
Setelah lima bulan menjalani perawatan, Dian dinyatakan sembuh. Semua orang merayakannya dengan penuh suka cita. Namun demi keselamatan Dian dan juga bayinya. Mereka memutuskan untuk tetap bersembunyi.
Bu Minah juga merelakan rumahnya untuk dijual untuk memulai usaha di kota. Bu Minah membuka warung di depan rumah kontrakannya untuk memenuhi kebutuhan. Tidak mungkin untuk terus merepotkan Nadia dan Nathan.
Bayi yang ada di kandungan Dian berjenis kelamin laki-laki. Kini usia kandungannya sudah menginjak enam bulan. Dian juga sudah menerima keadaan yang dialaminya. Nadia dan Nathan masih sering menjenguk mereka. Namun hubungan antara kedua orang itu tidak ada perkembangan. Mereka masih saling canggung jika bertemu.
Sore ini Nadia baru pulang dari salon dan mengunjungi Dian. Baru saja mobil yang ditumpanginya masuk ke halaman, dia sudah melihat suaminya sedang bertolak pinggang di depan teras. Dari wajahnya terlihat jika dia sedang emosi.
“Kenapa wajah juragan seperti itu Nad?” tanya Joni.
“Entahlah Jon. Sepertinya ia sangat marah. Kita tidak terlambat pulang kan?” keduanya masih berdiskusi. Memilih untuk tetap berada di dalam mobil.
“Sepertinya tidak. Atau jangan-jangan juragan mengetahui sesuatu tentang Dian?”
“Semoga saja tidak. Baiklah aku akan turun dan mencari tahu.” Mendengar itu, Joni segera turun untuk membukakan pintu mobil untuk Nadia.
“Dari mana?” tanya juragan Bondan segera bertanya dengan nada yang tidak mengenakkan.
“Saya dari salon bapak. Ini kan hari minggu. Jadwalnya ke salon.” Jawab Nadia senatural mungkin. Ia tak mau membuat suaminya curiga.
“Benarkan. Sini aku periksa.”
Nadia mengerti kode dari suaminya. Ia segera mendekat dan membiarkan laki-laki tua itu membelai lembut pipinya sebelum mengecupnya.
“Memang berbeda. Pipimu semakin manis saja Nadia.” Komentar juragan Bondan.
Kemudian, dengan tangannya yang besar, ia membelai rambut Nadia yang terasa lembut. Menciumnya dalam.
“Ini nikmat. Ayo ke kamar.” Tanpa menunggu persetujuan, Juragan Bondan merangkul bahu Nadia dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Setelah masuk ke dalam kamarnya, Nadia meletakkan tasnya di atas meja. Dia berniat akan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
“Mau kemana?”
“Mandi pak. Rasanya tidak nyaman. Bau asap.”
“Tidak. Kamu tidak bau asap sama sekali.” Juragan Bondan menangkap Nadia dan memeluk istrinya dari belakang. Menyesap pundak Nadia setelah menyingkap bajunya.
Nadia mendesah saat merasa remasan lembut pada kedua bukit kembarnya. Sedangkan lehernya sudah dijelajahi oleh lidah juragan Bondan yang masih terus bermain disana.
“Nadia ayo kita bermain.” Suara juragan Bondan sudah berat. Pandangannya sudah penuh dengan hasrat. Kaos yang digunakan Nadia segera dilepas dari atas dan membuangnya sembarangan.
__ADS_1
Tubuh Nadia yang setengah polos segera dijamah di beberapa tempat. Membelai dan meremas. Dengan tergesa-gesa pengait bra yang berada di punggung Nadia segera terlepas. Setelah buah terlarang Nadia sudah terlihat tanpa penghalang, juragan Bondan segera melahap keduanya secara bergantian.
Juragan Bondan mendorong tubuh Nadia ke arah meja rias. Membaliknya dan menekannya dari belakang. Setelah membuka sedikit kaki Nadia, segera ia memasukkan senjatanya yang sudah siap bertempur. Sedangkan dia masih memaju mundurkan pinggulnya, tangannya meremas gunung kembar Nadia.
Erangan yang keras menandakan benih-benih milik juragan Bondan meluncur bebas di jalan rahim Nadia. Masih belum puas, mereka melakukan kegiatan mereka di atas tempat tidur hingga keduanya kehabisan tenaga dan tertidur karena kelelahan.
Ketika mendengar suara adzan maghrib Nadia terbangun dengan tubuh yang terasa sakit. Dengan perlahan ia turun dari tempat tidur dan memakai pakaiannya yang tadi di lempar sembarangan. Setelah semuanya dipakai dengan tergesa. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri di sana.
“Sepertinya bapak masih belum tahu.” Gumam Nadia sambil menggosok tubuhnya. “Tapi apa yang dilakukannya kalau dia tahu? Tidak mungkin kan dia juga akan melenyapkannya.” Lanjutnya.
“Kamu sudah selesai Nadia?” terdengar suara juragan Bondan dari luar. Sepertinya ia juga baru bangun dan merasakan tubuh yang juga lengket.
“Sebentar lagi bapak.” Jawab Nadia sambil mengguyur tubuhnya di bawah shower dengan segera.
“Bersiap-siaplah. Nanti kita makan berdua di luar.” Kata Juragan Bondan sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Walaupun merasa heran, Nadia masih melakukan apa yang diminta. Juragan Bondan tidak pernah mengajaknya makan malam berdua di luar selama ini. Karena Juragan Bondan lebih suka makan malam bersama keluarga. Mendekatkan diri antara keluarga.
“Malam ini aku dan Nadia akan makan malam di luar. Kalian nikmati makanannya.” Pamit juragan Bondan saat dia dan Nadia melewati Devi dan yang lainnya di ruang keluarga.
“Kok tumben bapak. Ada apa?” tanya Devi.
“Tidak ada apa-apa. Hanya ada undangan makan malam dari seseorang.”
Namun Nadia tetap merasa ada hal yang disembunyikan oleh suaminya. Tapi ia hanya bisa menebak tanpa pasti. Dia juga tidak mungkin bertanya secara langsung.
“Undangan dari siapa bapak?” tanya Nadia saat mereka telah keluar dari desa.
“Tidak ada. Itu hanya alasanku agar Devi tidak marah.” Nadia manggut-manggut.
Mobil yang membawa mereka berhenti di sebuah restoran di kota. Dan ini semakin membuat Nadia tidak nyaman. Apalagi saat mereka berdua masuk ke dalam ruangan pribadi.
Makanan yang tersaji memang terlihat nikmat. Tapi dengan suasana hati yang sedang buruk, makanan itu terasa hambar untuk Nadia.
“Ada yang kamu sembunyikan dariku Nadia?” tanya Juragan Bondan tiba-tiba setelah makanan mereka habis.
“A-apa maksud bapak?”
“Tak apa. Aku tidak akan marah. Katakan padaku.” Kata juragan Bondan sambil menatap tajam Nadia.
Nadia terdiam. Ia mulai berfikir jika juragan Bondan akhirnya mengetahui jika ia lah yang menyembunyikan Dian. Mengingat kekuasaan dan anak buahnya, hal seperti ini tak mungkin bisa ia sembunyikan lebih lama lagi.
__ADS_1
“Maafkan aku bapak.”
“Huft. Untuk apa meminta maaf? Katakan apa salahmu?” kata-kata juragan Bondan mungkin terdengar baik-baik saja. Tapi ketika mendengar suara juragan Bondan yang mengucapkannya dengan suara lirih justru membuat bulu kuduknya merinding. Ini seperti memendam emosi.
“Masalah Dian, aku hanya ingin menyelamatkannya. Aku tidak tega melihatnya.” Akhirnya Nadia mengatakan yang sesungguhnya.
“Huh! Memang kenapa dia sehingga kamu perlu merasa kasihan?”
“Dia sedang hamil anak bapak kan? Dan juga dalam keadaan depresi.”
“Itu bukan lagi masalahku dan kamu. Kamu tidak perlu ikut campur terlalu jauh. Apalagi kamu bekerja sama dengan dokter kota itu.”
“Dokter Nathan hanya membantu bapak. Ia juga akan menyimpan rahasia ini.”
“Aku tidak peduli walaupun semua orang tahu jika Dian mengandung anakku. Tapi aku tidak suka kamu dekat-dekat dengannya. Apa kamu selingkuh?”
“Tidak bapak. Tidak. Aku bahkan tidak pernah memikirkannya. Aku setia.”
“Aku fikir selama ini aku terlalu membebaskanmu. Mulai sekarang aku akan mengurungmu.”
“Tapi pak...”
“Ini keputusan mutlak. Karena Dian dan Minah sepertinya juga tidak akan pernah kembali kesini, aku akan membiarkan mereka. Tapi aku akan menghukummu karena kamu telah berani melawanku.”
“Maafkan aku bapak. Aku tidak akan mengulanginya.”
“Itu pasti. Karena kamu telah berani menentang keputusanku untuk melenyapkan anak itu, kamu juga harus mengandung anakku. Kamu tidak boleh keluar rumah kecuali denganku sampai kamu berhasil mengandung anakku. Kamu mengerti?”
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😍
Like 👍
Vote😘
Komentar😎
__ADS_1
Oke 😎