
Setelah mendapatkan surat rekomendasi dari dosen mereka, Nara dan teman-teman nya pergi meninggalkan kampus. Untuk pembuatan skripsi, mereka harus terjun langsung ke perusahaan dan mempelajari sistem keuangan di sana.
Dalam satu kelas di bagi menjadi beberapa kelompok yang berisi lima orang. Tapi berhubung jumlah siswa yang tidak tepat, kelompok Nara hanya terdiri dari empat orang saja.
Dengan menggunakan mobil Nara, keempat gadis itu langsung menuju Amerta Corp yang menjadi tujuan mereka. Sebenarnya untuk masalah perusahaan, mahasiswa memiliki kebebasan untuk memilih.
Dan Amerta Corp adalah salah satu yang terkenal sangat sulit untuk diajak bekerja sama. Perusahaan sebesar Amerta Corp memiliki aktivitas yang sibuk di setiap bagiannya. Jika ada mahasiswa yang bergabung untuk belajar dari mereka, ini sedikit sulit.
Namun bukan karena tantangan kesulitan itu yang membuat keempatnya sepakat memilih perusahaan itu, melainkan seseorang yang berada di puncak kepemimpinan Amerta Corp.
Alexander Briano Juantama adalah Presdir muda yang terkenal tampan. Apalagi dengan status jomblonya yang menggiurkan para jomblowati seperti Nara dan ketiga sahabatnya.
Gita mewakili mereka berbicara di resepsionis. Kemudian oleh Bella yang ada di bagian resepsionis mengarah kan mereka ke bagian HRD yang bertanggung jawab atas seluruh karyawan.
Setelah berbicara panjang lebar dengan kepala bagian HRD, keempatnya kini hanya bisa berharap agar Presdir incaran mereka mengizinkan mereka untuk melakukan penelitian di perusahaannya.
Meninggalkan keempat gadis yang saling meremas tangan mereka di bawah meja, di ruangan tertinggi di gedung itu, seorang laki-laki tampan incaran keempatnya duduk di balik meja kebesarannya. Di tangannya sebuah bolpoin diputar oleh jemarinya yang macho. Di sampingnya, Gibran sang asisten sedang membacakan identitas keempat mahasiswa yang mengajukan penelitian di perusahaan meraka.
“Siapa tadi? Kinara Mahardika?” tanya Alex dengan suara lirih namun tegas saat mendengar nama yang tidak asing untuknya.
“Benar tuan. Kinara Pramudita Maheswari Mahardika.” Jawab Gibran sambil melirik Alex. Memindai ekspresi atasannya tersebut.
Gibran menghentikan laporannya sementara sambil menunggu ucapan selanjutnya dari sang bos.
“Bukankah dia putri tuan Nathan? Adik Bisma?” ucap Alex ketika ia baru mengingat nama yang sepertinya tidak terlalu asing untuknya.
Sekitar satu bulan yang lalu, Bisma yang merupakan partner sekaligus temannya datang padanya. Mengucapkan permintaan yang sepertinya sulit untuk ia kabulkan.
Flash Back On....
“Apa kamu bercanda?” ucap Alex setelah mendengar perkataan Bisma.
“Tidak Lex. Aku sungguh-sungguh.” Jawab Bisma yakin.
“Kau sendiri tahu seperti apa aku. Aku tidak percaya pada yang namanya cinta. Bagaimana kamu berniat memasrahkan adikmu padaku. Yang benar saja.” decak Alex. Presdir muda itu sangat terkejut dengan permintaan Bisma.
__ADS_1
Bagaimana tidak, Bisma jelas tahu siapa dia dan bagaimana sikapnya. Ia melihat seorang wanita tidak ada bedanya dengan dia melihat laki-laki. Tidak ada sesuatu yang dikhususkan untuk mereka. Sedikitpun tidak ada ketertarikan.
Masa lalunya yang melihat kehancuran rumah tangga sang mama dan papa membuatnya trauma. Mamanya pergi meninggalkannya saat dia baru berusia sepuluh tahun demi mengejar cinta pertamanya. Meninggalkan dirinya di bawah asuhan sang papa yang keras.
Sejak saat itu, hatinya untuk wanita telah mati. Begitupun dengan perasaan yang namanya cinta. Cinta itu sesuatu yang sial menurutnya.
Alex tahu betul papanya sangat mencintai mamanya. Bahkan ketika dia disakiti dengan begitu banyak, sang papa tidak pernah bisa membenci sang mama. Sungguh cinta membuat seseorang menjadi hilang akal dan bertindak bodoh.
“Kamu belum tahu adikku.”
“Karakteristik apa yang dimiliki adikmu sehingga kamu yakin adikmu berbeda dari gadis lain?” Alex menatap tajam Bisma yang duduk di depannya sambil menyilangkan kaki kirinya.
“Nara gadis yang istimewa. Dia cantik dan menarik. Kemanapun dia pergi, dia akan menyebarkan semangat dan suka cita. Dia pandai mengubah suasana.”
“Huh! Kalau adikmu seperti itu, sepertinya ia akan mudah mencari pasangan untuk dirinya sendiri dan tidak akan membuat kakaknya repot memikirkan hal ini untuknya.” Ejek Alex.
“Hem. Dengan semua karakter yang dimiliki Nara, tidak sulit untuk mendapatkan pasangan untuknya. Tapi semua laki-laki yang mendekatinya tidak ada yang pantas mendapatkan adikku yang berharga.”
“Lalu apa yang membuatmu merasa adikmu adalah gadis yang pantas untukku?”
“Sial kau. Bukankah hidupmu sendiri sama sunyinya dengan hidupku?”
“Hahaha. Tentu saja tidak.”
Flash Back Off...
“Jadi bagaimana tuan?” Gibran menarik kembali Alex dari lamunannya.
“Ada berapa orang?”
“Empat.”
“Sudah kamu selidiki latar belakangnya?”
“Sudah tuan. Dari keempatnya tidak ada yang memiliki status yang biasa. Selain Kinara Pramudita Maheswari Mahardika ada Gita Amelia Wijaya putri tunggal dari tuan Doni Wijaya pemilik Hotel Wijaya. Vera Amanda Griss putri tuan Siddarta Griss, Walikota kota C. Dan yang terakhir adalah Syifa Tamara Zafran, putri dari artis papan atas Rania Sahlin dan pengusaha Abi Zulkarnain Zafran.”
__ADS_1
“Berikan mereka izin.” Ucap Alex selanjutnya
Gibran yang ada di sampingnya hampir saja menjatuhkan map yang dibawanya. Selama ini jarang sekali Amerta Corp memberikan izin untuk pihak lain masuk ke dalam perusahaan. Namun kenapa kali ini sangat mudah? Akankah berhubungan dengan salah satu mahasiswa itu?
“Apa kamu tidak mendengar?” Alex menaikkan alisnya melihat sikap Gibran yang terlihat aneh.
Bisma adalah teman baiknya. Meskipun usianya lima tahun di bawahnya, Bisma merupakan sosok teman terbaik untuknya. Keduanya akrab saat mereka menempuh S1 dan berlanjut sampai sekarang.
Sikap dan sifat keduanya yang hampir sama membuat mereka berdua merasa akrab. Mereka seperti melihat diri mereka ada pada teman mereka. Ini lebih seperti berteman dengan diri sendiri.
Terlebih, Alex memiliki hutang Budi pada Bisma dimana temannya itu pernah menyelamatkan perusahaan nya yang hampir Koleps ketika papanya baru meninggal dunia. Bisma lah yang membantunya Kembali menegakkan Amerta Corp dan dapat sejajar dengan perusahaan besar lainnya.
Mengingat pada Budi baik itu, Alex sepertinya tidak bisa mengelak lagi. Apalagi gadis yang diminta sahabatnya untuk dijaganya datang sendiri ke tempatnya.
“Adikmu telah mendatangi ku terlebih dahulu Bisma. Aku akan melihat sebaik apa adikmu itu.” Gumam Alex dalam hati.
“Bawa mereka ke hadapanku sekarang.”
Belum cukup keterkejutan Gibran pada penerimaan keempatnya. Perintah selanjutnya yang ia terima justru menambah kejutan untuknya.
“Apa ada masalah tuan?” tanyanya hati-hati.
“Tidak ada. Aku hanya ingin bertemu dengan mereka secara langsung. Aku ingin melihat para putri orang-orang penting muncul di hadapan ku.”
Meskipun dengan pertanyaan yang berkumpul di dalam benaknya, Gibran segera melaksanakan perintah Alex.
“Ini pasti tidak sesederhana itu. Bukan hanya mereka anak-anak dari orang penting kan? Selama ini banyak juga yang datang dari golongan yang lebih penting dari ini. Kenapa yang ini bahkan terkesan sangat mudah? Apakah ini ada hubungannya dengan salah satu diantaranya? Ini pasti yang bernama Kinara itu. Tuan Alex kan berteman dengan tuan Bisma. Pasti ini jodoh masa depannya tuan Alex.”
Gibran segera menggelengkan kepalanya ketika menyadari pikirannya yang mulai berlarian kemana-mana. Baginya hal itu sangat sulit bahkan tidak mungkin. Menjadi asisten Alex selama tiga tahun sudah cukup membuatnya mengenal betul atasannya.
*
*
Terima kasih sudah mampir 😎
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak dengan klik like👍, vote 😍 dan komentarnya oke😘