
Joni masih terbaring lemah di atas brangkar puskesmas. Jennika dibantu warga membawa Joni ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Sedangkan Nathan berusaha mengejar penculik Nadia yang sepertinya masih belum terlalu jauh.
Nathan mengendarai motor yang dipinjam dari seorang warga dengan kecepatan tinggi. Tepat sebelum perbatasan desa, ia melihat sebuah mobil yang baru pertama kali ia lihat di desa. Dan itu mencurigakan.
Setelah memastikan bahwa kemungkinan besar mobil itulah yang membawa Nadia, Nathan akhirnya memperlambat laju motornya. Dengan segera ia menghubungi polisi untuk membawa bantuan. Tak lupa Nathan juga memastikan untuk tidak kehilangan jejak.
Mobil yang membawa Nadia akhirnya berhenti di sebuah gudang tua di desa sebelah. Nathan menghentikan motornya tak jauh dari sana.
Dari dalam mobil, terlihat Nadia dibawa turun dengan paksa. Kedua tangannya diikat. Mulutnya juga diplester. Dengan dorongan Nadia dibawa masuk ke dalam gudang. Nathan yang melihat itu merasa sangat marah. Ia ikut merasa tidak rela jika seseorang menyakiti Nadia.
Setelah memastikan posisi pada polisi, Nathan mengendap-ngendap mendekat ke arah gudang. Gudang itu dijaga oleh dua orang yang berdiri di depan bangunan.
Bangunan itu sendiri tampak sangat kotor dan tidak terawat. Banyak semak liar yang tumbuh subur baik di luar maupun di dalam. Beberapa temboknya bahkan sudah berlubang besar hingga cukup untuk memperlihatkan bagian di dalamnya.
Memanfaatkan hal itu, Nathan berusaha melihat apa yang terjadi di dalam. Nadia berada di salah satu ruangan. Didudukkan disana dengan tangan dan kaki yang terikat. Mulutnya terus berusaha bersuara. Seperti siap untuk mengumpat siapapun yang ada di depannya. Kebencian jelas terlihat di kedua matanya.
Tak lama berselang, para penculik mempersilahkan seseorang masuk ke dalam ruangan. Melihat orang yang baru masuk itu, mata Nadia melotot karena terkejut. Begitu juga Nathan yang dapat dengan jelas mengenali orang itu.
“Hemm hemmm” usaha Nadia untuk bersuara semakin keras meskipun ia tahu itu semua akan sia-sia. Namun orang itu benar-benar membuatnya marah.
“Buka mulutnya!” perintah bos penculik.
“Baik bos!”
“Apa yang kamu lakukan mas Yanto?!” teriak Nadia begitu plester dilepas dari mulutnya. Ya, orang itu adalah Yanto, suami Yulia.
“Apa lagi? Tentu saja memuluskan rencanaku menguasai seluruh harta Bondan.”
“Kenapa kamu melakukan semua ini? Bukankah harta yang kamu punyai lebih dari cukup untuk keluargamu?”
“Hahahaha. Kalau maksudmu keluargaku itu Yulia, kamu salah besar.”
“Apa maksudmu? Mbak Yulia adalah istrimu, ibu dari anakmu!”
“Ck. Kamu pikir aku mau menikah dengan Yulia karena apa kalau bukan karena hartanya?” seringai muncul di bibir Yanto.
__ADS_1
“Aku tentu saja pantas mendapatkan istri yang lebih baik dari Yulia. Yulia hanya tahu mengeluh dan menghabiskan uang. Wanita seperti itu tidak cocok bersanding denganku.” Kata Yanto. Kemudian muncul seorang wanita cantik yang seumuran dengan Nadia. Dan Nadia mengenalinya sebagai anak dari kepala desa kampung sebelah, Ratna.
“Kamu!”
“Ya. Itu aku. Yanto benar. Yulia itu tidak ada apa-apanya dibanding denganku.”
“Yanto! Kamu sungguh keterlaluan! Lalu kenapa kamu menculikku?”
“Itu karena kamu terlalu cerdik. Aku tahu kamu telah membuka rekening baru dan memindahkan semua uangmu disana. Banyak tanah yang juga menjadi milikmu sekarang. Tentu saja aku tidak akan melepaskan begitu saja harta yang sejak awal aku incar. Setelah semua harta aku ubah menjadi namaku, aku akan segera menendang Yulia dan Devi keluar dari rumah. Tidak akan ada yang bisa menghalangiku.”
“Kurang ajar kamu Yanto!”
“Ya. Seperti katamu. Aku memang kurang ajar. Kalian semua, jaga dia baik-baik!” Yanto kemudian pergi dengan Ratna berjalan di sisinya. Mulut Nadia kembali di plester.
Namun tiba-tiba, keributan terdengar dari luar ruangan. Dua orang yang bertugas menjaga Nadia ikut keluar untuk melihat apa yang terjadi. Melihat ada kesempatan, Nathan yang sudah bersama dua polisi segera menjebol tembok yang memang sudah berlubang.
Nadia sangat kaget melihat Natahn datang bersama polisi. Tentu saja ia sangat senang karena akhirnya bantuan datang. Di luar ruangan, banyak polisi berusaha menangkap Yanto dan anak buahnya.
Nathan segera membuka plester dan juga ikatan pada kaki dan tangan Nadia. Sedangkan dua polisi bertugas menjaga mereka berdua.
“Saya tahu Nadia. Saya telah berhasil merekamnya tadi. Kita memiliki bukti yang kuat yang bisa kita tunjukkan pada Bu Devi dan Yulia.”
“Terima kasih dokter.”
Tanpa diduga. Nathan memeluk tubuh Nadia yang masih duduk di atas kursi. Nadia yang mendapatkan perlakuan itu menjadi kaku. Pelukan ini begitu hangat dan menenangkan. Bagaimana bisa Nadia merasa hal seperti ini hanya dengan pelukan?
“Nadia, saat aku mengetahui kamu diculik. Aku sangat kacau. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu. Aku tidak bisa membayangkan jika harus kehilanganmu.”
“Dokter...”
“Aku mencintaimu Nadia, pergilah bersamaku. Kita tinggalkan desa ini. Kita hidup akan hidup bahagia di kota.”
“Maaf dokter, aku tidak bisa. Aku harus berada disini.”
“Ayolah Nadia. Aku tahu kamu juga mempunyai perasaan padaku kan? Disini kamu tidak akan bisa hidup tenang.”
__ADS_1
“Dokter, aku tidak memiliki perasaan padamu. Tapi, meskipun aku mempunyai perasaan yang sama terhadapmu, kita tidak bisa bersatu. Banyak perbedaan diantara kita. Aku sangat menghargai persahabatanku dengan Jennika. Aku tidak akan bisa menyakitinya. Lagipula, aku lebih dibutuhkan di desa ini. Lupakan semua perasaan ini dokter. Bahagialah dengan Jennika. Dia gadis yang baik.”
“Tidak Nadia. Perasaan tidak bisa dipaksakan.”
“Ini tidak akan berhasil.” Nadia mendorong Nathan menjauh. Semua ini terasa canggung. Apalagi ada dua orang polisi yang sedang berada di dekat mereka.
“Aku mohon Nadia.”
“Jangan memaksa dokter. Jennika akan sakit hati padaku. Aku hanya memiliki sedikit teman. Jangan membuat satu temanku membenciku.”
Kedua polisi yang dengan jelas mendengar pembicaraan kedua orang di belakangnya mau tidak mau merasa canggung. Bagaimana bisa kedua orang di belakang mereka saling mengungkapkan perasaan dalam suasana yang genting seperti itu.
Akhirnya, setelah kedua orang itu berhenti bicara dan diam, kedua polisi segera memberitahukan bahwa keadaan di luar sudah teratasi. Kelompok Yanto sudah di amankan.
Nathan segera membantu Nadia berdiri. Namun karena ikatan kaki yang sangat kencang membuat Nadia tidak bisa berdiri dengan sempurna. Dengan kedua kaki yang memar, Nadia tidak bisa berjalan dengan baik. Mau tidak mau, ia berakhir di atas gendongan Nathan.
“Berpeganglah Nadia. Aku tahu ini tidak nyaman. Tapi inilah satu-satunya cara yang bisa kita lakukan.” Kata Nathan.
Dengan canggung Nadia mengalungkan tangannya pada leher Nathan. Memaksa hidungnya mencium aroma segar yang dikuarkan oleh tubuh tegap yang menggendongnya.
Fikiran Nadia mulai liar. Tiba-tiba ia merasa malu hingga membuat wajahnya memerah. ia tidak biasa mendapatkan perlakuan yang seperti itu dari seorang laki-laki yang membuatnya merasa sedikit aneh. Apalagi melihat wajah Nathan yang tampan dari jarak yang begitu dekat. Nadia menelan salivanya. Nathan tersenyum melihat wajah Nadia yang merona.
“Mulutmu mungkin bisa berbohong Nadia, tapi wajah dan tatapan matamu tidak bisa berbohong untuk menutupi perasaanmu.”
“A-apa? A aku hanya malu. Iya malu.” Kata Nadia sebelum memalingkan wajahnya yang semakin terasa panas.
Nathan menyeringai puas. Tanpa jawaban Nadia pun ia tahu bahwa wanita itu juga memiliki perasaan yang sama dengannya.
*
*
*
Hemp.... kok jadi gini sih!? Padahal rencana Akoh mau buat adegan action dimana Nathan bertarung untuk menyelamatkan Nadia, tapi.... kok jadinya malah kayak gini? 😬
__ADS_1