
Syukurlah aplikasi akoh udah baikan dan bisa dibuka draftnya sehingga episode ini bisa terbit. Enggak tau kenapa akhir2 ini aplikasi akoh draftnya sering jadi tanda tanya isinya. Huft....
Ini cuma aplikasi akoh apa punya yang lain juga ya gitu ya 🤔
Happy Reading😎
Rumah duka dipenuhi oleh para pelayat. Mulai dari keluarga, tetangga, teman Nadia, teman Sinta dan rekan bisnis juragan Bondan. Mereka berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir pada juragan Bondan. Hampir semua warga desa berkumpul disana karena juragan Bondan merupakan orang terkemuka di desa meskipun terkenalnya banyak dalam hal negatif.
Nadia duduk bersama Sinta diantara para pelayat yang lain dengan menggunakan baju serba putih. Di sisi yang lain, Devi duduk bersama Yulia dan Lisa. Walaupun mereka terlihat berseteru, namun mereka sama-sama dalam keadaan berduka. Bagaimanapun, juragan Bondan adalah suami Nadia, jadi wanita cantik itu juga pasti akan bersedih.
Para pelayat bergiliran menemui Nadia dan bu Devi untuk mengucapkan kalimat bela sungkawa dan juga penyemangat.
Dari kerumunan para pelayat, terdengar bisik-bisik tentang kejadian mengejutkan yang terjadi pada juragan Bondan. Mereka menggosipkan tentang bagaimana kondisi jenazahnya, bagaimana cerita pembunuhan itu dan pelakunya. Bahkan beberapa dari mereka ada yang membicarakan keburukan juragan Bondan. Dan yang paling membuat Sinta dan Nadia geram adalah mereka membicarakan pembagian harta warisan.
“Biarkan saja Sinta. Kita tidak Boleh sampai terbawa emosi. Lidah manusia memang tidak bertulang.” Bisik Nadia sambil memegang lengan Sinta saat melihat Sinta akan memprotes para penggosip itu.
“Mereka benar-benar tidak sopan Nad, bisa-bisanya membicarakan hal seperti itu di rumah duka.”
“Aku tahu. Tapi daripada kita mengeluarkan kalimat yang akan menunjukkan bahwa kita tidak jauh beda dari mereka, lebih baik kita gunakan untuk mendo’akan bapak.”
“Baiklah. Aku akan mencoba memendam amarah ini. Mereka benar-benar membuatku marah.”
“Sudahlah.” Nadia menenangkan Sinta. Di saat seperti ini tidak baik untuk berdebat mengenai hal yang tidak penting.
Sedangkan di ruang tamu, tampat jenazah di baringkan, para pelayat bergiliran menyolati. Sedangkan Yanto, Candra, dan juga Satria menemui para pelayat di depan rumah. Selain para pelayat di halaman rumah besar juga ada banyak anak buah juragan Bondan yang berjaga. Dalam hal seperti ini mereka harus selalu siap menghadapi apapun.
Di luar sana, orang yang tidak menyukai juragan Bondan juga banyak. Mereka harus menjaga keamanan agar tidak sampai ada penyerangan yang mengganggu proses pemakaman.
“Sudah lama kita tidak bertemu Satria. Kamu sudah dewasa ternyata.” Kata seorang pelayat yang baru datang.
Satria memandang pria paruh baya yang baru datang dengan keluarganya dengan tatapan penuh amarah.
__ADS_1
“Mengapa paman kesini?” tanya Satria sinis. Orang itu adalah adik dari juragan Bondan, Dasuki. Di masa lalu, keluarga mereka terpecah karena perebutan harta dan kekuasaan.
“Aku dan keluargaku kesini hanya ingin memberikan penghormatan terakhir untuk kakakku tercinta. Apa tidak boleh?”
“Jika paman datang hanya untuk mencari masalah, lebih baik paman pergi dari sini.”
“Tidak Satria. Kami bukan datang untuk mencari masalah. Kami datang untuk meminta maaf.” ucap Dasuki penuh penyesalan. Ia tahu sekarang bukan waktunya untuk berdebat dengan keponakannya. Ini hari berkabung.
“Satria, maafkan paman dan bibi. Tak bisakah keluarga kita memulai semuanya dari awal lagi?” wanita paruh baya yang datang bersama Dasuki segera menengahi. Ia sudah bersusah payah membujuk suaminya untuk datang ke pemakaman juragan Bondan. Jangan sampai usahanya akan sia-sia.
“Aku datang kesini untuk meminta maaf pada kalian semua. Perselisihan antara keluarga kita di masa lalu semuanya adalah salahku. Aku yang menghasut pamanmu untuk melawan kakaknya karena aku merasa iri pada ibumu. Maafkan bibi Satria.” Lanjutnya dengan sangat menyesal.
“Sebaiknya pembicaraan ini kita lanjutkan nanti setelah pemakaman.” Kata Yanto. Yanto memang tidak mengetahui siapa orang yang baru saja datang dan apa masalah yang terjadi di antara keluarganya dan pihak yang baru datang ini. Namun sepertinya ada yang serius yang harus segera diselesaikan.
“Tidak. Kita bicarakan sekarang. Agar mas Bondan meninggal dengan tenang karena keluarganya kembali hidup rukun.” desak Dasuki.
“Baiklah. Mari masuk.” Satria menghelas nafas. Ia pun menurunkan egonya dan membawa ketiga tamunya masuk melalui pintu samping. Kemudian membawa mereka masuk ke dalam kamar Bima. Yanto segera meminta salah satu pembantu di rumah itu untuk memanggilkan Nadia dan yang lainnya.
“Mengapa kalian ada di sini hah?!” teriak bu Devi ketika melihat adik iparnya berada di dalam kamar bersama keluarganya.
“Bu, tenang dulu. Lebih baik ibu duduk dulu.” Kata Satria. Ia menghampiri Devi dan mendudukkannya di kursi belajar Bima.
Dasuki, Istrinya dan anaknya duduk di tepi ranjang. Sedangkan yang lain berdiri.
“Kami datang kemari untuk meminta maaf mbak.” Dasuki memulai pembicaraan langsung pada intinya.
“Tidak ada kata maaf untuk kalian!” bu Devi masih merasakan sakit hati. Di masa lalu, kedua orang itu hampir merusak rumah tangganya. Bahkan merubah suaminya menjadi seorang yang gila wanita.
Di masa lalu, lebih tepatnya lima belas tahun yang lalu, juragan Bondan adalah seorang suami yang setia. Sangat menyayangi anak dan istrinya. Mereka hidup rukun dan bahagia. Kehidupan mereka bisa dibilang sempurna.
Berada di dalam rumah yang sama, Dasuki dan istrinya tinggal bersama mereka. Rumah itu adalah peninggalan orang tua mereka. Istri Dasuki merasa iri pada kebahagiaan Devi yang terlihat sempurna di matanya. Memiliki suami yang sangat menyayangi dan memanjakannya dengan gelimang harta. Memiliki anak-anak yang lucu.
__ADS_1
Hingga suatu hari istri Dasuki menghasut suaminya untuk menentang juragan Bondan dengan cara meminta separuh harta yang dia anggap merupakan harta yang ditinggalkan orang tua mereka. Padahal harta itu merupakan hasil kerja keras juragan Bondan sendiri. Sedangkan harta warisan orang tua mereka hanyalah rumah dan sepetak tanah.
Namun juragan Bondan sangat menyayangi adiknya hingga memberikan apa yang diminta adiknya itu. Tapi semua pemberian dari kakak iparnya masih belum dirasa cukup. Rasa iri sudah merasuki hati istri Dasuki hingga membuat rencana keji untuk menghancurkan rumah tangga sempurna yang setiap hari ia lihat.
Dengan liciknya, istri juragan Bondan mengatur siasat. Devi dibuat tak sadarkan diri dan dia melucuti semua pakaian yang digunakan Devi, kemudian membawa masuk seorang laki-laki yang ia sewa.
Di saat itu, istri Dasuki berteriak histeris yang menyatakan jika Devi telah selingkuh. Pria suruhannya pun segera keluar dari kamar Devi dengan tergesa-gesa agar tidak tertangkap.
Juragan Bondan yang mendapati istrinya berada satu kamar dengan laki-laki lain dan dalam keadaan telanjang menjadi gelap mata. Ia pun merasa dikhianati. Dan mulai saat itulah juragan Bondan melampiaskan kekecewaannya dengan selingkuh juga hingga akhirnya menjadi kecanduan.
“Kalian menghancurkan kebahagianku.” Lirih bu Devi. Air mata wanita paruh baya otu akhirnya luruh. mengingat kebahagiaan yang sempurna yang pernah ia miliki dihancurkan begitu saja.
Yang mengetahui kejadian lima belas tahun itu hanyalah generasi tua. Jadi, Kebanyakan dari mereka yang ada disana tidak mengerti ada masalah apa sebenarnya.
Pada saat itu, Yulia masih berusia delapan belas tahun. Meskipun dia sudah besar, tapi tidak mengerti dengan detail masalah yang terjadi. Satria masih berusia tiga belas tahun, sedangkan Sinta masih delapan tahun. Yang mereka tahu adalah bahwa paman dan bibinya itu orang jahat sehingga harus pergi dari rumah besar. Hanya itu yang mereka ketahui.
“Maafkan kami mbak. Kami datang kesini ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya. Kami menyesal.”
“Tidak ada gunanya meminta maaf sekarang.” Sinis Devi.
“Maafkan kesalahan kami mbak. Kami sangat menyesal. Mungkin permintaan kami memang sudah sangat terlambat. Tapi kami harap tidak ada kata terlambat untuk memulai dari awal lagi.”
*
*
*
Terima kasih sudah mampir ☺️
Akoh ikut deg-degan lho saat nulis episode ini. Menulis kejadian yang menjadi awal sebuah perpisahan membuat perasaan akoh tidak nyaman... huft 😌
__ADS_1