
Sore harinya Nara dan Alex sudah mulai bersiap untuk acara resepsi pernikahan mereka. Mereka berada di kamar yang tadi pagi Nara gunakan sebelum ijab.
Pun dengan sebelumnya, dua orang MUA kembali datang untuk merias Nara. Keduanya diberitahu untuk tetap menyelesaikan tugas mereka meskipun mempelai prianya telah berganti.
Sebenarnya bisa saja Alex mencari gantinya meskipun dengan waktu yang mendesak. Namun sebelumnya sudah ada perhitungan ganti rugi dengan David. Lagipula jika jasa mereka tidak terpakai, akan sangat mubadzir.
Setelah satu jam dirias, Nara pun akhirnya siap. Dengan gaun putih yang indah dipadukan dengan full face make up yang sedikit glamor membuat kecantikan Nara berada dalam level maximal.
“Tuan Alex, bagaimana penampilan nona Nara?” Tami membantu Nara berbalik. Alex yang sedari awal sibuk dengan ponselnya menoleh. Dia sampai menjatuhkan ponsel di tangannya sebab terpesona.
“Cantik.” Jawabnya jujur. Kedua orang yang dengan sengaja menggoda Alex pun tertawa pelan. Mereka merasa terhibur melihat reaksi Alex yang biasanya mereka dapati dingin dan angkuh, kini wajah konyolnya terpampang jelas di depan mereka.
Nara yang mengetahui jika Alex sedang dikerjai menahan tawanya. Membuat kedua pipinya yang sudah merah menjadi semakin merah.
“Ehm. Karena kalian sudah selesai melakukan tugas. Kalian boleh keluar.” Alex segera menguasai dirinya kembali. Mengusir mereka dengan tanpa perasaan.
“Terima kasih ya mbak Lina, mbak Tami. Kalian memang hebat.” Puji Nara dengan tulus.
“Jangan lupa rekomendasikan kami ke Rekan dan kolega. Jangan lupa bintang lima dan subscribe. Hehehehe.” Kata Tami bercanda. Dikiranya sedang shooting untuk Chanel YouTube mereka.
“Siip mbak Tami. Kalau teman aku ada yang mau nikahan pasti aku akan rekomendasi in mbak.”
“Terima kasih. Ya sudah kami pamit dulu.” Tami segera meraih kotak riasnya yang sudah dia bereskan sebelum keluar dari ruangan.
Dua orang yang ditinggalkan di dalam kamar dengan cepat menjadi canggung. Memang bukan pertama kali mereka berada dalam ruangan yang sama. Hanya saja dengan penampilan dan status baru mereka, rasanya seperti ada yang menggelitik di dalam hati yang sulit mereka pahami.
“Em... Lex, mbak Tami pintar yang meriasnya.” Kata Nara mencoba memecah keheningan.
“Kenapa? Kamu mau aku bilang kalau kamu cantik?” Alex menaikan sebelah alisnya. Membuat wajahnya menjadi terlihat menjengkelkan bagi Nara.
“Kalau aku memang tidak cantik ya sudah.” Nara melipat kedua tangannya dan memutar tubuhnya sehingga kembali membelakangi Alex. Bukan hanya tangan yang ia lipat, bahkan bibirnya pun juga melakukan hal demikian. Membuat dahinya secara otomatis juga ikut berkerut.
Ia sangat marah hingga tidak menyadari pergerakan Alex sama sekali. Pria itu bahkan sudah berada tepat di belakangnya. Membungkukkan tubuhnya agar dapat memeluk Nara dari belakang. Kemudian, meletakkan dagunya di pundak Nara dan dengan santainya menempelkan bibirnya di leher terbuka gadis itu.
__ADS_1
Nara meremang seketika. Ia tidak mengerti reaksi tubuhnya. Rasanya kekuatannya seperti disedot sampai habis tak bersisa hanya dengan satu kecupan lembut di lehernya.
“Jangan seperti ini Lex.” Nara mencoba melepaskan diri dari dekapan Alex yang kuat.
“Rasanya aku ingin sekali membatalkan acara malam ini.” Kata Alex penuh harap. Jika bukan karena pertimbangan demi kebaikan Nara, ia sungguh-sungguh akan membatalkan semua acara meski semua undangan telah ia sebar.
Melihat penampilan Nara yang sangat cantik hari ini, membuat Alex tidak yakin ia akan sanggup melihat tatapan kagum para laki-laki yang mengarah pada Nara nantinya. Ah! Ia harus menyiapkan tutup botol cuka yang kuat untuk bertahan hingga akhir acara.
“Kenapa?” Nara melirik Alex yang masih dengan santai bersandar di bahunya sehingga wajah keduanya sangat dekat.
“Apa kamu sadar jika hari ini kamu itu terlalu cantik. Aku tidak rela menunjukkan kecantikan ini pada orang lain.” Alex tidak berbohong. Dia sungguh-sungguh saat mengatakan ingin membatalkan acara karena takut cemburu.
“Atau begini saja, kita bisa tetap melanjutkan acaranya, tapi kita tidak perlu hadir. Kan sudah ada banyak orang di sana. Jadi kita tidak perlu datang.” Entah otak Alex geser kemana saat ini hingga menemukan ide yang sangat aneh. Bagaimana bisa acara resepsi pernikahan berjalan tanpa adanya kedua mempelai?
Plak
Nara memukul lengan Alex dengan keras. Membuat laki-laki itu mengaduh.
“Sayang jangan KDRT dong. Kamu seharusnya memperlakukan suamimu dengan lembut dan penuh perhatian.” Ucap Alex memelas. Wajah datar yang tadi ia pertahankan saat dua orang asing berada di ruangan yang sama dengan mereka hilang seketika. Berganti wajah konyol yang sangat ingin Nara pukul untuk menghilangkannya.
Kemudian Nara dengan mudah menarik Alex untuk mengikutinya keluar kamar. Namun baru saja tangannya hendak menyentuh handle pintu, Nara menghentikan langkahnya.
“Ada apa?” Alex bertanya dengan heran.
“Apa kita juga akan mengadakan resepsi di tempat yang disiapkan Rafael?” tanya Nara tiba-tiba. Alisnya mengerut.
“Kenapa?”
“Aku merasa sangat jahat sekarang. Kita menikah dengan menggunakan persiapan orang lain. Kita menggunakan uang orang lain untuk pesta mewah kita. Ini rasanya sedikit tidak nyaman. Aku merasa bersalah pada Rafael.” Nara berkata dengan ragu.
Jika ia memikirkan tentang itu sejak tadi, ia bisa saja meminta semua orang untuk membatalkan acaranya. Tapi untuk saat ini pasti tidak mungkin. Beberapa tamu undangan pasti sudah hadir sekarang.
“Jangan kebanyakan berpikir. Kamu tinggal ikuti arus. Ayo.” Alex melingkarkan tangannya di pinggang Nara. Menggiring istrinya itu untuk segera keluar dari kamarnya.
__ADS_1
...💔💔💔
...
Prang prang prang
Suara benda-benda pecah terdengar dari sebuah kamar di sebuah mansion mewah. Kamar itu adalah milik Diandra.
Pagi ini, gadis itu melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Alex menghentikan pernikahan yang telah ia dan Rafael rencanakan.
Ya. Rafael dan Diandra bekerja sama untuk memisahkan Alex dan Nara. Kata orang, musuh dari musuh kita adalah teman kita. Dan itulah yang dipegang oleh keduanya.
Baik Rafael maupun Diandra mengetahui jika masing-masing dari mereka memiliki tujuan sendiri. Mereka saling memanfaatkan demi tercapainya tujuan mereka. Sehingga mereka melupakan sesuatu, jika menjadikan musuh dari musuh kita menjadi teman itu sama artinya dengan memakan racun dengan sengaja.
Dalam kesepakatan keduanya, Diandra bertindak dengan terlalu berani dengan memberikan sebagian saham milik keluarganya untuk dijadikan senjata bagi Rafael. Dan saat ini, saat Lunar Ind dalam posisi jatuh, perusahaan milik keluarganya secara otomatis juga terimbas dengan sangat buruk.
Namun yang menjadi kan gadis itu murka bukanlah hal itu. Melainkan ia menyaksikan sendiri Alex telah sah menjadi milik Nara. Itu membuatnya merasa ingin meledak.
“Argh! Sial4n kalian! Aku akan menghancurkan kalian hingga berkeping-keping. Tunggu saja pembalasan ku. Bagaimana pun caranya, aku akan tetap menjadikan Alex sebagai milikku.” Diandra menggenggam kedua tangannya. Membuat buku-buku tangannya memerah.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir🥰
Terima kasih juga atas segala bentuk apresiasi kalian, baik itu vote, hadiah, komentar, rate dan juga like nya.
Maafkan Akoh yang sudah semakin jarang bales komentar kalian. Tapi akoh pastikan untuk selalu menyempatkan diri membacanya dan sebisa mungkin terus berusaha lebih baik lagi dalam menulis kehalusan akoh ini. Ehehehe
Oke lah😍 segitu dulu
__ADS_1
See you again🤩