
Pada hari-hari berikutnya, Satria semakin sering mengunjungi Nadia baik di kafe maupun di rumah. Hubungan keduanya semakin baik meskipun hanya dalam batas-batas tertentu. Semua orang di sekitar juga telah mengetahui status Satria bagi Nadia. Meskipun di dalam hati mereka berkicau bahwa laki-laki itu tidaklah pantas menjadi sekedar anak tiri. Bisakah dia naik ranjang untuk ibu tirinya? Itu sepertinya lebih sesuai untuk mereka.
Namun sepertinya hal seperti itu tidak mungkin terjadi, bagaimanapun Nadia pernah bercampur dengan juragan Bondan yang merupakan ayah dari Satria, adalah sebuah kesalahan jika sebuah pernikahan terjadi di atas kenyataan yang seperti itu.
Menyadari hal semacam itu berlaku, mereka semakin merasa jika kehidupan Nadia sebelumnya pasti jauh lebih menderita dari bayangan mereka sebelumnya. Mereka mulai berpikir orang seperti apa yang pernah menjadi suami wanita cantik yang beberapa bulan ini telah datang di lingkungan mereka? Bahkan laki-laki tampan dengan usia di atas Nadia ini adalah anak kedua dari suaminya. Setua apa suami Nadia? Apakah dia adalah kakek-kakek mesum?
Sebelumnya mereka tidak pernah berpikir sejauh itu. Mereka hanya mengira Nadia menikah dengan seorang laki-laki yang masih cukup muda. Memiliki beberapa anak yang masih kecil dan lucu. Mereka tidak menyangka jika sosoknya adalah sosok yang jauh lebih tua yang lebih cocok dipanggil paman. Bahkan kakek. Huft. Mereka bergidik. Membayangkan banyak hal sekarang.
Di sisi lain, kedua orang yang menjadi pusat pemikiran semua orang hidup dalam ketenangan seperti biasa. Baik Nadia maupun Satria hidup berdampingan satu dengan lainnya. Membuat Nadia merasa dia masih punya keluarga lain.
“Apakah mama belum memiliki keinginan untuk bertemu Sinta dan yang lainnya?” tanya Satria suatu hari saat ia berkunjung ke rumah Nadia. Satria hanya mengirim pesan pada Joni bahwa ia telah bertemu Nadia dan baik-baik saja. Namun ia tetap merahasiakan keberadaan i u tirinya itu.
Semenjak pertemuan mereka yang pertama, Satria memang mulai membiasakan diri memanggil Nadia mama. Ini juga baik untuk tetap mengingatkan batas antara mereka. Jadi meskipun Nadia merasa risih, ia membiarkan saja. Semua demi kebaikan.
“Aku sebenarnya juga merindukan mereka. Tapi ini belum saatnya.”
Mendengar jawaban Nadia, Satria hanya bisa mendesah pelan. Tapi Satria tahu jika apa yang dilakukan Nadia pastilah mempunyai alasan yang kuat. Nadia tidak akan memutuskan sesuatu tanpa pemikiran yang matang sebelumnya.
Namun jika Satria mendengar jika alasan Nadia merahasiakan keberadaannya karena dokter Nathan, ia pasti akan semakin merasakan patah hati mengingat sampai sekarang sosok ibu tirinya itulah yang bertahta di dalam hatinya.
Nadia juga tidak ada niat untuk memberitahukan kebenaran itu, biarlah kisah cintanya menjadi kenangan untuknya. Tidak perlu banyak orang yang tahu perasaannya.
Berulang kali Nadia mengelus perutnya yang buncit, di dalam sana putrinya tumbuh dengan baik. Usia kehamilannya sendiri sudah menginjak sembilan bulan. Tinggal menghitung hari dimana permata hatinya akan lahir.
“Perutmu itu sudah besar Ma. Sebaiknya mama segera cuti dan istirahat di rumah. Apalagi mama menyetir sendiri selama ini.” Ucap Satria setelah melihat Nadia yang berulang kali mengelus perut buncitnya. Yang seperti terlihat bergerak-gerak samar di dalam sana.
“Nak Nadia ini memang sulit omongannya mas Satria. Sudah sering bibi katakan untuk berhenti bekerja dulu. Tapi ya bukannya nurut, ada aja alasannya.” Minah yang baru saja datang bersama Bisma langsung menimpali. ia sudah bingung bagaimana lagi meminta Nadia berhenti bekerja. Nadia tergelak mendengar gerutuan Minah.
“Mama.” Panggil Bisma. Ia segera merangkak mendekati Nadia.
“Sini sayang.” Nadia dengan susah payah mengangkat anak sambungnya yang semakin hari semakin menggemaskan. Tubuh Bisma semakin bulat dan berat. Pipinya yang cubby terlihat menyenangkan untuk dicium maupun dicubit.
“Emmuach emmuach. Anak mama semakin berat saja ya.” Kata Nadia setelah menghadiahi kecupan manis di pipi kanan dan kiri Bisma.
__ADS_1
“Iya. Bagaimana tidak berat jika sehari dia minum susu berkali-kali.”
“Tidak apa-apa bi. Bisma masih dalam tahap pertumbuhan. Jika masih seperti ini masihlah normal.”
“Bisma sini sama nenek. Kasihan mama capek.” Kata Minah sambil mengangkat Bisma dari pangkuan Nadia. Jelas dengan tubuh Bisma yang tambun, perut Nadia sedikit tertekan. Bisma enggan pindah. Merasa nyaman di pangkuan Nadia. Da menepis tangan Minah yang terulur padanya.
“Bisma sama nenek dulu ya sayang. Kasihan adeknya.” Ucap Nadia. Bisma pun akhirnya dengan enggan menurut. Minah menurunkan Bisma di lantai agar bayi berusia sembilan bulan itu bebas bermain.
Nadia memandang anak sambungnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Semakin besar wajah Bisma semakin mirip saja dengan juragan Bondan. Apalagi dengan bibirnya yang tebal dan rambutnya yang keriting. Namun di dalam hatinya, Nadia berjanji akan menyayangi anak itu.
“Yah.... Sepertinya memang itu yang terbaik. Bisakah aku meminta bantuanmu untuk masalah mendesak yang mungkin harus aku lakukan selama aku istirahat mas Satria?” Nadia memandang Satria.
“Tentu saja. Aku akan menjadi anak yang durhaka jika membiarkan mamaku mengalami kesusahan sedangkan aku ada di sampingnya.”
“Itu bagus. Berbaktilah padaku.” Nadia menepuk bangga dadanya.
“Tentu. Baiklah. Karena aku sudah bisa dimanfaatkan. Bisakah aku ikut tinggal disini bersama kalian mulai sekarang?” ucap Satria sambil memainkan jarinya.
“Hah?”
“Kalau kamu memang kesepian, menikah saja.”
“Itulah masalahnya. Aku belum punya pacar untuk diajak menikah. Ayolah....”
“Bagaimana Bi Minah?” Nadia meminta pertimbangan dari Minah. Menyadari itu, Satria segera memberikan kode pada Minah agar mengizinkan.
“Sepertinya itu juga bagus nak. Ada baiknya memang mas Satria tinggal disini. Akan ada yang bisa diandalkan untuk urusan tertentu. Dari rumah kita juga akan memiliki wakil jika ada perkumpulan bapak-bapak di lingkungan ini.” Kata Minah.
“Benar juga. Selama ini kita selalu ketinggalan info kalau tidak diberitahu dari geng penyu.” Kata Nadia.
“Geng Penyu?”
“Iya. Perkumpulan Nyonya Unyu.”
__ADS_1
“Ada ya yang seperti itu?” ucap Satria tak habis pikir. Lingkungan tempat tinggal Nadia bisa dikatakan kawasan yang cukup elit. Dengan warga dari kalangan atas yang tinggal disana sepertinya tidaklah mungkin membuat geng seperti itu. Apa lagi dengan nama yang sedikit terdengar aneh.
“Jangan iri mas Satria. Kalau ibu-ibu disini punya geng penyu, bapak-bapak juga tidak mau kalah.” Kata Minah antusias. Menurut Minah perkumpulan warga disini menyenangkan. Tidak seperti di desa yang hanya melakukan kegiatan sekedar berkumpul dan saling berbicara.
“Emang bapak-bapak disini punya geng juga?” tanya Satria penasaran. Dalam hatinya ia berdo’a semoga nama geng itu tidak lah seaneh nama geng milik ibu-ibu. Jika benar seaneh geng penyu, dia otomatis juga akan menjadi anggotanya dan mungkin akan merasa malu untuk menyebutkan geng nya sendiri.
Nadia yang menyadari apa yang dipikirkan Satria mengulum senyum mengejek.
“Ada mas, namanya geng Tupai, singkatannya Tuan-tuan tamPan Idaman.” Jawab Minah bangga.
Satria sendiri menjatuhkan rahangnya. Mulutnya melongo mendengar nama grup milik bapak-bapak yang akan ia ikuti. Nadia sendiri terkikik geli. Awalnya ia juga merasa seperti itu. Dengan mendengar nama geng penyu saja ia sudah mengerutkan alisnya. Mendengar nama Geng Tupai bahkan membuat perutnya kram menahan tawa.
“Apakah semua laki-laki disini wajib mengikuti?” tanya Satria khawatir. Justru ia sekarang menyesal telah merengek ikut tinggal bersama mereka disana.
“Tentu saja mas Satria. Selama ini tidak ada perwakilan dari rumah ini setiap kali ada perkumpulan.”
“Jangan khawatir mas Satria. Kegiatannya tidaklah seaneh namanya. Geng tupai sering mengadakan bakti sosial bersama geng penyu. Dan setiap bulannya akan berkumpul di rumah pak RT untuk membahas masalah lingkungan. Itu saja. Kegiatan yang lainnya juga tak kalah seru.”
Pada dasarnya kegiatan geng Tupai juga hampir sama dan sering bergabung bersama geng Penyu. Tapi yang ini versi cowok.
Mendengar penjelasan Nadia, Satria menjadi lebih santai. Yah meskipun namanya aneh setidaknya kegiatannya positif dan tidak akan membuatnya malu.
*
*
*
Kasih like nya jangan lupa. Kalau sempat kasih komentar juga ya....
Kritsar selalu ditunggu.
Salam manis dari Akoh... Emmuach😘
__ADS_1
Ehehehe siapa yang kena ciuman akoh tadi?
Ayoh sini cium Akoh balik!!!