Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
23. Kematian Bapak


__ADS_3

Pagi ini Nadia mendapatkan kabar buruk dari Nathan. Rahmat kritis. Nadia terus menangis di pelukan Nita sejak mereka sampai di depan ruangan Rahmat dan mendengar penjelasan dari Nathan. Joni duduk bersama dokter Nathan tak jauh dari mereka. Keduanya juga mempunyai perasaan yang sama dengan kedua wanita yang menangis itu.


Ceklek...


Dokter Yoga keluar. Menggelengkan kepalanya pelan saat tatapan matanya bertemu dengan Nathan. Nadia segera berlari ke arah dokter itu. Disusul Nita dan yang lainnya. Nadia hanya bisa terisak melihat wajah dokter Yoga yang terlihat suram. Dia sudah tahu apa yang terjjadi pada bapaknya.


"Bagaimana dokter?" tanya Joni memastikan.


"Maaf. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun Tuhan berkehendak lain."


Nadia segera masuk ke dalam ruangan dimana dokter Yoga tadi keluar. Tubuh bapaknya terbaring disana. Kedua matanya tertutup. Berbagai alat menakutkan yang beberapa hari kemarin terpasang di tubuh bapaknya sudah di lepas. Kedua tangannya sudah ditangkupkan di atas perut.


Tubuh yang tidak bernyawa itu dipeluknya dengan erat. Air mata semakin deras mengalir. Tubuhnya bergetar.


"Jangan pergi bapak. Nadia belum bisa membahagiakan bapak. Kenapa bapak harus pergi secepat ini?" ratap Nadia terdengar pilu. Nita mendekati Nadia.


"Nad, paman sudah tenang sekarang." ucap Nita sambil menepuk pelan punggung Nadia.


"Bapakku Nit. Bapak meninggalkanku sendiri."


Joni segera mengangkat bahu Nadia. Memeluk wanita itu di pelukannya. Nita turut masuk dalam pelukan itu. Nathan hanya diam memandangi ketiganya. Dia juga tidak tahu harus berbuat apa sekarang.


"Kamu tidak sendiri Nad. Aku dan Nita selalu ada untukmu." kata Joni sambil mengelus punggung Nadia yang bergetar.


"Jangan bersedih Nad. Paman juga akan bersedih jika kamu terus seperti ini."


"Tapi Bapak..."


"Ikhlaskan paman Nadia. Biarkan paman tenang di sisinya." Nadia mengeratkan pelukan mereka. Pelukan inilah yang dia butuhkan sekarang. Pelukan sahabat yang menguatkan.


...*****...


Tanah itu masih basah. Taburan kelopak mawar dan berbagai macam bunga lainnya menghiasi gundukan tanah dengan batu Nisan bertuliskan nama Rahmat. Aroma khas minyak yang digunakan untuk menyiram makam juga masih jelas tercium.


Nadia duduk di samping makam bapaknya. Memandang makam yang kini berdampingan dengan makam ibunya. Kedua orang tua yang telah membesarkannya kini telah bersatu di keabadian.


Pelayat sudah meninggalkan pemakaman satu jam yang lalu. Tapi Nadia masih belum beranjak. Setelah selesai membacakan surat Yasin untuk kedua orangtuanya, Nadia masih belum beranjak dari tanah pemakaman itu. Bujukan Nita dan Joni tidak mempan untuknya.

__ADS_1


Nadia sudah berhenti menangis saat ini. Belajar mengikhlaskan apa yang telah pergi. Yang bernyawa pasti akan menemui kematian. Dan itu adalah sebuah kepastian yang tidak bisa dilanggar.


"Bapak, Nadia harap bapak bahagia disana. Maafkan Nadia yang belum bisa menjadi anak yang berbakti. Nadia belum bisa membuat bapak menimang cucu. Tapi bapak, Nadia hamil sekarang. Andai bapak lebih lama lagi bersama Nadia. Pasti bapak akan dapat merasakan menimang cucu bapak yang lucu."


Nadia mengusap air matanya yang tiba-tiba mengalir. Dia menyesal sekarang. Dia bahkan baru bisa mengabarkan berita bahagia yang dinanti bapaknya ketika bapaknya sudah tidak ada.


"Nadia berjanji akan menjalani hidup ini dengan baik bapak. Nadia akan berusaha mencapai cita-cita kita berdua. Nadia akan memastikan di masa depan tidak akan ada lagi keluarga yang mengalami nasib seperti keluarga kita. Nadia berjanji untuk itu bapak. Nadia tidak akan berhenti sampai itu tercapai." ucapnya pelan sambil mengusap air matanya.


"Ayo kembali Nad." ajak Joni. Dia sudah tidak kuat melihat Nadia dalam keadaan seperti itu. Nadia mengangguk. Sekarang sudah petang. Matahari akan segera berganti dengan bulan. Suasana pemakaman sudah mulai gelap.


Nadia berjalan dengan Hati-hati di antara puluhan makam yang ada di pemakaman umum di desanya. Joni berjalan di depan untuk menunjukkan jalan. Hanya tinggal mereka berdua yang ada di makam itu. Nadia beruntung mempunyai orang seperti Joni yang selalu ada untuknya. Bodyguardnya itu selalu bisa berperan menjadi apapun untuk dirinya.


Nadia mendudukkan diri di kursi belakang mobilnya. Menyenderkan kepalanya di sana. Joni mengulurkan sebotol susu hamil padanya. Selama ini, Nitalah yang menyiapkan susu itu untuknya. Nadia tidak mungkin membuatnya di rumah. Bisa-bisa kehamilan yang ditutupinya dengan rapat akan segera diketahui.


Segera ia teguk susu itu. Sedikit memberikan rasa kenyang di perutnya yang sudah keroncongan dari tadi. Nadia melewatkan makan siangnya. Beberapa kali Nita membujuknya untuk makan, namun selalu gagal. Nadia tidak nafsu makan.


Setelah susu itu habis. Joni menyodorkan kotak nasi ke arahnya.


"Aku tidak lapar Jon." Dustanya. Nyatanya, perutnya dari tadi melilit minta diisi. Apa lagi ada nyawa lain yang berada dalam perutnya yang ikut makan bersamanya. Tapi dia sungguh kehilangan seleranya.


"Kamu mungkin tidak lapar. Tapi anakmu yang lapar. Kamu mau begitu?"


"Maafkan bunda sayang. Pasti kamu sudah kelaparan sekarang." gumamnya. Nadia kemudian mulai makan. Joni tersenyum di balik kemudi.


...****...


Nadia kembali ke rumah setelah selesai melakukan do'a pembacaan tahlil yang biasa dilakukan hingga Hari ke tujuh setelah kematian seseorang.


Tubuh Nadia sudah lelah. Rasanya ingin segera membaringkan tubuhnya di atas kasur yang nyaman. Nadia lega karena tidak mendapati laki-laki tua berstatus suaminya berada di dalam kamarnya. Itu artinya, dia benas sekarang. Tidak harus menahan perasaan saat digerayangi oleh suaminya sendiri.


Tidak adanya Juragan Bondan di kamarnya bukanlah masalah bagi Nadia. Bahkan berkah. Nadia tidak mau memusingkan dimana laki-laki itu bermalam untuk malam ini. Yang pasti tubuhnya lelah dan butuh istirahat sekarang. Lagipula dia tidak yakin akan mampu bertahan untuk melayani nafsu suaminya dengan keadaan fikiran yang kacau dan tubuh yang lelah seperti sekarang. Biarkan dia mencari kesenangannya sendiri.


Untuk apa memikirkan suami yang bahkan tidak datang dalam pemakaman mertuanya. Suami yang tidak mendampingi istrinya yang baru saja kehilangan bapaknya. Sungguh tidak terpuji.


Nadia mendesah mengingatnya. Seperti apapun suaminya. Setidaknya dia harus ada saat istrinya sedang dalam kesedihan bukan? Nadia merasa bahkan jika Dia tidak punya suami akan lebih baik rasanya.


Setelah membersihkan diri, Nadia segera masuk ke dalam selimut dan mengubur tubuhnya disana. Membiarkan hangat dari selimut tebal itu membungkusnya. Dalam sekejab saja, Nadia sudah berhasil berseluncur di alam mimpinya.

__ADS_1


Pagi harinya Nadia bangun karena merasa mual. Nadia berdiri di depan wastafel. Mengeluarkan isi perutnya. Lagi-lagi hanyalah cairan kuning yang dia keluarkan. Nadia segera membasuh wajahnya agar kembali segar.


Semenjak hamil, Nadia menjadi agak malas berurusan dengan air. Sabun yang biasanya selalu membuatnya tenang sekarang bahkan menjadi momoknya. Dia akan muntah jika mencium wangi segar sabun itu hingga membuat Nadia terpaksa mandi tanpa memakai sabun beberapa hari ini.


"Sedih ya?" pertanyaan itu menyambut Nadia ketika keluar dari kamarnya. Devi dan Yuli sudah berdiri di depan kamarnya dengan bersedekap dada. Nadia hanya melirik sekilas kedua orang itu.


"Saya sedang malas berdebat sekarang." Nadia segera berlalu. Lebih baik dia segera pergi ke dapur dan mendapatkan beberapa potong roti untuk mengganjal perutnya yang minta diisi. Kehamilan ini membuatnya sering merasa lapar.


"Bapak tidak pulang semalam?" tanya Yuli saat dia berhasil menyusul Nadia ke dapur. Wanita yang sedang hamil muda itu tengah menikmati sepotong bolu yang dia minta dari mbok Darmi.


"Mana aku tahu."


Nadia mulai berfikir sekarang. Kemana laki-laki tua itu pergi. Dia tahu betul selarut apapun, Juragan Bondan akan tetap pulang. Entah itu ke kamarnya atau ke kamar Devi.


"Biasanya bapak kan berada di kamarmu."


"Bisa saja kan bapak ada di kamar bu Devi."


"Kalau ada di kamar ibu, aku tidak akan bertanya padamu."


Mungkinkah bapak ke rumah mbak Narti? Jika mendengar cerita dari Joni, bapak Berkali-kali kesana. Itu artinya bapak puas dengan pelayanan yang diberikan mbak Narti. Fikir Nadia.


"Emm. Mungkin sedang mencari istri ketiga."


Jawaban Nadia membuat mata Yuli melotot. Dengan ringannya seorang istri berkata jika suaminya mencari istri baru. Istri muda bapaknya ini memang berbeda.


*


*


*


^^^~***Aku Istri Muda***~^^^


...**Terima kasih sudah mampir 😘...


...Jangan lupa like ya 👍...

__ADS_1


...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...


...🌾Kediri Raya🌾**...


__ADS_2