Saya yakin setelah ini warung saya akan semakin ramai.” Sebuah kilat penuh harapan terpancar pada kedua mata Minah. Ia bahkan tidak sadar bahwa apa yang dia lakukan telah menghancurkan masa depan putrinya dengan sehancur-hancurnya.


Setelah menerima uang itu, Minah dengan ringannya mengantar Juragan Bondan untuk masuk ke dalam kamar putrinya yang kuncinya telah ia ambil sebelumnya.


“Ju-juragan. Juragan ada apa di kamar saya?” tanya Dian gugup ketika melihat juragan Bondan masuk ke dalam kamarnya. Apalagi melihat pintu kamarnya tertutup rapat. Sepertinya di tutup dan dikunci dari luar. “Ibu! Ibu!” lanjutnya memanggil ibunya ketika tidak mendapat jawaban dari laki-laki di depannya.


“Tenang saja sayang. Ibumu merestui kita.” Kata juragan Bondan. Matanya sudah berkabut oleh hasrat. Setengah jam sebelum berangkat tadi dia sudah meminum obat kuat andalannya. Dan sekarang efeknya sudah bereaksi. Ini tidak bisa ditunda lebih lama lagi.


“Apa maksud juragan? Saya tidak mau menikah dengan juragan.” Tolak Dian dengan terus mundur. Meraih bantal dan meringsek ke pojokan ranjang.


“Hahahaha. Aku juga tidak berniat menikah denganmu gadis kecil. Tapi ibumu sendiri yang datang padaku dan menawarkanmu sebagai pengganti sementara istri mudaku masih belum bisa melayaniku.”


Dian semakin panik. Kini ia tahu apa yang terjadi, ibunya menjualnya. Sungguh tidak dapat dipercaya ia mengalami hal seperti ini.


Di sisi lain, juragan Bondan semakin maju. Kini ia sudah naik ke atas tempat tidur, berusaha meraih Dian. Tapi gadis itu segera menghindar dan melompat dari tempat tidur.


Juragan Bondan menyeringai. Ini semakin menarik. Mangsa yang sulit didapatkan akan semakin nikmat sensasinya. Dengan langkahnya yang lebar ia segera menghampiri Dian yang sedang menggedor pintu dan memanggil-manggil ibunya. Rumah Minah sedikit terpencil, berada di tengah halaman yang luas. Jadi keributan di dalam tidak sampai terdengar ke luar.


“Ibu tolong Dian bu!”


“Lakukan tugasmu dengan baik. Ibu sudah membesarkanmu sejak kecil. Giliranmu membalas budi.” Kata Minah cuek sambil berlalu ke dapur untuk mengambil minum.


Mendengar itu tubuh Dian lunglai. Itukah ibunya?


*


*


*


Huh! Dasar buaya!

__ADS_1


Sabar! Sabar! Dari pada marah-marah, lebih baik klik Like nya deh. Iya khan....?👍😊


Mantap 😎


__ADS_2