
Nadia sedang dipeluk oleh guling hidupnya. Laki-laki itu melakukannya lebih dari satu jam. Beberapa kali dia memasuki milik Nadia. Hingga dirinya merasa puas dan tidur nyaman memeluk tubuh polos Nadia.
Obat kuatnya sangat manjur. Joni pernah bilang bahwa setiap kali juragan Bondan meminum obat kuatnya, dia pasti menggunakan dua orang gadis untuk memuaskannya. Benar-benar tua bangka mesum.
Dengan perlahan Nadia melepaskan diri dari laki-laki itu. Tubuhnya serasa lengket sekarang. Bau keringat bercampur dengan sp*rma membuatnya risih. Dia harus segara membersihkan diri.
Nadia segera memakai kembali pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi. Nadia juga harus segera melakukan kewajiban sholatnya.
Dia mendengar adzan pada saat terakhir kali juragan Bondan memasukinya. Itu artinya waktu sholat magrib akan segera habis jika tidak segera ditunaikan.
Setelah Sholat, Nadia keluar dari kamarnya. Mengabaikan laki-laki yang masih tidur di atas ranjangnya.
Nadia disambut dengan tatapan sinis dari dua wanita yang selalu mencari masalah dengannya. Devi langsung menarik rambut Nadia dengan keras. Membuat wanita itu mengaduh.
"Kalian ini kenapa sih? Rambutku sakit."
"Kamu harus diberi pelajaran biar kapok."
Tangan Yuli sudah terangkat. Berupay untuk menampar Nadia. Namun ucapan Nadia menghentikannya.
"Bapak di dalam. Apa kalian mau mendapat masalah?"
"Kamu bohong ya?"
Sepertinya kedua wanita itu belum tahu jika juragan Bondan sudah kembali dari kota. Apakah tadi langsung masuk ke kamarku? pikir Nadia. Dengan apa mereka akan percaya. Jika juragan Bondan tahu kelakuannya menyiksa Nadia tentu laki-laki itu akan menghukum berat Devi dan Yuli. Tak akan memperdulikan siapa mereka. Bahkan lebih buruk lagi, mereka bisa saja diusir.. Dan Nadia tidak mau sampai hal itu terjadi. Sinta pasti akan sedih.
"Aku tidak berbohong. Kalian lihat Leherku. Kalian pikir siapa yang melakukannya jika bukan bapak?"
Kedua wanita itupun memperhatikan leher Nadia yang terlihat banyak tanda merah disana. Tiba-tiba hati mereka merasakan sakit. Jadi, juragan Bondan langsung menemui Nadia setelah pulang. Apa begitu berarti Nadia sekarang. Dan apakah itu menandakan jika Devi bukanlah apa-apa sekarang selain hanya sekedar istri pajangan.
"Ada apa ini?" suara berat itu membuat ketiganya menoleh. Juragan Bondan berdiri di depan pintu dengan hanya menggunakan celananya dan dengan mata yang terlihat mengantuk.
"Bapak kapan pulang?" Devi menghampiri suaminya. Mengalungkan tangannya di lengan juragan Bondan. Berusaha mengalihkan perhatian.
"Ada apa Nadia?" Devi gagal. Juragan Bondan menatap Nadia dengan tajam. Dia terbangun karena mendengar Nadia mengaduh tadi. Devi dan Yuli menegang.
"Tidak ada apa-apa bapak. Tadi kakiku hanya tersandung." Nadia tahu jika juragan Bondan terbangun karena suaranya. Nadia melirik Devi dan Yuli. Memberikan kode untuk menyelamatkan mereka semua.
"Benarkah itu?" Devi dan Yuli mengangguk mengiyakan.
"Baiklah kalau begitu. Nadia kenapa kamu keluar?"
"Aku lapar."
__ADS_1
"Ohohoho. Baiklah kalau begitu. Cepatlah makan. Aku tahu tenagamu terkuras habis setelah melayaniku." Nadia segera pergi. Juragan Bondan juga Kembali masuk ke dalam kamar Nadia untuk mandi.
"Kapan bapak pulang bu?" tanya Yuli.
"Ibu juga tidak tahu. Kali ini jal*ng itu selamat."
Kurang baik apa Nadia pada mereka. Bisa saja Nadia memberitahu kebenarannya pada juragan Bondan. Atau mungkin menambahkan sedikit bumbu pedas akan lebih menarik. Tapi Nadia memilih menyelamatkan mereka berdua. Tapi Kedua wanita itu tidak hanya lupa cara berterima kasih. Mereka juga tidak merasakan sebuah bantuan yang tulus.
Nadia mendudukkan dirinya di kursi meja makan. Meminta makan pada seorang pembantu.
"Nyonya mau makan apa?" tanya pembantu itu. Sebenarnya makan malam sudah siap, tinggal Menatanya di atas meja.
"Bisakah mbok buatkan aku mie instan saja malam ini?" rasanya sudah lama sekali Nadia tidak memakan makanan merakyat itu. Sepetinya akan sangat nikmat.
"Bisa. Pakai telur berapa?"
"Hemm. Dua boleh. Jangan lupa cabainya tiga ya mbok." dia sangat lapar.
"Siap nyah."
Nadia duduk menunggu pesananya datang. Mengetuk-ngetuk meja dengan kuku jarinya. Perutnya terasa sangat lapar sekarang. Siang tadi dia tidak makan karena dia tidak membawa bekal.
"Nyonya tidak makan siang?"
Mbok Darmi, wanita lima puluh tahunan itu mendesah. Dia tahu apa yang terjadi pagi tadi. Sebenarnya dia sudah menyiapkan bekal ganti untuk Nadia. Tapi ketika dia keluar Nadia sudah berangkat.
Bau harum mie menguar begitu saja. Menggelitik lidah untuk segera mencecap enaknya. Bau cabai setengah matang tercium semakin menggugah selera. Uap panas mengepul di atas mangkok berisi mi instan kuah itu.
Nadia menepuk kedua tangannya. Sangat senang mendapati mie pesanannya matang. Perutnya sudah minta diisi. Cacing dalam perutnya sudah bernyanyi sejak tadi. Apalagi tenaganya dikuras habis oleh juragan Bondan.
"Silahkan nyonya muda."
"Terima kasih Mbok." Nadia segera menerima mie nya. Tersenyum manis pada Mbok Darmi. Sosok mbok Darmi sudah seperti ibu baginya. Menyayangi Nadia seperti anaknya sendiri. Dia tahu betul penderitaan yang dialami gadis muda itu.
Mbok Darmi melihat Nadia dengan senang. Dia bahagia melihat senyum Nadia. Senyum tulus Nadia yang ditimbulkan oleh hal sepele itu menyejukkan hatinya.
Dialah saksi yang sering menyaksikan tindakan kasar yang dilakukan oleh Devi dan Yuli selama ini. Mbok Darmi pernah punya niatan untuk melaporkan hal itu pada tuannya. Tapi dihalangi oleh Nadia.
Mbok Darmi melanjutkan pekerjaannya. Menyiapkan makan malam dengan pembantu lainnya. Mereka segera menata makanan di atas meja. Tak lama setelah itu, para penghuni rumah berdatangan untuk makan malam bersama.
Devi, Yuli, Anton(Suami Yuli) dan dua anaknya Lisa yang masih kelas tiga SD dan Bima yang masih TK duduk di kursinya masing-masing. Devi dan Yuli menatap Nadia dengan tatapan kebencian.
"Tidak sopan. Bapak belum datang sudah makan." cibir Yuli. Di rumah ini, belum ada yang boleh makan sebelum juragan Bondan sebagai kepala rumah tangga datang.
__ADS_1
"Bukankah semua ini juga kalian penyebabnya. Apakah kalian sudah lupa dengan apa yang kalian lakukan pada makan Siangku?" Nadia kembali memakan mie nya.
"Ante, apakah mienya enak?" tanya Bima.
"Enak. Tapi Bima tidak boleh minta." Nadia mencubit gemas pipi tembem Bima. Anak laki-laki itu terlihat menggemaskan dengan badan tambun dan pipi yang tebal seperti bakpao. Bima merengut. Mencebikkan bibirnya.
"Ante pelit."
"Bukan pelit sayang. Tapi, mi tante ini pedas. Jadi Bima tidak boleh makan."
"Huh! Baiklah. Aku akan minta mbok Darmi buatkan."
"Tidak boleh Bima. Kemarin kamu sudah makan mie instan. Sekarang tidak boleh." Yuli mencekal tangan Bima yang akan pergi ke dapur.
"Tapi kenapa ma?" Bima tidak terima. Dia harus memakan mie enak itu lagi malam ini.
"Tidak boleh ya tidak boleh. Jangan melawan kamu!" Air mata anak itu hampir saja menetes.
"Bima, makan mie instan setiap hari tidak baik untuk kesehatan. Jadi, hari ini makanlah apa yang ada di meja makan ya. Ada ayam kecap lo. Kamu suka kan?" ucapan Nadia membuat anak itu kembali tenang. Duduk di tempatnya. Dia memandang ayam kecap yang terlihat enak di atas piring.
Makan malam baru dimulai setelah juragan Bondan datang. Nadia sudah selesai. Tapi dia juga masih harus disana.
"Malam ini bapak tidur di kamarku ya." kata Devi setelah selesai makan. Nadia melirik sekilas wanita itu. Sejujurnya wanita itu terlihat menyedihkan karena terlalu sering dilupakan oleh suaminya. Hampir setiap malam laki-laki tua itu tidur dan menghabisi Nadia. Sehingga jarang menghabiskan waktu dengan istri pertamanya.
"Baiklah. Lagipula aku tadi juga sudah menyelesaikan urusanku dengan Nadia." Juragan Bondan tersenyum puas ke arah Nadia. Membuat Devi dan Yuli mengepalkan tangannya. Nadia hanya cuek. Dia terlalu biasa mendengar ucapan juragan Bondan yang terdengar ambigu bahkan di depan dua cucunya yang masih di bawah umur.
"Kamu tidak apa-apa kan Nad?"
"Tidak apa-apa. Bu Devi pasti kangen dengan bapak. Habiskanlah banyak waktu dengannya bapak." ucap Nadia.
"Hahahaha. Kamu memang istri yang pengertian."
Bukankah mereka terlihat sperti sebuah keluarga harmonis walau sebagai status istri tua dan istri muda?
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😘
^^^~***Aku Istri Muda***~^^^
__ADS_1