
Nara menjadikan paha Nadia sebagai bantalnya. Rasanya kepalanya mau pecah sekarang. Pesta pernikahan akan dilaksanakan tiga hari lagi. Banyak hal yang perlu ia persiapkan. Apalagi Rafael selalu mengajak Nara untuk memantau perkembangan persiapan pesta.
Jika tidak dengan pertimbangan bahwa semakin banyak waktu yang dihabiskan Rafael dengannya akan semakin memudahkan pergerakan Alex dan Bisma, Nara tidak akan mau melakukan semuanya secara pribadi bersama Rafael. Semuanya sangat melelahkan. Lelah tenaga dan pikiran.
Ditambah lagi dengan pengerjaan skripsi yang juga menguras otaknya. Aaah... Hidupnya terasa melelahkan.
Pasangan anak dan ibu itu sedang bersantai di ruang televisi bersama dengan Dini. Meskipun mereka berada di ruang televisi, nyatanya televisi itu dalam keadaan mati. Dini sedang belajar sekarang. Bukannya di kamar tidak ada meja belajar, tetapi belajar di sekitar keluarga akan terasa lebih menyenangkan baginya.
“Ma tolong agak keras sedikit.” Pinta Nara yang merasa pijatan Nadia pada kepalanya kurang tenaga.
“Manja banget sih kak. Kasihan mama kan, lelah.” Dini bersungut-sungut melirik Nara dengan tatapan tidak suka. Melihat Nara dan Nadia dengan cemburu. Sebagai anak bontot, ia terbiasa menerima semua kasih sayang dari semua orang. Dan sekarang di saat ia melihat Nadia sedang memanjakan Nara, tanpa diminta ia merasa iri.
“Suka-suka aku lah. Mama nggak keberatan kan?” Nara melirik Nadia.
“Tentu saja tidak. Mama ini belum setua itu sampai-sampai akan lelah hanya dengan aktivitas ringan seperti ini.” Jawab Nadia. Ia pun sudah mulai menambahkan sedikit tenaga untuk merilexkan syaraf di kepala Nadia.
“Wleekk” Nara menjulurkan lidahnya ke arah Dini. “Sono belajar yang rajin.” Lanjutnya. Dini melengos sambil mengerucutkan bibirnya. Ia pun kembali fokus pada buku di depannya.
“Spaaadaaaa. Gery yang tampannya melebihi level dewa sudah pulang.” Suara Gery membahana bahkan sebelum si pemilik suara itu muncul dengan seragam abu-abu putihnya yang jauh dari kata rapi.
Dasinya sudah ia sampirkan di bahu. Baju atasannya juga sudah sebagian keluar dari celana dengan dua kancing teratasnya yang terbuka. Memperlihatkan kaos tanpa lengan berwarna abu-abu ya g melekat di tubuhnya.b
Pemuda tampan itu mengacak rambut Dini saat ia melihat adiknya sedang fokus belajar. “Apa sih kak!” Dini menepis tangan Gery dengan kasar. Wajahnya semakin terlihat masam. Belum reda masalahnya dengan Nara, Gery sudah datang mencari gara-gara dengannya.
“Judes amat sih neng! Lagi dapet ya!” goda Gery. Dini hanya mendengus kesal. Mood belajar nya rasanya sudah hilang.
“Mama! kak Gery gangguin aku belajar.” Jurus andalan anak bontot. Mengadu dengan wajah melas.
“Gery jangan gangguin Dini lagi.” Tegur Nadia. Gery sekali lagi mengacak rambut Dini sebelum menghampiri Nadia dan meraih tangan kanan mamanya.
Saat Gery sudah selesai mencium punggung tangan Nadia, sebuah tangan lain terulur ke arahnya.
“Salim woy!” teriak Nara saat tangannya tidak juga diraih oleh Gery.
“Ogah. Bisa-bisa berkah dari mama menguap kena tangan lu.” Ejek Gery. “Lagian kenapa sih manja banget?” lanjutnya ikut mendudukkan diri di sofa. Di sebelah kanan Nadia.
“Kepalaku pusing tahu.” Keluh Nara.
“Makanya calon pengantin tuh diam anteng di rumah. Ini setiap hari keluyuran Mulu.”
“Bodo! Sana-sana mandi cepat. Bau asem nih.” Nara mencubit hidungnya. Membuat Gery tanpa sadar membuka ketiaknya dan mencium bau badannya sendiri.
“Uwek. Asem banget gue. Padahal baru aja disembur parfum saku satu sachet yang katanya bisa buat delapan ratus sepray.”
Nadia mengendus udara di sekitarnya. “Kamu merokok lagi?” Nadia melirik Gery tajam. Ya. Nadia dan Nathan melarang anak-anak mereka untuk mencoba-coba menghisap racun yang katanya nikmat itu.
“Enggak ma. Suer!” Gery nyengir sambil mengangkat tangan kanannya. Menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya. “Tadi kumpul sama teman-teman pas pulang sekolah. Mereka yang ngerokok. Gery sih nggak.” Lanjutnya memberi penjelasan.
Sebadung-badungnya Gery, ia akan tetap mengingat nasihat mama dan papanya tentang larangan merokok. Apalagi dengan ancaman sang papa yang langsung membuatnya menciut. Nathan mengancam Gery jika putranya itu merokok, Gery akan segera dihapus dari KK.
__ADS_1
Mengingat sifat Gery yang sering membandel, cara itu terbukti ampuh.
“Ya sudah. Mama pegang kata-kata mu. Ingat laki-laki itu dilihat dari ucapannya.”
“Iya mamaku yang cantik.” Gery mengerlingkan matanya ke arah Nadia. Membuat Nara ingin muntah.
“Mandi sono biar seger. Meskipun udah kamu semprot sebotol penuh parfum, asap rokok nggak akan hilang dengan mudah.” Kata Nara sambil mengibaskan tangannya.
“Siap kakak cantik yang udah bau pengantin. Hahaha.” Gery segera berlari saat melihat Nara meraih bantal sofa dan berniat melempar ke arahnya.
“Cuit cuit. Ciee yang mau jadi pengantin.” Ucap Gery sebelum berlari kencang menaiki tangga. Nara yang kesal benar-benar melempar bantal sofa meskipun jaraknya tidak begitu jauh karena ia masih dalam posisi rebahan.
Sepeninggal Gery, wajah Nara terlihat murung. Ia kembali mengingat jika sebentar lagi ia akan menikah dengan Rafael. Pasangan yang sangat tidak ia inginkan. Yah. Meskipun ada kemungkinan pernikahan itu gagal, tapi ia harus tetap bersiap untuk kemungkinan terburuk.
“Jangan terlalu dipikirkan. Kita keluarga Mahardika memiliki tembok pelindung yang kokoh. Mereka akan berjuang melindungi kita bagaimanapun caranya.” Ucap Nadia saat melihat perubahan wajah Nara.
“Em. Mama benar. Dan aku memiliki darah dari seorang juragan hebat yang pantang menyerah.”
“Itu baru putri mama.” Nadia mengelus kepala Nara.
Masa tenang mereka terganggu saat mbok Ida memberitahu mereka bahwa ada Rafael yang mencari Nara di depan. Dengan malas, Nara bangun dari posisinya dan melangkah ke ruang tamu.
“Mbok, tolong siapkan minuman. Sekalian tolong buatkan aku teh jahe juga ya.” Kata Nara saat ia akan melangkah lurus sedangkan mbok Ida berbelok ke arah dapur.
“Siap non.” Mbok Ida mengacungkan jempolnya sebel masuk dapur.
Nara dengan malas masuk ke ruang tamu. Dilihatnya Rafael sedang duduk tenang menunggunya di sana. Ketika melihat Nara yang mendekat, Rafael segera menyapanya.
“Sore. Ada apa sore-sore kesini?” tanya Nara tanpa basa-basi. Sudah cukup rasanya dari tadi pagi sampai siang mengikuti Rafael melihat persiapan pernikahan mereka. Kesabarannya juga sudah menipis untuk menghadapi Rafael sore ini.
“Tidak ada. Hanya kangen.” Jawab Rafael enteng.
“Kita dari pagi sudah bersama ngecek semua persiapan. Dan baru siang ini kamu mengantarku pulang. Bagaimana bisa rindu datang secepat itu?” ucap Nara asal. Padahal dia sendiri juga selalu merasa seperti itu saat ia mulai menyadari bahwa ia mencintai Alex.
“Bagaimana lagi! Aku memang sangat rindu.”
“Baiklah.” Kata Nara menyerah. “Tapi Rafael, aku juga harus mengerjakan skripsi ku. Kalau sampai tidak selesai sesuai target, aku harus mengulang tahun depan.” Keluh Nara.
“Begitukah? Jadi aku mengganggumu?”
“Sedikit banyak sih.”
“Baiklah. Kalau begitu aku akan segera pulang. Kami cepat selesaikan skripsi mu agar kita bisa pergi berbulan madu keliling Eropa.” Rafael mengulurkan tangannya mengelus kepala Nara. Namun saat Rafael hendak mencium kening Nara, gadis itu segera mendorongnya.
“Kenapa? Kita sebentar lagi akan menikah. Hanya mencium kening masak tidak boleh sih?” Ucap Rafael merasa tersinggung. Rasanya wajar jika ia sebagai calon suami Nara untuk mencium keningnya, tapi Nara selalu saja menghindar dan mengelak dengan banyak alasan. Sebelumnya ia selalu diam dan menerima. Tapi kali ini ia ingin tahu alasan apa lagi yang digunakan Nara.
“Bukan begitu. Aku hanya tidak tahan dengan bau rokok di tubuhmu.” Ucap Nara sambil menjepit hidungnya.
Rafael akhirnya menyerah. Sejak awal ia mengetahui jika Nara tidak menyukai bau dari asap rokok. Dan sekarang ini ia malah ketagihan menghisap batang tembakau itu.
__ADS_1
“Baiklah. Demi kamu akan berhenti merokok dari sekarang.” Ucap Rafael pada akhirnya.
“Jika ingin berubah menjadi lebih baik jangan hanya karena demi seseorang. Berubah harus dari hati baru perubahan itu akan bermakna.”
“Baiklah. Apapun katamu.” Nara mendengus. Ucapan Rafael ini sungguh membuatnya muak. Ia pikir dengan cara menjilat seperti itu ia akan dengan mudah memberikan hatinya. Mimpi saja!
“Kalau begitu aku pulang dulu. Jangan terlalu memaksa diri dan istirahat yang cukup.” Kata Rafael sebelum ia melangkah pergi keluar dari ruang tamu. Meninggalkan Nara yang menghela napas lega.
"Loh! Den Rafael tadi mana?" mbok Ida yang masuk dengan nampan di tangannya bingung karena tamunya tidak ada.
"Udah nyebur ke laut." jawab Nara enteng. Membuat mbok Ida menggelengkan kepalanya. Dari kecil Nara memang sulit untuk menyimpan rasa kesalnya.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😘
Intermezo....
Entah kenapa episode kali ini malah membahas masalah rokok.
Rokok....
Barang panjang yang katanya nikmat selain 'itu'(ehehehe)
Rokok....
Penyumbang terbesar pajak negara selain juga menyumbangkan asapnya yang beracun
Bukan rahasia lagi jika asap dari rokok itu lebih berbahaya dari rokoknya sendiri. Orang yang menghirup asap roko lebih rentan terhadap berbagai jenis penyakit daripada si penghisap rokok.
Maka dari itu....
Akoh mau bilang, jika para perokok aktif itu sayang pada orang-orang di sekitarnya, berhentilah merokok. Karena tanpa kalian sadari, kalian telah membunuh mereka sedikit demi sedikit.
Reader : Ngemeng ape sih koh? Nggak nyambung banget.🙄
Akoh : Udah deh tinggal baca aja apa salahnya.😜
Reader : Kayak sono nggak ada orang yang nggakmerokok aja.😒
Akoh : Tahu aja deh kalian. Semua ini gara-gara Akohnya punya suami perokok aktif. Dan saat ini lagi jegkel²nya gara-gara rokok. La gimana nggak jengkel. Daripada uang yang dicari dengan susah payah dibeliin rokok Cuma buat dibakar kan mendingan dibuat beli beras. Beras sekilo aja nggak semahal rokok sekotak. Kalau bukan bakar uang apa namanya itu!. Kan sayang uangnya buat beli rokok. Mendingan juga kasih sama anaknya buat beli jajan.
Bla bla bla bla
Reader : Kabuuuur🏃🏃🏃🏃
__ADS_1
Mulut emak2nya sudah diaktifkan