
Seorang gadis berjalan terseok-seok merayap di dinding. Seorang gadis lainnya memapahnya keluar dari sebuah kamar hotel. Keduanya memakai pakaian sexy yang memperlihatkan lekukan tubuh mereka dengan sempurna.
“Dila berikan lagi minumannya. Aku masih kuat minum.” Gadis yang sudah mabuk berat itu bergumam pada sahabat yang memapahnya dengan kesusahan.
“Cukup Vera. Malam ini cukup sampai di sini.”
“Tidak. Aku masih kuat minum beberapa botol lagi. Baru aku bisa mendapatkan banyak uang.” Jawab Vera menepis tangan Dila.
“Sebaiknya kita kembali malam ini. Tuan Diki sudah memilih Tami untuk menemaninya malam ini.”
“Hehehe... Aku kalah lagi. Ini karena aku terlalu lemah. Aku hanya minum beberapa gelas dan sudah mabuk.” Vera tertawa sumbang.
“Cukup Vera. Kalau aku tahu kamu jadi begini. Aku tidak akan pernah menolongmu dulu. Seharusnya aku biarkan saja kamu. Dan semua ini tidak akan terjadi. Kamu tidak akan terjerumus dalam dunia yang hitam ini.”
“Hei jangan sembarang bicara. Kamu itu dewiku. Kamu yang membawaku ke dunia yang indah ini. Ini hidup yang bahagia. Hahahaha.” Vera tertawa. Tapi ia juga menangis.
Dila yang ada di sampingnya memandang temannya dengan nanar. Beberapa bulan yang lalu, mereka tidak sengaja bertemu di sebuah club malam di ibu kota. Saat itu Dila sedang menemani seorang kliennya pesta di club malam itu.
Dila sendiri adalah seorang wanita malam.
Flash back on...
Saat itu Dila tidak sengaja menumpahkan minumannya di baju Vera yang tengah mabuk di meja bar.
Sebenarnya Vera tidak pernah pergi ke tempat seperti itu sebelumnya. Namun karena tekanan yang ia terima dan tidak adanya teman untuk tempatnya berbagi, Vera yang putus asa akhirnya pergi ke club malam untuk menghilangkan masalah nya.
Dila meminta maaf dan mengantar Vera ke kamar mandi untuk membantu membersihkan pakaiannya di kamar mandi.
Namun niat baik Dila ini ternyata menjadi awal kehancuran Vera.
Saat itu, tuan Petra yang merupakan seorang pengusaha kelapa sawit rekan dari klien Dila tidak sengaja melihat Dila sedang memapah Vera. Tuan Petra mengira jika Vera sama dengan Dila yang adalah seorang wanita malam.
Saat itu juga tuan Petra membawa Vera pergi ke hotel meskipun Dila sudah menjelaskan semuanya. Namun karena tuan Petra sudah gelap mata, ia tidak memperdulikan apapun penjelasan Dila.
Pagi harinya, Dila mendatangi kamar yang menjadi saksi bisu sebuah keperawanan yang terenggut dengan paksa.
Saat Dila masuk, Vera masih belum bangun. Sedangkan kamar dalam keadaan yang sangat berantakan. Baju Vera terlihat teronggok begitu saja. Beberapa kond5m juga terlihat berserakan di lantai.
Tubuh telanjang yang terbalut selimut itu menampakkan wajah lelah yang jelas. Beberapa cupangan terlihat menghiasi leher dan juga bahu yang sedikit terekspos.
__ADS_1
Dila menatap nanar pada seprai putih dengan darah yang mengering di atasnya. Itu artinya gadis yang tanpa sadar ia jerumuskan adalah seorang yang masih suci.
“Ya Tuhan maafkan aku. Apa yang sudah aku lakukan? Aku sudah menghancurkan masa depan gadis ini.”
Kemudian ekor matanya menatap sesuatu di atas nakas. Sebuah kertas cek yang tertulis angka satu Dengan tujuh nol di belakangnya. Di atas cek itu, sebuah kartu nama tertinggal di sana.
Namun saat hendak mengambilnya, ia melihat mata Vera mengerjap beberapa kali sebelum terbuka dengan sempurna.
“Siapa kamu?” Tanya Vera heran. Ia merasa tidak mengenal gadis dengan pakaian sexy di depannya ini. “Kenapa kamu ada di kamarku?” namun sedetik kemudian Vera menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat menyadari ia tidak berada di kamarnya.
“Apa yang kamu lakukan padaku? Dimana aku?” Vera panik. Ia tahu apa yang terjadi padanya semalam. Dan itu bukanlah hal yang baik. Itu sesuatu yang buruk. Sangat buruk.
“Maafkan aku. Jika aku tidak menolongmu semalam, mungkin kamu tidak akan berakhir di sini.” Dila mendekat. Namun Vera menjauh. Ia menarik selimut menutupi tubuhnya.
“Namaku Dila. Aku yang semalam tidak sengaja menumpahkan minuman di bajumu. Tapi saat aku membawa mu ke kamar mandi, kamu dibawa pergi oleh tuan Petra kesini.” Dila mengambil kartu nama di atas nakas. Memberikannya pada Vera.
“Petra Fernandez?”
“Dia seorang pengusaha kelapa sawit dari Kalimantan.”
“Aku harus meminta pertanggungjawaban darinya. Ahh.” Vera hendak beranjak bangun. Tetapi rasa nyeri di sekujur tubuhnya membuatnya mengurungkan niatnya.
“Kamu tidak akan bisa melakukannya. Tuan Petra adalah orang yang berpengaruh. Dia kuat. Dia bukan tandinganmu sama sekali. Jika kamu mendatanginya untuk bertanggungjawab, pada akhirnya kamu sendirilah yang akan dibuat menyesal. Dia pria berdarah dingin. Dia tidak segan membunuh orang yang melawannya.” Dila duduk di ranjang Vera.
“Tapi dia meninggalkan kartu namanya. Dia pasti ingin aku menemuinya kan setelah semua ini?”
“Hahahaha. Kamu terlalu naif.”
“Apa maksud mu?” tanya Vera tidak percaya.
“Dia memberimu kartu nama agar suatu saat jika kamu membutuhkan uang seperti ini lagi, kamu bisa datang mencarinya.” Dila menyerahkan cek yang ditinggalkan tuan Petra. Vera menerimanya. Ia tidak percaya keperawanannya hilang hanya karena uang sepuluh juta.
“Kamu lihat itu? Itu adalah kond5m bekas pakai. Tuan Petra melakukan pencegahan sebelumnya. Jadi kamu tidak akan hami. Lagipula jika kamu melaporkan nya, kamu juga tidak akan memiliki bukti. Meskipun kamu bisa memasukkan nya ke dalam penjara pun, itu hanya akan bertahan tidak kurang dari satu malam. Jadi lebih baik jangan bertindak konyol.”
“Apa yang harus aku lakukan sekarang?”
“Berhentilah menangis. Tidak ada gunanya kamu menangisi semua ini. Lebih baik kamu pulang sekarang. Aku sudah membawakanmu baju ganti.” Dila menyerahkan paperbag berisi baju miliknya. Dia akan selalu membawa baju ganti karena tidak setiap kliennya akan bersikap sabar dan membuka bajunya dengan perlahan. Jadi jika kliennya merobek bajunya, ia masih memiliki baju ganti.
“Ini baju siapa?” Vera merentangkan baju itu di udara. Belum dipakai saja ia tahu jika baju itu adalah baju yang sering ia katakan kurang bahan. Ia bahkan yakin jika baju itu tidak akan menutupi setengah dari pahanya.
__ADS_1
“Itu bajuku. Aku ini pekerja malam. Jadi aku hanya memiliki baju seperti itu di malam hari. Kalau kamu tidak mau memakainya, kamu bisa memakai bajumu yang sudah sobek itu.” Vera menunjuk baju Vera yang teronggok di lantai.
Dengan terpaksa akhirnya Vera membawa baju ganti milik Dila. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya saat berjalan ke kamar mandi.
Tak berapa lama, Vera keluar dengan malu-malu. Ia benar-benar tidak percaya diri memakai pakaian yang begitu terbuka.
“Aku tidak mungkin pulang. Bisakah aku ikut denganmu saja?” Vera sudah memikirkannya selama ia mandi. Tubuhnya sudah kotor. Jika ia pulang dalam keadaan seperti itu, ia hanya akan menjadi beban keluarga nya.
“Aku tidak bisa membawamu. Aku tidak akan sanggup menanggung biaya kehidupanmu.”
“Aku akan bekerja.” Vera duduk di samping Dila. Memegang lengan Dila saat ia berkata dengan serius. “Aku tidak mungkin kembali dalam keadaan seperti ini. Keluarga ku sudah berantakan. Jika aku pulang aku hanya akan menambah beban mereka. Jadi tolong bawa aku pergi jauh.” Lanjutnya.
“Tapi aku hanya pekerja malam. Aku tidak Akan bisa menemukan pekerjaan yang baik untukmu di lingkungan ku.”
“Lalu kenapa? Mulai sekarang aku juga akan seperti kamu.” Dila terperanjat. Jika saja ia memiliki pilihan lain, ia tidak akan mau bekerja sebagai penjaja **** seperti sekarang ini. Tapi wanita di depannya ini justru terang-terangan berkata jika ia ingin menjadi seperti nya padahal ia memiliki pilihan lain.
“Kamu jangan sembarangan. Lebih baik kamu pulang.” Dila melepaskan tangan Vera.
“Tolong bawa aku. Aku sudah lelah dengan masa laluku.”
“Aih. Begini saja. Hari ini kamu pulang saja denganku dulu. Kamu pikirkan baik-baik semua ini. Dan jika kamu memang benar-benar yakin dengan pilihanmu. Maka tidak ada yang bisa aku lakukan.”
“Baiklah.”
“Kamu harus ingat. Begitu kamu sudah membuat keputusan, kamu tidak akan bisa kembali dengan mudah.”
Jika waktu dapat diputar kembali, Dila akan lebih memilih untuk tidak menolong Vera saat itu jika pada akhirnya Vera terjerumus lebih dalam.
Flash back off...
*
*
*
Terima kasih 😘
Maaf jika part ini nggak disukai cerita nya. Tapi akoh yakin readers pasti penasaran dengan apa yang dialami oleh Vera selama ini.
__ADS_1