
Setelah kejadian di hotel saat itu, Virly dibawa pergi oleh Alexis. Pada saat melakukannya dengan Virly, Alexis tidak menggunakan pengaman sehingga ia takut jika Virly hamil hasil benihnya.
Virly juga tidak mau ikut dengan senang hati. Gadis itu sampai harus dipaksa pergi. Runi yang melihat putrinya hancur juga lebih memilih bunuh diri.
Satu bulan tak terasa telah berlaku begitu saja. Dibandingkan bukan sebelumnya, satu bulan berikutnya terasa sangat lambat. Hari-hari Nara berjalan dengan biasa. Pergi ke dokter kandungan, atau berkunjung ke mansion Mahardika untuk belajar memasak, sesekali ia juga akan pergi ke hotel tempat Karina bekerja untuk menjemputnya.
Hubungan antara Serena Dengan Alex dan Nara juga berangsur membaik. Serena benar-benar kembali seperti Serena sebelum mengenal Virly. Bahkan lebih baik dari itu. Serena membuktikan diri bahwa ia bisa berubah menjadi ibu mertua yang sempurna. Perhatian dan baik hati. Bahkan rasa sayangnya pada Nara menjadi lebih besar dari pada sayangnya pada Alex yang merupakan anak kandungnya sendiri.
Nara menggulung dirinya di balik selimut. Entah kenapa pagi ini terasa sangat dingin tidak seperti biasanya. Saat beberapa kali Nara membolak-balikkan tubuh nya di atas ranjang, ia tiba-tiba melihat sesuatu yang baru.
Sudah hampir satu Minggu Alex pergi ke luar negeri untuk urusan bisnisnya. Jadi Nara selalu memakai kemeja Alex saat ia tidur karena tidak ada suaminya yang bisa ia peluk sampai tertidur.
Alex berkata baru akan pulang lusa. Tetapi yang berada di hadapan Nara seperti kenyataan. “Aku berhayal lagi.” Nara cemberut. Ia menarik tubuhnya dengan kesal. Sekali lagi Nara melirik bayangan suaminya yang sedang merebahkan diri di sampingnya sambil tersenyum manis padanya.
“Huh! Cepat pergi! Jangan ganggu aku. Aku kan jadi semakin rindu.” Ucap Nara semakin marah pada bayangan Alex.
“Yakin mau aku pergi?” banyangkan Alex perlahan duduk. Menaikkan alisnya dengan santai.
“Eh? Bayangan kok bisa bicara?” Nara mengucek matanya beberapa kali.
Dengan ragu Nara mengulurkan tangannya. Menyentuh pipi Alex dengan lembut. “Ini seperti nyata.” Ucap Nara masih belum sadar jika yang dilihat dan disentuhnya bukanlah bayangan.
“Lebih baik aku mandi.” Nara menyibakkan selimutnya. Tapi belum sempat ia turun, tubuhnya sudah dihempaskan ke atas ranjang.
“Kamu mau aku buat apa baru bisa percaya aku ini nyata?” Alex yang ada di atas tubuh Nara tersenyum licik.
“Ini beneran kamu sayang?” mata Nara berbinar bahagia. Ia sudah tidak memikirkan lagi ucapan Alex sebelumnya. Ia memilih mencubit pipi Alex dengan gemas. Memastikan apa yang ada di hadapannya benar-benar suaminya dan bukan hanya bayangan seperti beberapa hari ini.
“Aduh-aduh! Cukup sayang. Kamu mau wajah suamimu yang tampan ini jadi lecet?”
“Eh maaf. Aku tidak sengaja.”
Cup... “Maaf diterima.”
“Kamu kenapa sudah pulang? Bukannya kamu bilang lusa baru akan pulang?” tanya Nara heran.
“Kejutan... Happy anniversary sayang.” Alex mencium seluruh wajah Nara.
__ADS_1
“Hari ini anniversary kita?” tanya Nara tidak percaya.
“Ya. Duduklah. Aku punya hadiah untukmu.”
“Bagaimana aku mau duduk kalau kamu ada di atasku begini.” Protes Nara cemberut. Alex tersenyum dan segera membantu Nara duduk.
“Apa hadiahnya?” Nara menengadahkan tangannya.
“Kamu tutup matamu dulu.” Alex menutup mata Nara. Kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kalung dari batu giok tiga warna kemudian memasangkannya di leher Nara.
Ketika merasakan sesuatu yang dingin menempel di lehernya. Nara mengelusnya. Alex membuka mata Nara saat kalung itu sudah terpasang sempurna.
Nara memperhatikan kalung pemberian Alex. Kalung yang sangat cantik. Batu giok berwarna merah berbentuk hati menjadi pusat nya. Di sekitarnya batu giok berwarna biru laut dan juga hijau dibentuk indah sebagai hiasannya.
“Ini indah sekali.”
“Kalung ini di desain khusus. Hanya ada satu di dunia. Melambangkan cinta, kedamaian dan kemakmuran.” Jelas Alex. “Bagaimana apa kamu suka?”
“Sangat. Aku sangat menyukainya. Terima kasih sayang.” Nara mengalungkan tangannya di leher Alex. Kemudian mengecup bibir Alex yang sudah ia rindukan.
“Kamu sudah berterima kasih. Saatnya aku mendapatkan hadiahku. Mana?” Alex menatap Nara.
“Tapi aku melihat kamu menyiapkannya dengan baik.” Alex menatap buah dada Nara yang menempel di dadanya. Menyembul dari bra merah di balik kemeja miliknya.
Sadar arah pandangan mata Alex, Nara segera menutupi dadanya dengan kedua tangannya. “Mesum!” sungut Nara.
“Bukankah kamu yang paling menikmati kemesuman ku?” Alex menaik turunkan alisnya.
“Mana ada..aah.” Nara tanpa sadar mendesah saat tangan Alex diam-diam menyelinap di balik pakaiannya.
“Tubuhmu lebih jujur sayang.” Alex mendorong tubuh Nara perlahan menciumi istrinya yang sangat ia rindukan. Tangannya pun tidak bisa diam. Dengan cekatan melepas satu persatu kancing kemeja yang dipakai Nara.
Setelah kemeja berhasil disingkap, ia segera membenamkan wajahnya di sana. Leher dan dada Nara sudah tidak mulus lagi. Bercak-bercak merah berhasil ia buat di beberapa tempat.
Saat Alex sedang bermain dengan gunung favoritnya, Nara merasa mual. Didorongnya Alex dengan keras hingga membuat Alex terjengkang di atas ranjang.
Setelah berhasil menyingkirkan Alex dari atas tubuhnya, Nara dengan panik menangkupkan bajunya dan menutup mulutnya dengan tangan sambil berlari ke kamar mandi.
__ADS_1
Alex yang mendapati tingkah Nara menjadi panik. Ia segera turun dan menyusul Nara ke kamar mandi.
“Ada apa sayang?” Alex mendekati Nara yang sedang berada di depan wastafel.
Alex semakin panik saat melihat Nara muntah dengan parah. Ditekannya tengkuk Nara dengan lembut. Juga membantu membasuh wajah Nara. Membersihkan nya dari sisa muntahan yang hanya berupa cairan.
Setelah memuntahkan isi perutnya, Nara bersandar di sisi wastafel. Tubuhnya lemas tidak bertenaga.
“Aku akan membawamu kembali.” Alex menggendong Nara. Meletakkannya di atas ranjang dengan hati-hati.
“Aku akan panggil dokter.”
“Tidak perlu. Hanya masuk angin biasa. Beberapa hari ini sangat dingin di pagi hari. Jadi aku selalu masuk angin. Tapi nanti juga sembuh sendiri.” Jelas Nara.
“Ini bukan yang pertama? Kamu pernah seperti ini sebelumnya?” Nara mengangguk.
“Sayang! Sepertinya kita akan segera mendapatkan bayi. Di dalam perutmu ada bayi kita yang sedang tumbuh.” Ucap Alex semangat.
Mendengar ucapan Alex, Nara terdiam beberapa saat. Selama ini ia sudah berusaha dan belum juga dapat hamil. Sekarang, saat ada tanda-tanda bahwa dirinya hamil, rasanya ia tidak percaya. Ia takut hasilnya tidak akan sesuai yang diharapkan.
Melihat wajah sendu Nara Alex segera memangkunya. “Jangan bersedih. Anak itu rezeki. Bukan kita yang bisa mengatur. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa. Kita sudah berusaha dengan keras. Jadi saat ini kita tinggal berdoa supaya kamu benar-benar hamil.”
“Kamu benar. Aku akan sangat bahagia jika buah hati kita tumbuh di dalam rahimku.” Nara tersenyum. Alex mencium Nara dengan lembut.
“Ayo. Sebaiknya kita segera memeriksakannya di rumah sakit untuk lebih jelasnya.” Alex membantu Nara melepas bajunya. Kemudian menggendongnya kembali ke kamar mandi untuk dia mandikan.
Alex memperlakukan Nara dengan sangat baik. Menggosok tubuh Nara dengan lembut. Nara yang melihat Alex memandikan dirinya juga memberanikan diri untuk membuka pakaian Alex yang sudah basah.
“Jangan. Jika benar kamu hamil, kita tidak bisa melakukan nya sementara waktu.” Alex menangkap tangan Nara yang sudah ada di kancing bajunya. Bersiap untuk melepaskannya.
Meskipun dari awal king oyster miliknya sudah meminta jatah, sebagai pemilik yang bijak Alex punya cara sendiri untuk membuatnya tidur kembali.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih 🤩