
Nadia duduk di depan jendela kamarnya di tengah malam. Sebenarnya ia sudah tertidur tadi, tapi beberapa saat yang lalu ia entah kenapa terbangun dan tidak bisa kembali tidur. Jadi ia putuskan untuk bangun saja dan meninggalkan suaminya yang tidur pulas di atas ranjang kasur mereka.
Di tempatnya duduk sekarang, Nadia tengah mereview semua kenangannya di dalam kamar ini. Dengan awal mula sebuah tangisan untuk hancurnya mahkota demi melunasi hutang. Semua perasaan seperti pelacur itu kembali ia ingat di kepalanya. Dimana ia hidup dalam rasa bersalah dan tertekan.
Di kamar ini jugalah ia sering memikirkan berbagai rencana. Mulai membongkar kejahatan Devi meskipun pada akhirnya ia lebih memilih untuk menyerah. Juga rencana masa depan untuk kehidupan lebih baik warga desanya.
Ah! Sepetinya di kamar inilah pusat kehidupan masa lalunya berjalan.
Tak jauh darinya, Nathan meraba tempat tidur di sebelahnya saat dia ingin memeluk seseorang yang akhir-akhir ini menemaninya tidur. Tempat itu kosong. Dimanakah istrinya?
Kedua matanya mengerjab dengan paksa. Mencoba membuka kedua kelopak mata yang terasa lengket karena mengantuk. Semenjak menikah entah mengapa ia sering merasa kedinginan dan ingin memeluk guling hidupnya sepanjang malam. Ah jangan dibahas! Kita semua tahu jika itu hanyalah akal-akalan pengusaha mantan dokter itu.
“Sayang kamu dimana?” Tanyanya parau pada seseorang yang belum ia ketahui keberadaan nya.
Sedangkan seseorang yang sedang duduk di depan jendela segera menoleh saat menyadari suaminya telah merasakan ketidakhadiran nya. Nadia segera menoleh ke arah tempat tidur. Di atasnya, suaminya duduk dengan muka bantalnya. Kaos putih yang digunakan nampak kusut akibat ulahnya saat tidur. Rambutnya berantakan. Sangat berbeda dengan penampilan normalnya yang rapi.
Nadia tersenyum mendapati pemandangan itu. Baginya, itulah penampilan paling menggemaskan milik sang suami. Yang hanya dirinyalah yang mempunyai hak otoritas untuk menikmatinya. Muka bantal yang menggoda.
“Kenapa kamu tidak tidur?” suara parau itu terdengar lirih di telinganya. Membawanya untuk mendekat dan duduk di depan sang suami. Nadia duduk diam sambil memandang lekat wajah Nathan yang menampilkan ekspresi kebingungan.
“Terima kasih telah hadir di hidupku mas.” Nadia memeluk erat tubuh Nathan. Membuat suaminya itu kebingungan. Istrinya ini selalu saja melow.
“Di kamar ini, semua kenangan masa laluku terkumpul. Dan di sini jugalah akan aku tutup masa lalu itu dan akan aku mulai denganmu mas. Nathanael Geovan Mahardika, suamiku.”
__ADS_1
“Sayang, karena kamu telah menutup masa lalumu, mulailah masa depan denganku disini. Aku pengen.” Nadia tidak sempat menghindar saat merasa gelagat aneh dari sang suami. Tubuhnya sudah dibuat mabuk kepayang oleh sang ahli.
Pagi harinya semua sibuk. Di dapur dadakan yang ada di sebelah rumah besar, beberapa kompor maju mundur sudah mengerjakan tugasnya. (tahu kan maksudnya? Itu lho tungku yang biasanya digunakan di desa yang memanfaatkan kayu bakar yang berlimpah. Maklum lah untuk warga desa, jika menggunakan gas LPG menurut mereka lebih boros.)
Sedangkan di pelataran rumah, para laki-laki mempersiapkan meja dan kursi di bawah tenda. Tempat berlangsungnya resepsi ronde ke 2. Mereka tidak tahu saja jika semalam sang pengantin baru melakukan lebih dari 2 ronde.
Para penghuni rumah besar juga sedang sibuk. Tapi mereka sibuk di dandani. Dengan bantuan beberapa penata rias yang telah disewa untuk merias para penghuni rumah dan juga beberapa orang yang bertugas melayani tamu nantinya.
Hari ini temanya adalah adat Jawa. Jadi mereka akan menggunakan segala perlengkapan adat Jawa. Mulai dari kebaya, Jarit sampai menggunakan konde dan blangkon.
Di kursi teras rumah besar, Nara sudah terlihat cantik dengan baju kejawennya. Dengan konde kecil di belakang rambutnya. Dihiasi tusuk konde dari Kuningan berbentuk bunga dengan beberapa permata yang terlihat berkilau ditimpa cahaya. Sudah mirip putri Jawa. Cantik dan elegan. Hilang sudah citra Nara yang biasanya terlihat tengil dan jahil.
Duduk di sampingnya, Bisma terlihat tampan dengan setelan baju jawanya. Dengan Jarit membalut kakinya juga atasan berpola garis-garis berwarna coklat. Di kepalanya terpasang blangkon yang membuatnya terlihat berwibawa untuk anak seusianya. Apalagi wajah dinginnya masih setia menghias wajah itu.
“Kakak Nara boleh pinjam itu?” tanya Nara sambil menunjuk keris yang terselip di belakang punggung Bisma. Sang kakak meraba barang yang ditunjuk adiknya. Bersiap untuk menariknya. Namun sebuah suara menghentikan tindakannya.
“Gatengnya kak Bima. Nara mau cium boleh?” Nara mengedipkan matanya beberapa kali. Kelihatan sekali jika ia berharap pemuda bau kencur itu menyetujui permintaan nya.
Sedangkan Bima sendiri bergidik ngeri. Seingatnya, Nadia tidak memiliki sikap yang centil seperti gadis di depannya. Dari mana sikap ini dia dapatkan?
“Hei anak kecil nggak boleh cium sembarang an.” Dengusnya sebelum ia pergi dari sana untuk melihat persiapan di halaman rumah. Nara melihat tubuhnya yang semakin menjauh dengan tatapan memuja. Betapa tampannya pangeran Jawa yang barusan.
Bisma yang mengetahui tingkah adiknya hanya menggelengkan kepalanya. Baginya adiknya memang seperti itu. Tidak bisa melihat yang bening-bening tersia-siakan. Dasar centil. Ia sendiri heran adiknya ini memiliki sikap yang begitu centil.
__ADS_1
“Wah Nara dan Bisma sudah siap rupanya.” Lisa yang sudah tampil cantik dengan kebaya berwarna pink fantanya berdiri di depan pintu. Melihat dua bocah cilik yang duduk manis melihat kesibukan manusia-manusia di depannya.
“Kak Lisa cantik sekali.”
“Tentu saja. Aku kan Lisa. Gadis paling cantik di desa ini.” Sombongnya.
Hem sekarang Bisma tahu sikap centilnya Nara di dapat dari mana. Sepertinya keturunan dari bapaknya memang diwarisi gen kenarsisan yang berlimpah.
“Kak Lisa bawa kami jalan-jalan dong.” Rengek Nara. Kini gadis kecil itu sudah menarik ujung kebaya gadis muda di depannya.
“Sebentar lagi acaranya dimulai. Nanti sore saja kalau semua sudah selesai aku akan mengajakmu keliling desa ini. Aku yakin kalian akan menyukai pemandangan desa ini di sore hari. Matahari terbenam di sawah tidak kalah indahnya dari di gunung maupun di laut.” Ucap Lisa membanggakan desanya.
“Aku sudah tidak sabar. Janji ya kak?” Nara mengulurkan jari kelingkingnya. Lisa segera menautkan kedua jari kelingkingnya.
“Janji. Sepertinya Tante Nadia sudah siap. Ayo kita masuk.” Nara menggandeng tangan kiri Lisa dan berjalan ke dalam rumah. Sedangkan Bisma mengekor di belakang para gadis.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😎
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak dengan klik like👍, vote 😍 dan komentarnya oke 🥰
Alhamdulillah akhirnya bisa up lagi. Semoga mengobati kerinduan. Miss You All My Reader. 🤩💋