Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
38. Berapa Kali?


__ADS_3

Sebelumnya akoh mau ucapin selamat menjalankan ibadah puasa bagi umat Islam di seluruh dunia. Hehehe nggak papa kan jauh banget ngucapinnya....😑


Hari ini Nadia mulai beraktivitas seperti biasanya. Dia juga sudah pergi mengajar di sekolah. Semua muridnya merasa senang karena Nadia sudah kembali mengajar.


Sepulang dari sekolah, Nadia mengunjungi sanggar keterampilan. Ia ingin melihat secara langsung perkembangan sanggat keterampilan yang sekarang menampung sebagian besar para wanita di desa itu. Semakin hari, hasil karya mereka semakin diminati.


Nadia mendapatkan sambutan yang hangat dari semua orang. Mereka memberikan perhatian pada Nadia. Senyum hangat Nadia juga terpancar di sana. Kasih sayang dari para wanita yang ada di sana membuatnya merasa memiliki keluarga yang sesungguhnya.


Warga desa tidak mengetahui penyebab Nadia masuk ke rumah sakit. Tidak ada yang tahu bahwa Nadia baru saja keguguran. Mereka mengira bahwa Nadia hanya sakit. Lagi pula tidak ada yang menjenguknya selama di rumah sakit maupun di rumah. Meskipun mereka ingin, mereka tidak akan berani melakukannya. Mereka tidak akan berani ikut campur masalah yang terjadi dalam keluarga besar juragan Bondan.


Dan di saat Nadia telah kembali menampakkan wajahnya setelah dua minggu menghilang, mereka hanya bisa bersyukur bahwa Nadia baik-baik saja. Nadia tampil dengan senyumnya seperti biasa. Mengisyaratkan tidak ada hal yang buruk terjadi padanya. Membuat semua orang lega.


Joni yang selalu berada di sampingnya hanya bisa mendesah. Ikut merasakan sulitnya menjadi Nadia. Walaupun dalam hatinya terdapat ribuan luka, bibirnya harus senantiasa mengulum senyum demi membangun kepercayaan diri banyak orang yang mendukungnya.


“Nyonya muda, apakah ada kerajinan yang bisa dikerjakan oleh para pria?” tanya seorang pemuda berumur dua puluh dua tahun bernama Rudi. Ia teman sekelas Nadia dulu.


Nadia tersenyum kecut mendengar sebutan Nyonya muda dari teman sekelasnya. Huh! Sungguh status yang membuatnya merasa tua sebelum waktunya. Namun ia bisa apa, memang benar dia adalah nyonya muda dari rumah besar juragan Bondan.


“Sebenarnya ada banyak. Tapi... aku tidak bisa, itu bukanlah keahlian yang bisa aku pelajari karena keterbatasan kekuatanku. Namun jika memang ada yang berminat aku bisa mencarikan seseorang yang bisa membantu. Apakah kamu punya gambaran seperti apa kiranya kerajinan yang bisa dikerjakan oleh warga desa sini?” Jawab Nadia jujur. Kerajinan yang bisa dikerjakan seorang pria memang berbeda dengan yang dikerjakan oleh para wanita.


Mendengar jawaban Nadia membuat Rudi bersemangat. Sebelum bergabung dengan sanggar keterampilan sebagai tenaga bantuan untuk mengangkut dan mengantar barang pesanan pelanggan, dia hanyalah pemuda desa yang menganggur. Jadi ketika dia mendapat dukungan dari Nadia, dia bersemangat.


“Sebenarnya saya ada nyonya muda. Saya memiliki kerajinan membuat berbagai kerajinan dari tempurung kelapa. Seperti gantungan kunci dan hiasan hiasan dinding yang unik.” Jawab Rudi bersemangat.


Sebenarnya dia belajar secara otodidak tentang cara membuat kerajinan tempurung kelapa dari video yang pernah ia dapatkan. Dan setelah mempraktekkannya ternyata itu tidaklah terlalu sulit. Namun dia kekurangan modal dan tidak tahu cara memasarkan produknya.


Setelah menjelaskan maksudnya, Rudi mengangsurkan handphone miliknya yang menampilkan video dan hasil dari prakteknya.

__ADS_1


“Ah. Ini bagus sekali. Mulai sekarang kamu bisa mengajari warga desa yang berminat. Masalah bahan baku kamu bisa menuliskan apa saja yang kamu butuhkan. Jangan sampai ada yang ketinggalan. Kita hatus bisa memuaskan pasar dengan apa yang kita hasilkan. Kalau sudah siap, kamu bisa berikan pada Joni. Setelah itu aku yang akan mengurus sisanya.”


Rudi mengangguk dengan antusias. Dalam kepalanya, sudah muncul beberapa kandidat yang akan ia ajak bergabung dalam proyeknya. Sebagai salah satu warga desa itu, Rudi pun merasa memiliki tanggung jawab untuk membebaskan warga desanya dari jerat hutang juragan Bondan. Dan ia melihat niat yang sama antara dia dan Nadia. Itulah mengapa ia mau bergabung dengan sanggar keterampilan yang anggotanya kebanyakan adalah perempuan.


Hari-hari setelahnya berjalan dengan monoton. Secara garis besar, semua usaha yang direncanakan Nadia untuk sanggar keterampilan berjalan lancar.


Di tempat lain, di mana seorang selalu mengawasi perkembangan sanggar keterampilan itu. Senyumnya terbit setelah mendengar dari laporan anak buahnya mengenai perkembangan sanggar keterampilan yang semakin maju. Joko, pemuda itu menjadi sumber pencari berita untuk dokter Nathan yang dengan antusias mengikuti berita terbaru.


“Dia memang wanita yang sangat istimewa.” Dokter Nathan tanpa sadar bergumam sambil menganggukkan kepalanya.


Namun, gumaman yang lirih itu mampu tertangkap oleh daun telinga Joko. Menyebabkan laki-laki muda yang akan menjadi asisten Pribadi Dokter tampan itu tersenyum. Kemudian dalam otaknya tiba-tiba muncul sebuah ide yang akan mengusik ketenangan hati dokter Nathan.


“Aah.... aku tahu sekarang.” Joko memicingkan matanya. Dokter Nathan menoleh ke arah Joko dan menunggu kelanjutan kata yang diucapkan secara ambigu oleh Joko.


Melihat ekspresi Dokter Nathan, Joko tergoda juga untuk sedikit mempermainkan dokter itu. Dia mengetuk pelan dagunya sambil menatap Dokter Nathan dengan penuh selidik. Menerima perlakuan seperti itu, sang dokter menegakkan badannya. Mencoba mengembalikan ketenangannya.


Sudut bibir Joko terangkat. Pancingannya membuahkan hasil. Jika dokter Nathan penasaran dengan apa yang ia ketahui, kemungkinan besar apa yang ada di fikirannya benar. Tidak ingin umpan yang sudah dimakan kembali terlepas, ia segera berkata,...


“Dokter pasti juga menyukai Nyonya Muda kan?” kedua alis naikkan berulang. Menggoda.


“Tidak ada yang tidak menyukai Bu Nadia Joko. Dia baik hati dan suka menolong. Hanya orang yang iri padanya saja yang tidak menyukainya.” Jawab Dokter Nathan secara global dengan tenang. Ia sadar telah dipermainkan oleh anak buahnya sendiri. Ia tahu kemana arah pembicaraan itu akan mengalir. Terlalu mudah ditebak.


“Aih... Maksud saya bukan suka yang seperti itu.”


“Lalu?”


“Maksud saya perasaan suka kepada seorang wanita. Bukan pada sesama manusia.” Joko menjeda sebelum menyelesaikan kalimatnya. “Nyonya muda memiliki wajah yang sangat cantik. Dibandingkan bersanding dengan juragan Bondan yang bahkan lebih pantas menjadi bapaknya akan jauh lebih serasi bersanding dengan dokter. Selama saya hidup, saya belum pernah menemukan pasangan yang lebih serasi dari kalian.”

__ADS_1


“Hahahaha. Joko, bukankah kamu sendiri yang mengingatkanku kalau bu Nadia itu adalah istri muda? Seserasi apapun kami berdua, kami tidak bisa bersama. Bu Nadia adalah seorang istri saat ini.” kepala dokter Nathan menggeleng pelan. Merutuki kekonyolan asistennya.


“Kalau Nyonya muda sudah menjadi janda, apakah dokter akan menerimanya?”


“Lalu apakah aku harus menjadi pebinor untuk itu? Atau menunggu malaikat pecabut nyawa menjemput paksa juragan Bondan? Kau ini aneh sekali Joko.”


“Anda tinggal memilih mau menunggu janda yang mana dokter. Tapi yang jadi pertanyaan saya belum dokter jawab kan?”


Dokter muda itu diam-diam memikirkan pertanyaan Joko yang sepertinya sangat sulit ia jawab. Di dalam hatinya, ia memang sudah mengakui bahwa semakin kesini, perasaan kagum itu entah mengapa berkembang menjadi cinta. Selama ini ia hanya bisa menyimpannya dalam-dalam.


Mencintai seorang istri orang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Bahkan sebisa mungkin akan ia hi dari. Tapi bukan salahnya juga rasa cinta itu muncul, rasa cinta tak mengenal status.


Namun dia bukanlah hidup di tengah hutan belantara. Melainkan hidup di tengah masyarakat. Apalagi ini adalah masyarakat kampung yang sangat menjunjung adat istiadat yang sangat tidak mengizinkan perasaannya tumbuh dengan begitu subur di dalam hati.


Mengenai status.... Janda


Selama ini dokter Nathan tahu betul hubungan antara Nadia dan suaminya. Tidak ada cinta diantara keduanya. Namun dengan mengabaikan cinta pun nyatanya mereka hampir memiliki anak. Dan itu membuat tiga garis hitam muncul di dahi putih milik dokter Nathan.


Selanjutnya, entah dari mana pertanyaan itu muncul di dalam kepala yang terbiasa memikirkan tentang penyakit dan obatnya, pertanyaan uang cukup vulgar muncul,


“B****erapa kali dimasuki?”


*


*


*

__ADS_1


Ada yang bisa membantu Dokter Nathan menjawabnya? Kalau reader yang mengikuti cerita ini pasti tahu kan jawabannya?


__ADS_2