
Drama kecil akhirnya berakhir. Suara perut Nara yang mulai berdemo meminta isi mengubah wajah cemberut Nara menjadi wajah penuh kelaparan.
Melihat penampilan istrinya yang menggemaskan, Alex tersenyum dan mencubit gemas hidungnya. Lalu memanggil pelayan untuk memesan makanan untuk mereka.
Di sisi lain, Virly dan yang lainnya sudah hampir selesai makan. Mereka tidak banyak bicara selama rentang waktu itu. Hanya fokus pada piring masing-masing.
“Apa nona Virly sudah lama bekerja dengan tuan Alex?” Tanya Angga setelah menyeka mulutnya dengan tisu.
“Hem... Lumayan. Hampir satu tahun.” Jawab Virly sambil melirik Alex yang tengah sibuk melayani Nara di meja mereka. Keduanya tampak romantis dengan tindakan-tindakan kecilnya. Melihat itu hatinya masam.
Perubahan wajah Virly juga terlihat jelas. Wanita itu tidak pandai menyembunyikan niatnya. Angga yang ada di seberang mejanya juga melihatnya dengan jelas. Dari tatapan mata Virly dapat dilihat jika gadis itu memiliki perasaan lain terhadap bosnya.
“Mereka terlihat saling mencintai.” Angga semakin semangat menambahkan minyak ke dalam api. Dia menyeringai melihat tangan Virly yang meremas sendok yang dipegangnya.
“Susah berapa lama mereka menikah?” Angga melirik Alex dan Nara yang sedang menikmati makan siang mereka dengan diselingi tawa.
“Hampir dua tahun.” Jawab Virly tanpa minat.
“Ooh.. masih lengket seperti pengantin baru.”
“Maaf tuan, saya harus mengingatkan jika setengah jam lagi anda mempunyai jadwal ke rumah besar.” Sekretaris cantik yang dari tadi hanya menyimak merasa bahwa bosnya sudah ikut campur terlalu banyak.
“Oh aku sampai lupa. Terima kasih Bela.” Angga berdiri dan menepuk celananya. Virly ikut berdiri. Ia juga sudah selesai makan beberapa saat yang lalu.
“Nona Virly senang berbicara dengan Anda.” Angga tersenyum manis. Ia kemudian meminta Virly untuk mengantarnya berpamitan pada Alex. Lagi pula mereka datang bersama-sama Awalnya.
Alex dan Nara berdiri saat Angga menghampiri meja mereka.
“Senang bekerja sama dengan anda.” Alex menjabat tangan Angga.
“Saya juga senang. Saya tenang mengetahui bahwa saya bekerja sama dengan laki-laki yang mencintai keluarganya.” Ucap Angga tulus.
“Terima kasih pujiannya.”
“Saya doakan agar pernikahan anda langgeng. Hati-hati dengan lalat pengganggu yang seringkali ingin merusak sebuah keharmonisan.”
__ADS_1
Virly yang berdiri tidak jauh dari Angga tersedak tanpa sadar. Ia benar-benar tidak menyangka akan mendengar kalimat itu terucap dari Angga yang baru dua kali ia temui. Belum lagi ekor mata Nara yang berkilat. Membuat punggungnya terasa dingin. Apakah ia sudah ketahuan?
“Tentu saja tuan Angga. Lalat semacam itu sudah lama tidak akan berpengaruh pada kami.” Alex menoleh pada Nara. Mengelus tangan istrinya yang melingkar di lengannya. Padangan mereka bertemu. Senyuman hangat mereka berikan saat kedua mata mereka saling memandang mesra.
“Ehm. Baiklah. Saya masih ada urusan lain. Kita akan bertemu lagi pada acara perayaan kerja sama kita bulan depan.” Ucap Angga. Melihat dua orang di depannya ia merasa bahagia. Namun ada sedikit rasa iri di dalam hatinya.
“Oh ya. Minggu depan perusahaan Mahardika Grup akan mengadakan serah terima jabatan. Tuan Nathan adalah mertua saya. Jadi saya rasa tidak akan ada bedanya jika saya yang mengundang anda secara langsung.”
“Tentu saja. Mahardika Grup adalah perusahaan besar. Tidak menyangka nona Nara adalah putri tuan Mahardhika. Saya pasti akan datang.” Mendegar ini Nara merasa bangga. Apalagi itu diucapkan di hadapan Virly. Sudah kodratnya seorang wanita akan membanggakan dirinya di depan rival cintanya. Dan itu membuat kepercayaan diri Nara naik satu tingkat.
“Terima kasih sebelumnya. Saya akan kirim detailnya memalui email.” Alex mengangguk.
“Baiklah. Kami tidak akan mengganggu waktu anda lagi. Kami permisi.” Angga menjabat tangan Alex sebelum pergi dari sana bersama Bela.
Karena Alex dan Nara belum selesai makan, Virly meminta izin untuk pergi sebentar. Keduanya tidak keberatan akan hal itu. Lagipula jika ada Virly di sekitar mereka, suasana tidak akan sama lagi.
Karena Nadia dan Dini sudah pergi terlebih dahulu, Nara akhirnya ikut Alex ke kantor.
Di dalam mobil yang dikendarai pak Farid, Alex dan Nara duduk di kursi belakang. Sedangkan Virly duduk di kursi co-driver. Beberapa kali gadis itu melirik melalui spion ke arah kursi belakang. Dimana dua orang yang duduk di sana bahkan seperti mengabaikan keberadaan orang lain.
Nara bersandar di dada Alex. Meletakkan tangan kirinya di atas dada bidang itu sambil memainkan jari di atasnya. Mulut wanita cantik itu tidak berhenti berbicara. Sesekali Alex akan tersenyum bahkan tertawa kecil mendengar apa yang dikatakan Nara.
“Ummm.” Nara menyentuh dagunya dengan jari jempol dan telunjuknya. Mengelus dagu lancip itu saat berpikir.
“Ada?” tanya Alex lagi.
“Maaf sayang. Aku lupa membelikanmu sesuatu. Aku pikir kamu tidak membutuhkan apapun lagi.”
“Uh kamu sangat tega. Aku yang bekerja keras, tapi saat kamu menghabiskannya kamu tidak mengingatku sama sekali.” Alex mencebikkan bibirnya. Ini terlihat lucu untuk tampilannya.
“Uluh uluh... Manisnya suami aku. Maaf ya!” Nara mengulurkan tangannya. Mencubit pipi Alex dan menariknya ke kanan dan ke kiri.
“Aku memaafkanmu kali ini. Tapi lain kali kamu harus ingat untuk membelikanku sesuatu saat kamu belanja.” Kata Alex dengan serius.
“Oke! Aku akan ingat lain kali.”
__ADS_1
“Bagus.” Alex menepuk punggung Nara pelan. Tak berapa lama, ia mendengar dengkuran halus di bawah wajahnya. Saat ia melihat, ternyata Nara sudah tertidur dengan nyaman.
“Pak Farid, bawa mobilnya dengan hati-hati.” Pak Farid mengangguk. Ia sekilas melirik di kaca spion dan mendapati nyonya nya telah tertidur. Sebagai bawahan yang telah lama mengikuti Alex, ia ikut bahagia melihat kebahagiaan Alex dan Nara. Kedua orang ini saling melengkapi.
Karena pak Farid mengurangi kecepatannya, waktu tempuh yang harusnya hanya setengah jam berubah menjadi satu jam perjalanan. Waktu yang cukup untuk tidur siang.
Namun Virly, merasa dirugikan. Selama perjalanan ia bosan sampai hampir mati. Ia bahkan dirilah Alex saat hendak berbicara. Jadi, ia hanya bisa mengandalkan ponselnya untuk menemani. Membuka sosial media. Itupun mendapat teguran karena suaranya yang kata Alex mengganggu Nara tidur. Ingin sekali rasanya Virly meletakkan ponselnya tepat di telinga Nara dan membunyikannya dengan keras.
Sampai di kantor, Nara masih tertidur dengan pulas. Akhirnya Alex menggendongnya untuk masuk.
Bisik-bisik terdengar riuh. Para karyawan yang awalnya mengira jika posisi Nara akhirnya akan direbut oleh Virly pun menutup mulut mereka. Dengan melihat kasih sayang Alex, mereka bisa melihat seberapa besar bos mereka mencintai istrinya.
Alex bahkan meminta Virly untuk membawakan tas milik Nara. Gadis itu berjalan di belakang pasangan yang sedang menunjukkan kemesraan mereka dengan wajah menahan amarah. Telinganya bahkan mendengar ejekan tentang dirinya. Mengatakan jika dirinya terlalu berkhayal untuk berjalan di samping Alex.
Ting... Suara pintu lift yang terbuka akhirnya membangunkan Nara dari tidur nyenyaknya. Wanita itu terkejut saat mendapati dirinya ada di pelukan Alex.
“Sudah bangun?” tanya Alex saat melihat Nara membuka matanya. Ia membawa istrinya masuk. Mencium keningnya sambil tersenyum.
“Um.” Nara mengangguk lemas. Ia masih mengantuk. “Sayang turunkan aku.” Lanjutnya.
“Kenapa?” Alex mengernyitkan alisnya.
“Kamu tidak malu? Ada Virly di sini.” Nara menunjuk Virly dengan telunjuknya dengan canggung. Di dalam lift hanya ada mereka bertiga. Dan dia dengan Alex ada dalam posisi yang intim. Bukankah itu tidak sopan?
“Virly hadap ke barat!” perintah Alex tegas. Virly menggertakkan kakinya saat ia berbalik membelakangi Nara dan Alex yang melanjutkan keseruan mereka.
Virly....
Apakah kamu bisa menahannya?
Saat ini, gadis itu merasa tubuhnya panas. Hatinya ingin meledak!
*
*
__ADS_1
*
Terima kasih sudah mampir 🥰