
Rafael berdiri dengan sebatang rokok di tangannya. Asap putih mengepul keluar dari ujungnya yang terlihat merah. Tangan kirinya ia masukkan ke dalam saku celananya. Matanya menerawang jauh menatap langit malam yang tampak kelam tanpa terlihat bintang satu pun.
Langit malam yang sepi. Seperti hidupnya saat ini. Ia memiliki segalanya. Apa pun yang ia ingin miliki akan segera ia dapatkan. Bahkan Nara yang sejak lama ia idamkan sebentar lagi juga akan menjadi miliknya. Tapi ia masih saja merasa belum cukup. Ia masih tidak bahagia.
Rafael menutup korden sebelum mendudukkan dirinya di atas kursi Presdir yang sangat ia banggakan. Setelah ia duduk, dibukanya laci meja dan mengeluarkan pigura dari dalam sana. Sebuah foto lama terpampang. Membuatnya tersenyum.
Terlihat di foto dia dan Nara yang kala itu menggunakan seragam putih abu-abu. Dengan coretan berbagai warna dan tanda tangan di setiap sisinya. Mereka mengambil foto sesaat setelah mereka merayakan kelulusan dengan teman-teman mereka.
Dalam foto terlihat Nara tersenyum dengan sangat manis. Menampilkan gigi putih yang berjajar rapi. Mata indahnya bersinar dibingkai bulu mata lentik alami. Rambut yang ikal bergelombang membuat Nara terlihat bersinar.
Nara terlihat cantik.
Dan setelah bertahun-tahun tidak bertemu, gadis itu menjadi lebih cantik lagi. Rasa cinta yang dulu terasa bahkan lebih membuncah sekarang. Membayangkan Nara yang akan menjadi miliknya, Rafael tersenyum bahagia.
Pasti akan sangat menyenangkan jika ia bisa melihat wajah cantik Nara setiap pagi. Rasanya sudah tidak sabar menanti keadaan itu terjadi.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan nya tentang masa depan. Ia segera memasukkan poto itu ke dalam laci sebelum mempersilahkan siapapun di balik pintu untuk masuk.
Doni masuk dan membungkuk kan badannya di depan Rafael. “Tuan ada yang perlu saya sampaikan.” Ucapnya.
“Ada berita apa? Apa ada perkembangan dari Alex?” tanyanya penuh selidik.
“Tidak ada. Hari ini tuan Alex bahkan makan malam dengan nona Diandra.”
Doni menunjukkan beberapa lembar foto yang berhasil ia ambil ketika ia sedang mengintai Alex.
Rafael melihat satu persatu foto. Ia tersenyum mengejek sebelum mendengus. “Huh! Laki-laki seperti itu mau mendekati Nara. Hanya aku yang pantas untuk Nara.” Ucapnya sombong. “Ya sudah. Siapkan mobilku. Aku akan menemui Nara sekarang. Cari tahu dimana keberadaannya.” Perintahnya yang segera dilakukan oleh Doni.
Di tempat lain, Alex baru saja mengantar Diandra pulang setelah acara makan malam mereka. Ia segera melepas jasnya dan melemparkannya ke sebelah pak Farid yang menjadi sopirnya ketika ia baru saja masuk ke dalam mobil.
“Buang itu ketika kita turun. Sekarang antar aku ke butik untuk membeli baju baru. Aku tidak suka ada parfum wanita jal#ng itu menempel di bajuku.” Ucap Alex dingin.
“Baik tuan.” Pak Farid segera melajukan mobilnya. Keluar dari halaman rumah Diandra yang luas.
Sementara itu, Nara sedang berada di sebuah food court di sebuah mall bersama teman-temannya. Keempat gadis itu sedang bercanda saat Rafael datang.
__ADS_1
“Hai Nara. Boleh aku gabung?” Rafael bertanya. Tapi tanpa ada jawaban ia sudah mendudukkan dirinya di kursi yang tepat berada di sebelah Nara.
“Kamu kenapa ada di sini?” tanya Nara. Nara menoleh dengan malas.
“Aku jalan-jalan di sini tadi. Tidak menyangka akan melihat kamu. Jadi aku sengaja menyapamu.” Jawab Rafael dengan senyum yang lembut.
“Ooh.”
“Nara, ini temanmu? Kenapa tidak mengenalkannya pada kami?”
“Oh ya. Teman-teman ini adalah Rafael. Rafael ini adalah teman masa kecilku....”
Nara memperkenalkan satu persatu temannya pada Rafael. Semuanya menjabat tangan Rafael dengan hangat. Kesan pertama mereka terhadap Rafael adalah sosok yang hangat. Yah begitulah.
Melihat wajah tampan Rafael apalagi dengan senyumnya yang hangat pasti membuat semua orang terpesona. Pun dengan teman-teman Nara. Mereka tertipu pada sosok indah di depan mereka.
Kepribadian Rafael yang hangat dan ramah membuatnya cepat menyesuaikan diri dengan ketiga sahabat Nara. Jadi meskipun Nara tidak meresponnya, nyatanya ia masih bisa bergaul dengan ketiga gadis teman Nara.
“Teman-teman ini sudah malam. Aku pulang dulu ya.” Nara yang sejak kedatangan Rafael berubah menjadi pendiam sudah tidak bisa lagi bertahan untuk terus berpura-pura nyaman berada di sana.
“Biarkan aku mengantarmu Nara.” Rafael segera berdiri saat melihat Nara berdiri.
Melihat Nara yang sudah pergi, tidak ada alasan untuk Rafael tetap berada di sana. Lagipula ia berada di antara gadis-gadis itu hanya untuk bisa bertemu dengan Nara. Meskipun pada kenyataannya Nara malah menghindar. Rafael segera pamit dan tergesa-gesa mengejar Nara.
“Kenapa kamu menghindari ku?” Rafael mencekal pergelangan tangan Nara untuk menahan gadis itu masuk ke dalam mobil.
“Lepaskan aku Raf.” Nara menggerakkan tangannya berusaha melepaskan cekalan Rafael. Rafael mencengkeram tangannya dengan erat. Membuatnya sakit. Ia yakin itu akan berbekas jika lebih lama lagi.
“Kenapa kamu berubah Nara?” Rafael memandang Nara sendu.
“Bukan aku yang berubah. Tapi kamu. Aku tidak memiliki teman yang pengecut sepertimu.”
“Demi apa kamu menghinaku sebagai pengecut. Demi Alex itu?” tanya Rafael nyalang. Nara hanya diam.
“Sadarlah Nara. Orang seperti Alex tidak pantas diperjuangkan. Dia bahkan sudah bersama wanita lain saat ini.” Ucap Rafael penuh ejekan.
“Hubunganku dengan Alex bukan urusanmu. Apapun yang Alex lakukan juga bukan urusanmu. Urus sendiri masalah mu.” Dengus Nara.
__ADS_1
“Hahahaha. Sudah seperti itu masih saja kamu bela. Apa kamu tidak percaya padaku? Padahal semua orang tahu tentang hubungan Alex dengan putri dari tuan Yuda itu.”
“Itu bukan urusanku Rafael. Kamu juga tidak perlu repot-repot mengurusi masalahku.” Kata Nara sambil mengibaskan tangannya keras hingga cekalan tangan Rafael terlepas. Nara segera mengusap-usap pergelangan tangannya yang ngilu. Ada warna merah yang menghiasi kulit putihnya.
“Aku mempunyai bukti kedekatan Alex dengan Diandra kalau kamu tidak percaya.” Rafael merogoh saku jasnya. Mengambil beberapa lembar foto kebersamaan Alex dan Diandra yang dibawakan Doni tadi. Kemudian menyerahkannya pada Nara.
“Lihat! Laki-laki apa yang kamu pertahankan. Dialah yang paling pecundang di sini.”
Nara memperhatikan setiap foto yang ada. Ia memang melihat Alex sedang makan malam dengan Diandra. Dan mereka hanya berdua di tempat yang sepertinya adalah restoran mewah.
“Tawaranku masih berlaku Nara. Menikahlah dengan ku dan aku akan menyelamatkan perusahaan mu.”
“Tidak akan.” jawab Nara tegas.
“Baiklah. Jika itu maumu. Satu Minggu. Hanya satu Minggu waktu yang aku berikan untukmu berpikir. Jika sampai waktu itu habis, akan aku akuisisi baik perusahaan Alex maupun perusahaan mu.” membuat Nara menatap Rafael dengan marah.
Rafael mendekati Nara. Mengelus wajah Nara dengan lembut sambil berbisik di telinga gadis itu. “Untuk menambah kesan yang mendramatisir. Setiap hari, sedikit demi sedikit Mahardika dan Amerta akan jatuh dengan dalam.”
“Kamu baj6ngan Rafael!” umpat Nara.
“Terserah bagimana kamu memberiku panggilan kesayangan apa. Aku akan sangat menikmatinya.” Ucap Rafael dengan senyum lembut yang mematikan. “Aku harap kamu bijak dalam mengambil keputusan. Nasib dua perusahaan itu ada di tanganmu.” Rafael pergi meninggalkan Nara yang menggertakkan giginya. Tangannya memukul kap mobil dengan keras. Namun sebelum tangan itu mendarat dengan kasar di atas besi yang keras. Sebuah tangan besar itu menangkap dan menggenggam nya.
“Jangan menyakiti diri sendiri sayang.” Alex segera mencium tangan Nara yang ada di genggaman nya.
Nara sudah tidak bisa lagi menahan air matanya. Ia langsung memeluk Alex dan menumpahkan air matanya di dada bidang laki-laki itu.
“Jangan menangis sayang. Semuanya akan baik-baik saja.” Alex mencium lembut puncak kepala Nara. Memberikan kenyamanan pada gadis yang sedang menangis di pelukannya.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 🥳
Siapa nih yang udah geregetan sama Rafael kayak Akoh?
__ADS_1
Akoh pengen banget segera mendepak Rafael dari cerita ini. Siapa yang dukung akoh tunjuk tangan☝️