Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_1. Kinara Boneka India


__ADS_3

Hai, perkenalkan namaku Kinara Pramudita Maheswari Mahardika. Ya, sejak mama menikah dengan papa Nathan, papa memberikan nama belakangnya padaku dan kak Bisma. Ah! Papa memang papa yang terbaik di dunia.


Biar aku beritahu kalian, aku dan ketiga saudaraku merupakan anak paling beruntung di dunia. Memiliki orang tua yang amat mencintai kami. Hidup di lingkungan orang-orang yang menyayangi kami dengan sepenuh hati.


Setelah satu tahun menikah, akhirnya mama memberiku seorang adik laki-laki tampan yang diberi nama Gerry Pratama Mahardika. Hem. Adikku ini sangat tampan. Sekali lirik saja banyak cewek yang takluk olehnya. Aku saja nih, kalau dia bukan adikku, aku tidak keberatan mempunyai pacar brondong sepertinya. Hihihi. Kenapa sih yang gantengnya minta dikoleksi harus jadi adikku?


Nah, selain memberiku adik tampan yang menawan. Lima tahun setelahnya mama memberiku satu adik cewek yang cantik. Tapi masih cantik kan aku lah. Hahahaha. Namanya Dini Syarilla Mahardika. Dia centil, sok cantik. Begitulah.


Pasti kalian penasaran kan sama kak Bisma? Hah! Inilah yang paling aku sayangkan. Kakakku ini terlalu mencintaiku. Hingga diumurku yang sudah dua puluh satu tahun ini aku senantiasa menjomblo abadi. Kak Bisma selalu membuat lari semua cowok tampan yang menjadi target pacar idamanku.


Kak Bisma over protective.


Siapapun cowok yang berniat mendekatiku akan dibuatnya kabur. Sebal kan aku jadinya.


Padahal aku ini sudah bukan remaja lagi. Dua puluh satu lho aku ini. Ngomong-ngomong, aku kuliah semester akhir di jurusan Akuntansi Bisnis. Kecintaanku pada uanglah yang membuatku berakhir disini. Tapi yang tidak aku sangka ternyata jurusan inilah yang membuatku merem melek karena berpikir keras.


Bagaimana tidak? Aku si pecinta uang diminta menghitung banyaknya uang yang masuk dan keluar tanpa ada uangnya. Kalau Cuma berkhayal buat apa? Kenapa sih tidak menggunakan uang yang real buat dihitung. Aku jamin tidak akan ada satu pun kesalahan yang akan salah dengan penghitungan ku. Dan akhirnya aku menyesal telah mengambil jurusan ini pada akhirnya. Membuat otak jebol karena terlalu banyak berkhayal. Jika bukan ancaman dari mama yang akan memotong uang bulananku, aku sudah hengkang dari jurusan ini dari dulu.


Kata mama kita harus konsisten dengan apa yang kita pilih. Tanggung jawab dan sungguh-sungguh. Tidak boleh berputus asa. Baiklah ma. Mama memang maha benar. Akhirnya dengan segala kerja keras aku sampai di tahap ini. Di semester akhir yang penuh perjuangan.


Kembali lagi ngomongin kakak yang tersayang sekaligus ternyebelin untukku. Dengan keenceran otaknya yang tak bisa disangkal lagi, sejak masuk SMP kak Bisma selalu ikut program akselerasi. Sehingga hanya butuh dua tahun di SMP, dua tahun di SMA dan dua tahun kemudian mendapat gelar Sarjana.


Hebat kan kakakku!


Jadi meskipun aku hanya satu tahun lebih muda darinya, sejak SMP aku sudah tidak pernah satu sekolah lagi dengannya. Iri? Tidaklah. Aku ini orangnya mau yang gampang aja. Nggak mau ribet. Bagiku, hidup adalah proses. Nikmatin aja.


Kak Bisma saat ini sudah bekerja di perusahaan papa. Sambil mengejar S-2 nya di jurusan Manajemen Bisnis. Aku akui kak Bisma sangat hebat. Tapi ya kembali lagi dengan sayangnya tadi lho yang bikin aku geregetan.


Seperti saat ini. Kami berdua duduk di mobil yang sama. Bukan itu masalahnya. Tapi, Kak Bisma akan mengantar jemput setiap kali aku pergi ke kampus. Hello! Teman-teman ku sudah membawa mobil mereka sendiri. Nah aku? Aku bukan anak TK yang perlu di antar jemput seperti ini. Tinggal kasih kunci mobil ke aku, udah say hello di depan pintu. Gampang kan?

__ADS_1


“Kak, mulai besok aku bawa mobil sendiri ya?” tanyaku.


“Tidak.” Jawabnya singkat.


“Kenapa?”


“Tidak ada alasan.” Huh. Nyebelin banget kan? Padahal aku tahu betul alasannya. Dia tidak mau aku pacaran dengan cowok yang salah. Oh ayolah! Ini hanya pacaran. Masih tahap pencarian. Maklum lah masih main-main dan salah dalam memilih pasangan.


Tapi apa yang bisa aku lakukan selain diam dan menurut? Aku tahu kak Bisma seperti itu karena menyayangiku. Tapi tidak seperti itu juga kan? Rasanya aku sudah seperti gadis pingitan.


“Kak, kapan sih aku boleh pacaran?”


“Memang kenapa kalau tidak pacaran?” Bukannya jawab pertanyaan ku malah balas bertanya. Aku tahu kak Bisma juga jomblo abadi sama sepertiku dan tidak ada masalah sama sekali baginya. Tapi kan kami beda.


Sedari SMA aku sudah memiliki julukan Boneka India. Tahu kan? Boleh dilirik tak boleh dipegang.


Setibanya aku di rumah, satu tujuanku yaitu langsung mencari mama. Begitu aku turun dari mobil tadi, aku langsung pergi. Bahkan tidak menoleh ke belakang sampai mobil yang dikendarai kak Bisma keluar pagar rumah untuk kembali ke kantor.


Masih dengan tas jinjing lengkap dengan tas laptop ku. Aku berkeliling rumah sambil berteriak memanggil mama.


“Berhenti teriak Nara. Kamu pikir ini hutan? Mama ada di pinggir kolam.” Itulah hebatnya mama. Begitu ada yang memanggil, mama akan langsung memberitahu keberadaan nya. Aku yakin mama dulu selalu kalah kalau main petak umpet. Hihihi


Mengetahui keberadaan mama, kulangkahkan kakiku ke belakang rumah. Di mana ada kolam renangnya. Di sana memang suasananya paling nyaman. Dengan beberapa pohon rindang dan berbagai macam bunga yang hidup dengan subur dan tertata dengan rapi di taman sekitar kolam, menjadikan tempat ini tempat favorit ngumpul bareng keluargaku selain ruang keluarga.


Dari balik pintu kaca, aku dapat melihat mama duduk santai di kursi pinggir kolam dengan majalah di tangannya. Mama yang masih sangat cantik di umurnya yang hampir mendekati setengah abad. Mama seperti sepuluh tahun lebih muda. Pantas saja papa tergila-gila sampai sekarang. Ah tapi sekarang bukan waktunya untuk menceritakan kisah cinta mereka yang membuatku iri.


Sekarang waktunya untuk berjuang demi kebebasan masa depanku. Lain kali akan aku ceritakan pada kalian kisah mama dan papa.


“Mama, bilangin kak Bisma dong buat izinin Nara bawa mobil mulai besok.” Kataku sambil bergelayut pada mama yang sedang membaca majalah di pinggir kolam.

__ADS_1


“Kenapa lagi?” tanya mama tanpa melihat ke arahku. Aku tahu mama pasti sudah jengkel dengan masalah ini. Hampir setiap hari aku mengeluh soal ini padanya.


“Besok aku dan teman-teman akan mencari perusahaan untuk studi lapangan buat materi skripsi.”


“Lalu apa masalahnya?”


“Masalahnya mama, semua temanku membawa mobil sendiri-sendiri. Masak iya aku harus diantar sopir kemana-mana. Kan malu mama.”


“Kenapa malu?”


Pertanyaan apa ini? Ya malu lah. Di saat semua teman-teman ku duduk keren di belakang kemudi, aku duduk santai di kursi belakang.


“Ayolah ma. Buat apa coba aku punya SIM kalau belum pernah digunakan sama sekali.” Gerutuku. Wajahku aku setting dengan tampilan paling memelas.


“Nara, kakakmu melakukan semua ini bukan tanpa alasan. Dia melakukan nya karena dia sangat menyayangi mu nak.” Kata mama lembut sambil mengelus kepalaku. Jurus andalan mama untuk menenangkan amarahku. Tapi kali ini aku tidak akan goyah.


“Nara tahu mama. Tapi Nara sudah dewasa sekarang. Nara tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Nara bisa jaga diri Nara sendiri. Jika kak Bisma terus menekan Nara seperti ini, justru Nara tidak akan pernah siap menghadapi dunia sampai kapan pun karena terus berada dalam dekapan kak Bisma.” Jelasku. Percayalah jika aku sudah merangkai kata-kata ini sejak satu Minggu yang lalu bersama Syila, teman terbaikku.


Sepertinya kali ini akan berhasil. Mama sepertinya akan luluh dengan pidato panjangku.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 😎


Jangan lupa tinggalin jejak dengan klik like👍, vote 😍 dan komentarnya oke😘

__ADS_1


__ADS_2