Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_113. Antara Bisma, Karina dan Bima


__ADS_3

Bisma mengendarai mobilnya dengan kesal. Sewaktu dirinya akan berangkat tadi, Nara menghubunginya. Adiknya itu memintanya untuk menjemput Karina terlebih dahulu. Dan saat ia akan menolak permintaan itu, Nara malah menangis.


“Kakak sudah tidak menyayangiku lagi. Hiks hiks”


“Huh!” Bisma memukul kemudi. Kalimat Nara terngiang di telinganya.


Dirinya tidak habis pikir bahwa Nara akan menangis hanya karena gadis yang beberapa kali ia temui.


Belum hilang kekesalannya, kini ia masih harus menunggu di salon. Nara meninggalkan Karina di salon karena ia terburu-buru pulang untuk berangkat bersama-sama dengan Alex.


“Mbak kapan selesai....nya.” Bisma tertegun beberapa saat ketika melihat penampilan Karina yang baru saja keluar dari ruangan khusus.


Karina yang biasa hanya memakai pakaian sehari-hari yang sederhana dan juga rias tipis dari bedak tabur dan lipstik yang mudah memudar kini tampil berbeda. Gaun mewah yang elegan dan wajah full make up membuat wajah cantiknya terlihat semakin cantik dengan aura yang tidak bisa dielakkan.


Menyadari tatapan Bisma yang intens padanya membuat Karina merasa kikuk. Dia menggerakkan tubuhnya dengan tidak nyaman. Wajahnya pun mulai memanas dan rona merah muncul di kedua pipinya yang putih.


“Bagaimana tuan? Apakah nona Karina cantik?” Seorang pegawai salon yang bertugas merias Karina bertanya dengan penuh harap. Melihat ekspresi Bisma saja sebenarnya sudah dapat dilihat. Tapi dengan mendengar pujian secara langsung akan membuatnya puas.


“Ekhm. Biasa saja. Ayo cepat. Sudah terlambat.”


Mendengar perkataan Bisma, Karina mengerucutkan bibirnya. Sejak awal, Karina memang sudah tidak begitu menyukai Bisma yang selalu terlihat dingin. Sekarang ia tahu jika selain dingin, Bisma juga bermulut cukup pahit.


“Biasa saja apanya? Padahal dia melihat sampai metanya copot.” Gumam Karina dengan suara pelan.


“Kamu bicara apa?” Bisma yang berjalan satu meter di depan Karina menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.


Karina kaget. Padahal ia berbicara dengan sangat pelan hampir tidak terdengar tidak mungkin jika Bisma yang berasa agak jauh darinya akan mendengarnya.


“Bicara apa? Aku tidak bicara apa-apa.” Karina membuang muka. Atau kebohongannya akan terungkap.


“Tsk.” Bisma tidak ingin mempermasalahkan dan berjalan cepat meninggalkan Karina. Merasa jarak yang semakin jauh. Karina sedikit berlari untuk mengejar.


“Bisakah berjalan sedikit pelan? Aku pakai highhills.” Karina berkata dengan kesusahan. Ia terengah-engah.


Bisma merasa kesal mendengar mendengar protes Karina. Selama ini tidak ada yang berani memprotes tindakannya. Tetapi pria itu tak elak memperlambat langkahnya juga.


“Nah gitu dong. Jadi pria jangan terlalu dingin.” Karina berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Bisma.


“Aku tidak butuh kamu menilaiku.” Ucap Bisma sinis.


Karina kembali mengerucutkan bibirnya. “Seharusnya aku tidak perlu capek-capek berbicara dengannya.” Karina mendengus kesal.


Bisma mendengar dengan jelas ucapan Karina yang memang diucapkan dengan keras. Namun ia tidak mau ambil pusing.


Dengan hati-hati Karina menutup pintu mobil. Melihat mobil mewah Bisma, ia khawatir jika sampai harus disuruh mengganti rugi jika sampai mobil itu lecet sedikit pun. Di mata Karina, mobil Bisma bahkan lebih berharga dari pada orangnya. Jadi tentu saja harus memperlakukannya dengan baik.

__ADS_1


“Pasang sabuk pengamannya dengan benar.” Bisma melirik Karina yang kesusahan memasang sabuk pengamannya. Ia hanyalah gadis miskin yang hampir tidak pernah naik mobil.


Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama, sabuk pengaman Karina belum juga terpasang dengan benar. Bisma sangat kesal. Membuang-buang waktu untuk hal yang tidak sempurna.


Tanpa pikir panjang, Bisma melepas sabuk pengamannya. Kemudian mencondongkan tubuhnya untuk membantu Karina memasang sabuk pengamannya.


Klik...


“Begini saja tidak bisa.” Bisma menarik kembali tubuhnya. Meninggalkan Karina dengan tubuh yang kaku. Jantung gadis itu berdetak dengan sangat kencang.


**


“Sudah sampai. Kamu harus ingat. Aku mau menjemputmu karena Nara yang memaksaku. Jadi jangan berpikir macam-macam.” Ucap Bisma sebelum keluar dari mobil dan memberikan kuncinya pada petugas palet.


“Siapa juga yang berpikir macam-macam.” Karina mencibir sebelum ia juga keluar.


Karina berjalan dengan ragu. Ia tidak mengenal siapapun di sini. Yang lebih penting ia tidak pernah datang ke pesta besar sebelumnya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan nanti di dalam. Dia berdiri diam cukup lama sebelum ia memutuskan untuk kembali saja.


Saat Karina berbalik, seorang laki-laki yang tidak asing menghampirinya.


“Hai. Lama tidak bertemu.” Bima menyapanya sambil tersenyum.


“Kamu!” Nara mendengus.


“Jangan melihat ku seperti itu. Tidak sopan.” Sarkas Karina. Ia merasa tidak nyaman diperhatikan seperti itu oleh Bima.


“Hahahaha. Masih judes seperti biasa.” Bima terbahak-bahak. Memukul ringan bahu Karina yang segera ditepis oleh gadis itu.


“Bukan urusanmu.” Karina memalingkan wajahnya.


“Sudahlah. Hari ini biarkan aku menjadi rekanmu saja. Aku lihat Bisma tadi meninggalkanmu. Bisma bintangnya hari ini. Jadi maklum saja jika dia akan sibuk.”


“Jangan mengejekku.”


“Aku tidak mengejek. Aku hanya memberi sedikit pencerahan. Jangan sampai kamu salah paham mengenai Bisma.”


“Bagaimana aku memandang tuan Bisma juga tidak ada hubungannya dengan anda.”


“Baiklah-baiklah. Aku jangan galak-galak. Aku ke sini untuk membantumu.” Bima berkata dengan serius.


“Membantuku?” Karina menautkan alisnya.


“Iya. Bukan maksudku merendahkanmu, tapi aku yakin kamu pasti tidak terbiasa dengan pesta seperti ini. Dan Nara juga pasti tidak ada waktu untuk menemanimu di dalam nanti. Jadi kamu tidak punya pilihan lain selain menerima tawaranku untuk menjadi pasanganmu malam ini.” Bima memandang gadis di depannya yang tiba-tiba berubah ekspresi mendengar ucapannya.


“Jangan salah sangka dulu.” Bima menggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri. “Bukan pasangan seperti yang kamu pikirkan. Ini... Ah. Anggap saja aku ini pemandumu yang mendampingimu selama pesta. Jadi kamu tidak akan merasa asing nantinya.” Bima buru-buru menjelaskan.

__ADS_1


Karina melihat pria di depannya ini yang terlihat tulus. Dia memang betul membutuhkan pendamping saat ini. Paling tidak ia tidak akan merasa canggung dan bingung bersikap nanti.


“Karena aku tidak punya pilihan lain, aku akan terpaksa menerima tawarannya.” Karina menghela napas. Berharap apa yang ia lakukan tidak salah.


“Baik. Karena kamu adalah pasanganku, kamu harus berjalan di sampingku.” Bima menarik tangan Karina dan mengalungkannya di lengannya.


“Ini...” karena berusaha menarik tangannya. Tapi Bima segera menghalanginya.


“Kita sudah sepakat oke!” Bima menatap Karina tajam. “Ini juga demi kenyamananmu nanti. Jika kamu berjalan denganku, tidak akan ada yang berani berbuat macam-macam padamu.” Bima berkata dengan tegas.


“Baiklah. Aku akan menurut.” Karina menyerah. Apa yang dikatakan Bima memang masuk akal.


Bima membawa Karina masuk ke dalam hotel. Memberi tahu garis besar apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama pesta nanti. Bima juga mewanti-wanti Karina untuk tidak terlalu banyak bicara. Jika ada yang mengajaknya bicara cukup jawab dengan iya atau tidak.


“Dan yang paling penting yang harus diingat adalah jangan sembarang menerima minuman dari orang lain. Apalagi minuman keras. Jangan sampai membuat malu karena kamu mabuk.”


“Iya. Aku tahu.” Jawab Karina kesal. Dari tadi Bima terus berkata ini dan itu yang menurutnya tidak perlu. Dia juga tidak terlalu kolot untuk urusan tata krama pesta. Bekerja di hotel juga beberapa kali menjadi pelayan di pesta. Dia juga mengamati apa saja yang biasanya dilakukan di pesta seperti itu.


“Bagus. Sekarang temani aku menemui beberapa orang penting. Ingat apa pesanku tadi.” Bima menepuk punggung tangan Karina yang ada di lengannya.


“Iya. Aku hanya cukup tersenyum dan iya tidak iya tidak.” Jawab Karina kesal. Sepertinya memutuskan untuk menjadi pendamping Bima adalah keputusan yang salah.


Dari kejauhan, Bisma Yang sedang berbincang-bincang dengan sekelompok tamu memperhatikan Karina dan Bima sejak keduanya masuk. Melihat Karina yang menggamit lengan Bima membuat Bisma semakin tidak menyukai Karina.


“Sungguh pintar memilih mangsa.” Ucap lirih Bisma.


“Anda bicara apa tuan Bisma?”


“Tidak ada apa-apa.” Bisma segera mengalihkan pandangan matanya dan kembali fokus pada rekan bicaranya.


*


*


*


Terima Kasih sudah mampir 😘


Akoh baca komentar dari reader banyak banget yang nggak sabar membuat Virly kena hukuman. Akoh mau tanya, kira-kira hukuman apa yang pantas buat Virly?


😎


Jika kalian punya ide, bisa kasih tahu akoh....


Terima kasih sebelumnya 🥰

__ADS_1


__ADS_2