Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_68. Usaha Serena


__ADS_3

Dapur yang biasanya hanya ada dua orang wanita di dalamnya, hari ini ada tiga orang wanita yang sedang sibuk dengan peralatan dapur dan juga bahan masakan.


Jika biasanya hanya ada Mak Jum dan Mak Marni, hari ini Serena ikut turun ke dapur setelah merasa tubuhnya pulih dan bertenaga. Awalnya Mak Jum dan Mak Marni melarang Serena Dengan alasan takut kondisinya yang baru saja membaik menjadi kembali sakit. Namun Serena memaksa dan berkata ingin memasak makanan spesial untuk Alex dan Nara.


Kini, Ketiga wanita itu memasak sambil berbincang dan bercanda. Sejak dulu Serena memang akrab dengan keduanya.


Di sisi lain. Di kamar utama milik Alex dan Nara, kedua ya masih tertidur dengan saling memeluk. Keduanya baru tertidur setelah olah raga malam mereka yang menghabiskan tenaga namun begitu menyenangkan. Hingga sampai lewat tengah malam, mereka baru selesai karena kehabisan tenaga dan juga mengantuk.


Yang bangun terlebih dahulu adalah Alex. Dipandanginya wajah Nara yang berada di dekapannya. Terlihat polos dan damai. Dikecupnya kening Nara dengan ringan.


“Maafkan aku semalam ikut emosi padamu. Aku terlalu marah dan tidak bisa menahan emosiku.” Ucap Alex sambil memindahkan kepala Nara yang menjadikan lengannya sebagai bantal. Dia melakukannya dengan sangat hati-hati agar Nara tidak terbangun. Nara pasti lelah semalam.


Setelah memastikan jika Nara tidak terganggu, Pria itu segera turun dan memakai celana boxernya yang semalam ia lepas saat king oyster miliknya menunjukkan kebolehannya. Tak lupa ia juga membereskan pakaian Nara yang juga tergeletak di atas lantai dan memasukkan nya ke dalam keranjang kotor. Baru setelah itu ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dan juga menyegarkan tubuhnya.


Tak berapa lama Nara juga bangun ketika mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi. Ia sudah menebak jika Alex lah yang ada di dalam sana.


Nara duduk sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Baru setelah ia sadar sepenuhnya, ia melirik jam dinding. Dan alangkah terkejutnya ia saat melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.


Segera ia turun dari atas ranjang dengan melilitkan selimut menutupi tubuhnya. Dia terlambat!


“Sayang cepat keluar. Aku juga butuh mandi. Kita sudah hampir terlambat.” Nara menggedor pintu kamar mandi.


Alex yang mendengar Nara panik menyeringai. “Masuklah sayang. Aku hampir selesai.” Alex memang sudah tidak lagi terbiasa mengunci pintu kamar mandi saat ia mandi.


“Tidak. Aku menunggumu keluar saja.” Nara sudah hafal akal bulus Alex.


“Ya sudah kalau itu maumu.” Alex semakin menggoda Nara dengan bersenandung di dalam sana. Nara menggeram marah.


“Ayolah Lex jangan main-main.”


“Siapa yang main-main? Aku sedang memakai bajuku. Kalau tidak percaya kamu bisa masuk melihatnya sendiri.” Bohong Alex. Padahal dirinya masih sibuk menggosok tubuhnya yang masih penuh dengan sabun.

__ADS_1


Nara dilema. Ia melihat kembali jam dinding. Sudah sepuluh menit berlalu. Jika ia tidak segera mandi, ia akan telat. Tapi jika ia masuk, Alex bisa saja memakannya lagi pagi ini.


“Ah ini sudah cukup lama. Alex pasti sudah selesai.” Ucap Nara. Alex yang mendengarnya di Balik pintu menyeringai. Ia sudah bersiap menangkap mangsa empuknya pagi ini.


Knop pintu diputar. Dan setelah pintu terbuka, Alex segera menarik Nara masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Nara secara reflek memegang erat selimut yang menutupi tubuhnya.


“Apa yang kamu lakukan Lex?” ucap Nara panik saat Alex menggesekkan tubuhnya padanya saat Alex merapatkannya di tembok.


“Aku yakin nyonya Alex bukan lagi seorang amatiran yang tidak faham.” Alex menyeringai. Ia semakin menempelkan tubuhnya. Tangannya juga sudah sibuk bermain di beberapa bagian tubuh sensitif milik Nara yang sudah dihafalnya dapat merangsang Nara setelah selimut yang dipakai Nara melorot.


**


Alex membantu Nara mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Sedangkan istrinya sedang merajuk. Meskipun begitu, tangannya masih ahli dalam hal mengoleskan berbagai krim perawatan wajah di wajah cantiknya.


“Jangan memasang wajah imutmu itu di depanku.” Alex menahan tawanya melihat ekspresi Nara.


“Wajahku tidak terlihat imut saat ini. Aku marah. Marah. Kamu tahu?” Nara semakin kesal. Wajahnya saat ini mana bisa dibilang imut?


“Sudahlah. Tidak perlu marah-marah seperti itu. Apa kamu tidak tahu kalau gampang marah bisa menyebabkan cepat tua. Wajah keriput. Hipertensi.” Alex berbicara sembari tangannya terus bergerak di atas kepala Nara.


“Tidak apa terlambat sesekali. Lagi pula hari ini kita tidak ada jadwal keluar. Kita bosnya.”


“Apa kamu lupa jam sepuluh nanti ada pertemuan dengan pihak Diamond Globe?” Nara memicingkan matanya. Ia sudah menduga suaminya itu pasti lupa. Makanya ia bisa terlihat sangat santai.


“Astaga! Aku lupa. Aku akan bersiap sekarang.” Alex segera mematikan hair dryer dan meletakkannya di atas meja rias. Setelah itu ia terburu-buru masuk ke dalam ruang ganti.


Tak butuh waktu lama hingga Alex dan Nara keluar dari kamar dengan tangan yang saling berkaitan.


Saat keduanya pergi ke ruang makan untuk berpamitan pada Mak Jum dan Mak Marni, wajah Serena yang terlihat sedih menyambut mereka. Pada saat ini, Alex dan Nara bahkan sempat melupakan anggota baru di rumah mereka.


Nara segera menghampiri Serena yang duduk di meja makan sendirian. Dengan meja yang penuh dengan makanan yang terlihat enak.

__ADS_1


“Maafkan kami ma. Apa mama belum sarapan?” Nara segera duduk di samping Serena.


“Tidak apa. Mama mengerti. Kehadiran mama di sini tidak penting untuk kalian.” Ucap Serena sendu. Alex memandangnya dengan tatapan sinis.


“Mama jangan bicara seperti itu. Maafkan kami. Kami hanya belum terbiasa. Lain kali jika kami belum turun juga, mama tidak perlu menunggu kami. Mama makan saja duluan.” Saat ini sudah jam sembilan. Pasti Serena sudah merasa lapar. Padahal wanita itu masih harus minum obatnya.


“Makanannya sudah dingin. Biar mama panaskan dulu.”


“Tidak usah Ma, maafkan kami. Hari ini kami sudah terlambat. Jadi kami tidak sarapan di rumah.” Ucap Nara.


“Ayo berangkat.” Alex memberi kode agar tidak berlama-lama.


Laki-laki itu bahkan sudah melangkah pergi dari ruang makan.


“Sekali lagi maaf ma. Kami berangkat dulu.” Nara meraih tangan Serena dan mencium punggung tangannya sebelum ia berlari mengejar Alex yang lebih dulu pergi dari sana.


Sepeninggal anak dan menantunya, butiran air mata mengalir dari sudut mata Serena. Awalnya ia mengira bahwa ini akan menjadi awal yang indah bagi hidupnya. Sarapan bersama dengan anak dan menantunya, pasti menyenangkan.


“Nyonya besar jangan menangis. Saat ini tuan Alex dan nyonya Nara sudah terlambat pergi ke kantor.” Mak Marni menghampiri Serena yang duduk sendirian di ruang makan.


Semenjak menikah, Alex beberapa kali telat berangkat ke kantor. Dan itu secara otomatis melewatkan sarapannya. Jadi tadi ketika waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan, ia dan Mak Jum sudah mengatakan pada Serena untuk sarapan terlebih dahulu. Namun Serena menolak dan memilih menunggu Alex dan Nara.


“Iya Marni. Aku tahu. Aku hanya merasa sedih.”


Serena memandang makanan yang tersedia di atas meja. Semua menunya ia yang memilih. Semuanya kesukaan Alex. Dan ia juga membuat puding mangga kesukaan Alex saat kecil. Tapi semuanya tidak disentuh sedikitpun oleh Alex.


“Nanti malam aku akan memasak lagi.” Tekad Serena dalam hati.


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih sudah membaca karya Akoh 🥰


__ADS_2