Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_4. Fotocopy Bisma


__ADS_3

Nara dan ketiga sahabatnya mengikuti Gibran yang menjemput mereka dari ruang HRD. Keempat gadis itu mengekor Gibran seperti anak ayam yang mengikuti induknya. Hanya diam dan patuh tanpa ada satu kata pun. Hanya sesekali sambil menyenggol dan saling melirik.


“Tuan Alex, mereka ada di sini.” Kata Gibran setelah mengetuk pintu dengan pelan sebanyak tiga kali.


“Masuk.” Suara serak khas laki-laki terdengar dari dalam ruangan dengan pintu kayu yang terlihat kokoh berwarna coklat tua dengan hiasan garis abu-abu yang terlihat elegan.


Gibran meraih handle pintu dan memutarnya untuk membuka pintu. Mengajak keempat orang yang mengikutinya masuk ke dalam ruangan.


Begitu mereka masuk ke dalam ruangan, aroma musk yang cool langsung menyapa hidung para jomblowati yang mengidamkan seorang pacar tampan. Mereka bahkan sampai membayangkan betapa nyamannya berada dalam dekapan tubuh proporsional dengan dada bidang yang harumnya menenangkan.


Aroma yang menjadi pusat perhatian keempat gadis cantik yang masuk ke dalam ruangan itu adalah milik seorang laki-laki tampan yang duduk dengan gagah di kursi kebesarannya. Kacamata baca bertengger di pucuk hidungnya yang mancung. Ekspresi nya terlihat serius dengan pena di tangan kanannya yang bergerak-gerak mencoret sesuatu di atas kertas.


Satu kata yang merupakan kesepakatan tak terkatakan keempatnya : Target.


Ya. Keempatnya datang ke perusahaan ini tidak lain adalah untuk berburu cowok tampan. Amerta Corp terkenal dengan karyawannya yang tampan dan cantik dengan penampilan rapi yang terkesan modis dan enak dipandang. Dan betapa beruntungnya mereka bahwa mereka telah bertemu dengan puncak dari ketampanan yang ada di kantor Amerta Corp.


Keempat gadis itu memindai Alex dengan seksama. Caranya duduk, memegang pena. Bahkan ekspresi seriusnya sangat menarik untuk diperhatikan.


“Ganteng banget. Aku harus mendapatkannya.” Bathin Vera.


“Calon imam masa depan.” Bathin Syila.


“Level tampan yang sempurna.” Bathin Gita.


“Diskualifikasi.” Bathin Nara setelah mengamati Alex sekilas.


Alex meletakkan penanya di atas kertas. Menengadahkan wajahnya. Menautkan kedua tangannya di bawah dagu. Kemudian memindai satu persatu gadis di depannya.


“Tunjukkan kesungguhan kalian.”


katanya singkat.


Keempat gadis yang diajak bicara saling melirik. Maksudnya apa coba?


“Tuan Alex sangat menghargai manusia yang bertanggung jawab. Kalian akan segera di depak dari perusahaan ini bahkan jika itu satu kesalahan kecil saja. Jadi kalian harus bersungguh-sungguh dan tidak membuat mesalahan.” Gibran menjelaskan maksud sang bos yang memang tidak jelas apa maksudnya.

__ADS_1


Setelah mendengar penjelasan Gibran, keempatnya mengangguk paham.


“Tenang saja tuan Alex. Kami tidak akan mengecewakan.” Kata Gita dengan percaya diri.


“Tidak butuh janji.”


Glek... Gita dan kedua temannya menelan ludahnya dengan kasar. Kenapa hanya dua? Karena Nara melah memutar matanya jengah.


“Cukup.” Mendengar kata selanjutnya yang diucapkan Alex, Gibran segera memberi kode kepada keempat gadis itu u tuk segera keluar. Keempatnya lalu membungkuk dan keluar mengikuti apa yang dilakukan Gibran.


Setelah mendengar kan peraturan dan apa saja yang boleh mereka lakukan dan tidak selama mereka ada di Amerta Corp, keempat gadis itu keluar dari gedung kantor yang tinggi menjulang itu.


Mobil kuning milik Nara terparkir dengan mulus di tempat parkir kampus. Sesaat setelahnya, empat gadis keluar dari sana dengan pujian-pujian yang terus mereka bicarakan mengenai ketampanan dan kewibawaan yang ditunjukkan oleh Alex pada mereka. Hanya satu yang diam diantara mereka. Bahkan merasa tidak senang dan mencibir beberapa kali ketika mendengar teman-temannya memuji-muji Alex.


“Aku perhatikan dari tadi kamu hanya diam Ra. Ada apa?” tanya Syila.


“Aku sangat tidak mengerti kalian kali ini.”


“Tidak mengerti apa?” Gita mengernyit kan keningnya. Memang apa yang sampai membuat Nara berpikir seperti itu. Mereka bahkan tidak melakukan apapun dalam beberapa waktu. Hanya bergosip. Memangnya apa salahnya?


Ketiga temannya saling memandang heran. Semua orang akan sepakat bahwa semua yang ada pada Alex adalah sesuatu yang wajib untuk dikagumi. Dan lihatlah! Bahkan teman mereka yang paling mencintai level ketampanan para pria bahkan tidak mengetahui jawabanya? Ini aneh.


Vera mengangkat tangan kanannya. Menempelkan punggung tangannya ke dahi Nara dan berganti ke dahinya sendiri.


“Normal kok.” Vera manggut-manggut.


“Ish. Apa sih!” gerutu Nara. Sebenarnya teman-temannya menganggapnya tidak sehat dan mungkin mengigau sekarang.


“Ayolah Nara. Siapapun tahu siapa tuan Alex itu. Pebisnis muda yang tampan dan yang paling penting adalah status jomblonya yang masih ori.” Gita menangkupkan tangannya di depan dada. Di kepalanya saat ini jelas terpampang wajah Alex yang terlihat tampan saat dia sedang serius yang baru dilihatnya tadi.


“Huh! Aku tidak mengerti kalian ini. Orang kaku dan dingin seperti balok besi saja kalian elu-elukan dari tadi.” Nara berkata dengan nada ejekan. Mengejek ketiga temannya yang mengagumi sosok Alex yang seperti balok kayu di hadapannya.


“Oh ayolah Nara. Tuan Alex itu cool. Kamu tahu kan itu? Dia keren.” Vera menyangkal apa yang dikatakan Nara mengenai Alex.


“Vera benar. Tuan Alex adalah sosok tampan dengan segala pesonanya.” Timpal Gita membuat Nara mendengus sebal.

__ADS_1


Di depan teman-temannya ini. Dia kalah suara. Di mana ketiganya mengagumi sosok yang sudah ia diskualifikasi dari calon target untuk menjadi pacarnya.


“Apakah kamu tidak tertarik padanya Nara?” tanya Syila penuh harap. Dan kedua yang lainnya sepertinya juga mempunyai pertanyaan yang sama dengan jawaban yang sama.


“Tidak.” Jawab Nara singkat.


Ketiga temannya menghela napas lega. Mereka saling melirik dan tersenyum ketika melihat wajah jengkel Nara yang begitu jelas terlihat.


Jelas saja mereka sangat puas mendengar jawaban Nara bahwa gadis itu tidak tertarik. Itu artinya saingan terberat menurut ketiganya tidak akan ikut menjadi daftar saingan. Tapi mengapa? Bukankah seharusnya dengan level ketampanan Alex yang nyaris mendekati sempurna bisa menggerakkan hati Nara untuk ikut bersaing mendapatkan nya?


“Kenapa?” Syila tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran dan bertanya dengan hati-hati.


“Aku sudah cukup memiliki kak Bisma yang dingin di sekitarku. Aku tidak mau menambah satu lagi yang seperti itu.” Jawab Nara malas.


Ya. Bagi Nara Alex itu seperti fotocopy dari Bisma kakaknya. Kaku dan dingin. Ia sudah memiliki Bisma yang seperti itu. Dan kakaknya itu sudah cukup untuknya merasa bagaimana rasanya dikekang dan dijaga ketat. Ia ingin pasangan yang hangat dan pengertian. Jauh dari dua kata mengenai Alex.


“Kamu tidak salah kan Nara?” tanya Gita masih tidak percaya. Dalam bayangannya, mempunyai sosok seperti Bisma satu dan tambah satu lainnya tidak terlalu buruk. Bahkan ini bisa disebut berkah.


“Tidak.” Jawab Nara jengah. Oh ayolah. Selama ini dirinya sudah merasakan bagaimana hidup di samping Bisma sepanjang hidupnya. Dia bahkan seperti tidak bisa bernapas dengan bebas dimanapun. Ia seperti diawasi sepanjang waktu. Dan ini sangat menjengkelkan. Ditambah lagi Bisma yang irit bicara dan tidak bisa diajak bercanda. Apa enaknya? Ia bahkan bergidik ngeri saat membayangkan dia memiliki satu lagi yang seperti kakaknya. Tidaaaak!!!


“Kamu masih belum bisa melupakan Roy?” tanya Vera membuat Nara menghentikan langkahnya seketika.


“Tidak lah. Aku bukan tipe cewek yang memimpikan milik orang lain.” Decak Nara. Jujur ia pernah tertarik pada Roy. Tapi sebelum ia berpacaran dengan Virly. Setelah Nara mendengar kabar itu, rasa sukanya menguap begitu saja tanpa bekas. Yah. Sesimple itu.


“Baiklah. Aku paham. Lalu tipe cocok seperti apa yang kamu inginkan?”


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 😘


Maaf up-nya lama. Kemarin hari yang melelahkan. Mata juga tidak bisa diajak berkompromi. Niatnya mau bangun tengah malam buat bikin satu eps. Tapi ternyata malah molor Sampek subuh. Maap ea sudah mengecewakan kalian....🙏

__ADS_1


__ADS_2