Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
59. Dokter Nathan VS Jennika


__ADS_3

Pagi ini menjadi pemandangan batu bagi warga desa. Jika biasanya dokter tampan mereka berjalan berdampingan dengan Joko, hari ini mereka melihat seorang gadis cantik dengan pakaian modis berjalan di sampingnya.


Wajah Jennika terlihat sangat bahagia. Dua tahun yang lalu, Jennika terpesona pada Nathan sejak pertama kali bertemu. Nathan bekerja di rumah sakit keluarganya. Dan saat itu Jennika baru pulang dari kuliahnya di Inggris.


Awalnya Jennika tidak mau bekerja di rumah sakit karena ia ingin menjadi wanita kantoran. Tapi setelah mengetahui bahwa ada seorang dokter tampan, Jennika dengan senang hati melakukan tugasnya sekaligus mengejar Nathan.


Segala cara ia lakukan untuk lebih dekat dari dokter tampan pujaan hatinya. Namun bukannya semakin dekat justru keduanya semakin menjauh. Bahkan sejak satu tahun yang lalu Nathan menghilang tanpa jejak.


Pada saat perusahaan milik keluarga Nathan merayakan ulang tahunnya, Jennika akhirnya menemukan Nathan. Akhirnya dengan kekuatan anak manja, ia meminta papanya untuk melamarkan Nathan untuknya.


Dan, tanpa bertanya pada pihak yang bersangkutan, pertunangan bisnis itu akan direncanakan tiga bulan kemudian. Itu artinya, satu bulan lagi. Masa bakti Dokter Nathan juga hanya tiga minggu dari sekarang. Hah, waktu berlalu begitu cepat.


“Dokter Nathan tidak pernah berubah ya.” Jennika melihat raut penuh keseriusan yang selalu ditampilkan dokter muda itu.


"sudahlah Jen, pergilah jalan-jalan. Di desa ini pemandangannya indah. Daripada kamu menungguku disini kamu pasti akan bosan.” Bujuk Nathan. Tidak mungkin dia akan mengajak Nadia masuk. Dia akan sangat terganggu dan kehilangan konsentrasi.


“Baiklah. Aku akan pergi ke sanggar Nadia Bye dokter Nathan.” Jennika dengan semangat berbalik arah dan secara acak berjalan ke manapun kakinya melangkah.


Melihat arah salah yang diambil Jennika, Nathan meminta Joko mengantar gadis itu.


“Dia calonnya dokter?” tanya Joni.


“Tidak penting dibahas sekarang. Cepat susul dia. Gadis manja itu bisa tersesat disini.”


Mengabaikan semua rasa penasaran yang bercokol di hati, Joko segera menjalankan perintah yang ia dapatkan. Setengah berlari ia mengejar gadis yang mengaku menjadi calon tunangan dokter Nathan.


“Joko, dokter Nathan kapan pulangnya?” tanya Jennika ketika mereka berdua baru saja duduk di teras rumah Nathan setelah lelah berkeliling desa.


“Dokter Nathan biasanya pulang jam dua belas siang.” Jawab Joko. Jennika segera melihat jam tangan yang melingkar di lengannya.


“Huh! Masih tiga puluh menit lagi. Oh ya Joko, Nadia itu hebat ya. Masih muda tapi sudah mendedikasikan dirinya mengabdi pada masyarakat. Aku merasa iri padanya. Semua orang pasti menyukainya.”


“Ya. Nyonya muda memang terhebat.”


“Nyonya? Dia sudah menikah?”


“Sudah. Tapi suaminya baru saja meninggal.”

__ADS_1


“Sayang sekali. Suami Nadia pasti orang yang sangat hebat. Andai saja aku bisa bertemu dengannya. Aku akan memintanya untuk mengajari dokter Nathan bagaimana cara menyayangi seorang wanita.”


Mendengar itu Joko hanya diam. Biarkan saja Jennika memberikan penilaian pada orang yang tidak pernah ia kenal. Tak ada baiknya membicarakan keburukan orang yang telah tiada.


Namun jika saja gadis muda itu mengetahui seperti apa suami Nadia, pasti ia akan segera menarik kata-katanya.


“Dokter Nathan orang yang baik nona. Dia juga sangat perhatian.”


“Iya. Dia memang perhatian. Tapi pada orang lain. Sedangkan padaku, kamu lihat sendiri kan dia itu sangat dingin. Apa kurangnya aku coba?” Jennika mengeluhkan sikap Nathan pada orang yang salah.


Joko, selain menjadi pengagum Nadia tentu saja juga mengagumi Nathan sebagai dokter idolanya. Menurutnya Nathan adalah orang yang penuh perhatian. Tapi dia memang melihat sendiri jika perlakuan Nathan pada Jennika berbeda. Yah seperti yang gadis itu katakan, Nathan terlalu dingin padanya.


“Dokter Nathan. Kenapa lama sekali? Aku kan merindukanmu.” Jennika langsung berlari menyongsong Nathan ketika melihat dokter muda itu berjalan tak jauh dari rumahnya.


“Apa sih Jen. Malu dilihat orang.” Nathan melepaskan tangan Jennika yang melingkar di lengannya.


“Biarin aja. Aku kan kangen. Lagi pula di sini tidak ada orang selain kita.” Jennika kembali melingkarkan tangannya.


Nathan acuh tak acuh dan berjalan masuk ke halaman rumahnya.


“Sama pak Min. Ya Tuhan. Aku lupa. Tadi pagi waktu mau kesini mobilku pecah ban. Karena sudah dekat aku memutuskan untuk jalan kaki kesini. Pasti pak Min sedang bingung sekarang. Mana sinyal tidak ada lagi.” Jennika menggoyangkan handphone pintar miliknya. Pada layarnya, hanya tertera huruf “E” sebagai indikasi sinyal. Benar-benar buruk.


“Joko, cepat cari pak Min dan bawa kesini. Mobilnya berwarna merah.” Perintah Nathan. Joko segera mengeluarkan motor dari dalam rumah dan pergi untuk mencari pak Min.


Nathan kemudian duduk di kursi teras diikuti Jennika.


“Kamu tidak rindu denganku.” Jennika memanyunkan bibirnya. Meskipun sudah jelas baginya bahwa sebenarnya Nathan tidak memiliki perasaan apapun padanya, namun selama pria itu masih sendiri, baginya masih ada kesempatan. Dan tentu saja sebagai seorang gadis yang cantik dan terhebat, ia pasti akan mendapatkan apa yang ia mau.


“Tidak.” Jawab Nathan cuek.


“Ayolah dokter Nathan. Mamamu bahkan sudah menganggapku menantunya, tapi kenapa sikapmu sangat dingin padaku?” rengek Jennika.


“Aku tidak ingin memberimu harapan palsu Jen. Lebih baik kamu pergi sekarang daripada akan merasakan sakit suatu saat nanti. Aku tidak memiliki apapun yang bisa dibagi denganmu.”


“Tidak apa. Aku akan menunggu hingga kamu mempunyai untuk dibagi denganku. Lagi pula pertunangan kita masih satu bulan lagi. Masih ada kesempatan untuk mendapatkan cintamu.”


“Terserah. Aku harap kamu tidak menyesal dengan keputusan yang kamu ambil. Sekarang pulanglah. Pak Min sudah datang.” ucap Natham saat melihat mobil pakin berjaln di belakang motor yang dijendarai Joko.

__ADS_1


“Belum waktunya aku pulang. Sudah sejauh ini aku menyusulmu. Aku tidak akan pulang sebelum membawamu pulang bersamaku juga.” Jennika berdiri dan masuk ke dalam mobilnya. "Sampai jumpa besok dokter Nathan." Jennika melambaikan tangannya melalui kaca mobil yang ia buka sebelum menutupnya kembali.


Nathan memijat pelipisnya. Menghadapi gadis itu lebih membuatnya pusing daripada menghadapi penyakit yang sulit disembuhkan.


“Kenapa dok? Sepertinya berat banget pikirannya.” Joko mendudukkan dirinya di tempat Jennika duduk tadi.


Alih-alih menjawab, Nathan malah memberikan pertanyaan.


“Kemana saja gadis manja itu tadi seharian?”


“Tidak banyak. Hanya menemui nyonya muda di sanggar kemudian berjalan-jalan di sekitar sini.”


“Nadia?”


“Ya. Sepertinya mereka nona Jennika akrab dengan nyonya muda.”


“Lalu apa lagi yang ia lakukan?” tanya Nathan dengan malas. Dia yakin bahwa Jennika tidak akan menyerah begitu saja.


“Dia meminta saya untuk mencarikan rumah yang bisa disewa di desa ini.”


Nathan menegakkan badannya. Bersiap mendengar jawaban Joko. Tidak banyak rumah yang disewakan di desa ini. Dan hampir semuanya dalam keadaan yang sangat sederhana. Jennika tidak akan betah tinggal di tempat seperti itu.


“Jadi saya membawa nona Jennika ke rumah Bu Karim yang ada di sebelah rumah besar. Walaupun tidak bisa disewa, tapi ada kamar kosong yang bisa disewa. Dan yang terpenting katanya harus ada wi fi nya. Dan itu tempat wi fi paling nyaman.”


Nathan menghela nafas. Rumah bu Karim memang terlihat cukup nyaman. Apalagi dekat dengan rumah besar yang tersedia wi fi gratis disana. Jennika pasti akan betah berlama-lama mengganggunya kalau itu terjadi.


*


*


*


~*Aku Istri Muda*~


Terima kasih sudah mampir 😉


Jangan pelit like lho ya...

__ADS_1


__ADS_2