
Hari berlalu dengan cepat. Setengah bulan berlalu begitu saja. Sesuai dengan niat awalnya, Nara mulai berhasil mendekati salah satu karyawan di bagian staf sekretaris. Daffa, laki-laki tampan yang ramah.
Namun dibandingkan dengan teman-teman nya, Nara ini masih kalah. Ketiga temannya bahkan sudah memiliki pacar saat ini. Tapi dia masih dalam tahap pendekatan. Padahal waktu mereka di perusahaan ini tinggal lima belas hari dihitung dari sekarang. Jadi Nara berjuang dengan keras mengejar ketertinggalan.
Namun di sisi lain, Alex terus berusaha dekat dengan Nara. Ada saja alasan yang digunakan nya. Dan semua itu membuat Gibran pusing. Nara juga sering dibuat kesal dengan ulah sang bos.
“Nara hari ini kita makan siang di luar.” Ucap Alex melalui interkom.
“Tidak.” Nara semakin berani. Memangnya siapa dia, selalu mengatur hidupnya. Nara sudah ada janji makan siang dengan Daffa. Padahal niat Alex memang ingin membatalkan janji mereka.
“Ini perintah.” Alex bersikeras. Apa hebatnya Daffa dibandingkan dengannya.
“Ini perintah di luar pekerjaan. Tidak wajib aku lakukan.” Geram Nara.
“Apapun yang aku inginkan harus tercapai disini. Aku bosnya.”
“Ter-se-rah. Aku akan makan siang dengan Daffa.”
Nara hampir memutus sambungannya hingga ia mendengar ancaman yang menakutkannya. “Jika kamu tidak ke ruanganku dalam lima menit, aku akan depak ketiga sahabat mu dari sini.”
Disinilah akhirnya Nara berada. Duduk dengan kesal di depan Alex. Sedangkan Alex yang berada di seberangnya tersenyum sinis penuh kemenangan.
“Sebenarnya apa masalahmu pak bos?” keluh Nara.
“Batalkan janjimu dengan Daffa.” Ucap Alex seketika.
“Kenapa sih? Teman-temanku sudah memiliki pacar. Hanya aku yang belum. Kalau pak bos terus menghalangiku seperti ini, aku tidak akan mendapatkan pacar sampai kapanpun.” Ucap Nara dengan nada tinggi. Tidak menyembunyikan ketidak sukaannya sama sekali.
“Aku ada di sini. Kalau kamu butuh pacar aku bersedia.”
“Tidak.” Tolak Nara tegas. Ini sudah kali beberapa Alex bilang ingin Nara menjadi pacarnya. Tapi dengan Alex yang mempunyai sikap kaku dan arogan saat mengucapkan nya, jelas tidak membuat Nara tertarik.
“Kenapa?” Alex memang bukan kali ini saja menerima penolakan dari Nara. Dan dia juga sudah hafal alasannya.
“Pak bos. Berapa kali harus saya beritahu jika saya tidak menyukai tipe kaku dan dingin seperti pak bos.” Nara sudah jengkel. Alex bukankah seorang idiot yang tidak mengerti ucapannya. Namun Alex ini seperti lalat. Sebanyak apapun Nara mengusirnya, sebanyak itulah ia mendatanginya. Huh! Membuat kesal saja.
__ADS_1
Namun hari ini Alex tidak seperti biasanya yang tenang. Pria itu bangun dari duduknya. Menghampiri Nara dan berdiri tepat di depan Nara setelah memutar kursi yang diduduki gadis itu.
“Aku akan lihat apakah setelah ini kamu masih bilang jika aku kaku dan dingin.”
Mendengar perkataan ini sukses membuat Nara gemetar. Apa yang akan dilakukan pak bosnya ini?
Tiba-tiba saja Alex menundukkan tubuhnya. Tangan kanannya memegang wajah Nara sedangkan dengan tak terduga ia tempelkan bibir sensualnya di bibir tipis milik Nara. Membuat gadis itu terkesiap. Nara membelalakkan matanya. Mendorong tubuh Alex sekuat tenaga.
“Dasar mesum!” teriak Nara saat Alex melepaskan bibirnya.
“Ini baru permulaan gadis imut.” Penolakan yang dilakukan Nara membuat Alex menyimpulkan jika Nara adalah gadis lucu. Dengan wajahnya yang terlihat aneh saat ia menggerutu. Itu semua menampilkan efek imut dan lucu di mata Alex.
Alex menarik tangan Nara hingga Nara bangun dari duduknya dan menabrak dada bidang Alex. Gadis itu saat ini berada dalam pelukan Alex. Menguasai dengan posesif.
“Alex! Jangan kurang ajar!” akhirnya habis sudah kesabaran Nara.
“Apa salahnya? Aku hanya ingin menunjukkan jika aku bukanlah seorang yang kaku dan dingin seperti yang kamu sebutkan tadi.” Alex membela diri.
“Bagaimana? Ciumanku hangat dan nikmat kan?” bisik Alex tepat di telinga Nara.
Hembusan uap panas di telinganya membuat Nara linglung. Apalagi saat mengingat ciuman Alex yang merupakan ciuman pertama bagi Nara entah kenapa ia nikmati begitu saja. Lagipula terasa manis dan... Ah entahlah. Nara jadi malu mengingatnya. Pipinya pun memerah dengan alami. Membuat Alex semakin gemas.
“Amatiran Hem?” Alex tidak kesal. Malah menyeriangi bahagia. Ia tadi memang sengaja hanya mencium Nara dengan sederhana, ia tidak mau Nara membencinya. Namun apa yang didapat sekarang? Ia diejek sebagai amatiran. Meskipun itu memang benar, tidak berarti Alex tidak bisa memberikan ciuman yang lain. Ini harus diluruskan.
“Ya.. emph.” Mulut Nara yang terbuka tidak disia-siakan oleh Alex. Laki-laki itu kembali menguasai bibir Nara. Bahkan sekarang semakin dalam. Tangan kanannya ia gunakan untuk melingkari pinggang Nara, sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk menekan tengkuk Nara.
Nara memberontak. Tangannya dengan sekuat tenaga mendorong dada Alex yang melekat kuat di tubuhnya. Namun tubuh itu sekuat lem seberapa kuat pun Nara mendorongnya.
Gagal melakukan protes dengan tangannya, Nara tidak kehabisan akal. Ia gigit bibir Alex yang sedang menikmati bibirnya.
“Auch. Nara ini sakit.” Alex reflek melepaskan Nara. Tangannya sibuk mengelap darah yang mengalir di sudut bibirnya.
Wajahnya jelas terlihat kecewa.
“Rasakan. Itulah akibatnya menggangguku bos mesum!” Nara merapikan bajunya yang berantakan akibat melawan Alex tadi. Kemudian dia keluar dengan seringaian di bibirnya.
__ADS_1
“Nara berhenti. Kalau tidak kamu akan menyesal.” Peringatan Alex tidak ingin Nara dengar. Gadis itu mengabaikan nya dan keluar. Alex ingin mengejarnya namun tidak dengan bibir terluka seperti saat ini. Padahal ia ingin memperingatkan jika bibir gadis itu berantakan akibat ulahnya.
Ketika Nara keluar dari ruangan Alex, semua mata tertuju padanya. Tapi Nara ini gadis yang terbiasa menjadi pusat perhatian. Ia mengabaikannya meskipun terasa aneh.
Saat ini masih masuk jam istirahat. Nara memutuskan pergi ke kamar mandi untuk bersiap diri sebelum makan siang bersama Daffa.
“Astaga! Jadi bibirku berantakan seperti ini?” ucap Nara saat melihat pantulan wajahnya di depan cermin di kamar mandi.
“Kenapa Alex tidak bilang tadi. Apakah ini sangat terlihat?” gumamnya sambil memperbaiki riasannya.
“Jika ada yang mengira terjadi hal macam-macam bagaimana?”
Tepat saat Nara menyelesaikan riasannya, beberapa wanita masuk ke dalam kamar mandi. Seorang wanita di antaranya menampar pipi Nara dengan keras. Nara meringis sambil memegang pipinya yang terasa nyeri.
“Apa maumu?” tanya Nara saat melihat gadis itu dan tidak mengenalnya sama sekali. Dia juga tidak ingat jika dia punya musuh di perusahaan ini.
Nara memang pernah beberapa kali melihatnya saat di kantin. Tapi seingatnya ia tidak memiliki masalah dengan wanita itu maupun wanita lainnya yang juga datang.
“Kamu jangan ganjen ya! Beraninya menggoda tuan Alex dengan tubuh mu!” teriak wanita itu.
“Jangan bicara omong kosong.” Sergah Nara. Siapa juga yang menggoda Alex?
“Masih berani mengelak hah?” wanita itu hendak menampar Nara. Tapi gadis itu cepat menahannya.
Nara mencengkeram erat tangan yang hendak menampar nya. Membuat wanita itu meringis kesakitan.
“Jangan berani menyebarkan gosip tidak bermoral. Kamu harus tahu jika aku tidak tertarik pada tuan Alex mu itu.” Ucap Nara tegas sebelum melepaskan tangan wanita itu dan pergi begitu saja dari kamar mandi.
“Ini semua gara-gara pak bos mesum.” Geram Nara sambil memegang pipi kirinya yang masih merasakan panas akibat tamparan yang dialaminya.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir 😘
Please like, vote and comment. Oke👍