
Crazy Up kan akoh....
Happy Reading😊
Halaman belakang rumah Nadia sudah memulai aktifitas sibuknya sejak jam tujuh pagi. Banyak orang yang dipekerjakan Nadia untuk membantu suksesnya acara yang dilangsungkan pagi ini. Ada yang menata meja dan kursi, menata dekorasi berupa bunga-bunga baik bunga hidup maupun bunga mati. Ada juga yang sibuk menata berbagai macam jamuan untuk acara ini.
Tidak banyak yang Nadia undang. Hanya ibu-ibu warga sekitar yang tak lebih dari dua puluh orang. Tapi mengingat ini adalah perkenalan awal mereka, Nadia tidak ingin membuat kesan yang kurang baik untuknya.
Baik Nadia maupun Minah sudah cocok dengan rumah ini, jadi mereka ingin betah tinggal di sini. Dan salah satu kuncinya tentu saja lingkungan yang sesuai dan mendukung. Jika para tetangga mempunyai kesan yang kurang baik tentang Nadia dan bi Minah bisa dipastikan keluarga kecil Nadia tidak akan mendapatkan perlakuan yang baik dari para tetangga.
Satu jam sebelum acara dimulai, para karyawan kafenya sudah berdatangan ingin membantu. Meskipun Nadia sudah melarang mereka, nyatanya mereka bersikeras untuk tetap membantu.
“Kalian ini tamu saya hari ini. Jadi tidak usah ikut bantu-bantu. Sudah ada yang bertugas.” Kata Nadia.
“Tapi kami tetap ingin membantu bu Nadia. Kami sangat menyukai mendapatkan bos seperti Bu Nadia.”
“Sudah-sudah, daripada terus berdebat, lebih baik kita duduk-duduk disana. Saya ingin membicarakan tentang acara pembukaan besok.” Tanpa menunggu persetujuan, Nadia sudah melenggang melewati anak buahnya dan berjalan ke arah gazebo yang ada di halaman samping.
Mau tidak mau akhirnya sebelas orang yang datang dengan niat awal ingin bantu-bantu pun mengekori Nadia. Akhirnya keadaan kembali dikendalikan oleh Nadia, sebelas anak buahnya duduk manis mendengarkan arahan yang diberikan Nadia.
“Tunggu disini.” Nadia pamit setelah memberikan pengarahan dan rapat dadakan selama setengah jam. Anak buah yang ditinggalkan saling memandang dan mengangkat bahu.
“Kenapa kita malah duduk-duduk disini?”
“Hem? Padahal kita kesini lebih awal kan ingin bantu-bantu.”
“Sudahlah, ada benarnya kata bu Nadia, kita harus istirahat mempersiapkan kesibukan esok.”
“Benar, kita sudah memasang pengumuman di banyak media sosial. Pasti akan banyak pengunjung besok.”
“Setelah difikir-fikir memang benar ya kalau tenaga kita memang paling dibutuhkan besok.”
Lima belas menit kemuadian, Nadia datang lagi dengan menggendong Bisma. Ia berniat memperkenalkan Bisma pada karyawannya.
“Itu siapa bu?”
__ADS_1
“Perkenalkan, Ini anak angkat saya. Bisma. Dia anak dari adik saya yang telah meninggal.”
“Lucunya.”
“Acara sebentar lagi dimulai, ayo kita ke halaman belakang.”
Ketika Nadia dan anak buahnya sampai disana, para tamu yang mulai berdatangan. Nadia segera menyambut kedatangan tamu-tamunya. Acara dimulai setelah semua tamu undangan sudah hadir.
Acara dibuka oleh Mita yang diberi tugas oleh Nadia menjadi pembawa acara. Mita yang sudah terbiasa menghadapi banyak orang tentu saja sudah cakap dan terampil untuk tampil di depan umum. Nadia naik ke atas panggung bersama dengan Minah dan juga Bisma sebagai inti dari acara ini.
“Pertama-tama saya mengucapkan selamat datang kepada para tamu undangan. Tak lupa saya sebagai tuan rumah mengucapkan terima kasih banyak atas kehadiran para tamu terhormat.”
“Tujuan awal acara ini tidak lain adalah untuk perkenalan saya dan keluarga saya. Mohon maaf saya beserta keluarga tidak bisa datang secara pribadi untuk memperkenalkan diri. Sebagai gantinya saya sekeluarga malah merepotkan para tetangga sekalian untuk datang ke rumah kami ini.”
“Perkenalkan, saya Nadia Ayu Purnama. Dan ini bi Minah, bibi saya dan ini cucunya yang merupakan anak angkat saya. Bisma. Bisma merupakan yatim piatu putra dari saudara saya. Jadi mohon bantuannya untuk ikut membimbingnya di kemudian hari.” Kasak kusuk mulai terdengar. Sekarang satu simpul di benak mereka telah terjawab tentang identitas Bisma.
“Saya sekeluarga berasal dari desa. Mungkin banyak yang menyangka kami kabur dari sana melihat keadaan kami. Ini bisa dibilang benar dan juga salah.” Nadia menghela napas.
Nadia sebelumnya telah memantapkan hati untuk junur mengenai identitas dan juga masa lalunya. Menghindari kesalah pahaman yang mungkin bisa terjadi di masa depan jika para tetangganya mengetahui cerita itu dari orang lain.
“Mohon dengarkan saya. Ini cerita tentang masa lalu saya, saya akan menceritakannya secara jujur pada kalian agar tidak ada keraguan terhadap saya sekeluarga.”
“Kamu pelakor ya?!” tanya salah satu ibu-ibu.
“Bukan bu. Saya menikah karena terpaksa. Tolong dengarkan cerita saya.” Akhirnya mengalirlah cerita tentang kehidupan Nadia secara garis besar hingga ia bisa berakhir disini. Hampir semua ibu-ibu menangis karena terharu.
Mereka menyesal telah berpikiran macam-macam terhadap Nadia selama ini. Mereka tidak menyangka jika sosok wanita muda di depan mereka bahkan lebih banyak makan garam kehidupan dibanding dengan mereka yang asik dengan dunia mereka sendiri.
“Maafkan kami Nadia. Kami sempat berprasangka buruk terhadapmu.” Kata bu Umi.
“Saya maklumi bu. Saya sadar dengan status janda saya dan juga keadaan saya pasti menimbulkan banyak spekulasi buruk tentang saya. Tapi saya bisa pastikan jika saya bukanlah janda muda yang suka merayu.”
“Nyonya muda adalah wanita terhebat yang pernah saya kenal.” Kata Minah dengan berlinang air mata.
“Bi, bi Minah adalah keluarga saya. Jangan memanggil seperti itu lagi. Ini kehidupan baru kita bi.” Kata Nadia sambil menghapus air mata Minah.
__ADS_1
Semua orang terharu melihat pemandangan di depan mereka.
“Mulai sekarang, kami menyambut kalian sebagai anggota geng Penyu kami.” Kata bu Endang. Semua anggota lain mengangguk setuju. Mereka menyambut anggota baru kelompok mereka dengan hangat.
“Terima kasih atas kepercayaan kalian. Kami berjanji tidak mengecewakan kalian. Baiklah, lebih baik acara kita lanjutkan dengan santai. Silahkan menikmati hidangan yang telah kami persiapkan.”
Semua menghambur mengambil makanan dan kudapan yang disediakan. Beberapa ibu-ibu menghampiri Nadia untuk berkenalan secara pribadi. Ada juga yang ingin menggendong Bisma.
“Saya bu Endang. Rumah saya tepat disamping rumahmu Nadia. Saya ketua dari geng penyu.” Kata Endang yang datang bersama beberapa ibu-ibu.
“Geng penyu?” tanya Nadia bingung. Ibu-ibu di depannya berusia sekitar empat puluh hingga lima puluh tahunan. Namun penampilan dan tingkah mereka menampilkan hal lain. Mereka energik seperti masih usia di awal tiga puluh tahunan.
“Iya penyu “Persatuan Nyonya Unyu”.” Jelas Endang.
Di waktu selanjutnya, Endang menjelaskan program dan kegiatan yang geng penyu mereka lakukan. Dari sana Nadia mengetahui jika mereka mempunyai agenda rutin bakti sosial yang akan berkunjung ke panti asuhan. Selain itu ada juga pengajian setiap satu bulan sekali yang digilir dari rumah ke rumah. Dan banyak lagi kegiatan yang bu Endang jelaskan untuk menarik Nadia menjadi salah satu anggotanya.
“Bagaimana Nadia, apakah kamu tertarik untuk bergabung?”
“Saya tertarik Endang.”
“Bagus. Bu Minah juga bisa ikut nanti. Tidak wajib siapa yang akan ikut. Jika kamu sedang sibuk, bisa bu Minah yang menggantikan. Kami tahu menjadi single parent itu tidak mudah.”
“Iya bu. Terima kasih pengertiannya.”
Dan begitulah. Kejujuran membawa dampak positif meskipun menyakitkan di awal. Dengan jujur tentang masa lalunya, Nadia mendapatkan kepercayaan dan bantuan ekstra dari para tetangga barunya. Mereka berjanji akan membantu mempromosikan kafe Nadia kepada kenalan mereka.
Selain itu, Nadia tidak punya saudara di kota X ini. Jadi hanya bantuan para tetanggalah yang dapat ia andalkan jika ada sesuatu yang mendesak dan menyulitkannya di masa depan.
*
*
*
Kejujuran. Satu kata sederhana yang kadang sering terabaikan hingga dampaknya bisa jadi mengerikan.
__ADS_1