
Siapa yang nungguin Double N ketemu? Untuk momen spesial keduanya, Akoh siapin episode terpanjang. Seribu lima ratus lebih kata di episode ini. Semoga mengobati penasaran kalian 😍
Karena banyaknya permintaan buat pertemuan mereka, akoh up satu eps lagi.
Happy Reading...
Semenjak kejadian sore itu, Bisma seperti menabuhkan genderang perang setiap bertemu dengan Neil. Bisma dan Nara sering diajak keluar jalan-jalan oleh Satria. Dan mereka sering bertemu dengan Neil. Entah mengapa, setiap bertemu dengan Niel Bisma seperti bertemu dengan musuhnya.
Sebaliknya, Nara sangat menyukai Neil. Meskipun Neil terlihat dingin. Namun ia sebenarnya sangat perhatian. Itulah yang membuat Nara menyukai Neil. Ia sering memanjakan adik temannya itu.
“Mama, Nara pengen punya papa kayak om Neil.” Kata Nara saat mereka berada di kafe. Nara kecil melihat seorang gadis kecil seumurannya yang sedang digandeng ayahnya. Nadia mencelos.
Bukannya ia tidak ingin menikah. Tapi ia mempunyai janji pada Nathan untuk menjaga cintanya. Lagipula, ia tidak mencintai laki-laki manapun selain Nathan. Mana mungkin ia akan menikah hanya karena Nara menginginkannya. Lagi pula ini bukan kali pertama Nara memintanya menikah dengan sosok laki-laki idolanya.
“Om Neil siapa sayang?” tanya Nadia. Sebelumnya ia belum pernah mendengar nama ini disebutkan oleh putrinya. Siapa juga yang mengenalkan putrinya pada seorang laki-laki?
“Om Neil itu temannya kak Satria. Udah baik, dia juga tampan ma. Tampaaaan banget.” Nara menangkupkan kedua tangannya di depan dada sambil mengerjapkan matanya beberapa kali.
Nadia mengerti sekarang. Anak tiri besarnya masih saja genjar berniat menjodohkannya. Ia tahu mengapa jika selama ini Satria menggantungkan hubungannya dengan Hesti karena ia ingin jika mamanya menikah terlebih dahulu. Berulang kali Nadia sudah menasehati Satria agar mengabaikan hal ini dan segera menikahi gadis yang sudah dua tahun ini menjadi kekasihnya.
Bangun dari pikirannya, Nadia mencubit hidung Nara dengan gemas. “Aduh sayang nya mama. Udah tahu cowok tampan ya?” ucapnya menggoda putrinya.
“Iya dong ma. Om Neil itu tampan. Kak Satria aja kalah.” Puji Nara. Dalam benak gadis kecil itu sedang membayangkan sosok papa idamannya. Wah! Betapa ia ingin memiliki Neil sebagai papanya.
“Jangan percaya ma. Om Neil itu musuh bebuyutan Bisma.” Bisma melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya penuh kebencian. Mendengar ini Nadia mengerutkan alisnya. Ia tahu jika Bisma akan berusaha menjauhkan mamanya dari laki-laki. Tapi melihat Bisma sangat membenci seseorang ini sedikit aneh.
“Bisma, sejak kapan Bisma punya musuh? Itu tidak baik sayang.” Tegur Nadia. Ia tidak mau anaknya itu menjadi anak yang kasar.
“Ma, laki-laki itu sama aja. Dia Cuma lihat mama karena mama cantik. Ia belum tentu bisa menjaga mama dan Nara.”
“Om Neil bisa! Om Neil kuat.” nara tidak terima jika Neil dijelekkan.
“Om Neil tidak sekuat aku. Kalau aku sudah besar. Aku akan menikahi mama dan menjaga mama.” Nadia tersenyum mendengar ucapan polos Bisma.
“Bisma sayang, semua orang tidak ada yang sama. Manusia diciptakan dengan segala sifat berbeda yang melekat pada masing-masing orang. Kita tidak bisa menyimpulkan seseorang hanya dengan melihat orang lain. Kamu dan kak Satria juga laki-laki kan? Lalu apakah kalian berdua juga akan sama dengan laki-laki lain”
“Tidak ma. Tentu saja aku dan kak Satria berbeda.”
“Bagus. Itu baru putra mama. Kita tidak boleh menilai seseorang dari sekali pandang. Oke?”
“Oke ma.”
“Baiklah, Kalian mau makan sekarang? Mama masakin ya.” tawar Nadia untuk meredakan perdebatan antara keduanya.
“Iya ma.” Jawab keduanya kompak. Nadia segera berdiri dan berjalan ke dapur. Suasana Kafe sedang sepi. Jadi banyak kursi yang kosong karena ini bukan jam makan.
Namun belum sampai di dapur Nadia berhenti. Tubuhnya membeku karena kaget. Pemandangan di depannya sangat tidak ia duga. Ia segera berbalik dan berniat pergi. Namun sayangnya sebuah tangan yang besar menarik tangannya dan dengan cepat melingkarkan kedua tangan itu di pinggangnya hingga punggungnya menabrak dada bidang di belakangnya.
“Aku datang Nadia. Aku datang untuk menagih janjimu.” Nadia membeku. Suara seksi yang terdengar tepat di telinganya itu membuat aliran darahnya panas mengalir lebih deras. Belum lagi degupan jantung yang tak lagi berirama. Apalagi nafas hangat yang menyapu wajahnya. Membuatnya memerah.
__ADS_1
“Mau pergi kemana lagi kamu Nadia?” bisikan itu membuat Nadia meremang. Sebagai seorang wanita yang sudah lama tidak disentuh laki-laki, ada kerinduan tersendiri tentang hal itu.
“Wajahmu memerah sayang.” Bisiknya lagi. Nadia semakin kikuk.
“Dokter, lepaskan saya. Lihatlah kita jadi tontonan semua orang.” Ekor mata Nadia menyapu ke sekeliling. Mereka menjadi pusat perhatian seketika. Ia malu. Namun sebaliknya, Nathan tidak menghiraukan mereka yang mendapatkan tontonan gratis secara langsung. Menganggap semua orang tidak ada.
“Lalu kamu bisa kabur lagi? Tidak.” Dengan gerakan yang cepat, Nathan membalik tubuh Nadia dan menenggelamkan tubuh wanita yang selama ini ia rindukan ke dalam Pelukannya. Tangan kirinya memeluk posesif. Sedangkan tangan kanannya menekan kepala wanitanya di dadanya. Pucuk kepala sang wanita juga menjadi ladang ciuman bertubi-tubi darinya.
Nathan memeluk erat tubuh itu. Rasa rindunya yang menggunung terobati sudah, hingga ia mengabaikan tatapan semua orang yang ada disana. Terutama tatapan dua orang anak balita yang memandang keduanya dengan tatapan yang berbeda.
“Aku merindukanmu Nadia.” Ucap Nathan. Mendengar ucapan tulis itu, air mata mengalir di pipi Nadia. Perasaan rindu dan rasa bersalahnya segera menyerang. Semua ini salahnya.
Awalnya Nadia ragu untuk mengangkat tangannya untuk membalas pelukan penuh kerinduan itu. Namun akhirnya ia kalah. Ia pun merindukan laki-laki yang memeluknya dengan penuh kehangatan itu. Akhirnya tangan Nadia terangkat dan memeluk erat laki-laki yang sangat ia rindukan.
Dan sekarang, tangis Nadia pun pecah. Ia terisak dan semakin mencari kenyamanan di dalam pelukan Nathan. Sebuah senyum terbit di bibir Nathan. Nathan mengelus punggung Nadia yang bergetar. Menciumi pucuk kepala wanita di dalam pelukannya sekali lagi.
“Maafkan aku dokter. Aku terpaksa pergi.”
“Tidak masalah. Sebab kemanapun kamu pergi aku akan tetap menemukanmu sayang. Bagaimana bisa aku membiarkan janjimu tidak terlaksana.”
“Soal itu....” Nadia membeku. Laki-laki ini masih mengingat janji yang mereka buat.
Semua orang yang berada disana ikut terharu. Mereka memang tidak tahu bagaimana kisah keduanya, Namun Mereka mengambil kesimpulan bahwa keduanya adalah sepasang kekasih yang lama terpisah.
“Lepaskan mamaku Om Neil!” teriak Bisma menyadarkan semua orang. Kedua orang yang sedang berpelukan pun dengan enggan melepaskan pelukan mereka. Namun Nathan tetap mengaitkan lengan panjangnya di pinggang Nadia.
“Ya. Dan sebelahnya...” jawab Nadia antusias.
“Nara kan?”
“Dokter sudah tahu?” Tanya Nadia heran.
“Huh! Dulu bapaknya. Sekarang anaknya yang mencoba menghalangiku.” Dengus Nathan. Kini ia paham kenapa Bisma memandangnya seperti musuh. Ia membawa gen bapaknya.
Nadia terkekeh. Sekarang ia paham siapa sosok yang tadi diperdebatkan kedua anaknya. Kemudian ia melambai pasa keduanya dan meraih kedua anaknya yang mendekat.
“Mama, jangan menikah dengan Om Neil.” Kata Bisma dengan wajah kesalnya. Nathan berdecak mendengar perkataan Bisma. Pantas saja sejak pertama mengenalnya ia merasa tidak asing dan sedikit perasaan jengkel yang entah muncul dari mana.
“Mama. Aku mau om Neil jadi papaku.” Nara tidak terima. Neil adalah papa impiannya.
“Tidak Nara. Mama akan menikah denganku nanti.”
Nathan dan Nadia saling memandang mendengar ucapan polos Bisma. Menyadari mereka menjadi pusat perhatian, Nadia membawa mereka ke ruangannya.
Di ruangan Nadia...
Nathan memperhatikan ketiga orang yang ada di sekitarnya. Dengan Nara yang dengan manja berada di atas pangkuannya ia merasa satu langkah ia telah maju. Selanjutnya ia melihat Bisma yang dengan posesif memeluk lengan Nadia.
‘Benar-benar anak juragan Bondan. Dulu bapaknya menikahi wanita yang umurnya jauh di bawahnya. Dan sekarang anaknya ini... ck ck ck.’ Batin Nathan. Sepertinya Nathan mulai berfikir tidak rasional setelah sekian lama menyimpan sendiri cintanya. Ia bahkan mengabaikan darimana ucapan itu berasal. Anak sekecil Bisma tentu saja mengucapkan itu secara spontan. Ia bahkan belum mengerti apa arti pernikahan. Baginya yang terpenting adalah menjaga orang terkasihnya.
__ADS_1
Namun Nathan paham, untuk saat ini syarat untuk menjadikan Nadia miliknya akan bertambah. Tentu saja dengan mendapatkan restu dari Bisma sebagai anak dari wanita yang sangat ia cintai.
“Disini ternyata kamu bersembunyi Nadia.” Ucap Nathan setelah puas memandangi Nadia dan kedua anaknya.
“Maafkan aku dokter. Aku merasa tidak pantas untuk dokter.” Ucap Nadia lirih. Ia meremas tangannya di atas paha.
“Aku paham maksudmu Nadia. Tapi seharusnya kamu berbicara padaku lebih dulu. Aku tahu kamu pasti butuh penyesuaian. Tapi Aku dan keluargaku akan menerimamu sepenuh hati.”
“Di saat aku mengetahui bahwa aku hamil, aku menyadari bahwa hidupku bukan hanya milikku dokter. Ada anak yang harus aku utamakan. Dan aku takut itu tidak akan baik jika aku tetap memaksakan kehendakku.”
“Dan sekarang aku sudah ada disini. Aku tegaskan padamu bahwa aku akan menerimamu sepenuh hatiku.”
“Tapi dokter bisa mendapatkan...” perkataan Nadia sudah bisa Nathan tebak. Dengan segera laki-laki itu memotongnya.
“Itu tidak perlu dibahas lagi Nadia. Hanya kamu yang aku inginkan. Hanya kamu yang pantas untukku.” Ucapan Nathan membuat hati Nadia menghangat.
“Lihatlah aku dokter, aku sudah memiliki dua orang anak bersamaku. Apa kata orang jika melihat dokter menikah denganku nantinya?”
“Dan sekarang aku sudah melihatmu. Sekarang lihatlah kita, kita sudah seperti keluarga sepaket yang bahagia bukan?” Nadia tersenyum mendengar ucapan Nathan. “Tidak akan ada yang berani berbicara macam-macam tentang kita Nadia. Sebaliknya, mereka akan melihat kita dengan pandangan kekaguman karena kita memiliki keluarga bahagia yang lengkap.”
“Mama, apa mama akan menikah dengan om Neil?” tanya Nara.
“Apa Nara mau om Neil jadi papa Nara dan kak Bisma?” tanya Nathan.
“mau. Tentu saja mau. Hore!” Nara dengan senang turun dan berjingkrak.
“Tapi aku tidak mau.” Ucapan Bisma membuat Nara terdiam. Ia cemberut. Ia segera memeluk Neil posesif.
“Baiklah. Om Neil tidak akan menikah dengan mamamu sebelum mendapatkan persetujuan darimu. Namun beri om kesempatan untuk menunjukkan kalau om layak. Bagaimana? Setuju?”
“Setuju!” keduanya berjabat tangan dngan mantap tanda persetujuan kesepakatan.
“Hei hei. Kalian apa-apaan. Aku belum bilang untuk setuju kan?” ucap Nadia.
“Nadia. Aku sudah memegang janjimu. Kamu bilang kamu tidak akan menghindar di saat kita bertemu lagi dan masih ada cinta di antara kita. Dan aku yakin kamu juga masih mencintaiku. Iya kan?” Nadia membeku. Itu memang benar.
*
*
*
Siapa yang udah nebak kalau Neil itu Nathan? Namanya kan Nathaneil... hehehe😋
Udah puas mereka udah ketemu?
Di like dong👍
Kasih akoh hadiah juga lho udah akoh kasoh doble up😃😁😉
__ADS_1