
Suatu keberuntungan untuk Nadia bahwa dia memiliki seseorang seperti Joni di sisinya. Laki-laki muda itu memiliki kemampuan dalam berbagai hal yang tidak perlu diragukan lagi.
Menjadi anak buah dari Juragan Bondan tidak hanya membutuhkan tubuh yang besar, namun juga memiliki kemampuan bela diri yang tangguh. Tapi, banyak hal yang dimiliki Joni namun tidak dimiliki rekannya yang lain. Joni sangat teliti dalam berbagai hal, cerdas dalam membaca keadaan dan juga setia, dalam hal ini kesetiaan Joni sudah ditujukan pada Nadia. Nyonya Mudanya.
Kemampuan Joni dalam menjadi mata-mata juga tak diragukan lagi. Dia dapat berkamuflase dengan baik. Bahkan dia peka terhadap gerak bibir orang meskipun tak sedikit pun suara ia dengar. Joni bisa membaca gerak bibir dengan mudah.
“Bagaimana Jon?” tanya Nadia keesokan harinya. Nyonya muda itu tahu betul kemampuan Joni. Tak akan butuh waktu lama untuk mengetahui masalah kecil di desanya.
“Hem. Seperti dugaanmu Nad, suami tercintamu kembali membuat masalah.”
“Dian?”
“Tepat. Dan ini adalah kasus yang paling parah.”
Nadia kehilangan kata. Bagaimana seorang gadis yang masih sangat muda dapat menjadi korban suaminya. Kasus seperti ini memang sering. Tapi Dian bukanlah seperti gadis yang lain di desa ini. Nadia tahu betul jika Dian telah menggantungkan cita-citanya dengan tinggi. Gadis itu ingin menjadi Dokter.
“Parahnya bagaimana Jon?”
“Dian stres Nadia.”
Nadia membeku. Ini hal yang paling menyedihkan. Ini pasti suatu kesalahan. Nadia tahu betul jika selama ini suaminya tidak akan pernah memaksa keinginannya pada seorang gadis, kecuali dirinya tentu saja. Justru para gadislah yang dengan suka rela menawarkan tubuh mereka.
“Perlu aku selidiki lagi?” Joni fikir Nadia kurang yakin akan hal ini.
“Tidak perlu Jon. Aku sendiri yang akan menemuinya. Aku ingin mendengar secara langsung tentang masalah ini.”
“Dia stres Nad. Dia sedang tidak sadar. Setengah gila. Bagimana bisa diajak bicara?"
“Apakah ibunya juga? Kau fikir aku sebodoh itu dengan menanyai orang yang sedang stres?”
...🌸🌸🌸...
Suatu hari....
__ADS_1
Seorang wanita paruh baya mendatangi juragan Bondan di kantor penggilingan beras. Wanita itu adalah Minah. Orang tua satu-satunya Dian. Ayah Minah meninggal dua tahun yang lalu akibat kecelakaan. Selama ini mereka bergantung pada penghasilan Minah berjualan di warung.
Kedatangan Minah ke kantor juragan Bondan bukan untuk meminjam uang ataupun membeli beras. Tapi ingin membuat kesepakatan dengan laki-laki berperut buncit itu.
“Saya mendengar nyonya muda sedang dirawat di rumah sakit.” Kata Minah berbasa basi.
“Benar. Lalu?”
“Juragan pasti kesepian?” mendengar itu juragan Bondan tertawa. Ia sudah dapat menebak tujuan dari wanita yang usianya beberapa tahun di bawahnya itu.
“Kamu tahu kan kalau Nadia itu adalah nyawa hidupku. Tentu saja aku kesepian tanpanya.” Ucap juragan Bondan. Kemudian dia menatap dengan serius Minah. Menopang dagunya dengan tangan kirinya. Matanya memindai Minah dari atas ke bawah. “Sayangnya kamu bukan seleraku. Aku sudah punya yang sepertimu bahkan sepertinya lebih baik dari milikmu.” Lanjutnya mengejek Minah. Devi, walaupun sudah tua tapi dia pandai merawat diri. Seminggu sekali dia juga akan perfi perawatan di salon.
“Ah juragan bisa saja. Tapi, bukan saya orangnya.”
“Lalu?”
“Dian. Anak saya. Masih perawan ting ting. Usianya juga lebih muda dari nyonya muda. Saya jamin juragan pasti puas.”
Juragan Bondan mengernyitkan dahinya. Walaupun dia memang menyukai wanita, namun selama ini dia belum pernah menemukan wanita yang dengan mudahnya menawarkan anak gadisnya begitu saja. Apakah dia ini sudah gila?
“Lima juta juragan. Buat tambahan modal warung.” Warungnya kekurangan modal. Barang yang ia sediakan di warungnya masih banyak yang kurang. Padahal warung yang ia siapkan termasuk berukuran besar. Dan sekarang terlihat kosong.
“Hahaha. Tapi apa kamu yakin mau menyerahkan anak gadismu padaku?”
“Tentu juragan.” Jawab Minah pasti.
Sebenarnya bukan hanya itu niatnya. Rencana yang ia buat jauh dari pada ini. Minah berharap bahwa Dian akan menjadi salah satu istri juragan paling kaya di desanya apabila dia hamil. Sudah lama dia merencanakan semuanya. Dian sejak lama mengkonsumsi jamu untuk menyuburkan kandungan. Jadi sekali saja benih dari juragan itu ditabur, kemungkinan tumbuh akan semakin besar.
“Baik-baik. Nanti malam aku akan mengunjungi putrimu. Persiapkan dia baik-baik.”
Hari itu menjadi hari yang paling disesali dalam hidup Minah. Bagaimana dengan mudahnya ia menyerahkan anak gadisnya pada laki-laki seperti Juragan Bondan hanya untuk segelintir uang.
Nadia dan Joni yang mendengarkan cerita itu merasa miris. Awalnya mereka mengira bahwa juragan Bondan meminta “itu” sebagai pelunas hutang. Namun, kenyataan yang keluar dari mulut seorang ibu yang telah menjual keperawanan anaknya ini menjadi duri dalam hati Nadia.
__ADS_1
Nadia mengepalkan tangannya. Meredam amarahnya. Bagaimana ada ibu yang begitu tega. Mata Nadia merah bukan karena menangis atau semacamnya. Mata itu memerah meredam emosi.
“Semua yang terjadi memang sudah berlalu. Kita tak mungkin bisa memutar waktu. Sebenarnya saya sangat marah pada Bu Minah sekarang.” Kata Nadia setelah menghirup udara dalam-dalam.
“Saya memang bersalah Nyonya Muda. Saya tahu juragan Bondan itu sudah memiliki dua istri. Tapi saya begitu tamak. Saya pikir Dian akan bisa menjadi istri ketiga juragan.”
Sekali lagi, pengakuan Minah membuat hati Nadia seperti ditindih batu yabg besar.
Apakah kehidupannya selama ini terlihat begitu menyenangkan hingga ada seorang ibu yang menginginkan anak gadisnya bernasib sepertinya? Sepertinya manusia memang benar diciptakan untuk saling melihat. Saling merasa iri dengan apa yang dimiliki orang lain.
“Semua yang terjadi pada Dian memang bukan sepenuhnya salahmu. Tapi semua berawal dari salahmu dalam melihat hidup.”
“Saya memang salah nyonya muda. Maafkan saya.” Minah berlutut di depan Nadia. Mengatupkan tangannya di depan dada.
“Mengapa Bu Minah meminta maaf ada saya? Bu Minah tidak memiliki salah pada saya.”
“Tapi saya berniat menggeser posisi Nyonya Muda.”
“Huh! Andai ada yang bisa melakukannya saya akan dengan suka rela memberikannya.” Nadia mendengus, kemudian membantu Bu Minah berdiri. memintanya menunjukkan keberadaan Dian.
Bu Minah membimbing Nadia untuk masuk ke dalam salah satu kamar di rumah sederhana Minah. Di depan pintu tergantung tulisan “Dian Zone” yang dihias sederhana namun terlihat indah. Dilihat dari bahannya yang terbuat dari bahan sederhana seperti kardus, pelepah pisang dan daun kering, ini pasti hasil karya Dian sendiri mengingat gadis itu sebelumnya adalah gadis yang ceria dan aktif.
Nadia tercengang. Air matanya meleleh melihat penampilan gadis muda di depannya. Nadia sedikit banyak bisa merasakan apa yang dirasakan Dian pada saat itu hingga menjadi seperti ini.
Jika Nadia tidak memiliki hati yang kuat, dia pasti juga berada dalam posisi yang sama mengerikan dengan Dian saat ini. Bahkan mungkin lebih.
Nadia beruntung karena saat itu ada Sinta yang selalu mendukung dan memberinya motivasi. Jika tidak, bisa saja dirinya telah kama memilih untuk mengakhiri hidupnya, sama seperti yang dilakukan Dian.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca cerita receh akoh, mulai dari sini, akan banyak konflik yang akan muncul. Mungkin akan membuat para reader geregetan. Tapi akoh mohon tetap setia sama cerita akoh ini. Sebab setiap kejadian yang ada di cerita semuanya saling berhubungan.
See you 😘