Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_105. Roy Tertangkap


__ADS_3

Pagi harinya, Nara dan Alex turun dengan bergandengan tangan sama seperti biasanya. Alex sudah rapi dengan pakaian santainya. Tangan kanannya ia masukkan ke dalam saku celananya, sedangkan tangan kirinya melingkar indah di pinggang Nara. Tepat menempel dengannya, Nara berjalan dengan anggun di sisi Alex.


Di meja makan sudah tersedia berbagai hidangan. Virly dan Serena sudah duduk di kursi mereka berbincang-bincang sambil menunggu Alex dan Nara.


Alex dan Nara terlihat bingung saat melihat Virly ada di meja makan. Mungkinkah gadis itu datang berkunjung pagi-pagi hanya untuk ikut sarapan? Tidak. Hanya ada satu kemungkinan, Virly menginap semalam.


“Kalian batu turun. Kalian terlambat bangun?” Serena menyapa saat Alex dan Nara sudah duduk di kursinya.


“Iya. Semalam kami tidur larut.” Jawab Alex. Nara menunduk menyembunyikan rona merah di wajahnya.


“Ehm. Lex, semalam hujan deras. Dan mama meminta Virly untuk menginap. Aku harap kamu tidak keberatan.” Serena menepuk punggung tangan Virly sambil menoleh dan tersenyum pada gadis itu.


“Sudah dilakukan buat apa bertanya?”


“Eh...” Serena tidak bisa berkata apa-apa. Dia tertawa sumbang untuk itu.


Suara denting sendok yang menatap permukaan piring mulai terdengar. Serena berulang kali memuji masakan Virly yang enak. Ya. Hari ini Virly lah yang memasak semua hidangan itu.


Semalam, ia hanya tidur tiga jam. Ia hanya kembali setelah memastikan Alex dan Nara selesai dengan urusan mereka. Dan itu sudah pukul dua dini hari. Pagi berikutnya, Virly memaksa matanya terbuka pada jam lima pagi untuk membuat sarapan untuk mereka semua.


Pagi ini, lingkaran hitam di matanya terlihat sangat jelas. Jika bukan karena bantuan conselar dan foundation yang tebal, itu akan terlihat mirip dengan beruang panda.


Ketika bangun pagi, Virly juga sempat mengutuk Nara yang membuatnya tidur larut malam. Membuatnya mengalami malam yang menjengkelkan seumur hidupnya.


Namun usahanya untuk bangun pagi dan memasak mendapatkan buah manis. Serena menyukai masakannya. Ia mendapatkan pujian dari ibu kandung Alex. Satu poin untuknya didapat dengan makanan.


“Kami sudah selesai makan. Hari ini aku akan membawa Nara mengunjungi orang tuanya. Dan kami akan menginap beberapa hari di sana.” Alex berdiri dengan Nara di sampingnya.


“Kamu tidak bisa berbuat itu Lex. Hanya karena Nara marah pada mama terus kamu juga ikut mejauhi mama. Itu keterlaluan.” Serena marah. Ia hanya memberi nasihat pada Nara. Jika tidak diterima tidak perlu membuat Alex juga memusuhi nya.


“Mama jangan terlalu banyak berpikir. Pesta peresmian penyerahan jabatan Presdir Mahardika akan digelar beberapa hari ini. Aku dan Nara akan membantu di sana.” Alex segera membawa Nara pergi.


Sebenarnya itu sama sekali bukan rencananya. Lagi pula, meskipun ia dan Nara ada di keluarga Mahardika, mereka juga tidak akan melakukan apa-apa. Mahardika tidak membutuhkan bantuan mereka.


Tapi melihat sikap Serena pada Nara pagi ini, itu menunjukkan Serena masih belum berniat mengakhiri masalah mereka. Ibunya itu masih berniat membandingkan Nara dengan Virly. Dan Alex tahu Nara akan bersedih diperlakukan seperti itu.


“Mereka keterlaluan!” geram Serena. Ia membanting sendoknya dengan keras membanting piring.


“Sabar Tante. Mungkin suasana hati Alex sedang buruk.”


“Apa mereka tidak berpikir aku akan kesepian di rumah ini? Tidak ada yang memperdulikanku di sini.”

__ADS_1


“Aku bisa menemani Tante selama Alex tidak ada. Dengan begitu Tante tidak akan kesepian lagi.”


“Kamu memang gadis yang baik. Dibandingkan dengan anak dan menantuku itu, kamu jauh lebih baik. Andai saja kamu lebih dulu bertemu dengan Alex. Pasti kamu yang jadi menantuku.”


“Tante tidak seharusnya berkata seperti itu. Alex dan Nara saling mencintai.”


“Huh! Memangnya mereka akan kenyang hanya makan cinta?”


**


Alex dan yang lainnya mengintai dari kejauhan kondisi vila yang menjadi tempat persembunyian Roy. Anak buah Bima yang lebih dulu ditempatkan di sana memberikan laporan tentang seluruh wilayah.


Termasuk ruang-ruang di dalam vila yang kemungkinan besar adalah tempat dimana Roy berada. Vila berada di tempat terpencil.


“Lalu di mana dia saat ini?” tanya Alex tidak sabar.


“Saat ini sepertinya dia sedang bersantai.”


“Bagus. Kalian cepat tangkap dia. Aku tidak mau mengotori tanganku.” Perintah Alex.


“Kalau tidak menangkapnya sendiri kenapa kita jauh-jauh datang ke sini? Aku kira akan ada sedikit perenggangan otot.” Bima mengeluh. Bukankah mereka jauh-jauh datang ke tempat ini akan sia-sia?


“Aku hanya ingin tahu dimana ia bersembunyi setelah melakukan hal menjijikkan pada istriku. Aku juga ingin melihatnya tertangkap dengan mata kepalaku sendiri.”


“Pada dasarnya, untuk makan saja target sudah tidak ada uang. Dia tidak akan mampu menyewa pengawal.” Anak buah Bima juga melaporkan bahwa selama Roy tinggal di vila, laki-laki itu hanya makan mie instan. Sungguh kehidupan yang dibalikkan.


“Tunggu apa lagi? Ayo bergerak!” Alex berdiri dan memberi kode untuk segera menyerang Roy.


Alex memimpin mereka masuk ke dalam vila. Sebelumnya ia sudah menyuruh sebagian anak buahnya untuk berjaga di sekitar vila. Mengepung Roy agar tidak bisa melarikan diri. Di sekitar vila adalah hutan. Akan repot jika Roy melarikan diri ke sana.


Pintu vila yang mewah dan kokoh hancur dalam sekejap setelah ditendang oleh anak buah Alex. Membuat satu-satunya penghuni vila yang sedang menonton televisi terkejut dan ketakutan. Ia sudah merasakan firasat buruk tentang itu.


Roy berdiri dengan tubuh gemetar. Ia dengan cepat mencari tempat persembunyian. Matanya sibuk berkeliling memindai tempat yang aman.


Tak lama setelah pintu berhasil didobrak, Alex memimpin masuk. Ia memerintahkan anak buahnya untuk segera mencari keberadaan Roy. Sedangkan dia sendiri duduk di sofa ruang tamu. Menunggu hasil kerja anak buahnya. Bima dan Bisma mengikuti.


Roy yang baru saja hendak kabur segera tertangkap. Sebelumnya, laki-laki itu hendak kabur lewat pintu samping. Baru saja dia membuka pintu dan melangkahkan kakinya, ia sudah tertangkap. Tanpa perlawanan.


Alex menatap Roy yang berlutut di depannya. Menundukkan kepalanya. Ia takut melihat Alex yang sedang marah. Apalagi ada Bisma dan Bima di sampingnya yang tak kalah menakutkan.


Tubuh laki-laki itu terlihat jauh berbeda dari terakhir kali bertemu. Selama pelariannya, Roy jelas tidak terawat. Kurang makan. Tubuhnya terlihat kurus. Bola matanya cekung dan menghitam. Menandakan kurang tidur. Wajahnya yang dulu terlihat tampan pun menghilang. Kusam. Apalagi rambut di dagunya juga mulai tumbuh. Membuatnya terlihat kotor dan tidak rapi.

__ADS_1


“Katakan.” Ucap Alex dingin.


“Maafkan aku. Aku tidak akan melakukannya lagi.” Kata Roy gemetaran.


“Huh! Kau kira kamu masih punya kesempatan lagi?” Alex mendengus kesal.


“Maafkan aku tuan Alex. Maafkan aku. Aku tertipu. Aku hanya terpengaruh kata-katanya. Seharusnya aku tidak percaya pada kata-kata perempuan itu.” Roy semakin takut.


“Siapa?” Bisma menatap tajam Roy.


“Virly. Dia yang bilang dia bisa membantuku mendapatkan Nara. Dia juga bilang asal aku bisa mendapatkan Nara, maka tuan Alex tidak akan mau menerimanya.”


“Jangan berani menyebut nama istriku. Kamu tidak pantas.” Kata Alex marah.


“Beraninya memikirkan hal kotor itu kamu lakukan pada adikku. Apa kamu sudah tidak memandang kamu hah?” Bisma semakin emosi.


“Siapa Virly?” tanya Bima yang memang tidak mengenal Virly.


“Dia anak teman mama. Dan sekarang menjadi asistenku menggantikan Nara.” Jawab Alex. “Dia juga teman kuliah Nara dulu.” Lanjutnya.


“Sebenarnya dia iri dan ingin merebut tuan Alex. Dia memanfaatkanku. Dia yang membantuku membawa Nara. Aku benar-benar menyesal.”


“Menyesal sekarang tidak akan ada gunanya.”


“Bawa dia. Jangan sampai dia ketinggalan kejutan untuknya.” Alex menjentikkan jarinya. Memerintahkan anak buahnya untuk membawa Roy keluar dari vila.


Roy diseret keluar vila. Dimasukkan ke dalam mobil dengan tangan yang terikat. Ia terjepit diantara dua orang anak buah Bima yang bertubuh besar. Dengan ketiganya duduk di bangku penumpang jelas akan membuat Roy tersiksa sepanjang perjalanan.


“Awasi Virly. Jangan biarkan dia berbuat macam-macam.” Perintah Alex pada Gibran.


Sebenarnya Alex sudah menduga hal ini. Sudah lama ia merasa Virly memiliki niat tersembunyi padanya. Apalagi gadis itu mendekati Serena. Sejak Serena mengenal Virly, mamanya itu menjadi pribadi yang lain. Kini ia tahu pasti Virly yang telah mempengaruhi pandangan Serena terhadap Nara.


Namun melihat sikap Serena terhadap Virly. Alex khawatir mamanya itu tidak akan percaya dengan mudah. Apalagi tidak ada cukup bukti yang menunjukkan Virly terlibat atas penculikan Nara. Dengan penjelasan dari Roy tentu saja tidak akan cukup. Jadi dia harus memikirkan cara untuk mengungkap Virly dan menyingkirkannya dari kehidupannya dan keluarganya.


*


*


*


Terima kasih masih setia 😘

__ADS_1


Maaf dua hari nggak up. Kelopak mata akoh digigit semut. Jadi bengkak. (Mungkin kualat abis ngintipin AlexNara. haha..) Kalau digunakan buat mantengin hp lama akan terasa perih. Jadi maaf baru bisa nulis lagi setelah bengkaknya berkurang. 😔


__ADS_2