
Seiring berjalannya waktu, masalah keberadaan Vera seakan terlupakan. Nara dan teman-teman nya juga sudah menyerah. Mereka hanya bisa mendoakan Vera agar dimanapun temannya itu berada akan selalu baik-baik saja.
Nara dan Alex menjalani kehidupan mereka dengan tenang. Hidup bahagia bersama dengan semua orang yang mereka sayangi.
Hari ini Nara dan Alex tidak memiliki banyak pekerjaan di kantor sehingga mereka bisa pulang tepat waktu. Mereka bergegas pulang setelah pekerjaan mereka selesai. Mereka ingin menghabiskan waktu untuk menemani Serena.
Di ruang keluarga yang biasanya hanya ada Serena dan juga beberapa pelayan yang diminta menemani menonton televisi, kini Alex dan Nara ikut duduk menonton televisi menemani Serena. Sedangkan para pelayan sedang mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing.
Nara duduk di tengah-tengah Serena dan Alex. Gadis yang jarang menonton televisi itu saat ini sedang menikmati tayangan sinetron yang sedang diputar oleh salah satu stasiun televisi swasta.
Beberapa kali Nara secara reflek memukul Alex saat tokoh antagonis wanita sedang berbohong untuk memfitnah tokoh protagonis utama wanita di depan tokoh utama pria.
“Ih bikin kesel. Kenapa juga suaminya percaya gitu aja. Kan kasian istrinya. Kenapa malah membela pelakor sih!” geram Nara sambil memukul paha Alex.
“Iya. Mama juga kesel. Pengen sekali mama datengin itu perempuan gatel. Terus mama labrak dia.” Serena ikut menimpali. Wanita paruh baya itu memukulkan genggaman tangan kanannya di telapak tangan kirinya.
“Benar ma. Nanti Nara bantu mama tarik rambutnya. Biar rambutnya yang yang kayak ekor sapi jadi gundul. Emangnya dia itu sapi apa? Suka banget ngibasin rambut. Huh!” Nara semakin semangat.
“Kalau mama ketemu sama dia bakal mama cakar wajah nya. Biar wajah cantik yang dia gunakan buat merayu laki-laki hancur!”
“Aduh jangan percaya omongan wanita jahat itu. Dia bohong. Percaya sama istri kamu.” Nara menunjuk tajam tokoh pria yang sedang beradu akting di layar kaca. Alex yang ada di antara dua wanita yang sedang emosi itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Hiks hiks. Kenapa suaminya jahat banget. Hiks hiks.” Nara menangis saat peran utama pria mengusir istrinya karena terkena hasutan dari tokoh antagonis yang kini tersenyum licik di belakangnya.
“Sayang itu hanya akting. Tidak sungguh-sungguh terjadi.” Alex meraih tubuh Nara dan memeluknya.
“Aku tahu. Tapi kasihan hu~.” Nara semakin terisak. Kini Serena ikut panik. Wanita itu ikut menenangkan menantunya yang terlalu larut dalam cerita.
“Sudah sayang. Kamu tenang saja. Nanti keadaannya akan membaik. Pada akhirnya wanita jahat itu kena karma. Mama sudah pernah menonton cerita ini.” Kata Serena Dengan bangga.
“Yang benar ma? Terus bagaimana ceritanya?” Nara segera menghapus air matanya dan bersiap mendengarkan cerita Serena Dengan antusias.
Serena pun menceritakan kelanjutan sinetron yang miniseri yang sedang mereka tonton. Sinetron itu kebetulan sudah pernah tayang. Tapi dulu tayangnya siang hari. Dan sekarang ditayangkan ulang di malam hari. Jadi ia tahu kelanjutan ceritanya.
__ADS_1
“Apa benar begitu ma?” tanya Nara berbinar.
“Iya. Film ini sudah pernah tayang satu bulan yang lalu. Dan mama masih ingat cerita nya.”
“Sudah puas dengan akhir ceritanya?” tanya Alex akhirnya. Nara mengangguk semangat. Jejak kesedihan yang tadi muncul sudah lenyap sama sekali.
Kini Nara terpukau dengan salah satu iklan tempat pariwisata yang menampilkan pemandangan pegunungan yang dipadukan dengan pantai yang indah. Apalagi di dalam iklan juga ditampilkan pemandangan bawah air yang menakjubkan.
“Sayang aku mau ke sana.” Ucap Nara pada Alex sambil menunjuk gambar di televisi.
“Lain kali kita pergi liburan ke sana.” Alex mengelus kepala Nara.
“Tidak. Aku maunya sekarang.” Nara merengek menarik lengan Alex. “Aku mau pergi ke sana bareng sama semua orang. Sama mama, mana Nadia, papa, Dini, kak Bisma dan Gerry. Eh Gerry tidak usah diajak. Dia suka jahilin aku.”
“Liburan juga butuh persiapan sayang. Apalagi kalau semua orang ikut.”
“Ya sudah kalau nggak bisa semuanya kita berdua saja. Ayo berangkat.” Nara menarik tangan Alex.
“Tidak semudah itu juga.” Alex menggaruk tengkuknya.
“Hei bukan begitu. Dengarkan penjelasan ku dulu.” Alex menangkap tangan Nara yang mulai memukulinya.
“Aku nggak mau dengar.” Nara menggelengkan kepalanya.
“Nara sayang, liburan itu perlu rencana yang matang. Kita perlu banyak persiapan. Kemana tujuan kita? Dimana kita tinggal? Kita ngapain aja di sana? Dan yang paling penting adalah kita harus memastikan apa yang kita tinggal di sini terkendali dengan aman.” Serena mencoba memberi pengertian pada Nara.
Sepertinya ucapan Serena berpengaruh pada Nara. Menantunya itu diam dan memikirkan semua perkataan Serena.
“Benar juga ya. Ya sudah. Akhir pekan ini kita berangkat ke Lombok. Aku akan segera menghubungi mama dan yang lainnya. Mereka pasti senang.” Nara segera berdiri dan berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Meninggalkan dua orang yang tercengang melihat tingkah Nara yang tidak biasa.
**
Seminggu kemudian, rencana Nara akhirnya terlaksana. Berkat Gibran yang lagi-lagi menjadi orang yang paling repot dengan perintah dari Alex.
__ADS_1
Atas perintah Alex, Gibran yang bertugas mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan liburan Alex sekeluarga. Untuk liburan kali ini Gibran bahkan sampai terbang ke Lombok untuk mempersiapkan keperluan selama tiga hari untuk satu keluarga besar.
Akhirnya siang ini Nara dan yang lainnya tiba di Lombok. Mereka akan liburan dengan cara orang lain pada umumnya. Bahkan Gibran sengaja menyewa tour guid untuk memandu mereka.
“Perkenalkan, saya Tora. Dan ini rekan saya Sindy. Kami yang akan menjadi tour guid kalian selama berada di sini.” Seorang pria muda yang tampan dengan seorang gadis cantik menyambut kedatangan Alex dan yang lainnya di bandara
Setelah memperkenalkan diri mereka, Tora dan Sindy membawa Alex dan semuanya ke vila yang telah dipersiapkan oleh Gibran dengan menggunakan mobil Van.
Di sepanjang perjalanan, Tora dan Sindy secara bergantian menjelaskan destinasi wisata yang akan mereka kunjungi selama di Lombok. Bahkan jadwal perjalanan pun sudah diatur sedemikian rupa hingga kedengarannya sangat menarik jika dilakukan.
“Tapi jika kami meminta jadwal berubah boleh kan?” Gerry bertanya dengan semangat. Sejujurnya, jadwal ya g sudah dirancang oleh Tora dan Sindy tidak begitu sesuai dengannya. Sebagai anak muda ia ingin lebih bebas. Apalagi ia tidak begitu tertarik mengunjungi beberapa tempat wisata yang disebut kan di jadwal.
“Boleh. Jadwal bersifat kondusif. Jadi bisa berubah sesuai dengan keinginan. Jika tuan dan nyonya memiliki keinginan lain bisa langsung berbicara pada kami. Misalnya kalian ingin pergi ke restoran yang menyediakan makanan khas, kami bisa mengatur untuk kalian.” Jawab Sindy ramah.
“Yes!” Gerry berteriak senang.
“Kalau kamu berniat ingin lepas dari rombongan tidak akan aku biarkan. Aku mau semua orang menikmati acara liburan ini bersama-sama. Aku tahu rencanamu pasti ingin pergi sendiri kan?” Nara memicingkan matanya.
“Ayolah kak. Aku ini bukan lagi anak TK. Mengunjungi tempat-tempat itu aku juga sudah pernah. Sekarang aku ingin menikmati Lombok dengan cara yang berbeda.”
“Apa maksudmu?” kini giliran Nadia yang menatap Gerry dengan pandangan menyelidik.
“Hehehe.” Gerry menggaruk tengkuknya. Ia nyaris keceplosan. Ia dengar jika club malam di Lombok adalah yang terbaik. Dan Gerry berniat diam-diam menyelinap dan kabur untuk mengunjungi beberapa di malam hari.
“Jangan melakukan hal bodoh! Awas saja kalau membuat masalah.” Bisma yang duduk bersamanya menjitak Jepara adiknya dengan keras. Sebagai seorang kakak, ia sudah mengerti kemana jalan pikiran adiknya ini melangkah.
Setelah hampir satu jam perjalanan, rombongan mereka tiba di sebuah Vila. Sebuah vila mewag di tepi pantai.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih 🤩
Like, vote dan komentar selalu dinanti🥰