
Keempat orang kembali bertemu di kafe yang sama dengan tiga hari yang lalu. Keempatnya, ah bukan, lebih tepatnya tiga orang diantara mereka sibuk membahas rencana mereka yang sudah dimulai.
Dokter Nathan sudah berhasil menghubungi temannya yang akan merawat Dian. Ia juga sudah menemukan rumah yang berada tidak jauh dari rumah sakit tempat dokter yang akan merawat Dian nantinya.
Selain membahas tentang akomodasi, mereka juga saling bertukar informasi mengenai Dian. Tentang kondisi kejiwaan dan kehamilan Dian.
“Selama di sana nantinya, saya mohon maaf jika mungkin tidak bisa secara langsung terlibat. Saya akan mengusahakan menengok sesekali. Jika saya sering keluar kota, saya khawatir akan ada yang curiga.” Kata Nadia.
“Itu bukan masalah Bu Nadia. Anda tenang saja, Dian akan berada di tangan yang dapat dipercaya dan diandalkan.”
“Saya percaya dokter pasti mengusahakan yang terbaik.”
“Hanya ini yang bisa saya lakukan untuk membantu Bu. Anda dan Joni lah yang sudah berjuang keras selama ini.” Dokter Nathan memandang Nadia dan Joni bergantian.
“Mulai sekarang kita akan bekerja secara bersama dokter. Semoga dokter tidak merasa lelah dan menyesal suatu saat nanti di masa depan.” Joni berkelakar. Walaupun kata-katanya berisi candaan, tapi dari nadanya jelas terdengar pengharapan yang sungguh-sungguh.
“Hahaha Joni, saya sangat menyukai tantangan. Saya tidak akan lelah hanya dengan melakukan semua ini. Yah, ini seperti bermain petak umpet.” Tawa kecil menyambut. Dokter Nathan berkata yang sesungguhnya. Ia menyukai tantangan.
Jika saja ia mau, ia tidak akan mungkin bekerja di sebuah puskesmas di desa yang jauh dari peradaban di mana kehidupan normalnya berlangsung. Dengan kemampuan dan prestasinya saja, ia hanya tinggal menunjuk di mana rumah sakit yang akan dia jadikan tempat mengabdikan diri.
Tapi keputusannya mengabdi do puskesmas sepertinya tidak salah. Ia mendapatkan tantangan yang cukup menarik di sini. Dengan ini, ia tak hanya akan memikirkan berbagai penyakit dan obatnya, tapi ia juga menggunakan otaknya untuk memikirkan keberhasilan rencananya, dan ototnya untuk bergerak aktif yang akan sangat membutuhkan dirinya untuk saat ini.
“Saya sudah menyiapkan seratus juta untuk memenuhi kebutuhan Dian dan Bu Minah di sana. Untuk itu saya meminta nomer rekening dokter agar Saya dapat mentransfernya.”
Dokter Nathan tertawa. Sebegitu sepercayanyakah wanita cantik di depannya ini? Uang yang akan ditransfer berjumlah banyak. Apakah ia tidak takut jika ada seseorang yang akan menyalah gunakan kepercayaannya?
“Kenapa dokter? Apakah masih kurang?” tanya Nadia khawatir. Ia tak tahu sampai kapan kedua orang yang akan mereka tinggal di tempat yang jauh. Jadi, ia khawatir jika uang yang ia berikan tidak cukup.
“Anda sangat naif Bu Nadia. Uang sebanyak itu akan anda transfer dengan begitu saja ke rekening saya. Apakah anda tidak takut saya tipu?”
“Hahaha dokter. Kita sekarang satu team. Jadi tidak ada alasan saya untuk tidak mempercayai anda. Lagi pula, sebagai seorang dokter, uang yang saya transfer mungkin tidak akan berpengaruh banyak pada rekening anda.” Jawaban Nadia membuat dokter Nathan terdiam. Itu memang benar. Tapi sejak dulu ia selalu berpenampilan dan hidup dengan sederhana. Sampai sekarang tidak ada yang tidak berhasil ia kecoh.
__ADS_1
“Hahaha bu Nadia bisa saja. Saya hanya seorang dokter sukarelawan bu. Tidak digaji.” Dokter Nathan menyesap minumannya. Mendadak tenggorokannya kering.
Benar kata orang. Pembicaraan yang paling sensitif adalah pembahasan mengenai uang. Dan ini bekerja pada dokter Nathan. Tiba-tiba saja ia merasa tidak nyaman. Ia seperti merasa telah membohongi orang lain dengan penampilannya.
“Di zaman sekarang, sangat jarang ada orang yang mau bekerja tanpa dibayar, dokter. Apa lagi dengan profesi seperti anda. Dengan profesi anda, memungkinkan anda bekerja di tempat yang terbaik dengan gaji yang juga fantastic. Tapi anda memilih bekerja tanpa dibayar disini. Bahkan hingga satu tahun lamanya.”
“Itu karena dokter Nathan memang baik Nyonya Muda.” Akhirnya, satu-satunya orang yang sejak awal hanya jadi penyimak angkat suara. Dalam pembahasan ini, sepertinya dialah yang paling mengerti.
Joko tersenyum bangga. Sudah setengah tahun lebih ia menjadi asisten Dokter Nathan. Dia tahu betul karakter Dokter Muda itu yang memang baik hati dam lebih memilih hidup sederhana. Ia bahkan tidak berfikir sampai alasan dokter Nathan memilih menjadi dokter Sukarelawan di desa dari pada bekerja di rumah sakit yang terkenal.
“Walaupun dokter Nathan baik Joko, ia tak akan bisa datang kesini tanpa restu keluarganya. Dan apa kamu fikir dengan keluarga yang biasa saja akan membiarkan seseorang yang telah susah payah membiayai kuliah untuk bekerja tanpa dibayar selama satu tahun? Tidak kan?” Joni tak bisa lagi untuk ikut mengeluarkan argumennya. Sepertinya dokter Nathan memang seperti yang dikatakan Nadia. Jadi dia putuskan untuk membantu Nadia.
“Sudahlah. Kenapa jadi membahas saya?” dokter Nathan semakin tidak nyaman. Niat awalnya ia ingin menggoda Nadia, pada akhirnya, siapa yang berada di posisi yang terpojok sekarang?
“Baiklah dokter Nathan. Kami hanya bercanda, jangan dimasukkan hati terlalu dalam. Semua orang butuh privasinya tersendiri.”
“Bu Nadia benar. Maaf bukanya saya berniat tidak menghargai kerja sama ini, tapi saya hanya tidak percaya ada orang yang begitu mudahnya memberikan kepercayaan kepada orang lain.”
“Baik bu Nadia. Saya akan berusaha menjadi seperti yang anda harapkan.”
“Tentu dokter. Saya harap dokter tidak banyak mengecewakan.” Nadia terkekeh. Ia sudah lelah berbicara serius dari tadi. Pembicaraan ini terlalu melelahkan dan membosankan.
Setelah seratus Juta yang baru berlabuh di Rekening Nadia sudah berpindah tempat, keempatnya memutuskan untuk berpisah. Menjalankan aktivitas mereka yang berhenti sementara waktu. Mereka mempunyai banyak hal selain melaksanakan rencana mereka.
Nadia dan Joni berjalan di depan dokter Nathan dan Joko. Pertemuan mereka memuaskan. Besar harapan mereka untuk keberhasilan rencana mereka.
Target mereka hanya untuk mengembalikan kondisi kejiwaan Dian. Serta menjaga kesehatan janin yang dikandung Dian. Bagaimana pun cara dan tragedi dibalik ia terbentuk, janin yang masih berusia tiga bulan itu tak bersalah. Ia berhak melihat indahnya dunia.
Saat keempatnya sedang berjalan keluar dari kafe, sekelompok siswa berseragam putih abu-abu berjalan secara tergesa-gesa masuk ke dalam kafe. Dan salah satu dari mereka tak sengaja menyenggol bahu Nadia yang menyebabkan wanita cantik itu kehilangan keseimbangan.
“Aah.” Pekik Nadia, tubuhnya limbung ke belakang. Joni yang biasanya dapat diandalkan hanya bisa memandang apa yang terjadi.
__ADS_1
Joni melongo, istri muda majikannya berada dalam rengkuhan pria lain tepat di depan matanya. Jika sampai juragan tua itu tahu, pasti dia akan segera dipecat.
Ya, dokter Nathan menangkap Nadia pada saat yang tepat. Jika tidak, kemungkinan besar, pantat Nadia akan mendarat tidak etis di lantai.
Untuk beberapa saat, kedua orang yang dalam posisi intim itu terdiam. Kedua tangan dokter Nathan memegang erat bahu Nadia. Kepala Nadia besandar pada dada bidang Nathan. Aroma gold yang menenangkan menari di hidung Nadia. Keduanya saling menatap dengan jarak wajah yang sangat dekat. Bahkan, detak jantung keduanya yang sudah seperti permainan drum terdengar oleh mereka.
*
*
*
Juragan Bondan : Kerjamu sebenarnya apa Jon?
Joni : Kan juragan sendiri yang menggaji saya. Saya kan juragan bayar menjadi bodyguard istri muda juragan.
Juragan Bondan : Sudah tahu jadi Bodyguard kenapa biarin istri mudaku dipeluk gitu sama pria lain hah? Mau dipecat?!
Joni : Ampun juragan! Saya khilaf. Lagian saya kasihan sama Nadia yang tiap hari pelukannya sama bandot tua. Sekali-kali sama laki-laki yang tampan dan gagah perkasa.
Juragan Bondan : Apa kamu bilang?! Beraninya kamu! Apa kamu fikir saya tidak gagah perkasa?!
Joni : Eh? Bukannya aku ngomongnya di dalam hati ya. Kenapa dia dengar sih?
Juragan Bondan : Episode selanjutnya pecat saja Joni, Thor!
Author : Maaf nih ya pak Juragan, saya bukan bukan anak buah anda yang seenaknya saja bisa disuruh-suruh.
Joni : Wleeeek 😝😝😝
Juragan Bondan : Awas kalian! Kalo pinjam uang nggak akan aku kasih. 😤😤😤😤
__ADS_1