
Waktu seakan berhenti beberapa saat. Nara memiliki kesannya tersendiri pada laki-laki yang berdiri di depannya. Meskipun hampir dua bulan sejak ia tidak melihat laki-laki itu. Namun wajah tampan yang dimiliki tidak dapat dilupakan begitu saja.
Pun dengan sikap lembut dan pantang menyerah yang dimilikinya, membuat Nara terkesan. Dari sekaian banyak pemuja Nara, hanya laki-laki inilah yang bersedia memperjuangkannya meskipun pada akhirnya tetap tidak berhasil.
”Em boleh.” jawab Nara ragu-ragu.
Nara berdiri kaku di sebelah Demian dengan senyum yang sangat terlihat ia paksakan. Setelah satu foto diambil Nara dengan segera menjauh.
”Bagaimana kabarmu? Lama aku tidak melihatmu.” Demian bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel yang menampilkan Foto dirinya dan Nara yang baru saja diambilnya.
”Aku baik. Bagaimana denganmu?”
”Yah seperti yang kamu lihat. Aku selalu baik. Tapi di sini sakit.” Demian menunjuk dadanya. Nara bukanlah orang yang tidak berperasaan. Dia sangat mengerti apa maksud laki-laki itu.
”Kamu tidak boleh berbicara seperti itu. Kamu laki-laki yang baik. Pantas untuk mendapatkan wanita yang baik.”
”Tapi tetap saja tidak cukup pantas untukmu kan? Ah sudahlah. Jangan memasang wajah bersalah seperti itu. Di sini akulah yang salah. Aku yang sejak awal tidak sadar diri.” Demian terkekeh melihat Nara yang menundukkan kepalanya sambil meremas jarinya.
”Oh ya. Selamat ya atas pernikahan mu.” Demian mengulurkan tangannya.
”Terima kasih De.” Nara menjabat tangan Demian dengan kaku.
”Kamu dan tuan Alex pasangan yang serasi. Pantas saja kamu selalu menolak ku.” Demian tersenyum pahit. Beberapa kali ia menembak Nara selalu saja ditolak oleh gadis itu.
”Maafkan aku De.”
”Tidak masalah. Semua itu hanya masa lalu.”
”Kau benar. Semua hanya masa lalu. Semoga kamu segera mendapatkan seseorang yang Sesuai untukmu. Yang kamu cintai dan mencintai kamu.”
”Yah. Semoga saja.” Demian tersenyum tulus. Awalnya ia berniat akan berusaha memenangkan hati Nara setelah ia selesai dengan kuliahnya. Tidak disangka ternyata gadis pujaannya itu sudah menikah sebelum ia mempunyai kesempatan untuk membuktikan dirinya. Apalagi suaminya bukanlah seseorang yang bisa ia bandingkan dengan dirinya.
”Sayang, papa dan mama pulang dulu.” Alex melingkarkan tangannya di pinggang ramping Nara. Ia langsung menandai kepemilikan nya di depan laki-laki yang menatap Nara dengan penuh puja. Sekali lihat saja siapapun tahu jika Demian itu menyukai Nara. Dan alarm alami Alex jelas berbunyi nyaring.
__ADS_1
”Oh iya kah. Aku keasyikan ambil foto sama teman-teman. Jadi nggak enak sama mama papa.” Nara menoleh pada Alex dan tersenyum pada suaminya.
”Tidak masalah. Besok kita bisa pergi ke rumah mereka. Besok kan weekend.”
”Kamu benar. Oh iya sayang, kenalkan ini Demian Aditya. Dia yang dapat nilai tertinggi tadi.” Nara memperkenalkan Demian pada Alex. Ia tidak mau Alex merasa curiga terhadap nya. Kedua laki-laki itu saling menjabat tangan.
”Demian.”
”Alex. Sayang ayo kita juga pulang. Kamu pasti lelah kan?” Alex segera mengubah topik. Tidak ingin berbicara lebih banyak dengan Demian.
”Em. Aku juga sudah selesai.” Nara mengiyakan. ”Oh ya Demian, aku pulang dulu ya. Sampai jumpa lagi.” Alex segera menarik Nara meninggalkan tempat itu.
Di dalam mobil, keduanya terdiam. Nara masih merasa agak canggung tentang Demian tadi. Sedangkan Alex masih sibuk mendamaikan hatinya agar tidak terbawa emosi.
”Pria tadi sepertinya menyukaimu.” Alex melirik Nara.
”Ah. Hahaha. Memang ada yang tidak menyukaiku?” Nara pura-pura tidak mengerti maksud Alex.
”Baiklah suamiku yang tampan dan kaya. Jika kamu sangat percaya diri seperti itu, kamu jangan memasang wajah masam penuh cuka itu padaku.” Nara menoel pipi Alex sebelum menggerakkan jarinya menelusuri wajah tampan suaminya dengan gerakan yang menggoda.
”Berhenti menggodaku atau kamu akan menyesal.” Alex melirik tangan ramping Nara yang masih menari di atas wajahnya.
”Siapa yang menggoda siapa? Apa kamu tergoda? Aah!” Nara memekik saat Alex tiba-tiba menepikan mobil dan berhenti di sana.
Lalu di saat Nara belum dapat menenangkan dirinya, ia kembali dibuat kaget dengan wajah Alex yang tiba-tiba saja berada tepat di depannya. Sedangkan tangan laki-laki itu membingkai dirinya di kanan dan kiri.
”Sudah ku bilang jangan menggodaku sayang.” Alex menggerakkan tangan kanannya seperti apa yang dilakukan Nara pada wajahnya tadi. Membuat Nara menelan ludahnya kasar.
”Apa yang kamu ingin lakukan Lex? Ini di dalam mobil.” ucap Nara panik.
”Lalu apa salahnya? Kita juga harus mencobanya di atas mobil kan?” Alex menyeringai. Tangannya mulai bergerak turun. Menekan sedikit demi sedikit bagian dada Nara yang naik turun.
”Jangan bercanda Lex. Ini di jalanan. Aah.” Nara semakin panik saat tangan Alex mulai nakal di bawah sana.
__ADS_1
“Sudah aku bilang jangan menggodaku kan tadi? Jadi jangan salahkan aku.”
“Leex...”
“Sial. Aku hanya berniat menggodanya. Tapi mengapa malah aku yang tergoda.” Ucap Alex dalam hati. Ia pun segera menarik dirinya sari atas tubuh Nara dan kembali duduk di tempatnya. Sedangkan Nara segera merapikan kebaya dan rok span yang sempat disibakkan oleh Alex.
Alex segera melajukan mobilnya kembali.
“Untung saja jalanan ini sepi.” Gumam Nara setelah memindai jalanan di sekitarnya. Namun karena itu ia menyadari satu hal. Ini bukan arah pulang ataupun ke mansion Mahardika.
“Sayang kita kemana?” tanya Nara.
“Kamu akan tahu setelah sampai.” Alex yang baru saja menenangkan king oyster nya menoleh pada Nara dan tersenyum padanya.
**
Jejak-jejak kaki tertinggal ti pasir pantai yang lembut. Dua orang yang tengah dimabuk cinta sedang berjalan saling menggenggam tangan di bibir pantai. Suasana semakin romantis dengan ditemani langit berwarna jingga yang menjadi daya tarik menikmati pemandangan matahari terbenam.
Nara masih memakai kebayanya. Begitu pun dengan Alex. Laki-laki itu hanya melipat celananya setinggi lutut dan juga melepas jas miliknya dan meninggalkan nya di dalam mobil yang diparkir di area resort. Sepatu keduanya juga mereka tinggalkan disana.
“Ini sangat indah.” Nara dan Alex berhenti saat matahari sudah hampir terbenam. Alex melingkarkan tangannya di pinggang Nara. Seketika, Nara menyandarkan kepalanya pada bahu Alex. “Tidak peduli berapa kali pun aku melihatnya, aku selalu terpesona pada kecantikannya.” Lanjutnya.
“Kamu benar. Memang sangat cantik.” Ucap Alex membenarkan Nara. Namun yang dinilai Alex tidak sama dengan apa yang dinilai oleh Nara. Nyatanya, Alex sedang memperhatikan senyum Nara yang terlihat sangat menawan.
Nara menoleh pada Alex. Dan mendapati jika Alex sedang memandangnya dengan tatapan penuh pesona.
“Kamu adalah ciptaan Tuhan yang paling indah.” Alex berkata dengan lembut. Menatap Nara dengan penuh cinta.
Tidak tahu siapa yang memulai, tapi Mereka berakhir dengan indah. Tidak ada yang berbicara. Tubuh mereka sudah cukup untuk mengungkapkan kebahagiaan mereka saat itu.
Mereka nih! Akoh bingung jelasinnya gimana. 🤩
__ADS_1