
“Dia cukup pintar. Mudah paham dan cepat belajar. Dia juga sangat cekatan.” Ucap Imelda. Itu memang kesannya tentang Nara. Dia cukup terkesan dengan Nara. Meskipun ia memiliki sikap yang sedikit centil, tapi dia cukup baik dan bertanggung jawab.
“Ini sesuai.” Gibran menjentikkan jarinya.
“Maksudnya?” tanya Imelda tak mengerti.
“Staf sekretaris sedang kekurangan orang. Salah satunya cuti selama satu bulan. Dan itu kebetulan adalah staf di bagian keuangan. Karena hanya satu bulan dan tepat sama dengan masa para mahasiswa itu berada di sini. Ini sepertinya akan cocok. Bagaimana menurut Bu Imelda?”
“Ini....”
Jujur saja. Imelda cukup terkejut mendengarnya. Belum pernah ada yang cuti selama satu bulan selama ini. Jika itu wanita, masih mungkin jika itu cuti melahirkan. Lah ini? Imelda tahu betul bahwa yang ada di posisi itu adalah Beni. Salah satu bawahannya dulu. Namun mendengar alasan yang diberikan Gibran, ini sepetinya masuk akal juga. Lagipula mahasiswa itu juga sedang melakukan observasi mengenai keuangan.
“Hemm.. sepertinya Itu juga baik pak Gibran. Saya rasa Nara memang cocok. Kelompok mereka bahkan bisa lebih baik dengan pengaturan ini.” Jika dipikirkan lebih jauh memang akan banyak sisi positif nya.
“Baiklah Bu Imelda. Kalau begitu sudah diputuskan. Tolong segera kirim Kinara Pramudita menemui saya untuk lebih jelasnya.”
“Baik pak Gibran. Kalau begitu saya permisi. Selamat pagi.”
Imelda berdiri dan segera pamit. Meskipun apa yang dia dengar dari Gibran masih menimbulkan pertanyaan di kepalanya, namun tetap saja seberapa besar keinginannya untuk mendapatkan jawaban tidak pernah ia dapat. Semua terlalu sulit ditebak.
Sebelum masuk ke dlaam ruangan divisi keuangan, Imelda terlebih dahulu memperhatikan orang-orang yang ada di dalamnya. Seperti biasanya karyawan di bawah naungannya ini semuanya fokus pada pekerjaan nya.
Bekerja di divisi keuangan memang yang paling riskan. Satu angka saja salah, maka semuanya akan menjadi salah. Bisa jadi akan menimbulkan gejolak di perusahaan dan mendatangkan masalah pada karyawan buang bertanggung jawab untuk hal itu. Maka dari itu, semua karyawan yang ada si ruangan itu adalah karyawan pilihan yang jujur, teliti dan berdedikasi.
Setelah memperhatikan anak buahnya sendiri, pandangan Imelda beralih pada empat mahasiswa yang sedang berdiskusi sendiri di meja di sudut ruangan. Seperti membahas sesuatu di sana. Tapi wajah mereka jelas berbeda dari para karyawannya yang berwajah serius. Keempat mahasiswa itu memiliki wajah dengan senyum merekah hampir sepanjang waktu.
Tiba-tiba muncul keraguan di dalam hatinya, bisakah mereka berempat bekerja dengan sungguh-sungguh?
Terlebih untuk masalah saat ini. Nara yang merupakan salah satu dari mahasiswa yang tengah ia perhatikan terlihat paling tidak kompeten. Suka bermalas-malasan dan juga memiliki sifat yang centil. Imelda jadi ragu apakah Nara bisa menggantikan Beni pada akhirnya?
Imelda menghela napas. Jika memang menurut Gibran memindahkan Nara untuk menggantikan Beni sementara waktu adalah hal baik, maka biarkanlah berjalan seperti keinginan sang sekretaris itu.
Keempat orang yang sedang berada di sudut ruangan yang tadinya sedang berbicara seketika menoleh ketika mendengar suara pintu ruangan terbuka. Sangat berbeda dengan karyawan lain yang acuh, seperti tidak ada yang terjadi. Mungkin, bahkan jika ada orang yang berteriak bahwa kantor kebakaran, mereka juga akan mengacuhkannya.
Imelda berjalan mendekati keekmpatnya. Berhenti ketika sampai di depan mereka.
“Kinara ada yang perlu saya bicarakan. Masuk ke ruangan saya sekarang.” Kata Imelda sebelum berlalu dan masuk ke dalam ruangannya sendiri yang masih berada di dalam ruangan divisi keuangan.
__ADS_1
“Ada apa?” Vera menahan tangan Nara yang hendak bangun.
“Entah.” Nara mengangkat bahunya sambil memandang ketiga temannya yang lain.
“Ya sudah. Cepat sana.” Syila mengingat kan. Dari mereka tidak ada yang ingin jika Nara akan dimarahi atau dihukum karena telat.
Nara segera bergegas masuk ke dalam ruangan Imelda setelah mengetuk dan meminta izin masuk. Di dalam ruangan, Nara duduk dengan cemas di kursi tepat di depan Imelda.
“Berkemaslah. Mulai hari ini kamu akan dipindahkan ke bagian staf sekretaris.” Kata Imelda to the point. Membuat Nara terkejut mendengar apa yang dibicarakan wanita di depannya.
“Mak-maksud Bu Imelda apa ya?”
“Ck. Apa kamu tidak mendengar perkataan ku sebelumnya?”
“Saya mendengar dengan jelas Bu. Tapi itu tidak membuat saya paham.” Elak Nara. Telinganya masih berfungsi dengan sangat baik. Hanya saja informasi yang baru saja ia dengar sungguh membuatnya tidak mengerti. Dia dan teman-temannya datang ke perusahaan ini untuk melakukan observasi. Bukan bekerja. Kenapa seenaknya saja memindahkannya?
“Huft begini. Staf sekretaris kekurangan orang. Yang kebetulan bekerja di bagian keuangan adalah Beni, anak bagian keuangan yang cuti selama satu bulan. Dan menurut ku ini juga baik untuk kamu.”
“Tapi Bu...”
Yah. Rayuannya benar-benar menggiurkan. Siapa yang tidak suka jika ia dapat dengan mudah mendapatkan bahan yang akan mereka masukkan dalam skripsi.
“Tunggu apa lagi? Cepat bersiap. Nanti kamu temui saja tuan Gibran untuk mengetahui ”
“Baik Bu Imelda.” Jawab Nara mendengar. Kemudian ia keluar dari ruangan dan bergegas menuju mejanya.
“Ada apa?”
“Tidak ada masalah kan?”
“Kami tidak kena marah kan?”
Begitu keluar dari ruangan, Nara mendapati ketiga sahabatnya menunggu di depan ruangan. Ketiganya nampak khawatir. Melihat itu hati Nara merasa menghangat. Sahabatnya. Mereka selalu ada.
“Hais kalian ini. Tidak ada apa-apa. Hanya ada sedikit perubahan.” Nara menggigit bibir bawahnya. Entah ini baik atau buruk untuk mereka.
Yang Nara tahu ini buruk untuknya. Dimana ia harus berada terpisah dengan ketiga temannya. Terlebih lagi, dengan dirinya pindah menjadi staf sekretaris, diantara ketiga temannya ia lah yang akan paling berpeluang untuk mendekati Alex. Incaran ketiga temannya. Kenapa bukan satu diantara mereka saja sih yang harus pindah. Kenapa harus dia?
__ADS_1
“Lalu kenapa kamu dipanggil Bu Imelda?”
“Bu Imelda memintaku untuk pindah ke staf sekretaris mulai hari ini.” Kata Nara ragu.
“Bagus dong. Kita jadi punya lebih banyak bahan.” Syila menepuk pundak Nara
“Iya. Kamu juga bisa lebih dekat dengan tuan Alex.” Vera menangkup kedua tangannya. Dan kedua temannya mengangguk setuju. Meskipun mereka rival dalam hal mendekati Alex, ketiganya tetaplah sahabat. Lagi pula belum ada yang tertarik dengan serius sampai saat ini.
“Hah! Aku tidak peduli dengan yang namanya tuan Alex. Aku hanya tidak ingin berpisah dengan kalian.” Ujar Nara memelas.
“Hei Nara jangan lebai deh. Kita kan masih berada dalam kantor yang sama. Kita hanya beda ruang. Satu lantai juga.” Gita mengelus lengan Nara.
“He em. Kita masih bisa barengan saat istirahat makan siang.”
“Oke baiklah. Ya sudah aku harus berkemas dulu.”
“Biar aku bantu.”
“Aku juga.”
“Ketambahan satu lagi tidak apa kan?” keempatnya tertawa. Mereka sudah seperti Teletubbies saja yang kemana-mana selalu bersama. Suasana akan ramai jika ada keempatnya.
Dengan bantuan dari keempat sahabatnya, bahkan Nara sendiri tidak melakukan apa-apa mengenai barang yang ia bawa pindah. Lagi pula tidak ada barang yang harus ia bawa selain barang pribadinya. Dia baru sehari berada di sana dan harus pundak keesokan harinya.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😘
Please like, vote dan komentarnya EA...🥰
Hai-hai...
Kemarin novel ini dibuatin cover dari NT. Gimana menurut kalian covernya?
__ADS_1