
Alunan gamelan mengalun merdu. Memang tidak ada pemain aslinya, hanya suara dari sound system yang terdengar nyaring seantero desa. Beberapa orang sudah berkumpul di dalam tenda. Termasuk kepala desa dan sederetan perangkat desa yang telah diundang. Duduk di kursi yang telah disediakan panitia.
Hari ini adalah hari resepsi pernikahan Nadia dan Nathan. Dalam resepsi kali ini mereka akan menggelar khas Jawa seperti yang umum dilakukan di desa. Perpaduan antara adat Jawa dan juga agama Islam.
Karena Nadia sudah tidak memiliki orang tua dan keluarga lagi, maka dari itu Devi mempunyai ide untuk mengadakan acara ini sebagai ganti orang tua Nadia. Tentu saja Nadia dan Nathan menyetujui usulan tersebut. Malahan mereka merasa senang karena itu tandanya Nadia diterima baik oleh seluruh warga desa.
Di pintu masuk, sederetan pagar ayu dan pagar bagus berdiri menyambut tamu yang datang. Ada pula yang bertugas di sekitar tamu undangan guna memastikan kenyamanan para tamu.
Panji, Rita dan Tasya duduk di kursi di teras rumah milik Bu Karim yang terletak di samping rumah besar. Mengamati kearifan budaya lokal dan cara penghormatan warga desa pada para tamu yang mereka undang. Terlihat sekali bahwa di lingkungan ini bentuk penghormatan dan ramah tamah sangat dijunjung.
Suasana di luar rumah sudah sangat ramai. Terasa ceria sampai di setiap sudut. Namun keadaan berbalik di dalam rumah. Ah. Tapi hanya di satu bagian dimana dua bocah cilik dengan merajuk karena dilarang keluar. Mereka adalah Nara dan Bisma.
Sejak tadi keduanya sudah ingin keluar dan bergabung dengan uforia pesta di luar rumah. Melihat karakter keduanya jelas mereka sudah tidak tahan ingin segera bergabung. Apalagi Nara. Sedangkan Bisma sudah bisa ditebak bahwa ia akan mengikuti kemana adik tersayangnya itu berkeliling. Memang pantas menjadi pengawal pribadi sang adik.
Nara menekuk wajahnya. Tangannya bertumpu pada dagu seraya melihat mamanya yang masih dirias. Padahal mamanya sudah terlihat cantik. Tapi masih saja para perias yang tadi sempat ia puji karena telah mengubahnya menjadi putri yang cantik berubah menjengkelkan menambahkan sesuatu di kepala mamanya. Mereka terlihat seperti bergerak begitu lambat saat merias sang mama.
Nathan juga duduk di tepi ranjang. Sibuk dengan handphone di tangannya yang tengah menampilkan file yang baru saja dikirim oleh Luna. Sang papa baru ini sendiri sudah terlihat rapi dengan busana kejawennya yang berwarna hitam senada dengan milik Nadia. Dengan sulaman benang emas berbentuk sulur dan bunga. Di kepalanya sudah terpasang blangkon berwarna coklat dengan hiasan dari Kuningan yang bergantung di depan. Di lehernya sendiri ada kalung bunga melati yang tergantung di sana.
“Papa! Ini asli apa tidak?” Nathan mengernyit mendengar pertanyaan Nara. Gadis itu sudah duduk saja di sampingnya. Bisma mengawasi adiknya dari tempat duduknya. Menggelengkan kepala menyadari kekepoan sang adik akibat bosan.
“Apanya sayang?” Nara memberengut. Ternyata papanya tidak memperhatikan apa yang ia tanyakan.
“Ini papa.” Nara menyentuh keris yang terselip di punggung Nathan dengan telunjuk kecilnya. “ Tadi kata kak Bima punya kak Bisma palsu. Kalau punya papa?” lanjutnya.
__ADS_1
Nathan pun kebingungan tidak bisa menjawab. Dia mana tahu masalah ini. Dirinya sendiri tidak begitu peduli apa yang tadi dipasangkan padanya. Sedari tadi ia hanya menurut di suruh ini dan itu oleh para perias yang sudah berumur itu.
“Itu asli. Tapi bukan untuk mainan ya.” Suara wanita yang terdengar halus menjawab pertanyaan Nara. Suara itu berasal dari suara perias yang dari tadi sibuk memasangkan ini dan itu di kepala Nadia yang saat ini tampak dua kali lebih besar.
Nathan yang dari tadi sibuk dengan handphone nya jelas tidak menyadari perubahan wajah Nadia dengan tampilan putri kejawen. Terlihat agung dan anggun. Bolehkah dia terpesona untuk kesekian kalinya? Ah tentu saja boleh, Nadia adalah istrinya.
Di atas kepala Nadia, sebuah konde yang besar tertempel di sana. Dengan berbagai hiasan yang menempel di sana. Kebanyakan terbuat dari bahan Kuningan dan perak. Juga ada beberapa macam bunga hidup yang menghiasi. Merahnya mawar, putihnya melati dan kantil dan juga ungunya anggrek yang terangkai apik menjuntai dari kepala sampai ke dada sebelah kanan Nadia.
Wajah Nadia di make up sedemikian rupa. Khas agungnya pengantin pada adat Jawa. Dengan riasan yang tebal dan tegas. Menggambarkan aura ratu yang mempesona.
Nathan menatap istrinya itu dengan tanpa berkedip. Sisi lain istrinya ini begitu cantik. Cantik dengan gaya yang berbeda dengan biasanya. Ah rasanya ia ingin mengurungnya di dalam kamar saja dan menikmati kecantikan istrinya sepanjang hari sampai ia puas.
“Ehem-ehem. Ceile papa terpesona lagi dan lagi.” Goda Nara sambil menangkupkan kedua tangannya. Mata kecil itu juga mengerling dengan nakal.
“Ekhem. Sudah selesai?” tanya Nathan setelah dia berhasil menguasai kegugupannya.
“Sudah pak dokter. Ini nanti acaranya temu Temanten dulu. Jadi dokter masuk dari luar sedangkan nyonya muda dari dalam rumah.”
“Ah saya tahu. Seperti pada pernikahannya anaknya pak lurah dulu itu kan?” Nathan lamat-lamat masih mengingat kenangan di desa ini beberapa tahun yang lalu saat ia mendapatkan kesempatan beberapa kali menghadiri pesta pernikahan yang diadakan di desa ini.
“Iya. Seperti itu. Acara ini tidak sepenuhnya menggunakan adat Jawa. Jadi agak longgar dan tidak begitu kental.” Terang sang perias. Nathan dan Nadia hanya manggut-manggut.
“Baiklah sekarang sudah waktunya berpisah. Pak dokter nanti berangkat dari tempat para pengiring Temanten di rumah pak Santoso. Keluarga dokter juga akan menyusul ke sana.”
__ADS_1
“Siapa yang mengantar?” tanya Nathan. Tidak lucu kan kalau dia harus berjalan sendiri dengan dandanan seperti itu mencari keberadaan keluarganya.
“Aku.” Satria masuk ke dalam kamar dengan senyum di bibirnya.
“Kalau gitu aku juga akan ikut papa.” Bisma yang sedari tadi diam mendadak merespon. Berdiri dan berlari mendekat ke arah papanya.
“Nara sama mama aja deh.” Nara berjalan ke dekat mamanya. “Mama cantik banget.” Pujinya saat dia sudah berada di depan sang mama.
“Weis mama benar-benar cantik.” Satria ikut menanggapi. Nadia yang duduk membelakangi nya tidak terlihat dari tadi. Baru saat Nara mendekat ia menyadari terlihat pantulan wajah Nadia di sana.
“Dilarang melihat lebih dari tiga detik.”
"Dasar bucin!" Bisma, Nara dan Satria berucap kompak.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😎
Maaf EA lama banget baru bisa up lagi. Akohnya kecanduan novel karya sesama othor lain dan novel terjemahan juga. Abisnya kalau siangnya sibuk malam hari rasanya nggak bisa mikir. Dari pada alurnya gaje kan ya. Mending baca² karya orang lain dulu. Saling mendukung kan baik. Ehehehe♥️
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak dengan klik like👍, vote 😍 dan komentarnya oke😘