
Kedatangan Nathan beserta rombongan disambut dengan meriah. Setelah ada yang mengetahui bahwa tamu yang mereka tunggu sudah berada di pemakaman, suasana di depan rumah besar semakin sibuk.
Warga desa berseliweran mengatur dan mempersiapkan penyambutan. Barisan hadroh yang disewa juga sudah bersusun rapi di samping pintu masuk. Para personelnya sudah membawa alat rebana masing-masing. Cek sound sistem juga dilakukan agar nantinya terdengar bagus dan sempurna.
Tak berapa lama, rombongan yang mereka tunggu akhirnya sampai. Keluarga inti rumah besar dan juga orang-orang penting di desa segera keluar untuk penyambutan.
Tasya yang baru pertama kali ke desa dibuat takjub dengan penyambutan yang mereka terima.
“Aku tidak menyangka kalian seterkenal ini di desa. Lihatlah pesta penyambutan kalian bahkan seperti sedang menyambut Presiden masuk desa.”
“Diam dan nikmatilah.” Jawab Nathan ketus. Ia masih jengkel kepada adiknya yang memergoki kekonyolannya. Yang lebih parahnya, semuanya diceritakan pada yang lain sehingga membuatnya jadi bahan olok-olok satu keluarga.
Tasya mengerucutkan bibirnya pertanda kesal. Ia yang tadinya berjalan cepat demi mensejajarkan dia dengan kakak dan kakak iparnya perlahan mundur dan memilih berjalan di samping Rita.
Ketika rombongan sudah dekat dengan pintu masuk, anak-anak kecil melempari mereka dengan kelopak bunga mawar. Bahkan di atas karpet merah yang tergelar hingga ke depan rumah juga bertebaran kelopak mawar.
Nadia tidak bisa berkata-kata. Air mata bahagianya kembali mengalir. Bagaimanapun Nathan melarangnya menggunakan air mata untuk mengekpresikan kebahagiaan, ini sulit dikendalikan. Air mata itu muncul tanpa diminta. Keluar begitu saja dari mata yang berbinar bahagia.
Hah! Wanita memang terkadang suka aneh. Saat sedih menangis, saat senang pun menangis. Tapi itulah istimewanya seorang wanita yang memiliki hati selembut kapas.
“Selamat datang dokter Nadia, selamat datang dokter Nathan beserta keluarga.” Devi yang menyambut mereka segera memeluk Nadia dengan erat. Kedua mantan madu itu sudah melupakan kenangan masa lalu dan menggantinya dengan yang baru. Dan hubungan seperti anak dan ibu lah yang mereka pilih.
“Selamat datang Nadia. Selamat datang dengan identitas baru di sini. Tapi jangan khawatir, kamu tetap berhak atas rumah ini sebagai salah satu putriku.”
“Terima kasih bu Devi. Saya sangat senang dapat kembali lagi ke sini.”
“Ah Bisma. Selamat datang di rumah. Ini rumahmu juga.” Devi menunduk untuk memegang bahu Bisma. Anak kecil ini kelihatan sangat mirip dengan mendiang suaminya. Senyum simpul ia berikan pada anak tirinya itu.
Yulia, Sinta, Hesti dan Nita yang berdiri berjejer di sebelah Devi pun memberikan pelukan erat pada Nadia. Mereka saling meluapkan rindu dan kebahagiaan. Bisma yang ada di gandengan tangan Nadia juga memberikan salamnya pada para wanita yang menyambut mereka. Diikuti dengan Tasya, Rita dan Mbak Hana di belakangnya.
Saat Nadia beru melewati Nita yang berdiri paling ujung, Nadia berhenti di depan seorang gadis kecil yang cantik. Wajah ini samar-samar ia kenali. Sedikit berubah, tapi ia masih bisa mengenalinya.
“Ini Lisa?” tanya Nadia. Dulu saat ia tinggalkan gadis itu masih berusia sebelas tahun. Dan sekarang, ia tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik.
“Iya tante. Senang sekali tante masih ingat.”
“Tentu saja. Sini tante peluk. Tante sangat merindukanmu.” Nadia memeluk erat gadis remaja itu. “Bima mana?” lanjutnya.
__ADS_1
“Aku di sini tante.” Seorang remaja kecil, ah tidak, dia bahkan sudah sangat tinggi sekarang. Bahkan lebih tinggi dari kakaknya yang lebih tua dua tahun darinya.
“Wah! Bima tinggi sekali. Sebentar lagi pasti tante juga kesalip tingginya.”
“Tentu dong tante. Bima ingin jadi tentara.” Ucapnya bangga.
“Sini calon tentara tante peluk. Tante kangen banget sama kamu.”
“Bima juga.” Keduanya berpelukan. Membuat satu orang pria kecil yang dari tadi diabaikan merasa kesal.
“Hei kakak calon tentara. Mana bisa jadi pelindung negara kalau masih manja.” Sarkasnya yang membuat remaja yang ada di pelukan mamanya menoleh padanya dengan tatapan tidak suka.
“Bisma tidak boleh seperti itu. Sekuat apapun seorang laki-laki, dia masih membutuhkan orang lain yang menyayanginya. Mama juga akan melakukan hal sama terhadapmu meskipun kamu sudah besar.”
“Iya ma. Maaf kak...”
“Bima.” Bima mengulurkan tangannya. Namun Bisma masih enggan memberikan tangannya.
“Ma, kenapa nama kami mirip? Kami bukan adik kakak kan?” Bisma memang mengetahui jika Nadia memang bukan ibu kandungnya. Dan ibu kandungnya itu adalah Dian.
“Aku sanggup.” Jawab kedua anak dengan nama yang hampir sama itu.
“Baguslah para jagoan. Mari masuk. Kita lanjutkan ngobrolnya di dalam.” Ajak Nadia. Dia lelah setelah berjam-jam duduk di mobil.
Sedangkan para laki-laki juga disambut oleh laki-laki. Ada Satria, Candra dan juga Joni. Para laki-laki malah sudah masuk terlebih dahulu. Mereka sudah berbincang-bincang dengan akrab ketika para wanita masuk.
Setelah ngobrol beberapa saat, Devi mempersilahkan tamunya untuk istirahat di rumah besar. Lagi pula kamar-kamar di sana banyak yang kosong.
Nara dan Bisma menempati kamar Lisa dan Bisma dulu dimana ada dua kasur di dalamnya. Mbak Hana dan Tasya berbagi kamar. Rita tentu saja dengan Panji.
Setelah mengantar semua orang ke kamarnya, Nadia mengajak Nathan untuk masuk le dalam kamarnya yang dulu. Nadia mengedarkan pandangannya di dalam kamar. Semuanya tampak sama seperti saat terakhir ia tinggalkan.
Nadia masih mematung di depan pintu. Kamar ini penuh dengan kenangan. Pandangannya menjadi sendu.
“Nadia, jika kamu mau kamu bisa menempati kamar yang lain.” Ucap Devi yang melihat ekspresi Nadia. Wanita muda ini pasti tidak merasa nyaman berada di kamar yang dulu ia tempati bersama mendiang suaminya sedangkan ia sekarang bersama suami barunya. Ini rasanya tidak nyaman.
“Tidak Bu Devi. Aku tidak menyangka saja jika kamar ini masih sama persis seperti ketika aku tinggalkan dulu.
__ADS_1
“Em. Aku sengaja Nadia. Dulu aku pernah berharap kamu kembali lagi kesini dan menempati lagi kamar ini. Itulah mengapa aku sengaja meminta para pelayan untuk rutin membersihkan kamar ini agar sewaktu-waktu kamu datang, kamu bisa langsung menempatinya. Tapi sekarang ini kamu datang sebagai istri dokter Nathan, jadi aku pikir kalian bisa tinggal di kamar lain.”
“Tidak apa bu Devi. Kami akan menempati kamar ini.”
“Baiklah jika itu kemauanmu. Aku tidak bisa melarang. Baiklah silahkan istirahat.” Bu Devi meninggalkan Nathan dan Nadia di sana.
“Ayo mas masuk.” Nadia menarik tangan Nathan dan segera menutup pintunya. “Emm. Mas tidak keberatan kan kalau kita tidur di sini?” tanya Nadia sungkan. Benar yang dikatakan Devi jika ini sedikit tidak nyaman.
Namun bagi Nadia, ini adalah tempat yang paling Nadia kenali di rumah besar ini. Bukan hanya tentang juragan Bondan, melainkan segala sesuatu mengenai Nadia dan segala urusannya, ada di sini.
Nathan mengapit pipi Nadia dengan kedua tangannya. Mengecup dahinya mesra.
“Tentu saja tidak. Semua yang berlalu adalah masa lalu. Dan semua ini adalah bagian dari masa lalumu. Saat aku memutuskan untuk memperjuangkanmu, tentu saja aku sudah memperhitungkan tentang segala masa lalumu. Bagiku, aku adalah masa depanmu dan kamu adalah masa depanku.” Nathan tersenyum penuh ceria.
“Terima masih mas.”
“Kita tidak hidup di masa lalu Nadia. Seperti apapun masa lalu, semuanya sudah berlalu. Kita memang tidak bisa meninggalkan masa lalu begitu saja karena memang masa lalu adalah bagian dari fase kehidupan kita. Namun sekarang kita tidak harus fokus pada masa lalu. Sebaliknya, kita harus memfokuskan diri pada masa sekarang dan masa depan.”
“Kamu benar mas. Mulai sekarang hanya akan ada kita dan anak-anak kita di masa depan.”
“Pintar. Sekarang tunjukkan aku seberapa nyaman tempat tidurmu.”
“Eh...” Nathan tiba-tiba mendorong Nadia hingga membuat Nadia jatuh terlentang di atas ranjang.
“Sayang, disini tidak sama dengan di rumah kita. Tidak ada penyadap suara di kamar ini. Di sini suara itu pasti bocor kemana-mana.”
Nathan menyeringai. “Memang nya apa yang kamu pikirkan sayang?” nathan merebahkan dirinya di atas kasur. Nadia yang ditinggalkan dengan keadaan yang masih terlentang dibuat malu.
“Dia sedang mengerjaiku rupanya. Awas saja. Aku tidak akan membiarkannya menyentuhku saat disini.” Guman Nadia dalam hati. Siapa suruh mengenrjainya.
*
*
*
Terima kasih masih setia. Klik Like 👍 ya sayang-sayangnya akoh...
__ADS_1