
Keesokan harinya, Nadia mengajak Nara jalan-jalan di mall agar Nara dapat melupakan kejadian yang dia alami. Dini yang kebetulan libur juga ikut jalan-jalan. Sejak Nara menikah, ketiganya jarang menghabiskan waktu bersama.
Pada dasarnya, semua wanita mempunyai sifat yang sama. Yang suka khilaf melihat barang bagus dan murah. Begitu juga dengan Nadia dan kedua anak perempuannya.
Ketiganya belanja habis-habisan sejak pagi. Di tangan keduanya kini penuh dengan paper bag belanjaan mereka.
Setelah lelah berbelanja, ketinganya memutuskan untuk beristirahat sambil makan siang di kafe di dalam mall. Satu wanita paruh baya, satu lagi wanita muda dan satu lagi remaja putri. Dengan karakter mereka masing-masing, mereka sama-sama cantik di dalam kelasnya.
Meskipun sudah hampir mencapai setengah abad usianya, wajah Nadia yang senantiasa tersenyum ramah jelas mempertahankan kecantikan masa mudanya. Jika dibandingkan dengan wanita seumurannya, Nadia terlihat lebih muda beberapa tahun. Apalagi wajah teduhnya yang menenangkan, membuat orang tidak akan bosan memandangnya.
Di sebelahnya, Nara yang ada di lama masa puncak kecantikan. Memiliki warisan aura Nadia yang anggun. Namun dengan sedikit kecentilan dari tingkah lakunya. Senyumnya yang manis dan tawanya yang renyah. Membuatnya menjadi pusat perhatian baik wanita dan pria.
Dini juga tak kalah pesonanya. Rambut lurus sebahunya dibingkai bandanan berwarna oranye dengan pita kecil di sebelah kanan membuat wajah cantiknya terlihat imut. Apalagi lesung Pipit di kedua pipi yang akan tercetak indah saat ia tersenyum maupun tertawa. Wajah cantik kalemnya menurun dari Nadia. Namun tatapan matanya yang tajam ia mewarisinya dari Nathan. Dengan tatapannya, setiap orang yang memandangnya tanpa sadar akan memiliki keinginan untuk menyelaminya lebih dalam. Penuh pesona yang mematikan.
Dengan tiga wanita penuh pesona di dalamnya, seluruh pengunjung kafe mau tidak mau mencuri pandang ke arah mereka.
Namun yang menjadi pusat perhatian seperti tidak terpengaruh sedikitpun. Mereka bahkan tidak sadar bahwa mereka telah menjadi pusat perhatian dan membuat sebagian besar orang bahkan berhenti bicara dan hanya memperhatikan mereka.
Saat sedang asik mengobrol, Nara melihat ke luar kafe dari balik kaca pembatas. Empat orang berjalan searah dengan pakaian formal mereka. Keempatnya terlihat serius dengan percakapan yang terjadi.
Bukan hal aneh melihat orang-orang seperti itu ada di dalam mall. Namun karena Nara mengenal dua diantaranya. Satu diantaranya adalah suaminya. Satu yang lain adalah Virly. Nara mendengus saat melihat Virly yang terlihat jelas berusaha lebih dekat dengan Alex.
Tidak ingin mengganggu suasana hatinya, dengan segera Nara mengalihkan pandangannya pada jus jeruk dan cake Velvet yang tengah ia nikmati Sebelumnya.
“Selamat siang mama.” Nara hampir menyemprotkan jus yang baru ia minum saat mendengar suara suaminya. Saat ia menoleh, Alex sudah berada di samping Nadia dan sedang mencium punggung tangan mamanya.
“Sayang.” Nara masih mematung saat bibir hangat Alex mendarat lembut di keningnya.
“Kak Alex lihatlah kak Nara makan seperti anak kecil. Bukankah ini akan membuatmu malu?” Dini terkekeh melihat kakaknya yang diam membeku. Ia sudah menebak jika kakaknya sendang tidak sadar. Mungkin masih tenggelam di dalam ilusi sehingga menganggap yang terjadi hanyalah hayalannya saja.
__ADS_1
“Kamu benar. Sini biar aku bantu memperbaiki.” Alex juga sadar jika ‘jiwa’ istrinya sedang tidak ada di sana. Sebelumya ia merasa ada yang memperhatikan dirinya. Saat ia mengedarkan pandangannya, tanpa sengaja ia melihat Nara yang baru saja menundukkan kepalanya.
Melihat sang istri tercinta di saat yang tepat tentu saja tidak akan ia sia-siakan. Sejak pagi Alex sudah disibukkan dengan berbagai hal. Apalagi masalah penculikan Nara juga belum selesai. Hal ini membuat moodnya turun. Sedangkan Nara, adalah mood booster pribadinya. Ada di hadapannya.
Meeting dengan kliennya sudah selesai. Dan mereka hendak pergi untuk mencari makan. Kebetulan sekali ada Nara di dalam kafe. Bukankah ini bisa dikatakan sambil menyelam minum air?
Sebagai bentuk kesopanan, Alex menawarkan makan siang. Dan itu akan sangat menguntungkan jika ia bisa melakukannya sambil menghabiskan dengan istri tercintanya.
Kafe tempat Nara juga bukan sembarangan. Kafe kelas atas yang cukup sopan untuk menjamu klien. Dengan pertimbangan ini Alex menawarkan kliennya untuk masuk dan makan di tempat yang sama dengan Nara.
“Hem... Cake yang enak. Lembut dan manis.” Nara tersadar setelah mendengar suara Alex tepat di telinganya. Dan ia baru sadar jika Alex baru saja mengambil kue yang tertinggal di sudut bibirnya dengan bibirnya. Bukankah ini cukup memalukan untuk dipertontonkan?
“Saya tidak menyangka jika tuan Alex sangat mesra dengan istri.” Seorang pria muda yang lumayan tampan berdiri dengan senyum di bibirnya.
“Ehem. Saya harap tuan Angga tidak keberatan untuk makan di sini.” Alex bertanya dengan senyum tipis yang jarang terlihat untuk orang lain.
“Bukan masalah. Saya sangat menyukai keluarga yang harmonis.” Angga tersenyum. Tapi ada kepahitan di dalam senyumnya.
Angga mengangguk paham. Lagipula bukan hanya Nara yang ada di meja itu. Ada Nadia dan Dini yang sudah bisa dilihat bahwa mereka berasal dari satu keluarga. Akan sangat canggung baginya untuk masuk dalam kelompok.
Dengan kesal Virly pun mengajak Angga dan sekretaris pria itu untuk duduk di meja kosong tak jauh dari tempat Alex berhenti.
“Apa kamu tahu apa itu rasa malu?” Nara merengut. Menatap kesal Alex yang dengan santainya menyeruput jus jeruknya.
“Aku haus sayang.” Alex berkilah.
“Ish. Kamu tahu bukan itu yang aku maksud.” Nara menghentakkan kakinya.
“Lalu?”
__ADS_1
“Kenapa kamu menciumku sembarangan tadi?” tatapan mata Nara berubah tajam. Melihat konflik kecil di depannya. Kilatan penuh kesenangan melintas di mata bening Dini dengan semangat.
“Aku hanya membantumu. Kamu makan dengan tidak rapi. Ada remahan di sudut bibir mu. Dan aku membantumu membersihkannya. Kamu bukannya berterima kasih malah memberiku tatapan yang tajam.” Alex menampilkan tampilannya yang paling menawan. Wajah seperti ia mengalami penganiayaan yang dalam.
Nadia memutar bola matanya malas. Melihat tampilan Alex. Membuatnya mengingat suaminya. Nathan juga akan melakukan hal yang sama. Membuatnya malu. Namun mengatasnamakan bantuan untuknya. Apakah laki-laki mempunyai sifat yang begitu tidak tahu malu? Mengambil keuntungan namun memberikan tatapan teraniaya. Menjengkelkan.
“Membantu apa? Kamu jelas-jelas membuatku malu. Masih mau aku berterima kasih? Huh!” Nara mendengus. Ia menyilangkan kedua tangannya dan memalingkan wajah.
Dini di seberangnya menonton keseruan. Tontonan gratis yang menyegarkan mata. Matanya berkilat dengan antusias. Tangannya disatukan untuk menopang kedua pipinya yang menampakkan lesung Pipit sempurnanya.
Nadia merasa ada yang salah. Ia melirik Dini dan mandapati anaknnya memandang konflik manis sepasang suami istri itu dengan penuh minat.
Dengan segera ia membereskan barang-barang yang dibelinya. Barang-barang Dini juga ia rangkum dalam tangannya. Membuat tangannya penuh dengan paper bag.
“Nak Alex. Mama masih ada urusan lain. Mama serahkan Nara padamu ya.” Tanpa menunggu jawaban dari Alex, Nadia menarik Dini dengan paksa dari tempat kejadian.
Dini yang ditarik paksa memberikan sedikit perlawanan. Lagipula ini dltontonan ekslusif dari kakak dan kakak iparnya. Mana boleh ia melewatkan keseruannya. Ia ingin melihat bagaimana kakak iparnya memenangkan kakaknya yang sombong.
Melihat keengganan Dini, Nadia hanya bisa menggelengkan kepalanya. Putrinya itu memiliki jiwa kepo yang terlalu besar untuk gadis seusianya.
“Mama aku lapar. Kita belum sempat makan tadi. Hanya dissert dan minuman. Mana bisa mengganjal perutku yang dalam masa pertumbuhan.” Dini mencebikkan bibirnya.
“Ikut apa mama potong uang jajanmu.” Ancam Nadia dengan serius. Akhirnya Dini mengikuti langkah Nadia dengan tanpa daya.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir🤩
Dukung akoh dengan like dan komentar cantik kalian. Oke 😘