
Selamat sahur....
Gairah juragan Bondan sudah berada di ubun-ubun. Dengan segera ia melakukan niatnya.
Gadis muda yang menerima perlakuan itu hanya bisa menangis dan berteriak. Melawan pun ia tak bisa. Kekuatan Juragan Bondan jelas jauh lebih besar dari dirinya. Dengan mudah tubuh Dian terlempar di atas ranjang.
Tidak peduli pukulan dan tendangan yang diterima, juragan Bondan tetap melakukan apa yang dikehendaki hatinya.
“Aaakhh. Sa-kit...” rintih Dian saat selaput daranya telah jebol dengan sekali hentakan. Setelah itu, tak ada perlawanan darinya. Semua sudah hancur. Mahkotanya yang selalu ia jaga telah dirusak. Dan ini ada hubungannya dengan ibunya sendiri.
Hanya aliran air mata yang terus mengalir di sepanjang malam itu. Yang tercipta hanya rasa sakit. Sakit di hatinya. Dirinya seperti mati rasa. Ia biarkan saja bandot tua itu melakukan apa yang dia inginkan pada tubuhnya. Lagi pula tidak ada yang tersisa. Tidak ada....
“Aaaaaa” teriak Dian tengah malam. Kejadian malam itu seperti mimpi buruk yang terus menerornya. Setiap dia menutup mata, kenangan buruk itu selalu muncul. Dan ini membuatnya frustasi.
“Tidak! Tidak! Jangan lakukan itu aku mohon....” ratap Dian. Air mata kembali mengalir dari mata yang terlihat sendu itu. Jelas keputusaan lah yang mendominasi binar mata Dian.
Minah segera masuk ke dalam kamar Dian. Mendapati anaknya yang menangis disana. Hatinya merasa terpukul melihat anaknya dalam keadaan yang begitu mengerikan. Minah segera memeluk Dian untuk menenangkan gadis itu.
Dan hal seperti ini terjadi setiap malam. Membuat Dian semakin terpuruk dan terpuruk.
Minah sendiri tidak bisa berbuat banyak. Sebagai warga desa yang tidak memiliki pemahaman tentang tindakan yang harus diambil untuk Dian, Minah hanya bisa mengurung Anaknya di dalam rumah. Menghindari kontak dengan warga sekitar. Dan jika ada yang menanyakan tentang Dian, dia akan menjawab jika Dian berada di luar desa, tinggal bersama keluarganya yang lain.
Pada sore itu, sore ketika Minah hampir tertabrak oleh Joni, Dian berhasil kabur. Ia berniat membunuh juragan Bondan. Dian pergi dengan membawa sebuah pisau dapur untuk dapat melaksanakan niatnya.
Minah berhasil menenangkan Dian dan membawanya kembali sore itu. Ia tak mungkin menemui Juragan Bondan dan meminta pertanggung jawaban dengan kondisi Dian yang seperti itu. Ia sangsi jika Juragan Bondan akan menerima Dian.
Setelah dua minggu setelah kejadian malam itu, gejala hamil mulai dirasakan Dian. Dia muntah di pagi hari. Kemudian nafsu makannya juga menurun drastis.
Minah yang menyadari itu segera membeli tespeck untuk mengeceknya, dan betapa terkejutnya ia saat melihat dua garis merah pada lat kecil itu. Seketika, rasa bersalah dan kasihannya berganti dengan raut bahagia segera muncul. Harapannya akan terkabul. Menjadi kaya tanpa bekerja.
Malam harinya juragan Bondan datang ke rumah Minah setelah mendapat kabar dari wanita paruh baya itu.
__ADS_1
“Juragan, kapan juragan akan menikahi Dian?” tanya Minah tanpa basa basi.
“Siapa yang bilang aku akan menikahinya?”
“Tapi juragan, Dian sedang hamil anak juragan saat ini. Tidakkan juragan senang?” kedua mata Minah memancarkan kebahagiaan. Besar harapannya untuk terkabul.
“Huh! Merepotkan.” Dengus juragan Bondan. “Mana jal*ng kecil itu?” Minah tersenyum. Mengabaikan sebutan tidak bermoral yang disematkan untuk anaknya.
“Dia ada di kamarnya.” Setelah mendengar itu. Juragan Bondan segera berdiri. Kemudian masuk ke dalam kamar Dian yang sudah jelas ia ketahui tempatnya.
Di dalam kamar, juragan Bondan mengernyitkan alisnya. Inikah gadis yang dua minggu lalu ia perawani? Dua minggu sepertinya waktu yang terlalu singkat hingga mengakibatkan perubahan yang sangat besar.
Di depannya, di atas ranjang yang menjadi saksi bisu ia telah berhasil menggagahi seorang gadis belia, gadis itu terikat disana dengan keadaan yang berantakan.
Rambutnya acak-acakan. Pakaian yang digunakan juga berantakan. Sebuah daster yang dipakai Dian telah tersingkap, memperlihatkan paha yang mulus sebagai pemandangan penguji iman laki-laki. Dan sayangnya, laki-laki yang masuk ke dalam kamar dan melihat pemandangan yang indah itu memiliki iman setipis tisu. Sedikit terpercik air, tisu itu akan luruh dan menghilang.
Begitu juga keadaan iman Juragan Bondan yang berada dalam keprihatinan, tidak peduli seperti apa rupa pemilik gua favoritnya, ia akan tetap bersemangat memasukinya. Senjatanya bahkan bereaksi lebih cepat daripada kakinya yang melangkah keluar kamar.
“Aku bayar lunas di muka!” juragan Bondan melemparkan lima lembar uang bergambar orang tersenyum pada Minah yang sebelum menutup dan mengunci pintu kamar dari dalam.
Sedangkan Dian, gadis malang itu dapat hanya melihat apa yang dilakukan lintah darat itu pada dirinya untuk yang kedua kali. Semua anggota geraknya telah terikat. Ia tak bisa melakukan apapun. Bahkan tak satupun teriakan yang ia lontarkan. Ia rasa akan percuma saja. Tak akan ada yang menolongnya. Perasaan bencinya semakin terpupuk di dalam hati.
Selesai dengan urusannya, juragan Bondan segera memakai kembali Bajunya. Menutupi tubuh Dian dengan selimut yang ada. Baju gadis itu berserakan di lantai kamar.
“Huh! Ibumu bilang kamu akan menjadi pengganti Nadia selama dia di rumah sakit, nyatanya, kamu benar-benar tak bisa dibandingkan dengan Nadia sama sekali.” kata Juragan Bondan sebelum keluar dengan menutup pintu dengan keras.
“Bagaimana Juragan?”
“Bagaimana apanya?”
“Kapan juragan akan menikahi Dian?”
__ADS_1
“Kau memintaku untuk menikahi wanita gila. Yang benar saja!” juragan Bondan menyesap kopi yang disediakan.
“Tapi juragan, Dian sedang hamil anak juragan.”
“Bukan urusanku. Jika ada anak yang lahir, itu harus dari Nadia. Bukan yang lain. Herman!” teriak Juragan Bondan memanggil salah satu anak buahnya.
“Saya juragan.”
“Berikan uang pada Minah untuk menggugurkan kandungan Dian. Dia bukan anakku.” Juragan Bondan segera pergi setelah mengucapkan keputusannya.
Sedangkan Minah, mulai mengerti bahwa apa yang ia usahakan telah gagal. Ia benar-benar menyesal sekarang. Begitu banyak yang ia korbankan demi ambisinya. Ia tak menyangka hasilnya akan sangat mengecewakan seperti ini.
Setelah sadar dari lamunannya, Minah segera bergegas masuk ke dalam kamar Dian. Anak gadisnya terlihat semakin menyedihkan. Pandangan matanya begitu kosong. Kelam. Ia menyesal. Benar-benar menyesal. Ia telah merusak anaknya demi ambisinya yang tinggi dan tamak.
Minah memunguti kain-kain yang tadinya menutupi tubuh Dian. Bahkan dasternya yang ia pakaikan pada Dian pun sobek parah.
Minah mendekati anaknya. Merapikan rambut Dian yang berantakan dengan lembut. Matanya memancarkan kasih sayang yang dibalut dengan perasaan menyesal yang dalam. Kemudian memeluk tubuh Dian dan menangis disana.
Setelah menghilangkan kesedihan, Minah keluar dari kamar. Memasak air hangat untuk membersihkan tubuh Dian. Tak lama setelah itu, Minah masuk dengan membawa ember berisi air hangat dan handuk kecil.
Dengan hati-hati, Minah membuka selimut Dian. Betapa hancurnya ia melihat tubuh anaknya. Banyak tanda bibir yang ditinggalkan laki-laki tua itu di tubuh anaknya. Tak terasa, air matapun luruh.
Menyadari kesalahannya. Minah kemudian dengan lembut membersihkan tubuh Dian dengan handuk kecil yang dibawanya.
Dian bukannya tidak merasakan apa yang ibunya lakukan pada tubuhnya, namun dia sendiri merasa jijik pada tubuhnya. Ia putus asa. Ingin sekali mengakhiri hidup yang telah hancur.
Minah yang melihat anaknya begitu kosong sangat merasa bersedih. Ia pun merasa bahwa dia juga telah hancur. Ia gagal total menjadi seorang ibu yang baik.
*
*
__ADS_1
*
Jangan lupa tinggalkan jejak like 👍 kawan 😊