Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
95. Pernikahan Sesuai Impian


__ADS_3

Hayo siapa yang mau gabung? Sono-sono pakek kebaya biar rapi. Bawa kembang sama kopi lho tapi 😎


Hari yang dinanti akhirnya tiba. Pagi tadi, Nadia dan Nathan telah sah menjadi sepasang suami istri. Ucapan selamat bersahutan setelah Nathan dengan lancar mengucapkan kalimat Ijab Kabulnya.


Air mata Nadia mengalir deras menyadari ia telah kembali menjadi seorang istri. Namun kali ini bukanlah tangis kesedihan seperti beberapa tahun yang lalu. Ini adalah tangis kebahagiaan.


Sinta yang datang pun merasakan hal yang sama. Dulu ia lah yang paling mengerti perasaan Nadia. Dan sekarang, ia juga mengerti perasaan sahabatnya itu. Tentu saja ia lebih bahagia dari siapapun. Harapannya kini terkabul. Temannya yang telah menderita begitu banyak akibat ulah bapaknya kini menemukan kebahagiaanya sendiri.


Semenjak datang, Sinta tak bisa menutupi antusiasmenya. Ia menyerahkan anak laki-lakinya pada sang suami dan memilih untuk mendampingi Nadia. Dan Candra tentu saja tidak keberatan jika sang istri melakukan hal itu kepada wanita yang pernah menjadi ibu mertuanya.


“Selamat Nad, akhirnya kamu mendapatkan pernikahan impianmu.” Ucap Sinta. Nadia hanya bisa menangis di pelukan sahabatnya.


Ini pernikahan kedua untuk Nadia. Dan sangat jelas perbedaan antara keduanya. Pernikahan pertamanya ia lakukan dengan paksaan dan penuh kesedihan. Sebaliknya, pernikahan keduanya ini adalah pernikahan impiannya. Menikah dengan seseorang yang ia cintai dan juga mencintainya dengan sama besarnya.


Nathan yang mendapati reaksi Nadia hingga seperti itu tidak bisa untuk tidak segera meraih tubuh istrinya dan membenamkannya ke dalam pelukannya. Ia tidak lagi menghiraukan reaksi orang-orang yang melihat apa yang terjadi.


Sinta melepaskan pelukannya pada pada sahabatnya dan memberikannya pada Nathan. Ia tahu jika laki-laki itulah yang bisa mengerti perasaan Nadia saat ini.


Nathan merengkuh tubuh Nadia yang hanyut dalam keharuan. Ia pun mengajak Nara dan Bisma ikut dalam pelukan mereka. Keempatnya berpelukan.


“Mama jangan nangis lagi. Kita akan bahagia mulai sekarang.” Ucap Nara.


“Keluarga kita sudah lengkap ma. Jangan bersedih lagi.” Tambah Bisma.


“Mama menangis bukan karena sedih sayang. Ini air mata kebahagiaan.”


“Sekarang aku rasa air mata kesedihan ini harus diganti dengan senyuman Sayang. Benar kan anak-anak?” Nathan menghapus air mata yang mengalir di pipi Nadia.


“Itu benar ma. Kita harus mengganti air mata dengan senyum yang indah.” Bisma mengangguk menyetujui ucapan Nara.


Dan begitulah momen mengharukan ijab kabul Nadia dan Nathan yang menjadi viral.


Sedangkan untuk Resepsinya dilangsungkan malam harinya.


Nadia sudah dirias sedemikian rupa. Wajah ayunya bersinar seiring senyum yang merekah di bibirnya yang di lapisi dengan lipstik berwarna merah cerah yang menambah kesan agungnya. Riasan wajah full make up tapi tidak menghilangkan sisi cantik alaminya. Justru menambah kesan glamor yang indah.


Rambut indah Nadia digelung dengan bertahtakan mahkota yang indah. Sebagian rambutnya dibentuk keriting menggantung di kedua sisi wajahnya. Menggunakan anting dan kalung yang mewah semakin melengkapi keindahan penampilan pengantin wanita itu.

__ADS_1


Menggunakan gaun putih yang indah, Nadia tampil sempurna.


Nara memakai gaun pesta yang sama dengan milik Nadia. Rambutnya ditata rapi juga dilengkapi mahkota kecil disana. Dia tampil sangat cantik.


Nathan dan Bisma juga memakai pakaian yang sama. Jas berwarna putih dengan dasi kupu-kupu yang membuat tampilan keduanya tampak gagah.


Keempatnya berdiri di atas panggung sebagai tokoh utama dalam pesta.


Para tamu mengagumi penampilan keempatnya. Jika mereka tidak mengetahui kabar status Nadia sebelumnya, setiap orang yang melihat mereka berempat akan setuju bahwa mereka adalah sebuah keluarga dengan hubungan yang indah. Bukan dengan hubungan anak tiri dan papa tiri.


Satu persatu tamu undangan naik ke atas panggung. Bergantian mengucapkan selamat kepada kedua mempelai.


Jennika pun turut hadir dengan perut buncitnya yang tengah mengandung delapan bulan. Dia tidak datang sendirian, di sampingnya, Zidan Axmala Abraham yang merupakan suami Jennika menggenggam erat tangan mungil sang istri. Keduanya tampak serasi malam ini. Zidan dan Nathan merupakan rekan bisnis. Jadi keduanya lumayan dekat.


Nadia tampak terpana menatap pemandangan di depannya. Gadis yang dulunya ia kenal tanpa lelah mengejar cinta suaminya sekarang telah menikah bahkan tengah hamil tua. Ini sesuatu yang sangat menggembirakan.


"Selamat ya Nadia, dokter Nathan. Kalian adalah pasangan favoritku sepanjang sejarah." kata Jennika sambil meraih tangan Nadia. Senyum merekah di bibirnya. Jelas saja ia sangat bahagia. Ia sendiri tahu bagaimana perjuangan keduanya hingga sampai pada titik ini.


"Jennika, aku sangat merindukanmu. Bahagia rasanya melihatmu sekarang." Nadia memeluk Jennika. Perut buncit Jennika memberi reaksi. Bayi yang ada di dalam memberikan tendangannya. Membuat dua wanita yang sedang berpelukan terpana.


"Wow. Ini luar biasa Jen. Baby Boy or Girl?"


"Hai baby boy. Jangan buat mommymu kesusahan okey?" ucapan Nadia membuat dua wanita itu terkekeh. Keduanya jelas tahu bagaimana rasanya mengandung besar. Kadang sangat merepotkan.


"Oh ya Nad, kenalkan, ini suami aku, Zidan." kedua orang yang diperkenalkan saling mengulurkan tangan dan menyebutkan nama.


"Mas. Selama ini mas tidak pernah cerita tentang Jennika?" Nadia memicingkan matanya. Meminta penjelasan.


"Ehehehe. Aku lupa sayang. Habisnya kalau dekat denganmu rasanya enggan memikirkan yang lain." Nathan menggaruk tengkuknya.


Jennika memukul keras lengan nathan. "Dasar teman nggak ada akhlak! Padahal dulu sudah dibantu mati-matian. Giliran seneng-seneng aja lupa sama aku." Jennika memarahi habis-habisan laki-laki yang dulu pernah memiliki hatinya itu. Pasalnya ia juga tidak akan tahu kabar Nadia jika tidak menerima undangan pernikahan mereka satu Minggu yang lalu. Ia merasa dikhianati.


"Sudah sayang. Jangan marah-marah. Tidak baik untuk anak kita. Lebih baik kita turun mencari tempat yang nyaman." bujuk Zidan. Ia tahu sifat istrinya yang kadang sedikit somplak. Akan merepotkan jika sang istri membuat ulah sekarang.


Dengan menggerutu sepanjang jalan, Jennika akhirnya dibawa turun oleh Zidan. Kedua pasangan pengantin baru di atas panggung melihat dua orang yang baru berlalu dengan perasaan puas. Setidaknya Jennika telah menemukan kebahagiaanya, jadi mereka tidak merasa bersalah lagi.


Di sisi lain, Nara dan Bisma sudah turun dari panggung hanya setelah lima belas menit keduanya mampu bertahan duduk diam disana. Setelahnya mereka memilih turun dan berlarian dengan Hana yang mengawasi keduanya.

__ADS_1


“Mas Satria kemana sih?” tanya Nadia ketika melihat Hana kesusahan mengawasi kedua anaknya.


“Kenapa mencari Satria?”


“Lihatlah Mbak Hana kesusahan mengawasi Nara dan Bisma. Aku khawatir mbak Hana kelelahan dan anak-anak tidak berada dalam pengawasan.”


“Tenang saja sayang. Anak buahku sudah aku sebar untuk berjaga. Tidak akan terjadi apa-apa pada mereka.”


Mendengar perkataan suaminya, Nadia merasa sedikit tenang.


“Lihat tuh Nara dan Bisma bersama mama dan Papa.” Nathan menunjuk ke arah Panji dan Rita yang duduk sambil memangku cucu baru mereka. Keduanya terlihat bahagia mendapatkan cucu yang menggemaskan.


Panji dan Rita bahkan dengan bangga memperkenalkan keduanya sebagai cucu mereka. Kasih sayang yang mereka tunjukkan juga terlihat begitu tulus. Nadia yang melihatnya meneteskan air mata.


“Jangan menangis lagi sayang. Sudah cukup air mata yang kamu buang selama ini. Bukankah sudah aku bilang untuk mengganti tangis itu dengan senyuman?” Nathan mengelus punggung Nadia.


“Terima kasih menerima kami dengan segala keadaan kami.”


“Tidak Nadia. Aku yang harus berterima kasih. Kehadiranmu dan anak-anak melengkapi keluarga kami. Keluarga kita. Lihatlah mereka bahagia. Jangan berpikir hal yang macam-macam. Yang terpenting sekarang adalah kita mulai rumah tangga kita dengan bahagia. Setuju?”


Nadia terkekeh. Ia merasa membuat kesepakatan bisnis dengan suaminya sekarang.


Namun kekehannya berhenti ketika menyadari siapa yang datang ke arah panggung. Seseorang yang sangat familiar untuknya. Seseorang yang pernah menjadi bagian penting dalam masa lalunya. Dan orang ini jelas memberi perasaan tidak nyaman padanya. Ia takut.


Mengetahui perasaan sang istri. Nathan segera meraih tubuh sang istri mendekat erat padanya. Menggenggam erat tangannya.


“Tenang saja sayang, ada aku disini.” Bisik Nathan meyakinkan istrinya.


*


*


*


Maapin akoh gantung dulu disini. Wk wk wk 🤣🤣🤣


Lanjut besok ya...

__ADS_1


See you😉


__ADS_2