Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_112. H-1


__ADS_3

Hari yang sudah ditentukan akhirnya tiba. Hari ini, Nathan dan Bisma sengaja menunggu dewan direksi di ruang rapat sebelum waktu yang ditentukan. Sedangkan Nara tidak datang ke kantor hari ini karena ingin istirahat dan persiapan untuk acara nanti malam.


Kedatangan Nathan dan Bisma menunjukkan bahwa keduanya sudah yakin akan hasil akhirnya. Selain itu, mereka ingin melihat wajah-wajah orang-orang yang melawan mereka dalam beberapa hari terakhir.


Tak perlu menunggu waktu yang lama, lima belas menit sebelum waktu yang dijadwalkan, satu persatu kursi mulai terisi. Awalnya mereka datang dengan berbicara serius satu dengan yang lainnya. Merencanakan tindakan mereka di saat-saat terakhir.


Namun saat menyadari adanya Nathan dan Bisma di ruangan rapat tersebut mereka langsung terdiam. Mereka menutup rapat-rapat mulut mereka.


Tepat Pada waktunya, rapat pun dimulai.


“Jadi apakah ada kandidat lain yang kalian bawa kali ini?” Nathan bertanya langsung setelah pemimpin badan pengawas menyampaikan hasil pemeriksaan mereka.


Semua orang saling memandang. Bisik-bisik mulai riuh terdengar. Dari lima orang yang diajukan oleh mereka, tidak satupun yang sesuai dan lolos seleksi. Bisma memang standar yang sulit dilawan.


“Melihat kalian sepertinya kalian tidak ada calon lain.” Cibir Nathan.


“Kami memang tidak menemukan orang lain yang lebih mumpuni dari tuan Bisma.”


“Kalian tenang saja. Saya hanya sementara menjabat sebagai Presdir di sini. Tiba saatnya nanti, Gerry lah yang akan duduk di posisi tertinggi.” Bisma bicara dengan serius. Bisik-bisik kembali terdengar. Mereka ini suka sekali bicara di belakang orang lain.


“Waktu untuk kalian sudah habis. Saatnya kalian menyerah. Mulai hari ini, kalian berada di bawah kepemimpinan Bisma. Kalian harus ingat, Bisma adalah putra Mahardika, jika kalian tidak menghormati Bisma di mata kalian, sama artinya kalian tidak menghormati ku.”


“Kami mengerti tuan Nathan.”


“Bagus. Nanti sore aku akan mengumumkan pergantian posisi dan pengangkatan Bisma di depan umum. Aku harap kalian tidak membuat kacau atau aku akan mengeluarkan kalian dari Mahardika Grub dengan caraku. Kalian tidak akan bisa membayangkan apa yang bisa ku lakukan.” Nathan menatap satu persatu wajah. Menekankan rasa takut mereka.


“Kami janji tidak akan mengkhianati tuan. Kami menuruti setiap keputusan taun Nathan dan juga tuan Bisma.”


“Ingat kata-kata ku. Aku tidak akan segan pada kalian.” Nathan berdiri. Ia dengan gagah meninggalkan ruang rapat dengan Bisma yang berjalan di sampingnya.


Tumbuh besar di samping Nathan, membuat Bisma memiliki perangai sepeti Nathan. Bahkan cara berjalan dan bekerja juga sama dengan papa tirinya itu. Dari belakang keduanya akan terlihat mirip satu dengan yang lain. Jika tanpa memandang wajah mereka yang memang berbeda, mereka akan dianggap sebagai ayah dan anak kandung.


**


Saing hari, Nara menjemput Karina di hotel tempat kerjanya. Sebenarnya hari ini Karina mendapatkan sift sore, tapi karena Nara mengundangnya Karina sengaja bertukar sift dengan temannya. Jadi sore ia bisa pulang dan bersiap untuk acara malam harinya.


Jadi Karina terkejut saat melihat Nara ada di resepsionis. Menunggunya. Sebelumnya Nara tidak mengatakan apapun.


“Nara ada apa di sini?” Karina segera menghampiri Nara.

__ADS_1


“Aku menjemputmu.” Nara Nyengir. Ia tahu jika gadis di depannya itu akan terkejut. Ia menyesali keteledorannya yang sampai lupa menyampaikan pada Karina bahwa hari itu ia akan mengajak Karina pergi ke salon untuk bersiap.


“Tapi acaranya kan nanti malam.”


“Iya aku tahu. Tapi kita harus bersiap sedari awal kan. Kita harus tampil maksimal.”


“Tapi aku tidak butuh begitu banyak waktu untuk bersiap.” Di rumah, Karina hanya memiliki pelembap, bedak tabur dan satu buah lipstik. Itu tidak akan membutuhkan banyak waktu untuk mengaplikasikan semua itu di wajahnya.


“Siapa yang bilang persiapan itu hanya untuk wajah kita? Kita ke salon. Aku sudah memesan paket komplit untuk dua orang hari ini. Aku dan kamu. Kita adalah putri hari ini. Ayo.” Nara berkata dengan semangat. Ia menarik tangan Karina untuk mengikutinya.


“Tapi aku masih bekerja.” Karina mencoba menghentikan Nara.


“Oh. Masalah kecil. Biar aku bantu kamu mendapatkan izinmu. Antar aku menemui atasanmu. Dan masalah akan selesai semudah membalikkan tanganku.” Nara berkata meminta Karina untuk menunjukkan tempatnya, tapi ia sudah berjalan mendahului Karina.


“Ayo Karina! Kami kira aku ini peta yang tahu segala tempat? Cepat tunjukkan tempatnya.”


“Emm. Nara, sepertinya lebih baik aku sendiri saja yang meminta izin ya. Aku tidak mau merepotkan mu.”


“Oke. Tapi biarkan aku menemanimu. Aku paling tidak suka menunggu.” Nara kembali mempercepat langkahnya.


Dengan ragu Karina mengetuk pintu bertuliskan ruang manager. Nara menunggu di sofa tunggu di depan ruangan itu. Setelah mendapat izin dari managernya, Karina masuk ke dalam ruangan.


“Tidak diizinkan. Kamu ini pegawai baru. Tidak boleh meminta izin cuti seenaknya. Kamu sudah beberapa kali melakukan ini. Saya sudah berbaik hati padamu terakhir kali karena melihat cara kerjamu dalam bulan terakhir. Tapi tidak ada lain kali untuk itu.” Manager menolak izin Karina setelah mendengar apa yang disampaikan gadis itu.


“Tidak peduli. Lagi pula pesta semacam apa yang akan kamu hadiri?”


“Pesta yang diadakan perusahaan Mahardika Grub.” Jawab Karina semangat.


“Hahahaha. Kamu bermimpi ya? Pesta besar seperti itu kamu tidak memiliki kualifikasi untuk dapat masuk. Bahkan pemilik hotel kita saja tidak mendapatkan undangan meskipun ingin sekali hadir.” Ejek manager itu.


“Tapi saya tidak berbohong pak. Teman saya adalah putri Mahardika.”


“Maksudmu nona Nara?”


“Iya betul. Saat ini dia sedang menunggu saya di depan.”


“Banyak sekali akalmu. Kamu kira aku bisa dibodohi?”


“Saya tidak berbohong pak. Nara benar-benar ada di depan.”

__ADS_1


“Kamu dengarkan saya. Jika aku melihat nona Nara di ruanganmu saat ini, aku akan menjilati alas sepatumu. Dan jika kamu tidak dapat membuktikannya, kamu memberikan gaji selama dua bulan kepadaku. Deal?”


“Bapak tidak adil. Menjadikan gaji saya sebagai bahan taruhan. Bukankah seharusnya timbal baliknya juga harus menguntungkan saya?” Karina tersenyum penuh arti. Sepertinya kali ini ia akan mendapatkan ikan besar.


“Baiklah-baiklah. Jika kamu berhasil membawa nona Nara ke dalam ruanganku, aku akan menyerahkan dua bulan gajiku padamu.”


“Deal!” teriak Karina dengan girang sambil menjabat tangan manager itu. “Saya akan mengajak Nara masuk.” Lanjutnya.


“Tidak perlu dipanggil. Aku sudah datang.” Nara membuka pintu dan bersandar di mulut pintu. Melihat Nara, kedua kaki manager itu mendadak tidak bertenaga. Memangnya siapa yang tidak mengenal Nara? Putri Mahardika yang beberapa bulan lalu menjadi trending topik di dunia bisnis karena kemampuannya.


“Jadi benar?”


“Benar! Saya adalah teman Karina. Dan saat ini saya berada di ruangan anda. Jadi saya harap anda menepati janji karena kalah taruhan. CK ck ck. Seharusnya anda tidak memandang rendah orang lain seperti itu.” Nara berjalan maju. Merangkul bahu Karina dengan senyum lembut di bibir berwarna pink yang terlihat manis itu.


“Nara, maafkan aku karena memanfaatkan persahabatan kita.” Karina berkata dengan tulus. Ia menyesal menjadikan persahabatan mereka sebagai permainan.


“Tidak masalah Karina. Sekali-kali kita harus mengajari orang untuk tidak memandang rendah orang lain.” Karina mengangguk setuju. Selama ini ia juga dikucilkan saat bekerja hanya karena ia tinggal di lingkungan yang kurang baik.


“Jadi, apa kamu sudah dapat izin nya?” Nara dengan cepat mengubah nada bicaranya.


“Aku...”


“Kamu diizinkan. Urusan di sini biarkan aku yang mengurus sisanya. Kamu bisa nikmati pestanya dengan bahagia.” Manager itu buru-buru memotong ucapan Karina.


“Bagus. Kalau begitu terima kasih banyak. Ayo Karina.” Nara segera menarik tangan Karina. Tidak memberi waktu Karina untuk berterima kasih.


“Karina, apa kamu mau mempertimbangkan untuk bekerja di tempatku saja? Aku tahu kamu tidak suka bekerja di sini kan?” Nara sempat mendengar beberapa gosip mengenai Karina yang beredar di hotel saat ia menanyakan keberadaan gadis itu. Dan semua yang ia dengar membuat telinga panas.


Jika Nara yang tidak terlibat saja merasa risih dan tidak suka, bukankah Karina yang menjadi bahan gosip bahkan akan lebih terluka?


“Tidak perlu Nara. Aku amsih bisa menahannya. Lagipula dua bulan ke depan gajiku akan berlipat-lipat.”


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 🤩

__ADS_1


Episode-episode menjelang akhir ya. Untuk kisah Karina dan Bisma akan akoh taruh di novel dengan judul beda.


Tapi sebelum itu, akoh ingin lanjutin dulu karya akoh yang masih setengah jalan. Biar fokus dengan satu karya.


__ADS_2