Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_15. Pasangan Yang Serasi


__ADS_3

“Mobilmu sudah diantar.” Nara membaca pesan singkat dari sebuah nomer asing ketika gadis itu baru keluar dari kamar mandi setelah membersihkan tubuhnya.


“Apakah ini nomernya pak bos?” Gumam Nara. Nara kemudian mengetik balasan.


“Iya. Terima kasih.” Balasnya singkat. Ia tidak mau terlalu memikirkan nya. Lagi pula bisa saja nomer itu bukan milik Alex. Anak buahnya mungkin.


Baru saja Nara meletakkan ponselnya di atas meja rias dan duduk di sana ketika ponsel itu berdering. Nomor itu menghubungi nya. Tanpa berpikir Nara mengangkat nya.


“Halo.” Ucapnya.


“Kenapa masih belum tidur?” suara Alex terdengar.


“Ternyata benar ini nomer pak bos.” Gumam Nara dalam hati.


“Ah iya tuan. Maaf. Hehehe.” Kekeh Nara garing. Ia bingung mau berkata apa. Lagi pula kenapa bosnya itu menanyakan hal semacam itu.


“Ini sudah larut. Kenapa masih belum tidur?” tanya Alex lagi.


“Eh itu... Saya baru dari kamar mandi tadi.” Jawab Nara kikuk.


“Ya sudah. Cepat tidur. Aku tidak mau kamu terlambat besok pagi.”


“Iya. Terima ka...”


Tuuuttt,


Sebelum Nara selesai mengucapkan terima kasih karena telah mengantarkan mobilnya, telepon sudah diputus secara sepihak.


“Huh! Maunya apa sih?!” geram Nara. Gadis itu melemparkan ponselnya ke atas ranjang begitu saja. Ia kembali meneruskan kegiatannya untuk mengaplikasikan krim malam ke wajahnya.


...🍃🍃🍃


...


Keesokan harinya Nara berangkat seperti biasanya. Namun hari ini ia lebih bersemangat karena menurutnya kejadian yang akan terjadi di proyek akan seru. Sebelum berangkat ke kantor ia memastikan pada mamanya mengenai catering yang dia pesan kemarin.


Sesampainya di kantor, ketiga sahabatnya tiba-tiba menariknya masuk ke dalam kamar mandi. Membuat Nara sangat terkejut.


“Kalian ini kenapa sih?” tanya Nara bingung ketika berhasil lepas dari ketiga temannya. Mereka sudah berada di dalam kamar mandi.


“Beri kami penjelasan Nara.” Gita melipat kedua tangannya.


“Penjelasan apa sih?” tanya Nara bingung.


“Apa yang terjadi kemarin? Kemana kalian pergi?” Vera menatap tajam Nara.


Jujur saja Nara tidak mengerti apa maksud teman-temannya mempertanyakan hal itu padanya. Mengenai gosip di kantor jelas saja ia tidak tahu menahu.

__ADS_1


“Kalian ini jelaskan baik-baik. Nara sepertinya tidak mengerti pertanyaan kalian.” Syila menengahi.


“Iya aku tidak mengerti. Maksud kalian apa?” tanya Nara lagi.


“Kamu dan tuan Alex.” Ucap Vera sinis. “Kamu bilang tidak tertarik padanya. Tapi kenapa kemarin malah pergi dengan nya.” Lanjutnya.


“Oh itu. Aku ralat ya. Aku pergi tidak hanya berdua. Tapi bertiga bersama pak Gibran juga. Dan kami pergi untuk masalah pekerjaan.”


“Benarkah?” Gita bertanya dengan serius.


“Iya. Sebenarnya ada sedikit masalah di proyek mengenai pembukuan keuangan. Makanya tuan Alex mengajakku. Dan aku masih tidak tertarik padanya.” Ucap Nara santai.


“Memangnya kenapa kalian sampai berpikir jika aku dan tuan Alex ada sesuatu?” tanya Nara penasaran.


“Kamu tidak tahu ya gosip yang tersebar di kantor kemarin?” Syila menatap Nara tidak percaya.


“Tidak. Aku hampir seharian di luar. Dan juga pekerjaanku sangat banyak hingga tidak ada waktu untuk yang lain. Memangnya apa?”


Nara menggelengkan kepalanya.


“Ada gosip yang menyatakan jika kamu telah merayu tuan Alex.” Ucap Gita.


“Peft. Hahahaha.” Nara tidak bisa menahan tawanya. “ Aneh. Dasar aneh. Dari mana mereka punya pemikiran yang sangat tidak masuk akal itu?”


“Jadi semuanya tidak benar kan?” tanya Vera semangat. Dari keriga teman Nara, Vera lah yang paling memperlihatkan ketertarikan nya pada Alex.


“Ada apa lagi?” Gita bertanya.


“Ceritanya panjang. Kalau ada kesempatan akan aku ceritakan. Baiklah aku pergi dulu. Bye...” Nara segera keluar dari kamar mandi.


***


Tepat ketika jam menunjukkan pukul sembilan pagi Sean mengajak Gibran dan Nara untuk pergi ke proyek. Meskipun kali ini dari pihak mereka meminta bantuan dari polisi, namun mereka memiliki rencana sendiri untuk mengungkap kejahatan. Jika mengandalkan pihak kepolisan mereka khawatir tidak akan kunjung selesai.


Bisik-bisik kembali terdengar saat Nara berjalan bersama dengan Alex dan Gibran. Pasalnya mereka semua mengabaikan fakta jika ada Gibran yang juga ada diantara mereka. Ah sungguh cara penyembahan yang dapat menghilangkan beberapa fungsi panca indera.


Nara yang mendengar bisikan-bisikan tidak enak mengenai dirinya di sepanjang perjalanan hanya bisa mengepalkan tangannya. Bibirnya mengerucut karena kesal. Pun saat ia mendudukkan dirinya dengan kasar di sebelah Alex yang sudah duduk di kursi mobil. Pria di sampingnya itu sampai menaikkan alisnya.


“Ada apa denganmu? Kenapa juga dengan bibirmu itu?” tanya Alex yang melirik wajah Nara yang duduk disampingnya sambil melipat kedua tangannya.


“Itu karena anda pak bos.” Ucap Nara geram. Ia melirik kesal bos besi nya.


“Kenapa gara-gara aku?” tanya Alex penasaran. Sedangkan Gibran yang menjadi saksi interaksi mereka merasa sangat tidak biasa. Lihatlah perlakuan Nara pada Alex yang tidak mencerminkan bagaimana seharusnya karyawan bertindak pada bosnya. Di mata Gibran keduanya bahkan terlihat seperti pasangan serasi. Ini seperti pasangan yang sedang merajuk. Ah! Pemandangan yang langka.


“Iya. Apa pak bos tahu kalau gara-gara pak bos terlalu dekat denganku membuat reputasi ku hancur berantakan?” Sinis Nara. Gibran semakin heran saja dibuatnya.


“Hancur? Kenapa? Seharusnya membuatmu bangga. Bukan hancur.”

__ADS_1


ucap Alex tidak mengerti.


“Gara-gara pak bos aku jadi bahan gosip di kantor kemarin. Bahkan sekarang lebih parah lagi.” Ucap Nara dengan nada tinggi hingga membuat Alex yang duduk di sebelahnya menutup sebelah telinganya.


“Sudahlah. Pak bos tak akan mengerti.” Nara melipat tangannya dan memalingkan wajahnya. Alex menggaruk tengkuknya. Ia merasa heran dengan gadis di sampingnya itu.


Bagaimana bisa dekat dengannya membuat reputasi gadis itu hancur?


“Eee... bisakah kita..” Gibran ingin meminta izin untuk melajukan mobil ya g sedari tadi masih tenang di depan lobi kantor. Belum berjalan sedikitpun.


“Diam!” hardik Nara dan Alex bersamaan.


Gibran langsung mengkerut. Keduanya memang sangat serasi.


Mobil masih berada di lobi kantor untuk beberapa menit.


“Gibran, kamu sengaja membuat kita telat hah?” Alex yang pertama sadar diantara dia dan Nara. Sedangkan Nara hanya meliriknya sekilas. Ia sungguh tidak berniat ikut campur.


“Tapi tuan, saya tidak tahu kita pergi kemana terlebih dahulu.” memang tadi Alex hendak bicara kemana tujuan mereka. Karena mereka harus mampir ke suatu tempat. Dan Alex tidak jadi berbicara karwna kaget dengan Nara yang masuk mobil dengan cara yang aneh.


“Huh! Kalau tidak tahu kenapa dari tadi hanya diam tidak bertanya?” geram bosnya.


“Tadi saya sudah mau bertanya. Tapi tuan menyuruh saya diam.” bela Gibran.


“Sudahlah. Cepat jalan. Kita ke kantor Kennan dulu. Dia bilang ada berkas yang perlu aku tanda tangani.” Ucap Alex.


Lagi-lagi, bawahan yang akan jadi pihak yang bersalah.


“Baiklah. Kita berangkat sekarang.” Ucapnya menenangkan diri. Entah kenapa hari ini ia merasa tertekan berada satu tempat bersama Alex dan Nara. Sepertinya ia sedang terjebak di situasi dimana dia lah yang akan paling bersalah dalam hal apapun sekarang.


Bahkan Nara pun terlihat sama menakutkannya dengan Alex ketika menampilkan mode seperti itu.


Gibran melirik Nara dari spion. Sejak awal dia memang merasa bahwa gadis itu tidak biasa. Dan sekarang ia yakin jika Nara tidak sama dengan gadis lainnya yang memuja bosnya.


Melihat interaksi antara keduanya, Gibran merasa mereka mengenal satu sama lain dengan cara yang lain. Gibran memang sudah mengetahui jika Nara adalah adik dari Bisma. Tapi ia tidak menyangka jika keduanya akan menjadi dekat dalam waktu yang sangat singkat. Ini memang di luar kebiasaan.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 😘


Please like, vote and comment. Oke👍


Maaf telat. Semalam gak tahu kalau pulsa data habis. Akoh biasanya simpan dulu di word sebelum di up. Biar bisa akoh review lagi sebelum naik. Jadi maaf EA.....

__ADS_1


__ADS_2