
Acara di sekolah Bisma selesai tepat setelah makan siang. Namun bukannya pulang, Bisma merengek untuk diantar ke rumah sakit menemui Nara dan Nadia. Padahal tadi sebelum berangkat, Nadia sudah berpesan untuk langsung pulang. Sebagai calon suami yang baik tentu saja ia akan mengingat betul pesan calon istrinya. Namun calon anaknya ini terus-terusan merengek.
“Ayolah om Neil. Kita ke rumah sakit saja sekarang.” Bisma menarik lengan jas Nathan.
“Tapi mamamu tadi pesan untuk mengantarmu langsung pulang.”
“Iya. Tapi kan itu tadi. Om Neil, kalau om Neil mau mengantarkanku ke rumah sakit, aku akan mengizinkan om Neil menikah dengan mama.”
Ucapan Bisma dengan segera membalikkan arah kiblat Nathan yang sedari awal kokoh menuruti pesan Nadia.
Dan disinilah mereka sekarang. Keduanya berjalan berdampingan dengan senyum merekah mereka. Tangan Nathan bahkan dengan ringan menggandeng tangan kiri Bisma. Sedangkan tangan kanan bocah itu memegang piala yang menjadi hadiahnya memenangkan lomba tadi.
Sebenarnya Bisma sudah memberikan restunya pada Nathan sejak mereka berdua tiba di sekolah pagi tadi. Tapi ia masih ingin menguji kesungguhan calon papanya. Apalagi saat ia mendengar pengumuman bahwa ia dan Nathan mendapatkan juara satu, ia semakin yakin. Nathan adalah calon papa yang bisa diandalkan semua keluarganya.
Dan keputusan untuk menyembunyikan restunya dari Nathan akhirnya dapat ia gunakan untuk memaksa laki-laki tampan itu mengantarkannya ke rumah sakit. Untuk apalagi jika bukan menunjukkan piala besar yang baru saja ia terima.
“Mama! Lihat piala besar yang aku dapat! Teriak Bisma mengagetkan tiga orang yang berada di ruang rawat Nara. Setengah jam yang laku Rita datang dan membawakan makan siang untuk Nara dan Nadia.
“Wah anak mama menang ya tadi?” tanya Nadia antusias. Tapi lirikannya tajam mengarah pada sang pengantar.
“Iya ma. Om Neil dan Bisma tadi dapat tepuk tangan banyak banget.”
“Hebat dong! Salim dulu sama Nenek.”
Rita segera menarik calon cucunya dalam pelukannya. Ia tentu saja ikut bangga.
“Bisma mau hadiah apa dari nenek?”
“Sepatu roda! Kemarin waktu di taman Bisma lihat orang main sepatu roda sepertinya menyenangkan.”
“Baiklah. Nanti pulang dari sini kita beli bersama ya.”
“Hore! Terima kasih nenek.” Ucap Bisma girang. Entah mengapa ia nyaman berdekatan dengan Rita.
“Nara, piala ini untukmu.” Bisma menyerahkan pialanya pada Nara yang dari tadi hanya diam tapi terus memperhatikan piala yang dibawa sang kakak.
“Terima kasih kakak.” Nara menerima piala itu dengan mata berbinar. Anak seumuran Nara memang menyukai sesuatu yang berkilau. Nara membolak balikkan piala itu. Kemudian menyentuh beberapa bagiannya dengan antusias.
“Mas kenapa tidak mengajak Bisma pulang dulu?” tanya Nadia pelan setelah ia berada di dekat Nathan.
“Tadi Bisma merengek minta kesini. Lalu aku bisa apa?” jawab Nathan penuh penyesalan. Ia merasa cemas jika Nadia marah padanya. Namun jawabannya membuat Nadia sukses kebingungan.
__ADS_1
“merengek?” tanya Nadia heran. Pasalnya anak laki-lakinya itu jarang sekali merengek. Apalagi pada orang yang baru dikenalnya seperti Nathan. Pasti ada sesuatu disini.
“Bisma bilang ia akan merestu hubungan kita. Jadi tentu saja aku tidak menyia-nyiakan kesempatan.” Wajah Nathan cerah seketika ketika teringat ucapan pria kecil yang baru saja membuatnya mengingkari pesan Nadia.
Benar kan apa yang dipikirkan Nadia. Tunggu! Apa tadi? Bisma merestui hubungannya dengan Nathan? Ini berkah.
Rita yang mendengar ini tentu sangat antusias. Ia sudah jatuh cinta pada kedua anak Nadia. Ia yakin cucunya dari Nathan akan sama lucunya dengan kedua kakaknya. Ah... tidak sabarnya menimang seorang cucu lagi!
“Benarkah itu? Bisma sudah memberi izin Nathan menikahimu Nadia?” pertanyaan itu ditujukan untuk Nadia, tapi siapa yang menyangka jika yang menjawab adalah Bisma.
“Iya nek. Sepertinya tidak terlalu buruk mempunyai papa seperti om Neil.”
Ucapan Bisma yang terdengar sedikit tidak seperti ejekan tidak lagi menjadi masalah. Bagi semua orang restu itu sudah diberikan. Jadi acara pernikahan dapat segera dipersiapkan.
...***
...
Satu bulan setelahnya, pesta pertunangan digelar di sebuah hotel bintang lima. Sebagai seorang pengusaha, kehidupan pribadi Nathan tentu saja mempunyai daya tarik sendiri menjadi sorotan.
Apalagi seseorang seperti Nathan yang terkenal sebagai calon suami idaman. Tentu saja pertunangannya akan menjadi sesuatu yang penting.
Bukan agar terkenal, semata-mata hanya untuk mengumumkan bahwa dirinya sudah ada yang memiliki dan tidak ada yang boleh mendekatinya lagi.
Tapi Nathan tidak memperkenalkan Nadia secara langsung agar privasi Nadia tetap terjaga. Ini juga demi keselamatan calin istri dan anak-anaknya.
Dan hari sakral untuk keduanya juga akan dilakukan dalam waktu dekat. Tepat satu bulan setelah pertunangan keduanya akan melangsungkan pernikahan.
Semua persiapan dilakukan oleh Rita dan Tasya. Dokter cantik itu bahkan meminta cuti satu bulan penuh untuk membantu sang mama. Sebuah resort telah disewa untuk acara besar itu mengingat tamu mereka berasal dari luar kota.
Rita menyewa resort yang berada di pinggir pantai. Dan untuk acara pernikahannya akan menggunakan tema out door dengan pemandangan pantai yang indah.
Tasya juga mengundang seorang desainer dari ibu kota untuk mempersiapkan gaun yang dipakai calon pengantin bersama seluruh keluarga.
Satria juga tak mau kalah. Dia dan kekasihnya yang merupakan anak dari pemilik restoran terkenal yang mengambil alih bagian catering.
Nadia dan Nathan merasa bahagia melihat kekompakan keluarga mereka dalam mempersiapkan pesta untuk mereka. Keduanya sebagai calon mempelai bahkan tidak diizinkan untuk ikut campur dalam hal apapun. Bahkan untuk cincin pernikahan juga dipesankan langsung oleh Hesti, kekasih Satria sebagai hadiah untuk keduanya. Namun hal ini membuat Nadia merasa tidak enak.
Hari ini Nadia menemui Nathan di kantornya untuk melayangkan protes. Semua karyawan yang mengetahui bahwa Nadia adalah calon nyonya mereka tentu saja memberikan penghormatan untuk wanita cantik itu.
Nadia diantar langsung oleh salah satu reseptionis ke ruangan Nathan. Tentu saja Nathan senang dengan kedatangan Nadia, namun ia juga kaget. Pasalnya Nadia tidak memberinya kabar terlebih dahulu. Dan sekarang pekerjaannya sedang menumpuk.
__ADS_1
Tak menunggu lama, Nadia segera melayangkan protesnya.
“Biarkan saja mereka melakukan apapun yang mereka inginkan. Kita tinggal menikmatinya.” Ucap Nathan tanpa mengalihkan perhatiannya pada lembaran berkas-berkas yang sedang ia pelajari.
“Tapi mas...”
“Kalau kamu ada yang diinginkan, kamu bilang saja pada mereka. Apa yang kamu mau.” Nathan berdiri dari tempatnya dan mendekati Nadia. Meraih tangan wanita itu untuk diajaknya duduk di sofa.
“Ish bukan itu. Aku kan nggak enak. Kita yang akan menikah mereka yang sibuk. Kita malah diam saja.” Ia menjadi jengkel sendiri mendengar jawaban Nathan. Tidak mendapatkan apa yang ia inginkan, Nadia berdiri dan berjalan ke arah jendela yang memperlihatkan view yang indah.
Namun keindahan yang dilihatnya belum cukup untuk menghilangkan kejengkelan yang ia derita. Ia melipat kedua tangannya di dada dan mengerucutkan bibirnya. Menatap pemandangan indah di balik jendela dengan perasaan dongkol.
Mengetahui Nadia tengah kesal, Nathan menghampirinya dan memeluknya dari belakang. Nadia terkesiap. Ini terlalu intim.
“Mas...”
“Nadia, mereka menyayangi kita. Mereka melakukan semua itu untuk kita. Mereka ikut merasa senang dengan pernikahan kita. Jadi biarkan saja mereka melakukan hal yang membuat mereka bahagia.” Ucap Nathan sambil mengelus lengan Nadia. Melepaskan lipatannya dan menggenggam tangannya dengan erat.
“Tapi mas, aku tidak enak. Kita bahkan tidak mempersiapkan apa-apa.”
“Siapa bilang? Justru kita mempersiapkan hal yang paling penting disini.”
Mendengar pernyataan Nathan, Nadia membalikkan tubuhnya. Ia menatap lekat wajah laki-laki yang kini hanya berada beberapa senti di depannya.
“Tapi Apa? Aku tidak merasa mempersiapkan apapun.”
“Kita mempersiapkan diri kita sayang. Bukankah itu yang terpenting?”
*
*
*
Sebuah hubungan yang diawali dengan restu akan menjadi lebih indah.
Semua orang mendo’akan kebahagiaan.
Semua orang bersuka cita.
Semua orang bahagia.
__ADS_1