
Meja makan penuh dengan berbagai jenis masakan. Mulai dari eppetizer, entres, sup, salad dan juga dessert. Semua makanan kesukaan Alex saat kecil ada di atas meja. Semua dimasak di bawah pengawasan dan kendali Serena. Wanita paruh baya itu ingin memastikan bahwa makan malam kali ini akan meninggalkan makna yang berarti untuk semuanya.
Di sekeliling meja, Tujuh orang duduk di kursi yang disediakan. Kursi kepala keluarga yang biasanya diduduki Alex kali ini ditempati Nathan meskipun laki-laki itu menolak. Menurut Alex, baginya Nathan juga merupakan papanya. Jadi jika ada Nathan, dia tetap berada di tingkatan bawah yang harus memberi hormat.
Di sebelah kanan Nathan duduk Nadia, Gerry dan Dini. Sedangkan Alex, Nara dan Serena duduk di sisi sebelah kiri. Makan malam sudah dimulai beberapa saat yang lalu. Suara denting sendok yang beradu dengan piring diselingi suara obrolan dan juga gelak tawa.
“Semua ini mama Serena yang memilih menunya. Enak kan ma? Ada yang mama masak secara spesial juga.” Ucap Nara di sela makannya. Ia meminta dukungan dari Nadia.
“Enak. Pantas saja kamu betah di sini. Punya mertua baik hati lagi. Sabar ngadepin sikap kamu yang sering kekanakan.” Ejek Nadia.
“Mama ih! Aku kan nggak gitu.” Nara sedikit mengetuk sendok nya. Menghasilkan bunyi dentingan yang lumayan keras. Wajah ceria gadis itu seketika berubah masam.
“Menantuku sangat baik. Selama ini tidak kekanakan.” Bela Serena sambil mengelus punggung tangan Nara.
“Mungkin karena ada mamanya jadi manjanya kumat.” Nathan terkekeh mengejek Nara. Membuat Nadia tersenyum senang mendapat dukungan dari suaminya.
“Kak Nara emang manja dari lahir.” Gerry tersenyum jahil menatap kakaknya yang duduk di seberang mejanya.
Nara memicingkan matanya. Kemudian dengan tepat melemparkan paha ayam ke piring Gerry hingga membuat pria muda itu terperanjat kaget.
“Wah kak Nara emang paling mengerti kalau aku suka bagian paha. Makasih ya.” Sekali lagi, senyum jahil yang terlihat mengesalkan bagi Nara terlihat di bibir Gerry.
“Sayang, istrimu dianiaya sama Gerry. Berikan aku keadilan. Potong saja jatah uang saku untuknya.” Rengek Nara menarik lengan Alex. Ia melirik Gerry dengan lirikan penuh kekesalan sekaligus mengejek adiknya itu.
“Mohon ampun yang mulia raja. Hamba tidak berani. Hamba tidak akan mengulanginya lagi. Jadi hamba mohon jangan potong uang sakunya ya. Ya?” Gerry menangkupkan kedua tangannya dengan serius dan menatap Alex penuh harap.
Semenjak Alex menikah dengan Nara, laki-laki itu memang selalu memberi Gerry dan Dini uang saku tambahan setiap minggunya yang jumlahnya tidak kalah dari yang diberikan oleh Nathan. Dan itu membuat kedua remaja itu memiliki cukup uang di rekening mereka yang siap mereka gunakan.
“Tidak-tidak. Ini tidak bisa dibiarkan. Biar kamu diberi pelajaran.” Sarkas Nara.
__ADS_1
“Kali ini Nara benar. Kamu tidak usah lagi memberi mereka berdua tambahan uang saku. Takutnya malah dibuat foya-foya. Mereka masih terlalu muda memegang banyak uang.” Nathan menatap Alex dengan serius.
Dia tidak keberatan jika Alex memberi uang pada Gerry dan Dini. Ia juga tidak merasa diolok atau merasa tidak nyaman. Toh uang sebesar itu juga tidak terlalu berarti bagi kehidupan Alex. Namun yang ia khawatir kan adalah jika nanti Gerry dan Dini akan tumbuh menjadi orang yang terbiasa berfoya-foya.
“Tidak pa! Dini bukan gadis yang suka menghamburkan uang. Papa bisa cek sendiri saldo rekening Dini.” Dini tidak terima jika ia dituduh sebagai gadis muda yang suka pemborosan. Dia juga tidak bisa kehilangan salah satu sumber pundi-pundi penghasil uangnya begitu saja. Untuk saat ini ia memang masih belum tahu akan dia apakan uang sebanyak itu nantinya. Tapi siapa yang akan tahu jika di masa depan nanti dia memiliki rencananya sendiri.
“Tidak apa-apa pa. Mereka masih muda. Masih mencari jati diri. Asal dikontrol secara teratur lama kelamaan mereka juga akan berpikir secara bijak.” Alex sungguh tidak keberatan akan hal itu.
“Oke. Kalau itu kemauanmu. Oh ya kalian sudah menikah lebih dari satu bulan. Apa tidak ada rencana untuk pergi bulan madu?” mendengar pertanyaan dari Nathan, Alex dan Nara saling memandang.
Beberapa hari yang lalu mereka memang sudah membahas masalah ini. Pekerjaan di kantor sudah tidak sepadat bulan lalu. Jadi jika Alex merencanakan berbulan madu dan Nara menyetujuinya. Namun karena Serena datang ke rumah mereka, Nara tidak ingin meninggalkan Serena dan berniat mengajaknya berlibur.
Alex tentu saja menolak gagasan Nara. Dia hanya ingin menghabiskan waktu beberapa hari bersama Nara. Tanpa orang lain. Apa lagi orang itu adalah Serena. Orang yang paling membuatnya tidak nyaman saat ini.
“Di kantor masih banyak pekerjaan yang tidak bisa kami tinggalkan. Jadi kami masih belum bisa pergi.” Alex melirik Nara. Berharap istrinya itu mengerti maksudnya berbohong pada Nathan tentang alasan yang ia buat dan juga bisa bekerja sama.
“Benar pa. Nanti kalau sudah ada waktu kami akan pergi.”
Mendengar pertanyaan Serena, Alex melirik malas pada Nara. Mengingat alasan Nara membatalkan rencana bulan madu mereka, membuat Alex menyesal telah mengizinkan Serena tinggal di rumahnya.
“Belum ma. Kami baru menikah selama satu bulan. Dan itu juga tanpa persiapan. Apalagi masalah yang ada di perusahaan bulan lalu membuat Alex harus bekerja keras untuk membuat perusahaan kembali stabil. Jadi kami memang belum sempat.”
“Oh seperti itu. Mama doakan semoga urusan kalian segera lancar dan bisa pergi bulan madu dengan tenang.” Ucap Serena Dengan tulus.
“Mama rasa tidak masalah jika kalian tidak pergi bulan madu. Tapi kalian harus menggantinya dengan babymoon. Itu baru benar.” Nadia memandang Alex dan Nara serius. Dia benar-benar ingin segera dipanggil nenek oleh anak-anak Alex dan Nara.
“Benar itu ma. Bu Serena juga setuju kan?” Nathan meminta dukungan dari Serena. Pada umumnya tidak ada yang tidak ingin segera memiliki cucu setelah menikahkan anak mereka. Tentu saja Serena juga tidak akan berbeda.
“Benar. Saya sudah tua. Mumpung masih bisa menimang cucu jadi memilikinya lebih cepat lebih baik.” Serena tersenyum senang.
__ADS_1
Nara beberapa kali menelan salivanya dengan berat. Wajahnya memerah karena malu. Sedangkan Alex lebih menanggapinya dengan acuh. Baginya memiliki Nara adalah sebuah keberuntungan. Jadi ia dapat segera memiliki anak atau tidak bukan masalah besar untuknya.
“Yang penting anak pertama kak Nara nanti harus laki-laki. Nanti aku akan mengajarkan semua ilmuku padanya.” Gerry berkata dengan antusias. Mendengar perkataan Gerry, Nara mendadak merubah ekspresi malu-malunya menjadi tatapan tajam pada adiknya itu.
“Jika ilmu yang kamu maksud adalah ilmu seribu cara menjadi playboy-mu, jangan pernah membaginya dengan anakku. Kamu tunggu saja anakmu lahir baru bisa menurunkan bakatmu padanya nanti.” Kata Nara sewot.
“Kamu berkata seperti itu. Atau jangan-jangan di perutmu itu sudah ada bayinya?” Gerry menaik turunkan alisnya. Pertanyaannya ini membuat semua orang memandang pada Nara dan menunggu dengan harap jawaban dari pengantin baru itu.
“Belum-belum. Aku belum hamil.”
“Yaaah... Masih harus menunggu lagi calon muridku.” Ucap Gerry kecewa. Sepertinya ia melupakan perkataan Nara sebelumnya.
“Sayang, mulai sekarang kamu harus mengurangi aktivitas mu. Alex juga. Jika kalian menghabiskan waktu yang banyak untuk bekerja, kapan kalian punya waktu untuk diri kalian sendiri?” Nadia memandang Nara dengan intens.
“Ah mama tenang saja. Untuk masalah itu kami tidak pernah tidak ada waktu." ucap Nara cengengesan. "Iya kan sayang?” Nara berkata tanpa berpikir. Alex yang mendengar ucapan absurd istrinya berdehem untuk menghilangkan rasa canggungnya.
“Hahahaha. Aku suka anak muda yang penuh semangat dan gairah. Bagus itu. Kalau bisa kalian harus setiap hari berjuang. Buatkan papa cucu-cucu yang lucu.” Mendengar perkataan Nathan, seketika Nara menyadari jika perkataan nya tadi sungguh tidak pantas diucapkan. Ia semakin malu.
“Ehm.” Nathan berdehem untuk menghentikan tawa bahagianya. “Papa perhatikan masalah perusahaan sedikit demi sedikit terselesaikan dengan baik. Papa rasa kalian bisa meninggalkannya dengan tenang. Papa merasa Gibran juga mampu menangani sisanya. Lagipula ada Bisma juga yang bisa membantu Gibran nantinya. Jadi segera atur waktu dan pergi bulan madu. Memang babymoon yang dikatakan mama kalian itu bagus. Tapi kondisi setiap wanita hamil tidak terduga. Jangan sampai membahayakan cucu kecil kami yang sedang tumbuh jika kalian pergi di saat Nara hamil. Jadi sebelum cucu kami benar-benar ada di perut Nara, lebih baik segera pergi bulan madu.”
Alex dan Nara mengangguk dan mengiyakan. Mereka juga sependapat dengan Nathan dalam hal ini. Apa yang dikatakan Nathan ada benarnya juga. Tidak baik bagi wanita hamil melakukan perjalanan yang menghabiskan tenaga.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 🤩
__ADS_1
Like dan votenya ya..(✷‿✷)
Ditunggu (◠‿◕)