Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_22. Rapat Pemegang Saham


__ADS_3

Keempat orang yang menjadi ujung tombak Mahardika Grup malam ini hampir tidak mempunyai waktu tidur. Mereka baru selesai menyelesaikan tepat ketika adzan subuh berkumandang. Akhirnya setelah menunaikan sholat subuh mereka memutuskan untuk tidur sebentar di kantor.


Nara segera merebahkan dirinya di sofa di dalam ruangan Nathan begitu Adi dan pak Dandi keluar ruangan untuk pergi ke tempat kesehatan kantor yang menyediakan kasur. Sedangkan Bisma memilih untuk tidak tidur. Ia ingin mempersiapkan semuanya.


Suara berisik dari luar ruangan membangunkan Nara. Rupanya sudah siang. Nara memicingkan matanya melihat jam dinding yang menunjukkan pukul setengah sembilan. Pantas saja di luar sudah ramai dengan aktifitas kantor.


“Kak.” Panggil Nara serak saat ia sudah berhasil duduk. Dilihatnya sang kakak sudah rapi dengan setelan kerjanya lengkap dengan jas hitam yang melekat pas di tubuhnya. Kakaknya itu sedang duduk di depan laptop di meja Nathan.


Mendengar Nara memanggilnya. Bisma memutar kepalanya. “Sudah siang. Baju dan semua perlengkapanmu ada di atas meja.” Ucapnya.


Nara melihat paper bag yang ada di atas meja. Meraihnya dan melihat isinya.


“Tadi aku minta mbok Ida untuk mengantarnya kemari bersama dengan punyaku.” Jelas Bisma saat melihat Nara terlihat heran. Nara hanya mengangguk paham. Pantas saja semuanya lengkap. Mbok Ida memang yang terbaik.


Setelah menyambar paper bag yang berisi pakaiannya dan mengambil peralatan mandinya. Nara segera masuk ke dalam kamar mandi.


Tak butuh waktu lama untuknya mandi hari ini. Semua dituntut lebih cepat sekarang. Hanya dua puluh menit Nara sudah keluar. Lima belas menit lebih cepat dari waktu normalnya berada di dalam kamar mandi.


Dengan setelan formal yang dipakai. Nara keluar dari kamar mandi. Kemudian ia duduk di sofa dan mulai melakukan perawatan wajib kulit tubuhnya. Bisma yang sesekali melirik kesibukan sang adik menggelengkan kepalanya.


“Katanya harus cepat. Tapi dandan aja hampir setengah jam.” Sindir Bisma. Sedari tadi adiknya itu mengoceh jika mereka harus cepat dan bergegas selama mengaplikasikan entah apa Bisma juga tidak paham.


“Hehehe. Namanya juga cewek kak.” Kekeh Nara sambil meletakkan kembali semua peralatannya ke dalam tas khusus dan memasukkannya ke dalam tas.


“Hem.” Bisma hanya mendengus.


Saat jam menunjukkan pukul sembilan lebih lima belas menit, Adi masuk ke dalam ruangan untuk menjemput Nara dan Bisma karena para pemegang saham mulai datang memenuhi undangan mereka.


Nara berjalan di samping Bisma dengan laptop di tangannya. Di belakang mereka pak Dandi dan Adi berjalan berdampingan juga. Mereka berdua membawa barang-barang yang dibutuhkan.


“Astaga aku lupa.” Pekik Nara sambil menepuk keningnya keras. Sedetik kemudian dia menyesalinya karena ternyata tepukannya membuat keningnya sakit.

__ADS_1


“Aduh duh.” Katanya sambil mengelus keningnya. Bisma yang melihat kelakuannya menggelengkan kepalanya. Inikah adiknya yang tadi malam begitu terlihat dewasa? Kenapa pagi ini terlihat kekanak-kanakan sekali?


“Kamu ini kenapa?” tanya Bisma saat Nara sibuk mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.


“Aku lupa mengabari Alex tidak ke kantor hari inj.” Ucap Nara serius.


“Aku sudah memberitahu nya semalam. Dia memberimu izin sampai semua kembali normal.” Kata Bisma sambil memegang dagunya. Mengingat perkataan sahabat yang untuk sementara akan menjadi bos Nara.


“Baguslah kalau begitu.” Nara kembali memasukkan ponsel yang tak jadi ia gunakan ke dalam tas.


Ketika mereka berempat masuk ke dalam ruang rapat, kasak kusuk terdengar riuh. Jelas mereka membahas rencana mereka untuk menjual saham mereka. Mahardika grup dalam kondisi yang tidak stabil sekarang. Takutnya jika mereka tidak menjual sekarang, saham itu tidak akan pernah berharga lagi karena sudah seminggu belakangan saham dari Mahardika grup menurun secara perlahan.


Perbincangan yang mereka lakukan tidaklah dengan suara yang rendah sehingga baik Nara maupun Bisma dapat mendengar dengan jelas apa yang sedang mereka bicarakan.


“Ekhm. Bisa kita mulai sekarang rapatnya?” Adi mengambil tindakan untuk meredakan kasak kusuk. Kini semua orang di dalam ruangan memperhatikan sekretaris muda itu.


“Baiklah kalau begitu kita mulai sekarang. Saya persilahkan untuk tuan Bisma memimpin rapat ini.”


Jika mereka sendiri yang akan bergerak, mereka juga tidak akan mampu.


Dengan lugas dan jelas Bisma menjelaskan setiap detail rencana mereka. Tentang rencana mereka dalam mempromosikan produk yang telah mereka produksi.


“Apa anda yakin dengan cara promosi besar-besaran akan mampu menjual barang-barang yang bahkan sudah banyak beredar di pasaran?" Salah satu pemegang saham tidak yakin atas usaha mereka.


“Justru karena mereka sudah memilikinya kita dapat memanfaatkan nya sebagai bahan perbandingan.” Bukan Bisma yang menjawab, tetapi Nara.


Semua pasang mata tertuju pada gadis muda yang jarang mereka lihat. Nara memang enggan datang ke perusahaan, apalagi untuk ikut campur. Jadi jika bukan karena acara perusahaan, mereka tidak akan melihat Nara.


“Nona Nara, anda masih awam dalam dunia bisnis. Namun anda sudah sangat sombong.” Sinis salah satu wanita yang juga merupakan pemegang saham.


Nara melihatnya sambil tersenyum ringan. “Saya memang masih awam di sini nyonya Dona, tapi saya memiliki pengalaman yang cukup sebagai seorang konsumen. Dan saya ini tipe konsumen yang suka membandingkan barang. Sebagai konsumen yang cerdas tentu saja saya lebih memilih barang dengan kualitas yang bagus.” Jawab Nara santai.

__ADS_1


“Terlebih di zaman sekarang, masyarakat sudah melek kesehatan. Mereka akan lebih memilih barang dengan bahan yang mementingkan kesehatan mereka. Dan produk yang kita keluarkan lebih sesuai untuk mereka.”


lanjut Nara dengan tegas.


“Lalu apa maksud anda menjadikan produk lawan sebagai perbandingan?” desak wanita bernama Dona itu.


“Begini, selain memiliki kelebihan dalam segi kesehatan, produk kita juga memiliki keunggulan dalam penggunaan. Misalnya panci ini.” Nara menaikkan panci yang sudah mereka persiapkan di ruang rapat.


“Makanan yang dimasak menggunakan panci ini matang lebih sempurna tanpa harus repot-repot mengaduknya setiap saat karena panci ini dapat menyerap dan menyebarkan panas api lebih baik. Sedangkan yang dimasak dengan panci yang ini." Nara menaikkan satu lagi panci yang hampir mirip dalam sekali pandang.


"Mereka tidak dapat menyerap panas secara merata sehingga matangnya tidak akan merata. Dari sini sudah sangat jelas keunggulan produk kita. Produk kita lebih memudahkan masyarakat dalam memasak karena tidak perlu diaduk terus. Menghemat waktu.” Jelas Nara. Semua orang di dalam ruang rapat mengangguk paham.


“Tapi meskipun begitu, kita tidak bisa melakukan promosi besar-besaran. Ini akan membutuhkan dana yang tidak sedikit.”


“Iya benar. Lagipula belum tentu cara ini akan berhasil.”


“Kita tidak mau rugi disini. Menggantungkan diri pada sesuatu yang tidak pasti.”


Kasak kusuk mulai terdengar lagi. Entah siapa yang memulai, mereka kembali membicarakan keinginan mereka untuk melepas saham mereka.


“Kalian bilang jika saya masih awam dalam bisnis. Tapi setelah saya melihat kalian semua, justru kalian lah yang tidak mengerti konsep dari sebuah bisnis.” Sinis Nara melihat kebimbangan semua orang. Ia merasa geram.


Mereka ini akan menempel dan menjilat di saat Mahardika dalam masa kejayaan nya. Dan sekarang mereka buru-buru mencuci tangan mereka dan berlari sejauh mungkin ketika Mahardika dalam masalah. Dasar!


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 🤩

__ADS_1


__ADS_2